


oleh Akina · 24 Bab
Rani menikah dengan Arman dengan penuh cinta dan harapan. Ia percaya rumah tangga dibangun bersama, dan sebagai istri ia hanya ingin mendampingi serta membantu sedikit jika dibutuhkan. Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika Arman kehilangan pekerjaan, perlahan-lahan peran itu berubah. Apa yang awalnya hanya niat “membantu” berubah menjadi kewajiban. Sementara Arman terjebak dalam rasa rendah diri dan gengsi, Rani berjuang sendirian di balik senyum yang dipaksakan. Malam-malamnya dipenuhi tangis tanpa suara, tubuhnya lelah, hatinya patah. Namun, ia tetap bertahan demi anak-anak, demi rumah tangga yang sudah ia pilih.
Pagi itu matahari baru saja naik, menyinari halaman rumah kecil di ujung gang. Rumah itu sederhana, berdinding semen tanpa cat, tapi di balik kesederhanaannya ada kehangatan yang membuat siapa pun betah berlama-lama di dalamnya.
Rani menyiapkan sarapan di dapur. Tangannya lincah menggoreng tempe, sambil sesekali mengintip panci berisi sayur bayam yang mendidih perlahan. Bau harum bawang goreng memenuhi udara, berpadu dengan aroma teh manis yang baru diseduh.
“Mas, bangun! Nanti telat kerja,” panggilnya sambil melirik ke arah kamar.
Tak lama, pintu kamar terbuka. Arman keluar dengan rambut masih acak-acakan. Ia tersenyum kecil melihat istrinya yang sibuk. “Pagi, Ran,” ucapnya sambil duduk di kursi kayu yang mulai goyang.
“Pagi. Cepat mandi sana. Aku sudah siapkan baju kerja di kursi,” jawab Rani, tak menoleh, matanya tetap fokus pada wajan.
Arman berdiri sebentar, lalu menghampiri istrinya. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih pundak Rani dan mencium ubun-ubunnya. Rani kaget, hampir saja tempenya gosong.
“Mas ini, bikin kaget saja!” protesnya setengah tertawa.
“Biar semangat. Hari ini kerja pasti panjang,” jawab Arman. Senyumnya hangat, penuh keyakinan.
Rani tersenyum balik. Saat itu, ia benar-benar merasa hidupnya lengkap. Punya suami yang rajin, rumah meski kecil tapi nyaman dan sebentar lagi anak pertama mereka akan lahir. Tidak ada yang lebih ia inginkan.
Setelah sarapan sederhana selesai, Rani membereskan meja, sementara Arman bersiap berangkat. Ia mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi oleh istrinya semalam.
“Ran, Mas pulang agak malam, ya. Ada lembur,” katanya sambil merapikan tas kerja.
Rani menatapnya sambil menahan rasa khawatir. “Jangan lupa makan, Mas. Jangan kebanyakan kopi. Nanti sakit perut lagi.”
Arman terkekeh. “Iya, iya. Kamu juga jangan capek-capek. Ingat, kamu lagi hamil.”
“Aku cuma jahit sedikit, kok. Lagian lumayan buat tambah-tambah. Biar kamu nggak sendirian mikirin semua kebutuhan.”
Arman berhenti, menatap wajah istrinya. Ada rasa haru yang sulit ia sembunyikan. Ia mendekat, menggenggam tangan Rani erat. “Ran, kamu jangan bilang begitu. Selama Mas bisa kerja, kamu nggak usah mikirin apa-apa. Cukup jaga rumah, jaga bayi kita. Biar Mas yang cari uang.”
Kata-kata itu membuat hati Rani hangat. Ia tahu suaminya bukan orang kaya, gajinya di perusahaan swasta juga tidak seberapa. Tapi perhatian dan tanggung jawabnya jauh lebih besar dari apa pun. Itulah yang membuat Rani selalu merasa aman.
“Baiklah,” ucapnya lembut. “Tapi kalau ada yang bisa kubantu, jangan larang aku ya, Mas.”
Arman mengangguk, meski dalam hatinya ia tidak benar-benar setuju. Ia ingin jadi satu-satunya penopang keluarga, karena ia percaya harga diri seorang lelaki ada di situ. Tapi ia tidak tega juga membantah Rani yang selalu punya niat baik.
Hari-hari mereka berjalan dengan ritme yang sederhana namun bahagia. Arman berangkat pagi, pulang malam, terkadang membawa kabar lelah, tapi selalu tersenyum ketika masuk rumah. Rani menunggu dengan sabar, menyajikan teh hangat dan cerita ringan untuk menghibur suaminya.
Kadang, ketika Arman bercerita tentang bosnya yang galak atau rekan kerja yang suka mencari muka, Rani hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. Baginya, memberi telinga yang tulus lebih penting daripada memberi nasihat yang panjang.
Sementara itu, Rani tetap dengan rutinitasnya di rumah. Mengurus kandungan, membersihkan rumah, menjahit baju pesanan tetangga. Kadang ia juga membuat kue kecil-kecilan untuk dijual di warung dekat gang. Semua itu dilakukan bukan karena terpaksa, tapi karena ia ingin membantu meringankan suaminya, meski sedikit.
Malam-malam mereka sering dihabiskan dengan obrolan ringan di teras rumah. Mereka berbicara tentang nama untuk bayi yang akan lahir, tentang mimpi punya rumah yang lebih besar, bahkan tentang keinginan sederhana seperti membeli motor baru.
“Kalau bayi kita laki-laki, gimana kalau kita kasih nama Alif?” tanya Arman suatu malam.
“Bagus,” jawab Rani sambil tersenyum. “Kalau perempuan?”
Arman terdiam sebentar, lalu berkata, “Mungkin Aisyah. Nama yang lembut.”
Rani terkekeh. “Mas ini, sudah seperti ustaz saja pilih nama.”
Mereka berdua tertawa. Malam itu bulan menggantung terang di langit, seakan ikut menyaksikan kebahagiaan sederhana sepasang suami istri muda yang masih penuh harapan.
Waktu berlalu. Rani melahirkan anak pertama mereka, seorang perempuan mungil yang mereka beri nama Aisyah. Tangisan kecil itu memenuhi ruang bidan desa, membuat mata Arman berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan istrinya, memandang wajah lelah tapi bahagia itu dengan penuh cinta.
“Terima kasih, Ran,” ucapnya lirih. “Kamu sudah memberi aku anugerah terbesar dalam hidup.”
Rani hanya tersenyum, meski tubuhnya masih terasa sakit. Dalam hatinya, ia berjanji akan menjaga anak itu dengan sepenuh hati, apapun yang terjadi.
Kehadiran Aisyah membuat rumah mereka semakin ramai. Malam-malam Rani jarang tidur, tapi Arman berusaha ikut membantu sebisanya. Ia rela bangun tengah malam mengganti popok atau menenangkan bayi agar istrinya bisa beristirahat sejenak.
Meski lelah, Rani merasa kehidupannya lengkap. Ia punya suami yang bertanggung jawab, anak yang sehat dan meski ekonomi mereka pas-pasan, ia yakin kebahagiaan tidak selalu diukur dengan harta.
Di saat-saat seperti itu, Rani sering berkata dalam hatinya. “Aku hanya ingin jadi istri yang baik. Kalau bisa membantu sedikit, aku akan lakukan. Asal suamiku tetap kuat, asal keluargaku tetap utuh, aku bahagia.”
Ia tidak pernah tahu, doa dan niat kecil itu kelak akan membawanya ke jalan yang jauh lebih berat dari yang pernah ia bayangkan.

Akina
10 Pengikut · 6 Novel