"Mas, nasi gorengnya sudah jadi, ayo kita sarapan," kata Yulia sambil membawa dua piring nasi goreng yang masih mengepul ke meja makan.
Aroma bawang putih yang ditumis berpadu dengan kecap manis dan telur orak-arik, semestinya menggugah selera makan. Namun, Romen tetap tak bergeming, jemarinya sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Yulia menatap suaminya dengan perasaan bercampur aduk. Lima tahun menikah, dia semakin merasa asing dengan pria yang dulu pernah sangat ia cintai.
Romen yang dulu penuh perhatian dan selalu meluangkan waktu untuknya kini lebih banyak tenggelam dalam dunianya sendiri. Yulia menarik napas dalam, berusaha menahan kekecewaan yang sejak lama mengakar di hatinya
"Mas!" teriak Yulia, suaranya sedikit meninggi.
Romen mendongak dengan ekspresi kesal. "Duh, bisa nggak sih nggak teriak-teriak? Aku lagi sibuk, Yul!" ujarnya ketus.
Mata Yulia berkaca-kaca. Bukan pertama kalinya Romen bersikap seperti ini. Dulu, suaminya akan menyambutnya dengan senyum hangat, membantunya menata meja makan, bahkan bercanda tentang siapa yang akan mencuci piring setelah sarapan. Kini dia hanya mendapatkan tatapan dingin dan ketidakpedulian.
"Aku cuma mau kamu sarapan dulu sebelum kerja, Mas. Nanti telat," kata Yulia dengan suara lebih pelan berusaha menekan emosi.
Romen mengeluh, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku langsung berangkat saja, sudah ditunggu temanku."
Tanpa menatap Yulia, Romen langsung melangkah keluar rumah. Yulia hanya bisa memandangi punggung suaminya yang semakin menjauh. Tidak ada kecupan perpisahan, tidak ada ucapan selamat tinggal seperti dulu. Hanya suara pintu yang terbanting, menegaskan betapa dinginnya hubungan mereka kini.
"Kamu sekarang tidak seperti dulu lagi, Mas," bisik Yulia dengan lirih.
Sepeninggal Romen, Yulia duduk diam di meja makan menatap nasi goreng yang sudah dingin. Selera makannya hilang begitu saja.
Lima tahun sudah mereka menikah, dan semakin hari dia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.
Mereka belum dikaruniai anak, sesuatu yang diam-diam juga menjadi beban di hatinya. Dia tahu Romen pun kecewa, meskipun suaminya jarang mengungkapkannya secara langsung.
Namun, semakin lama, perhatian Romen semakin berkurang seolah-olah pernikahan mereka hanya sebuah kewajiban yang harus dijalani tanpa ada cinta dan kasih sayang di dalamnya.
Yulia meraih ponselnya dan membuka galeri foto. Dulu mereka sering mengabadikan momen bersama, sarapan berdua, liburan ke pantai, bahkan momen sederhana seperti menonton film di rumah.
Namun, foto terbaru mereka bersama sudah lama sekali. Tidak ada lagi kebersamaan seperti dulu. Yulia meletakkan ponselnya dengan desahan pelan.
Sementara di tempat kerja, Romen sibuk dengan pekerjaannya sebagai chef di sebuah restoran ternama.
Dia bekerja bersama sahabat karibnya, Jodi, yang sejak awal mengenalnya sudah tahu bagaimana rumah tangga Romen berjalan.
"Kamu kenapa, pagi-pagi udah cemberut gitu?" tanya Jodi sambil melipat tangannya di dada.
Romen menghela napas panjang. "Yulia lagi-lagi bikin drama pagi ini. Nasi gorenglah, sarapanlah, padahal aku lagi sibuk."
Jodi mengangkat alisnya. "Dia kan istri kamu, Men. Wajar kalau dia perhatian sama kamu."
"Aku capek, Jo. Udah lima tahun, tapi rasanya kayak cuma tinggal seatap sama orang yang nggak aku kenal lagi. Aku nggak bisa kayak dulu lagi. Kayaknya hubunganku sama dia makin jauh aja."
Jodi menggelengkan kepala. "Mungkin kamu yang bikin jarak, Men. Aku ngerti kerjaan kamu sibuk, tapi istri kamu juga butuh perhatian, bro."
Romen tak menjawab, hanya memilih sibuk memotong bahan makanan di depannya. Jodi menghela napas, pria itu tahu, percuma menasihati sahabatnya yang keras kepala itu.
***
Sedangkan di rumah, Yulia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membersihkan rumah, memasak, dan melakukan aktivitas lain. Namun, sekeras apa pun dia berusaha menyibukkan diri, tetap saja ada kekosongan yang tak bisa dia abaikan.
Saat Yulia menyapu teras, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah cukup sering menghubunginya akhir-akhir ini.
"Pagi, Yul. Udah sarapan? Jangan sampai lupa makan, ya," ucap Yono
Yulia tersenyum kecil. Yono, teman lamanya, yang belakangan sering hadir dalam hidupnya. Awalnya hanya obrolan ringan, lalu semakin dalam. Yono selalu mendengarkannya, memberinya perhatian yang tak lagi dia dapatkan dari suaminya.
Yulia pun segera mengetik balasan.
"Pagi, Yon. Makasih udah ingetin. Aku makan kok, meski nggak habis," balas Yulia
"Kenapa? Nggak enak badan?" tanya Yono
"Nggak, cuma ... ya, begitulah," ucap Yulia
"Kalau butuh teman cerita, aku selalu ada," balas Yono
Yulia menggigit bibirnya. Dia tahu ini salah. Tapi ada sesuatu dalam perhatian Yono yang membuatnya merasa dihargai, sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Dan di situlah awal mula semuanya ....
***
Malam harinya, Yulia menunggu Romen pulang. Wanita beriris mata coklat itu duduk di ruang tamu dengan TV menyala, dia berharap setidaknya suaminya tidak pulang larut malam.
Namun, jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas. Dan Romen belum juga pulang.
Yulia mencoba menghubunginya, tetapi panggilannya tidak dijawab. Perasaan cemas bercampur dengan kekecewaan semakin menekan dadanya.
Dulu Romen selalu memberitahu jika dia pulang larut. Namun, sekarang suaminya bahkan tidak peduli untuk mengangkat teleponnya.
Yulia pun meraih ponsel dan melihat pesan yang belum dia balas dari Yono. Ada dorongan untuk mengetik sesuatu, tetapi dia menahan diri.
Dia menatap layar ponselnya lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi tidur sendirian lagi seperti malam-malam sebelumnya.
Yulia menatap langit-langit kamar, dia tidak dapat memejamkan matanya walaupun raganya sudah terasa lelah.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Romen masuk dengan ekspresi lelah. "Kamu belum tidur?" tanyanya tanpa menatap Yulia.
"Aku nunggu kamu, Mas. Kamu kerja sampai larut lagi?" tanya Yulia pelan.
"Iya, ada banyak urusan," jawabnya singkat.
Yulia ingin bertanya lebih jauh, tetapi dia tahu itu hanya akan berakhir dengan perdebatan. Dia hanya diam merasakan dinginnya malam yang semakin menyelubungi hatinya.
Di dalam kepalanya, pertanyaan yang sama terus berulang ... apakah pernikahan ini masih bisa diselamatkan?
Keesokan paginya, Yulia mencoba menghidupkan kembali kebiasaan lama mereka. Dia bangun lebih awal, menyiapkan sarapan favorit Romen, lengkap dengan secangkir kopi hitam yang dulu selalu dia buatkan setiap pagi. Harapannya sederhana, mungkin, hanya mungkin, Romen akan sedikit melunak.
Saat Romen keluar dari kamar, Yulia menyapanya dengan lembut. "Mas, aku buatkan kopi. Mau diminum sekarang?"
Romen melirik sekilas ke meja makan, lalu menghela napas. "Aku nggak sempat, harus buru-buru."
Yulia berusaha menahan kekecewaannya. "Mas, apa kita bisa sarapan bareng sebentar aja?"
Romen menatap jam tangannya. "Lain kali saja, aku benar-benar harus pergi sekarang."
Lagi-lagi Yulia ditinggalkan tanpa jawaban yang dia harapkan. Perempuan berkulit kuning Langsat itu menatap cangkir kopi yang masih mengepulkan asap, lalu mengembuskan napas panjang. Mungkin memang sudah tidak ada lagi yang bisa diselamatkan dari hubungan mereka.