


oleh Nuri Atlaan · 6 Bab
Menceritakan Kisah Leo dan Olivia yang sudah bersahabat sejak kecil. Namun, setelah mereka memasuki SMA, perasaan mereka mulai tumbuh satu sama lain. Ini semua karena ulah teman-teman mereka yang menjodohkan mereka berdua. Tapi Leo bersikap acuh tak acuh dan mengatakan kalau dirinya tidak mungkin akan berpacaran dengan Olivia. Begitu pula dengan Olivia, mereka terus memendam perasaan mereka dalam diam. Sampai akhirnya terjadi situasi yang mengharuskan mereka terjebak di sebuah ruangan hanya berdua saja. Entah ulah siapa yang membuat mereka terjebak, tapi hal ini membuat perasaan mereka mulai terlihat satu sama lain.
Pagi-pagi di SMA Negeri Merdeka, sudah terjadi keributan pada hari Senin bahkan ini belum memulai upacara. Hampir seluruh kelas di lantai 2 berkerumun di kelas 2-B. Semua orang saling mendorong dan berdesak-desakan satu sama lain untuk melihat ke dalam kelas.
Pagi-pagi buta begini, sudah ada dua anak yang memulai keributan di pagi hari yang indah.
"Kembalikan tas milikku!" ucap seorang gadis berambut panjang hitam dengan bergaya poni pendek sambil memegang batu bata di tangannya.
"Sudah kubilang bukan aku yang menyembunyikan tas milikmu!" ucap seorang laki-laki yang sedang manjat di atas lemari kelas.
Mereka berdua adalah Leo dan Olivia, dua orang yang terlihat bertengkar hebat ini terlihat seperti musuh abadi bukan?. Tapi sebenarnya mereka berdua adalah sahabat yang sangat akrab sejak kecil. Lalu ini adalah keseharian kecil yang selalu mereka lakukan, entah dimanapun tempatnya mereka selalu bertengkar.
Orang-orang yang menyaksikan keributan itu terlihat sangat menikmati. Beberapa dari mereka berkomentar, "Apa yang terjadi? Ada keributan apa ini?" ucap seseorang yang mencoba masuk kerumunan.
Seseorang membalas, "Seperti biasa, pasangan suami istri ini sedang bertengkar," ucapnya.
Lalu kemudian sebuah batu bata melayang ke arahnya, syukurlah batu itu tidak mengenai siapapun selain tembok kelas. Seluruh kelas seketika menjadi hening, dan tatapan Olivia membuat semua orang ketakutan. "Siapa yang mengatakan hal semacam itu tadi!" bentak Olivia yang membuat seluruh orang kocar-kacir.
Saat keadaan sudah mulai aman, Leo perlahan-lahan turun dari atas lemari dan pergi ke jendela luar. Ia berniat untuk turun melalui pohon palem yang tepat berada di depan jendela luar. Hup! Leo loncat dan memeluk pohon palem, namun ia merasa ada yang janggal karena bajunya seperti tersangkut oleh sesuatu.
Leo menatap ke atas dan jantungnya seketika berhenti berdetak. "Mau kemana kau," ucap Olivia sambil tersenyum lebar seperti psikopat.
"Mati aku!" ucap Leo dalam batin.
Beberapa tahun yang lalu, sebuah keluarga kecil yang harmonis sedang pergi untuk piknik di sebuah taman yang indah. Rerumputan hijau yang asri sejauh mata memandang, dengan aliran sungai yang dangkal. Keluarga Cemara itu sedang menikmati waktu mereka bersama.
Keluarga itu di anugrahi seorang anak laki-laki yang sangat ceria dan sangat berenergik. Saking berenergiknya anak keluarga itu, anak itu berlari kencang meninggalkan orang tuanya yang sedang makan siang. Tanpa rasa bersalah anak kecil yang masih berusia 5 tahun itu berjalan menaiki jembatan.
1 jam telah berlalu sejak anak kecil itu pergi berkeliaran meninggalkan orang tuanya. Sementara itu orang tuanya sedang panik mencari-cari anak mereka. Bahkan mereka sudah membagikan brosur berisi identitas anak mereka, kedua orang tuanya selalu membawa brosur ini karena anak mereka yang suka menghilang dalam sekejap mata.
Anak itu terus berjalan tanpa rasa bersalah di atas teriknya sinar matahari. Ia kelelahan karena dan lemas karena tidak ikut makan siang dengan keluarnya. Sampai suatu waktu anak itu tersandung batu dan terjatuh karena kakinya yang sudah lemah.
"Huwaaaaaaaaaaaaa!" Anak itu menangis kencang dan membuat semua orang panik.
Para orang dewasa panik karena tidak tahu dimana orang tuanya. Semua orang yang berada di sana tidak tahu harus berbuat apa dan hanya menaruh simpati berharap orang tuanya segera kembali. Namun tiba-tiba tangisan anak laki-laki itu berhenti ketika ada seseorang yang menjulurkan tangannya kepadanya.
"Jangan menangis, ayo ikut aku," ucap seorang anak perempuan yang sepantaran dengannya.
Anak laki-laki itu meraih tangannya dan mereka berdua pergi ke suatu tempat. Padahal di mata anak laki-laki itu, anak perempuan di depannya terlihat sangat lemah dan bahkan tubuhnya lebih kecil darinya. Tapi tatapannya dan matanya yang berbinar-binar membuatnya merasa kagum dan tenang.
Mereka berdua duduk di bangku taman dan mulai mengobrol. "Siapa namamu?" ucap gadis itu sambil memberikan seonggok permen.
"Namaku Leo,"
"Leo siapa?"
"Namaku hanya Leo saja."
Gadis itu berpikir dengan keras dan kemudian ia memperkenalkan dirinya. Sekali lagi ia menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Namaku Olivia, hanya Olivia saja!"
Anak laki-laki itu berjabat tangan dengan gadis perempuan di depannya. Inilah awal mula mereka bertemu dan akan menjadi kisah persahabatan yang panjang. Tapi kisah masa kecil mereka berdua masih perlu dilanjutkan sedikit lagi.
"Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini?" ucap Leo dengan raut wajah penasaran.
Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya dan berkata sambil cengengesan, "Aku juga kehilangan kedua orang tuaku, hehehe," ucapnya yang membuat Leo terdiam.
Lalu, berjam-jam telah berlalu, saat senja mulai datang, kedua orang tua mereka datang bersamaan secara kebetulan. Mereka bersyukur karena pada akhirnya anak mereka ketemu. Air mata kedua orang tuanya sudah tidak lagi mengalir karena anaknya suka sekali menghilang seperti ini.
"Leo, aku pulang dulu ya! sampai berjumpa lagi!" ucapnya sambil tersenyum dan tangannya yang melambai dengan hangat.
Leo hanya terdiam dan melambaikan tangannya dengan memasang wajah sedih. Karena ia tahu, bahwa pertemuan masa kecil biasanya tidak akan terjadi lagi. Ini menurut sebuah postingan di media sosial yang ia lihat melalui ponsel ayahnya.
Mereka keluarga Cemara itu akhirnya pulang dalam keadaan yang sudah biasa mereka lalui. Hari mulai gelap, dan selama di dalam mobil Leo terus memikirkan tentang gadis itu. Entah kenapa Leo merasakan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sampai akhirnya Leo bertanya kepada ayahnya, "Ayah, kenapa bagian dadaku ada yang sakit ayah? Padahal aku tidak kenapa-napa," ucap Leo dengan polosnya.
Sementara itu ayahnya memanyunkan mulutnya dan berkata, "Kau masih terlalu kecil, sudah tidur saja agar kau tidak hilang lagi!" ucap ayahnya.
Lalu tak lama kemudian mereka sampai di depan pagar rumah mereka. Saat Leo baru saja turun dari mobilnya, ia melihat ada beberapa orang di sebelah rumahnya dengan banyak barang bawaan berupa furniture. Sepertinya rumah sebelah sudah ada penghuninya, dan sudah tidak lagi menjadi tempat kosong.
Lalu di depan pagar rumah itu ada seseorang yang baru saja keluar dari mobil. Mata Leo terpaku menatap siapa yang baru saja turun dari mobil. Hatinya yang sakit itu sudah menghilang begitu saja dan ia mulai tersenyum kembali.
"Oh hai Leo! Apakah kau tinggal di sini?" ucap gadis itu sambil memancarkan senyuman hangatnya.
"Ya, aku tinggal disini. Sepertinya kau baru saja pindah kemari ya?" ucap Leo.
"Iya, syukurlah rumah kita dekat. Dengan begitu kita bisa bermain setiap hari," ucap Olivia kecil.
Mendengar kata-kata gadis itu Leo mulai tak sadarkan diri dan hanya memikirkan kejadian indah saat bersama dengannya. Sementara itu orang tuanya mengibaskan tangannya di depan wajah anaknya yang sedang melamun. Ayahnya menepuk dahinya dan menggendong Leo ke dalam rumah yang sudah seperti patung itu.
Ini, adalah awal dari kisah mereka.

Nuri Atlaan
1 Pengikut · 2 Novel