Angin senja menyelinap lewat celah jendela perpustakaan pribadi Rama. Angin yang berembus aneh seperti sesuatu yang sengaja masuk, mengincar. Angin itu menerbangkan sebutir debu yang berputar lambat sebelum akhirnya mendarat tepat di atas paket berbentuk persegi panjang yang tergeletak di meja kerjanya.
Paket itu tiba siang tadi, tanpa keterangan pengirim, tanpa prangko, hanya namanya. RAMA, PALEOGRAF. Tertulis dengan tinta hitam pekat dalam huruf-huruf kapital yang tegak dan impersonal, seolah dituliskan oleh seseorang yang mengenal bukan hanya namanya. Namun, juga apa yang akan ia lakukan sesudahnya.
Sebagai seorang ahli naskah kuno, Rama terbiasa dengan kiriman tak terduga. Misalnya, fotokopi gulungan Laut Mati, terjemahan manuskrip Mesir, salinan puisi-puisi Sumeria yang tua. Paket ini, berbeda.
Ia merasakan gravitasi aneh yang memancar darinya, seolah-olah paket itu bukan hanya mengandung kertas, melainkan semacam masa kelam yang bersabar menunggu untuk menelannya.
Dengan pisau pembuka paket, ia menyayat tali raminya. Kain beludru hitam yang membungkus paket itu terbuka perlahan, dan aroma busuk meluap keluar. Baunya bukan apak biasa, bukan hanya bau garam. Namun, sesuatu yang manis dan menjijikkan secara naluriah.
Bau seperti daging yang sudah lama terpisah dari tulangnya. Namun, entah mengapa belum selesai membusuk. Aroma itu menempel di lidahnya, dan di tengah kain itu, ada sebuah buku.
Bukan buku dalam pengertian modern. Ia kumpulan lembaran yang dijilid longgar dengan tali usus yang mengering, mengerut seperti jari-jari tangan yang hangus.
Sampulnya terbuat dari kulit yang membuat Rama bergidik. Kulit itu pori-porinya terlalu besar, pola butanya terlalu tidak beraturan untuk berasal dari hewan biasa.
Di tengah sampul, terukir judul dalam karakter purba yang tidak dapat ia kenali, aksara yang tampak sengaja dirancang untuk dilupakan, dirancang agar otak manusia menolak menyimpannya.
Di bawah ukiran itu, tersembunyi sebuah tulisan dalam bahasa Indonesia. SELA GUNUNG.
Rama mengenakan sarung tangan katun putih. Ujung jarinya, yang biasanya tangkas saat membalik perkamen rapuh, kali ini gemetar.
Ia membuka sampul. Tulisan di dalamnya bukan dicetak, tapi ditorehkan langsung ke dalam kulit, diwarnai tinta yang tampak seperti karat atau darah yang sudah mengkristal sejak zaman yang tidak diingat sejarah.
Bahasa yang digunakan adalah suatu bentuk Melayu Kuno yang terasa asing dan melingkar, kalimat-kalimatnya berputar seperti ular yang sedang mencerna mangsa yang terlalu besar.
Rama mulai membaca, mulutnya komat-kamit menerjemahkan, tanpa menyadari bibirnya sudah terasa kebas.
Lima menit berlalu.
Lalu, sepuluh.
Kemudian—
Keningnya berkerut dalam. Sesuatu menggeliat di tengkuknya, seperti jari dingin yang meraba tulang belakangnya dari dalam.
Ada yang salah. Sangat salah!
Rama membalik halaman dengan lebih cepat, matanya menyapu baris demi baris, mencari sesuatu yang tidak ia temukan. Ia meraih buku catatan kerjanya, mencatat beberapa frasa.
Penanya berhenti.
Tidak ada. Tidak satu pun. Dalam seluruh teks yang sudah ia baca, puluhan baris panjang, tidak ada huruf D yang muncul. Rama yakin bukan karena kebetulan. Bukan karena keterbatasan aksara.
Ini mustahil secara linguistik. Huruf D ada di mana-mana dalam bahasa Indonesia. Contohnya, D-an, D-alam, D-ari, D-ia.
Setiap kata yang membutuhkan huruf D telah diganti, dipelintir, dihindari dengan ketelitian yang menyeramkan.
"Dan" menjadi "serta".
"Dari" menjadi "berasal atas".
"Dibaca" menjadi "menyerap tulisan".
Hasilnya adalah prosa yang terpincang-pincang. Namun, tetap terbaca layaknya seseorang yang bicara dengan lidah terpotong sebagian, dan bersikeras menyampaikan pesan yang tidak boleh gagal sampai.
"Eksperimen sastra yang aneh," gumam Rama, mencoba menertawakan ketakutan yang merayap itu.
Mungkin karya Avant-Garde, seorang linguis yang terobsesi pada pembatasan Oulipo. Namun, naluri keprofesiannya berteriak lebih keras. Teks kuno tidak pernah dibuat dengan pembatasan seperti ini tanpa alasan yang sangat spesifik. Alasan seperti ritual, magis, tabu.
Pembatasan ini terasa bukan seperti gaya penulisan, melainkan seperti kandang. Upaya mengurung sesuatu yang tidak boleh disebut namanya.
Hari berubah menjadi malam tanpa Rama sadari. Lampu meja menerangi lembaran kulit yang terbuka, memantulkan cahaya kekuningan di permukaannya yang bergaris.
Rama menutup buku itu dengan gerakan yang lebih terburu-buru dari yang ia rencanakan. Ia membungkusnya kembali, menguncinya dalam laci besi. Dia melakukannya bukan karena kehati-hatian akademis, melainkan karena sesuatu di ujung jari-jarinya menolak menyentuhnya lebih lama.
***
Malam itu, tidurnya gelisah.
Ia bermimpi tentang ruangan. Ruangan itu bulat, tanpa jendela, tanpa sudut. Dindingnya batu pualam hitam yang basah dan mengilat, seolah baru saja bernapas.
Ia berputar mencari jalan keluar. Tidak ada pintu. Konsep "pintu" seolah-olah terhapus dari arsitektur tempat itu, seperti kata yang sengaja dihilangkan dari kalimat. Hanya ada sebuah lubang masuk. Lubang bundar di dinding, gelap gulita, dengan embusan udara lebih dingin dari dalam peti mati mengalir keluar dan menyapu wajahnya.
Dari dalam lubang itu, terdengar suara. Suara tulang yang saling bergesekan di dalam karung basah, seperti sesuatu yang besar sekali mencoba bergerak di ruang yang terlalu sempit.
Kakinya berjalan ke arah suara. Rama melakukannya bukan karena ia mau, melainkan karena mimpi tidak memberinya pilihan lain.
Saat ia hanya berjarak beberapa langkah dari kegelapan itu, ia melihat sebuah bentuk.
Sesuatu yang memantulkan cahaya pucat tanpa sumber yang jelas, tersusun dari sudut-sudut yang salah, dari proporsi yang membuat otak menjerit karena pengakuan adanya hal-hal di dunia ini yang tidak seharusnya dilihat oleh mata manusia.
Rama terbangun dengan terengah-engah. Keringatnya dingin di kulit. Kamarnya terasa asing selama beberapa saat yang menyiksa, seolah-olah semua itu baru saja diatur ulang oleh tangan tak terlihat untuk menutupi sesuatu yang lain.
Dadanya berdebar. Matanya, hampir tanpa disadari, jatuh pada laci besi di meja kerjanya.
Di balik baja itu, manuskrip Sela Gunung terbaring diam. Dalam keheningan pukul tiga pagi, Rama mulai memahami bahwa apa yang ia terima bukanlah sebuah teks akademis.
Paket itu adalah umpan, dan ia sudah menggigitnya. Ketiadaan huruf D bukan sebuah gaya penulisan, melainkan peringatan.
Mungkin, ada pintu yang kini sedang terbuka? Bahasa adalah hal pertama yang retak. Apa yang akan retak berikutnya?
Ia menatap tangannya sendiri. Ruangan terasa lebih sempit. Langit-langit lebih rendah. Setiap bayangan di sudut seakan menyimpan bentuk yang tidak alami, siap berubah menjadi lubang masuk menuju ruangan bulat yang baru saja ia mimpikan.
Bisikan teror itu mulai terdengar. Riuh, bising, sekaligus senyap dalam artian bisikan imajinier.
"D—D. Tanpa D. Tiada D. Hilangkan D. Makanlah D. DDDDDDD!”
Gumaman itu terdengar silih berganti. Melalui kehampaan yang kini terpatri dalam pikirannya seperti bekas luka bakar berbentuk huruf yang hilang. Huruf D.