Langit malam kota metropolitan tampak bersih dari awan, ia menampilkan bintang-bintang yang tersebar seperti permata di hamparan hitam. Namun, gemerlap lampu kota jauh lebih menyilaukan dibandingkan keindahan langit malam itu.
Di salah satu hotel berbintang lima di pusat kota, sebuah pesta perusahaan berlangsung dengan mewah, penuh dengan gelas-gelas sampanye, suara dentingan piano dan tawa para eksekutif.
Aaren Baron adalah CEO muda dari Baron Group, duduk menyendiri di balkon suite presiden lantai tertinggi.
Jas hitamnya masih melekat sempurna namun dasinya telah dilepas, menggantung longgar di leher.
Tatapannya kosong, menatap kerlip kota di bawah sana. Beberapa jam sebelumnya ia baru saja menyelesaikan pertemuan penting dengan para investor dari luar negeri. Semua berjalan lancar. Namun, batinnya terasa hampa.
Pesta di ruang utama masih berlangsung. Musik, obrolan dan tawa masih terdengar samar dari dalam.
Aaren tak pernah menyukai keramaian apalagi yang penuh basa-basi dan kepalsuan. Ia kembali meneguk minumannya, menghela napas panjang lalu beranjak masuk.
Di antara para tamu ada seorang wanita muda dengan gaun hitam elegan tengah duduk di sudut ruangan terlihat sedang memeluk sebuah cello berkilau di pelukannya.
Wajahnya tenang, matanya lembut dan menyimpan luka yang dalam. Dia adalah Chiara Evolet, pemain cello lepas yang kerap diundang untuk mengisi acara-acara eksklusif.
Malam itu, saat jemarinya menari di senar cello, melodi sendu memenuhi ruangan. Semua mata tertuju padanya dan hanya Aaren yang tak mengalihkan pandangannya sejak dentingan nada pertama terdengar.
Ada sesuatu dalam cara Chiara memainkan musiknya yang membuat Aaren terdiam. Bukan hanya karena keindahan musik itu sendiri, melainkan emosi yang tersembunyi di dalam setiap nada.
Selesai bermain Chiara hendak keluar dari ruangan, ia berniat meninggalkan hotel begitu tugasnya selesai. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria berdiri di ambang pintu—Aaren.
“Malam yang indah, bukan?” Aaren membuka percakapan dengan suaranya yang tenang.
Chiara menatapnya sejenak, lalu tersenyum sopan. “Terima kasih telah mengundang saya, Tuan Baron.”
“Bolehkah saya mentraktir Anda segelas minuman?” tanyanya tiba-tiba.
Chiara sempat ragu. Namun, tatapan pria itu tidak seperti biasanya. Ada ketenangan yang aneh, tapi juga kerinduan yang entah diarahkan kepada siapa. Ia pun mengangguk pelan.
Di ruang lounge pribadi, mereka duduk berdua. Obrolan ringan berkembang menjadi percakapan yang lebih dalam.
Tentang musik, tentang ambisi dan hidup yang tak selalu ramah. Aaren jarang membuka diri, dan malam itu berbeda.
Chiara juga merasa aneh dengan kenyamanan yang datang tiba-tiba, seolah pria di hadapannya bukanlah seorang CEO dingin seperti yang sering dikabarkan.
Malam yang seharusnya berakhir begitu saja, kini berubah menjadi awal dari sebuah kekacauan.
***
Pagi hari cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai jendela. Chiara terbangun lebih dulu, menatap sekeliling dengan mata terbelalak.
Ia menyadari dirinya berada di kamar hotel mewah yang asing. Ia hanya mengenakan kemeja pria yang kebesaran. Di sebelahnya ada Aaren masih tertidur dengan wajahnya terlihat damai.
Chiara mendekap tubuhnya sendiri, mencoba mengingat apa yang terjadi malam sebelumnya. Ia dan Aaren telah melampaui batas.
Bukan karena mabuk, tapi karena emosi dan kesepian yang tak mampu mereka bendung. Kini segalanya menjadi rumit.
Tak ingin memperpanjang rasa bersalah, Chiara bangkit perlahan, meraih gaunnya yang tergantung di sandaran kursi dan bersiap pergi tanpa membangunkan pria itu.
Namun, sebelum keluar kamar, suara berat itu menghentikannya.
“Chiara.”
Gadis itu menoleh. Aaren menatapnya dengan mata masih setengah terbuka. “Jika kau hamil nanti, gugurkan saja. Aku tak ingin mengacaukan hidupmu lebih jauh.”
Chiara tertegun. Kata-kata itu terdengar datar, tetapi menyesakkan. Ia hanya mengangguk pelan lalu meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata.
***
Waktu berlalu.
Chiara berdiri di depan meja kecil di sebuah apartemen sederhana. Di tangannya, dua garis merah di alat uji kehamilan membuat napasnya tertahan. Ia benar-benar hamil. Tubuhnya bergetar. Pikiran Aaren dan kata-katanya kembali menghantam.
Namun, di tengah ketakutan itu, Chiara mengambil keputusan besar. Ia tak bisa menghilangkan kehidupan yang tumbuh dalam rahimnya. Bagaimanapun, bayi ini adalah darah dagingnya.
Maka, dengan berat hati, ia menghubungi Aaren, meminta sejumlah uang dengan alasan untuk membeli obat penggugur kandungan. Aaren mentransfernya tanpa banyak tanya.
“Anggap saja aku tak pernah ada dalam hidupmu, Aaren Baron.” bisiknya lirih setelah menutup telepon.
***
Dua tahun kemudian.
Di sebuah kafe bergaya klasik di tengah kota, suara cello mengalun lembut seraya mengiringi pengunjung yang menikmati sore dengan secangkir kopi dan obrolan santai.
Di panggung kecil di sudut ruangan, Chiara duduk tenang dengan cello di pangkuannya. Wajahnya tetap cantik dan anggun meski terlihat sedikit lebih dewasa dan matang dari dua tahun lalu.
Selesai memainkan lagu terakhirnya, ia beranjak turun dari panggung. Di luar seorang wanita muda bernama Carissa menunggunya dengan seorang anak kecil di pelukan.
“Lauren, lihat siapa yang datang,” ucap Carissa ceria.
Anak perempuan berambut ikal berlari kecil dan memeluk Chiara. “Mama!”
Chiara mengangkat Lauren dalam pelukannya, mencium keningnya penuh cinta. “Sudah rindu, ya?”
Dari kejauhan, seseorang memperhatikan adegan itu dengan tatapan terkejut. Aaren, yang secara kebetulan tengah menghadiri rapat informal di kafe yang sama, berdiri mematung.
Ia menyaksikan semuanya—bagaimana gadis kecil itu memanggil Chiara dengan sebutan 'mama' dan bagaimana wajahnya sekilas mirip sekali dengannya.
Degup jantungnya tiba-tiba tak beraturan.
“Lauren?” gumam Aaren pelan. “Itu, tidak mungkin.”
Pikiran Aaren berputar cepat. Ia tahu benar berapa lama waktu telah berlalu sejak malam itu. Dan usia anak itu tampaknya sesuai. Ia merasa dibohongi, tapi juga tergetar oleh kemungkinan besar bahwa gadis kecil itu adalah putrinya.
Tanpa membuang waktu, Aaren menghubungi asistennya.
“Selidiki wanita bernama Chiara Evolet. Semuanya. Mulai dari dua tahun lalu sampai hari ini.”