Di sebuah daerah yang namanya jarang masuk berita kecuali saat ada lomba tujuh belas Agustus, ada satu hal yang lebih terkenal daripada makanan khas, tempat wisata, bahkan gosip tetangga.
Listrik.
Bukan karena listriknya hebat. Justru sebaliknya.
Listrik di daerah itu terkenal karena hobi menghilang.
Warga sudah terbiasa. Mereka bahkan tidak lagi menyebutnya pemadaman listrik.
Mereka menyebutnya “waktu istirahat lampu”.
Menurut Pak Darto, bapak-bapak paling senior di warung kopi ujung jalan, listrik di kampung mereka memiliki perasaan.
“Lampu itu seperti manusia,” katanya sambil menyeruput kopi dengan wajah serius. “Kalau terlalu lama bekerja, dia juga butuh rebahan.”
Seorang pemuda yang duduk di sebelahnya langsung mengernyit.
“Pak, lampu itu benda. Dia tidak punya punggung untuk rebahan.”
Pak Darto mengangguk santai.
“Makanya dia rebahan di tiang listrik.”
Pemuda itu membuka mulut, ingin membantah. Namun, setelah berpikir beberapa detik, ia memilih diam.
Karena di kampung itu, logika sering kalah dengan pengalaman, dan orang yang paling hafal dengan kebiasaan listrik mati adalah Rian.
Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu sudah hidup bersama kegelapan hampir sepanjang hidupnya. Ia tahu tanda-tanda listrik akan padam.
Kalau angin bertiup terlalu kencang, biasanya mati.
Kalau hujan turun, hampir pasti mati.
Kalau listrik menyala lebih dari enam jam tanpa gangguan, justru warga mulai merasa curiga.
“Jangan-jangan ada yang salah.” Begitu kata mereka.
Malam itu, Rian duduk di teras rumah sambil menatap lampu yang berkedip-kedip.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Rian langsung menegakkan badan.
“Jangan sekarang,” gumamnya pelan.
Dari dalam rumah, ibunya langsung berseru, “Rian, kalau mau mandi, cepat! Itu lampu sudah kasih tanda.”
Rian menoleh ke arah dalam rumah. “Bu, sejak kapan lampu bisa kasih tanda?”
Ibunya menjawab tanpa ragu, “Bisa.”
“Caranya?”
“Tandanya dia mau mati.”
Rian belum sempat membalas.
Tiba-tiba ....
Klik.
Seluruh rumah langsung gelap.
Rian menghela napas.
Ibunya dari dalam langsung berkata dengan bangga, “Nah, benar, kan?”
Rian menatap langit-langit rumah yang sudah tidak terlihat.
“Ibu malah senang?”
“Bukan senang. Ibu hanya kagum masih bisa membaca tanda-tanda.”
“Yang Ibu baca bukan tanda, Bu. Itu pengalaman bertahun-tahun.”
“Berarti Ibu ahli.”
Rian tidak bisa membantah.
Di tangannya ada ponsel, dan di layar terpampang satu nama.
Nessie Kayla. Pacarnya.
Hubungan jarak jauh mereka sudah berjalan hampir dua tahun. Kayla tinggal di kota besar, tempat lampu jalan lebih banyak daripada pohon mangga. Tempat orang bisa memesan makanan tengah malam tanpa harus menunggu ayam tetangga berhenti berkokok.
Sedangkan Rian tinggal di tempat yang untuk mencari sinyal saja harus berdiri di posisi tertentu seperti sedang mengikuti ritual.
Ia menekan tombol panggil.
Tidak lama kemudian, suara Kayla terdengar. “Halo, Rian.”
Suara itu langsung membuat Rian tersenyum. “Halo, Kay. Kamu sudah makan?”
“Sudah. Kamu sendiri?”
“Belum.”
Kayla langsung curiga. “Kenapa belum?”
Rian melihat rumah yang gelap. “Listrik mati.”
Ada jeda beberapa detik.
Lalu Kayla bertanya dengan nada bingung, “Rian, apa hubungan listrik mati dengan kamu belum makan?”
Rian menjawab serius, “Hubungannya besar.”
“Sebesar apa?”
“Kalau listrik mati, rice cooker mati.”
“Terus?”
“Ibu lupa masak nasi.”
Kayla tertawa kecil. “Alasan kamu selalu aneh.”
Rian tersenyum. “Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Tidak masalah. Tetap aku terima.”
Kayla kembali tertawa.
Bagi orang lain, obrolan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Rian, mendengar tawa Kayla melalui telepon adalah sesuatu yang membuat malam gelap terasa lebih terang.
Mereka mulai bercerita.
Tentang pekerjaan Kayla.
Tentang teman Rian yang hampir jatuh ke selokan karena terlalu fokus melihat ponsel.
Tentang tetangga Rian yang mengejar kambing selama satu jam hanya untuk menemukan kambing itu sedang tidur santai di depan kandangnya sendiri.
Kayla langsung tertawa. “Tunggu, serius kambingnya balik sendiri?”
“Iya.”
“Terus tetanggamu bagaimana?”
“Masih mencari.”
Kayla mulai tertawa lebih keras. “Masih mencari di mana?”
“Di sekitar kandang.”
“Rian, jangan bercanda.”
“Aku serius.”
“Jadi kambingnya sudah pulang, tapi orangnya belum tahu?”
“Kurang lebih begitu.”
Kayla tertawa sampai suaranya terdengar lemah.
Beberapa menit kemudian, Kayla memanggil namanya.
“Rian.”
“Iya?”
“Ceritain lagi.”
Rian mengerutkan kening. “Cerita?”
“Iya.”
“Kamu mau dengar cerita kambing lagi?”
“Jangan.”
“Cerita bapak-bapak perang dengan genset?”
“Jangan juga.”
“Cerita ibu-ibu rebutan colokan saat listrik menyala?”
Kayla tertawa kecil. “Itu sebenarnya menarik, tapi jangan.”
“Terus kamu mau dengar cerita apa?”
Kayla diam sebentar. Kemudian suaranya menjadi lebih lembut. “Aku suka dengar kamu cerita.”
Rian terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Karena ceritaku bagus?”
“Bukan.”
Rian langsung memasang wajah kecewa. “Oh.”
Kayla tertawa. “Bukan begitu maksudku.”
“Lalu?”
“Karena suara kamu.”
Rian melihat layar ponselnya. “Suara aku?”
“Iya.”
“Aneh.”
“Kenapa aneh?”
“Biasanya orang suka suara penyanyi.”
“Aku tidak butuh penyanyi.”
“Terus?”
“Aku suka suara kamu.”
Rian tersenyum. “Padahal aku tidak bisa nyanyi.”
“Aku tahu.”
“Jahat.”
“Aku serius.”
Beberapa detik kemudian, Rian menyadari sesuatu.
Suara Kayla mulai melambat.
“Kamu masih dengar?”
“Iya.”
“Kenapa suara kamu kecil?”
“Tidak kecil.”
“Kecil.”
“Tidak.”
“Kayla?”
Tidak ada jawaban.
Rian menunggu.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Lalu terdengar suara pelan.
“Hmmm.”
Rian langsung diam.
“Kay?”
“Hmmm.”
“Kamu tidur?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas teratur.
Rian melihat layar ponselnya.
Panggilan masih berjalan.
Kayla tertidur. Lagi.
Rian menyandarkan kepala ke kursi. “Luar biasa.”
Ini sudah ke sekian kalinya.
Setiap mereka menelepon malam hari, Kayla selalu tertidur.
Padahal perempuan itu sanggup menonton drama sampai pukul tiga pagi.
Sanggup mengikuti konser daring sampai subuh.
Sanggup membalas pesan grup teman yang isinya ratusan chat, tapi ketika bersama Rian?
Lima menit. Tidur.
Rian menatap gelap di depannya. “Apakah aku membosankan?”
Pikiran itu mulai muncul.
Mungkin cerita kampungnya terlalu sederhana.
Mungkin hidupnya terlalu biasa.
Mungkin Kayla sebenarnya hanya tidak enak hati mengatakan bahwa telepon dengannya membosankan.
Rian melihat langit malam. “Jadi selama ini aku cuma pengantar tidur?”
Dari rumah sebelah, suara Pak Darto terdengar. “Rian!”
“Iya, Pak?”
“Kalau listrik mati, jangan lupa cabut colokan!”
Rian menoleh. “Kenapa harus dicabut, Pak?”
“Biar nanti kalau nyala tidak kaget.”
Rian menghela napas. “Listrik saja diperhatikan, Pak.”
Pak Darto menjawab santai, “Ya harus. Dia bagian keluarga kita.”
Rian hampir tertawa.
Hampir. Namun, matanya kembali melihat ponsel.
Kayla masih tertidur.
Anehnya, meski sedikit kecewa, Rian tidak memutuskan telepon.
Ia tetap diam mendengarkan napas Kayla.
Karena tanpa ia sadari, malam itu bukan hanya Kayla yang merasa nyaman.
Rian juga.