Setelah Kayla datang ke kampung Rian, ada satu hal yang berubah.
Bukan listrik.
Listrik tetap punya kebiasaan lama.
Kadang menyala.
Kadang hilang.
Kadang membuat warga bertanya-tanya apakah mereka sedang tinggal di kampung atau sedang mengikuti permainan bertahan hidup.
Yang berubah adalah Rian.
Dulu ia sering berpikir bahwa jarak adalah masalah terbesar dalam hubungannya.
Sekarang?
Ia sadar bahwa bertemu langsung ternyata membawa masalah baru.
Karena ternyata, setelah dua tahun hanya mendengar suara seseorang lewat telepon, melihat orang itu berjalan di depan mata bisa membuat Rian lupa cara bersikap normal.
Pagi itu, Rian berdiri di depan rumah sambil memegang ponsel.
Bima yang lewat langsung berhenti.
"Kamu sedang apa?" tanyanya heran.
Rian tidak menoleh.
"Memastikan sesuatu."
"Apa yang sedang kamu pastikan?"
"Memastikan aku tidak salah lihat."
Bima melihat sekeliling.
"Memangnya yang kamu lihat apa?"
"Kayla benar-benar ada di kampung."
Bima menghela napas.
"Rian."
"Iya?"
"Kamu tahu tidak? Kamu sudah mengatakan itu sejak kemarin sebanyak delapan kali."
"Serius?"
"Iya."
Rian berpikir sejenak.
"Berarti aku masih terkejut."
"Sudah dua puluh empat jam."
"Rasa terkejut butuh waktu."
Bima menatapnya sambil menggeleng.
"Tidak selama itu."
Rian hanya tersenyum kecil.
Sebenarnya ia memang masih merasa aneh.
Selama ini Kayla hanya ada di layar.
Sekarang Kayla duduk di ruang tamu rumahnya bersama ibunya, membantu membuat teh sambil berbicara santai.
Bahkan ibunya terlihat lebih cepat akrab dengan Kayla dibandingkan dengan Rian sendiri, dan itu membuat Rian sedikit heran.
"Bu."
"Iya?" sahut ibunya.
"Ibu kenapa cepat sekali dekat dengan Kayla?"
Ibunya menoleh.
"Kenapa memang?"
"Biasanya Ibu butuh waktu lama menerima orang baru."
Ibunya berpikir sebentar.
"Karena Kayla berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Dia bisa membuat kamu diam selama lima menit."
Rian langsung tersinggung.
"Bu."
"Apa?"
"Sejahat itu?"
Ibunya tertawa.
"Bukan jahat. Hebat."
"Kenapa?"
"Karena sejak kecil kamu kalau sudah cerita sulit berhenti."
Rian terdiam.
"Bahkan dulu kamu pernah cerita tentang mimpi selama empat puluh menit."
"Itu mimpi penting."
"Kamu mimpi makan bakso."
"Ada alurnya."
Dari ruang tamu, Kayla yang mendengar langsung tertawa.
Rian menoleh ke arahnya.
"Nah, lihat. Dia tertawa."
Kayla tersenyum malu.
"Maaf."
"Tidak apa-apa."
"Aku baru tahu kamu punya cerita mimpi juga."
Rian segera duduk.
"Jangan percaya semua cerita Ibu."
"Kenapa?"
"Karena Ibu punya kebiasaan melebihkan."
Ibunya langsung menyahut.
"Tidak."
Rian menatap ibunya.
"Ibu hanya menyampaikan fakta."
"Fakta yang diberi bumbu."
"Seperti masakan."
Bima yang baru masuk langsung mengangguk.
"Benar juga."
Rian meliriknya.
"Kamu jangan ikut campur."
"Aku hanya mendukung kebenaran."
"Kamu teman siapa?"
"Teman fakta."
Rian menghela napas. Namun, di balik semua candaan itu, ada satu hal yang membuatnya mulai berpikir.
Setelah pertemuan pertama mereka, apakah hubungan mereka akan tetap sama?
Sebelumnya, mereka punya dunia sendiri.
Dunia telepon malam.
Cerita sederhana.
Tawa kecil.
Sekarang semuanya berubah.
Mereka punya kenyataan, dan Rian takut kenyataan tidak seindah bayangannya.
Malam hari, Rian duduk di teras bersama Kayla.
Listrik masih menyala.
Sesuatu yang membuat Rian curiga.
"Kamu kenapa melihat lampu terus?" tanya Kayla sambil mengikuti arah pandangnya.
Rian menoleh.
"Aku sedang menunggu."
"Menunggu apa?"
"Lampu mati."
Kayla tertawa.
"Kenapa?"
"Karena selama ini momen penting selalu terjadi saat listrik mati."
"Jadi kalau listrik menyala, hubungan kita tidak berkembang?"
Rian menggeleng sambil tersenyum.
"Bukan begitu."
"Lalu?"
Rian berpikir beberapa saat.
"Aku hanya merasa aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Dulu aku mengenal kamu lewat suara."
Kayla mengangguk pelan.
"Terus sekarang?"
"Sekarang aku bisa melihat ekspresi kamu."
"Terus?"
"Lebih sulit."
Kayla mengernyit bingung.
"Sulit?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena dulu kalau kamu tertawa, aku hanya dengar suaranya."
"Kalau sekarang?"
"Sekarang aku bisa melihat kamu tertawa."
Kayla tersenyum hangat.
"Bukankah itu lebih baik?"
Rian ikut tersenyum.
"Iya."
"Lalu kenapa bingung?"
"Karena aku takut."
Kayla sedikit terdiam.
"Takut apa?"
Rian menatap jalan di depan rumah.
"Takut kalau ternyata aku yang di telepon berbeda dengan aku yang kamu lihat."
Beberapa detik suasana menjadi tenang.
Lalu Kayla tersenyum.
"Rian."
"Iya?"
"Aku sudah melihat kamu."
"Terus?"
"Kamu tetap orang yang sama."
"Benarkah?"
"Iya."
"Padahal aku tidak seromantis orang kota."
"Aku tidak mencari orang kota."
"Aku juga tidak selalu punya cerita menarik."
"Aku tidak mencari pembawa acara."
"Aku kadang terlalu banyak berpikir."
"Itu memang benar."
Rian langsung menoleh.
"Kenapa bagian itu cepat sekali dijawab?"
Kayla tertawa pelan.
"Karena itu fakta."
Rian ikut tertawa.
"Tapi?"
"Aku suka itu."
"Kenapa?"
"Karena kamu selalu peduli."
Rian terdiam.
Kayla melanjutkan dengan suara lembut.
"Kadang kamu terlalu banyak berpikir, tapi itu karena kamu takut kehilangan."
Kalimat itu membuat Rian tersenyum. Namun, belum sempat suasana menjadi romantis, suara dari luar terdengar.
"Rian!"
Rian langsung menutup mata.
"Pak Darto."
Pak Darto muncul sambil membawa ponsel.
"Ada apa, Pak?" tanya Rian.
"Saya butuh bantuan."
"Bantuan apa?"
Pak Darto mengangkat ponselnya.
"Saya mau video call dengan istri saya."
Rian mengernyit.
"Terus?"
"Saya tidak tahu cara menyalakan kamera."
Bima yang datang dari belakang langsung tertawa.
"Pak, itu masalah teknologi."
Pak Darto mengangguk mantap.
"Iya."
"Kenapa minta Rian?"
"Karena dia ahli hubungan."
Rian langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?"
"Iya."
"Aku bukan ahli."
"Kamu berhasil membuat hubungan jarak jauh."
"Itu karena kami saling suka."
Pak Darto berpikir.
"Berarti kamu ahli membuat orang suka."
"Bukan begitu, Pak."
Kayla tertawa melihat mereka.
Saat itu Rian sadar.
Mungkin setelah bertemu langsung, hidupnya tidak menjadi lebih sederhana.
Justru lebih ramai.
Lebih banyak kejadian.
Lebih banyak salah paham.
Lebih banyak hal lucu yang harus dihadapi.
Mungkin memang itu bagian dari tumbuh dewasa.
Bukan mencari hubungan yang selalu sempurna.
Melainkan menemukan seseorang yang tetap ingin tinggal meski melihat semua sisi aneh kita, dan untuk Rian, perjalanan baru benar-benar dimulai.
Karena sekarang masalahnya bukan lagi bagaimana membuat Kayla mendengar ceritanya.
Melainkan bagaimana menghadapi dunia nyata bersama Kayla, dan tentu saja, dengan listrik kampung yang masih bisa mati kapan saja.