Sendok Alyna menghantam piring lebih dulu. Arvin yang baru sampai di meja makan langsung berhenti.
“Curang,” katanya sambil menarik kursi dengan satu tangan. Rambutnya masih basah, seragam SMA belum rapi, dan dasi menggantung miring seolah ia tidak pernah berniat merapikannya sejak awal. “Kamu sengaja nyerobot.”
Alyna mendengkus, menarik piring telur dadar buatan Ayla lebih dekat ke arahnya. “Siapa cepat, dia dapat.”
Itu bukan aturan baru. Sejak kecil, meja makan selalu menjadi garis start pertama mereka.
Ayla meletakkan dua gelas susu di tengah meja. Bunyi “tok” pelan itu cukup membuat suasana sedikit mereda. Perempuan itu menatap kedua anak kembarnya bergantian, wajahnya tenang, tapi sorot matanya jelas menyimpan peringatan.
“Tidak ada lomba pagi ini,” katanya. “Sarapan bukan ajang pembuktian.”
Arvin menyeringai tipis. “Bilang itu ke Alyna.”
Alyna tidak menoleh. “Kamu saja yang lambat.”
Mereka bergerak hampir bersamaan, tangan bertemu di udara sebelum akhirnya sama-sama ditarik kembali.
“ALYNA.”
“ARVIN.”
Dua suara dewasa datang dari arah berbeda. Ayla dari dapur. Albin dari ambang pintu ruang makan, dengan kemeja kerja belum sepenuhnya dikancingkan dan ekspresi lelah yang tidak pernah benar-benar hilang.
Keduanya terdiam.
Alyna menarik napas lebih dulu, lalu mendorong piring itu ke tengah meja. “Ma, tolong bagi jadi dua. Biar adil.”
Arvin terkekeh. “Kata orang yang selalu ingin jadi nomor satu.”
Alyna melirik tajam. “Itu karena aku seharusnya lahir lebih dulu.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tapi cukup untuk membuat Albin berhenti mengancingkan kemejanya.
“Masih soal itu?” tanyanya.
Alyna menyandarkan punggung ke kursi. “Sepuluh menit, Pa. Sepuluh menit doang, tapi gara-gara itu si Arvin harus selalu dipanggil ‘kakak’ di rumah ini.”
“Karena memang begitu faktanya,” balas Arvin santai. “Aku keluar duluan.”
“Keluar duluan bukan berarti lebih hebat.”
“Dunia tidak peduli siapa yang paling hebat.” Arvin menyeringai. “Mereka cuma mencatat siapa yang datang lebih dulu.”
Ayla membagi telur dadar itu dengan hati-hati, memastikan potongannya hampir sama besar. “Kalian berdua datang ke dunia di hari yang sama. Itu yang penting. Sudah, jangan ribut lagi.”
Alyna tidak menjawab. Ia menatap piringnya, lalu ke arah Arvin. Ada sesuatu di wajah kembarannya yang selalu membuatnya ingin menang. Bukan karena benci, tapi selalu kalah itu tidak menyenangkan.
Di sekolah pun begitu.
Siapa yang duduk di peringkat atas.
Siapa yang dipanggil duluan oleh guru.
Siapa yang dikenal lebih cepat.
Mereka selalu berlomba, bahkan tanpa sadar.
“Jangan pulang telat,” kata Albin sambil meraih gelas susu miliknya. “Ingat, jangan cari masalah dengan paman kalian.”
Arvin berdiri lebih dulu, menyambar roti terakhir di meja. “Selama Alyna tidak mulai duluan, aku pasti diam.”
Alyna ikut berdiri. “Kamu yang selalu mulai duluan.”
Suara klakson terdengar dari depan rumah. Dua kali. Tanda yang sudah mereka hafal di luar kepala.
“Paman,” gumam Arvin sambil menyambar tasnya.
Alyna sudah lebih dulu berlari kecil ke arah pintu. Seperti biasa, tidak mau kalah bahkan dalam urusan masuk mobil.
Ayla dan Albin berdiri di samping meja makan, memperhatikan pemandangan yang nyaris selalu sama setiap pagi. Dua anak itu saling mendahului, bahu saling senggol, langkah dipercepat, seolah siapa yang lebih dulu membuka pintu mobil akan memenangkan sesuatu.
“Pelan-pelan!” seru Ayla, meski tahu teriakannya jarang didengar.
Pintu mobil terbuka. Alyna lebih dulu meraih gagangnya, tapi Arvin menyelipkan tubuhnya dengan cekatan. Ia duduk di kursi depan sambil tertawa kecil penuh kemenangan.
“Dasar!” Alyna mendecak, lalu duduk di belakang dengan wajah masam.
Nunu menoleh sebentar lewat kaca spion. Senyum tipis muncul di wajahnya. Seperti orang yang terbiasa berada di antara kekacauan.
“Selamat pagi,” sapanya singkat.
Mobil mulai melaju, meninggalkan halaman rumah yang masih basah oleh embun. Dari dalam, Alyna menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela, lalu menghela napas. Pertanyaan yang sama, yang entah sudah berapa kali ia ajukan, meluncur lagi tanpa peringatan.
“Paman lebih sayang aku atau Arvin?”
Nunu tidak langsung menjawab.
Lampu merah di ujung jalan membuat mobil berhenti. Dari kaca spion, tatapannya bertemu dengan mata Alyna. Tajam, penuh rasa ingin tahu, sekaligus menantang.
Arvin menyeringai, menunggu jawaban.
“Pertanyaan yang salah,” kata Nunu akhirnya. “Harusnya kamu tanya, siapa yang lebih sering bikin Paman naik darah.”
“Itu pasti Alyna,” sahut Arvin cepat.
Alyna memutar bola mata. “Curang. Aku cuma mau Paman jujur.”
Nunu terkekeh pelan.
“Dengar,” katanya kemudian, suaranya turun setingkat. “Paman tidak bisa memilih. Tugasnya cuma pastikan kalian berdua pulang dan pergi dengan selamat.”
Kata selamat bergema lebih lama dari seharusnya. Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju.
Dari ambang pintu, Ayla masih berdiri, matanya mengikuti mobil itu sampai menghilang di tikungan. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak.
Ia tahu Nunu bukan orang sembarangan. Ia juga tahu, jika pria itu yang mengantar, anak-anaknya akan aman. Rasa tenang itu selalu datang beriringan dengan kecemasan kecil yang tak pernah bisa ia singkirkan.
Albin meraih bahu Ayla. “Mereka akan baik-baik saja.”
Ayla mengangguk, mereka kembali ke meja makan. Suasana mendadak terasa lebih lengang. Dua kursi kosong di hadapan mereka masih menyisakan remah roti dan gelas susu yang belum habis.
Albin duduk, kembali meneguk susunya yang tinggal setengah. Ayla kembali ke kursinya, mengambil sendok, tapi hanya memindahkan makanan tanpa benar-benar memakannya.
“Menurutmu,” katanya akhirnya, memecah keheningan, “apa Nunu bakalan mau balik lagi jadi detektif?”
Albin menghentikan gerakan sendoknya. Ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap permukaan susu yang hampir habis, seolah pertanyaan itu menarik sesuatu dari masa yang seharusnya sudah lama dikubur.
“Aku rasa,” katanya pelan, “dia sudah cukup menikmati hidupnya sebagai chef.”
Ayla mendengkus kecil. “Tidak bisa dibilang chef juga. Kamu tahu, kan? Sejak si kembar lahir, dia malah lebih sering di rumah. Antar jemput anak-anak itu bukan pekerjaan.”
Albin tersenyum tipis. Senyum yang mengandung kelelahan sekaligus kagum.
“Yang penting dia bukan pengangguran, Ayla,” katanya. “Dia sudah jadi bos besar. Cabang restonya ada di mana-mana.”
Ayla mengangkat alis. “Masih saja kamu bangga.”
“Fakta tetap fakta.” Albin menyandarkan punggung ke kursi. “Kalau aku jadi dia, aku juga akan memilih duduk santai di rumah. Biar karyawan yang bekerja. Kita tinggal ongkang-ongkang kaki, tapi rekening tetap gendut. Benar kan? Dia bahkan lebih kaya dariku sekarang.”
Ayla menatap meja makan, jarinya mengepal pelan di atas taplak. Suaminya memang realistis. “Kamu tahu maksudku bukan itu.”
Albin tahu.
Ia tahu, yang Ayla maksud bukan soal uang, bukan soal cabang usaha, bukan pula soal kesuksesan. Yang Ayla pertanyakan adalah satu hal yang tidak pernah benar-benar pergi dari diri Nunu. Instingnya.
“Beberapa orang,” kata Albin akhirnya, “tidak pernah benar-benar berhenti. Mereka cuma belajar pura-pura tenang.”
Ayla terdiam. Di luar, angin pagi menggoyangkan daun-daun dengan suara lembut. Terlalu tenang untuk sebuah rumah yang pernah menjadi tempat awal banyak rahasia.
“Menurutmu, bagaimana kalau suatu hari dia dipanggil lagi?” tanya Ayla lirih.
Albin menatap ke arah pintu, ke jalan yang sudah kosong. “Kalau itu terjadi,” katanya, “berarti ada sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh orang lain.”
Ayla menarik napas dalam. Entah kenapa, bayangan wajah kedua anaknya melintas di kepalanya.
“Kuharap dia bisa melakukannya lagi karena panggilan hati. Bukan panggilan orang lain.”