

Adipati lelah menjadi korban, pantaskah dia berdalih menjadi pelaku? Luka berubah menjadi dendam yang akan membinasakan musuh dengan ilmu hitam Pangarasa, yang akan membuat satu keluarga mengalami depresi masal. Hingga pada akhirnya, salah satu keluarga musuh memberontak dan melawan ilmu hitam Pangarasa yang telah dikirimkan Adipati.
Kota Kembangan, 1990. Pukul 17.30.
Di sebuah rumah sederhana tipe pinggiran terdengar suara keributan dengan dibarengi bunyi televisi hitam putih yang menyala.
Tepat di dalam suasana remang yang dihiasi lampu bohlam kuning 5 watt, di ruang makan itu kebersitegangan pun berlangsung.
"Sayurnya tidak enak!" ucap seorang pria berwajah garang setelah ia melemparkan sayur asam yang telah dimasak susah payah oleh istrinya. Pria itu bernama Aji Garang, seorang suami temperamental.
"Kalau Aa tidak suka sama makanannya, jangan dibuang. Mubazir, Aa!" kata istrinya yang bernama Mekar Harum. Ia langsung membersihkan sayur yang di tumpahkan oleh suaminya tadi sambil menangis di bawah lantai.
Bertepatan saat itu segerombolan awan menurunkan hujan bagai sekumpulan malaikat yang sedang menangisi nasib Mekar Harum.
"Ahh! Aku sudah tidak berselera makan lagi." Lalu Aji Garang pun pergi dengan lebih dulu membentak istrinya.
"Aa mau pergi ke mana? Di luar hujan?" tanya Mekar Harum khawatir pada suaminya.
"Ahh! Terserah aku mau pergi ke mana!" balas Aji Garang masih dengan kemarahannya.
Sore itu, Mekar Harum masih memunguti satu persatu potongan sayur berupa labu siam, jagung manis dan buah melinjo beserta daunnya ke dalam mangkuk.
"Biar Adipati bantu, Bu!" Tiba-tiba seorang pemuda tampan, berkulit putih dengan rambutnya yang hitam bergelombang datang menggantikan pekerjaannya.
"Jangan! Biar Ibu saja!" bantah Mekar Harum cepat kepada anak bujangnya itu.
"Tak apa, Bu!" Adipati kekeh ingin membersihkannya sendiri. Ia langsung menyuruh ibunya untuk berdiri.
"Dari tadi kamu ada di sini?" tanya Mekar Harum dengan raut wajah gelisah.
"Iya, Bu!" jawab Adipati singkat.
"Jadi, Ibu sama Ayah jangan tanya lagi, kenapa aku tidak mau punya pacar apalagi menikah." Adipati berkata tanpa melihat kepada ibunya. Ia masih sibuk membersihkan sayur tumpah yang berceceran di bawah lantai.
Mekar Harum pun terhenyak dan langsung menyuruh Adipati untuk berdiri.
"Ibu sudah bilang sama kamu, kalau Ibu sama Ayah sedang bertengkar, kamu pergi, gak usah lihat," ucap Mekar Harum dengan emosional.
Kedua mata Adipati berkaca-kaca menahan tangis.
"Saat umurku 10 tahun, Ibu juga bilang begitu. Tapi aku tidak bisa, Bu. Aku terlalu takut untuk meninggalkan Ibu. Aku takut Ayah berbuat nekat sama Ibu," balas Adipati dengan suara parau.
"Tapi akibatnya kamu menjadi trauma, Sayang! Kamu itu sudah berumur 30 tahun, seharusnya sudah menikah dan punya anak," tutur Mekar Harum dengan isak tangis yang tiada henti sambil membelai rambut Adipati yang bergelombang.
Adipati hanya tersenyum hambar kepada ibunya. "Ibu, dengarlah keluh kesahku malam ini!"
Adipati berlutut di bawah cahaya lampu yang remang, menggenggam tangan ibunya yang mulai keriput dimakan waktu.
"Bu, setiap malam aku selalu berdoa, jangan beri aku jodoh, ya Allah. Bukan karena aku tak ingin dicintai, tapi karena aku takut. Takut darah yang mengalir di nadiku membawa warisan amarahnya. Takut tanganku yang Ibu elus ini suatu hari akan berubah menjadi tangan yang Ibu hindari," kata Adipati.
"Aku melihat masih ada bekas luka di sudut mata Ibu. Luka yang tak pernah Ayah minta maaf atasnya. Dan aku takut, suatu hari nanti aku akan jadi cermin retak dari dirinya. Jadi pria yang menukar janji suci dengan suara bentakan dan tangis. Jadi biarlah aku sendiri, Bu. Biarlah doaku yang patah ini Tuhan dengar. Karena lebih baik aku memeluk sepi, daripada suatu hari aku menyakiti Ibu lagi lewat wanita yang akan kupanggil istri."
Adipati terdiam, air matanya jatuh tepat di punggung tangan ibunya yang hangat, tapi terasa seperti belati.
"Maafin Ibu ya!" Mekar Harum memeluk Adipati sambil menangis.
"Aku tidak mau seperti Ayah, Bu!" kata Adipati kembali.
"Apa pun keputusanmu, Ibu akan mendukung."
Kesedihan itu perlahan sirna bagai hujan rintik-rintik yang datang lalu pergi diterpa angin. Kini Adipati dan ibunya melanjutkan untuk membereskan ruang makan yang kotor dan berantakan.
"Bu!" panggil Adipati saat menyapu lantai.
"Iya!" jawab Mekar Harum yang sedang merapikan piring kotor di atas meja.
"Kenapa Ayah memarahi Ibu tadi?" tanya Adipati mulai mempertanyakan inti permasalahan.
"Itu, karena sayur asam buatan Ibu tadi tidak enak!" jawab Mekar Harum pelan.
Adipati terdiam sejenak untuk menyapu lantai yang mulai perlahan bersih.
"Tapi, sayur asem buatan Ibu tadi enak, kok! Aku saja sampai nambah nasi dua piring," sambung Adipati memberitahu ibunya dengan jujur.
Mekar Harum langsung menatap heran kepada Adipati. "Tapi kata Ayah, sayurnya tidak enak."
"Kalaupun iya tidak enak, 'kan bisa dibicarakan baik-baik, jangan anarkis," tegas Adipati.
"Sifat ayahmu memang begitu! Jadi dimaklumi saja," balas Mekar Harum lembut.
Adipati terlihat gusar mendengarnya dan Mekar Harum lekas menghampiri untuk meredam amarahnya.
"Sepuluh tahun loh Bu, kita memaklumi sifat Ayah yang temperamental. Emang dasarnya saja Ayah yang tidak mau berubah," ucap Adipati dengan kemarahannya.
"Sabar, Sayang!" Mekar Harum berkata manis kepada Adipati bilamana ia sedang marah. Lalu pipinya ia cubit gemas.
"Tapi Bu, mau sampai kapan kita terus sabar? Apa sampai Ayah mati dulu, baru hidup kita bisa tenang?" sayangnya Adipati masih marah. Biasanya ia akan tersenyum lembut kepada ibunya saat pipinya dicubit.
Mekar Harum menurunkan tangannya. Perlahan, ia menutup kedua matanya di depan Adipati.
"Lalu, mau kamu apa? Kamu mau Ibu sama Ayah gimana?" tanya Mekar Harum ingin memperjelas keinginan anaknya.
Adipati menghela napas panjang. Lalu menjawab, "Aku ingin Ibu sama Ayah bercerai."
Mekar Harum membuka kedua matanya kembali saking terkejut mendengar keinginan Adipati.
"Ibu enggak bisa!" balasnya cepat sambil menggelengkan kepala.
Suasana menjadi tegang kembali.
"Kenapa tidak bisa? Ayah itu pria paling jahat yang aku kenal. Dia juga ringan tangan dan suka berkata kasar sama Ibu. Ayah itu bukan imam yang baik," ucap Adipati, emosi.
"Ibu sangat mencintai Ayah. Dan Ibu sudah berjanji tidak akan berpisah dengan Ayah kecuali maut yang memisahkan kami," jawab Mekar Harum.
Adipati kecewa dengan prinsip ibunya yang menurutnya itu sangat egois. Adipati pun lekas pergi setelah ia menyimpan sapu di bawah lantai.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Mekar Harum sambil melihat Adipati yang sedang berjalan ke kamar.
"Mau istirahat!" balas Adipati singkat.
Krak!
Pintu kamarnya dikunci, kemudian Adipati membaringkan tubuhnya yang lelah di atas kasur yang empuk. Namun kedua matanya masih membelalak. Melihat langit-langit kamar sembari mengeluhkan keadaannya.
"Andai saja Ibu tidak menikah dengan Ayah, pasti Ibu akan bahagia hidup sama pria yang baik. Tak apa aku tidak dilahirkan ke dunia ini, asalkan Ibu bahagia."
Lukanya begitu parah. Hatinya tidak mudah sembuh. Rapuh adalah kata yang tepat untuk melambangkan kesakitannya. Namun hebatnya, Adipati menyembunyikan semua luka itu di dalam diam.
Diam yang menjadi kekuatannya, diam juga yang akan membalaskan semua rasa sakitnya nanti. Karena diam adalah senjata paling mematikan.

Dejuju.Y
5 Pengikut · 3 Novel