


oleh KucingKertas · 65 Bab
Sebuah meteorit yang jatuh ke wilayah terpencil, menimbulkan parasit yang bisa berkembang di dalam tubuh manusia. Mampukah para ilmuwan menemukan cara menghentikan parasit menular ini? Atau justru parasit ini akan mengubah peradaban manusia menjadi mengerikan?
Sore itu, langit masih terlihat cerah menunjukkan sunset yang terlihat jingga di atas sebuah kota kecil tempat Arhan menetap bersama istri dan anaknya.
Suara riang anaknya terdengar seperti pelepas untuk rasa penatnya setelah seharian bekerja di sebuah rumah sakit yang ada di kota tersebut.
"Papa! Yee ... Papa sudah pulang!" teriak Mika, anaknya yang baru menginjak usia tujuh tahun.
"Mika ... hati-hati, jangan lari-lari nanti jatuh, loh." Nabila, istrinya, berjalan ke teras rumah untuk menyambutnya. Ia meraih tas kerja Arhan dan menggandeng tangan suaminya itu untuk masuk ke dalam rumah. Sungguh gambaran keluarga harmonis.
"Sayang, mandilah. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita." ucap Nabila tersenyum manis ke arah suaminya, Arhan.
"Baiklah." Arhan berjalan menuju ke kamarnya.
Sementara Nabila bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam di temani Mika yang terlihat asik bermain, duduk di meja makan.
Keluarga kecil itu tampak harmonis, terlihat mereka saling menyanyangi satu sama lain. Hingga makan malam berakhir, mereka bercengkrama di ruang keluarga. "Ma.. Mika ngantuk.." Mika mengusap matanya.
"Ya sudah, masuk ke kamar, ya. Tidur yang nyenyak anak Mama." Nabila mencium kening putrinya dengan sayang. Kemudian Mika masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu kenapa nggak tidur juga, sayang?" tanya Arhan.
"Aku belum mengantuk," jawab Nabila. "Oh, ya. Bagaimana pekerjaan kamu di rumah sakit, sayang?"
"Ya begitulah ... namanya juga seorang dokter, setiap hari aku harus mengurus puluhan pasien di sana." Arhan menjawab santai, sambil merangkul pundak istrinya merapat ke dadanya.
"Hebatnya suamiku. Untunglah kamu dokter, sayang. Aku jadi tidak khawatir kalau diantara kami ada yang sakit, karena kamu pasti akan segera menyembuhkan kami." Nabila menatap lekat ke arah Arhan.
Arhan tersenyum, kemudian mengulum bibir istrinya dengan mesra. Mereka terlihat semakin jauh memanas dengan permainan mesranya.
Hingga tanpa mereka sadari, tiba-tiba terdengar bunyi keras yang membuat mereka tersentak.
Bumm!
"Suara apa itu?" Nabila terkejut.
"Aku tidak tahu, tapi kedengarannya itu cukup jauh dari rumah kita." Arhan memasang telinganya baik-baik.
"Iya, tapi suara apa itu sampai rumah kita terasa bergetar." Nabila jelas sangat khawatir. Ada perasaan takut dan penasaran dihatinya.
"Apa mungkin, bom?" Arhan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu untuk melihat kondisi di luar.
Nabila mengikuti. "Sayang, kamu mau kemana?"
"Aku hanya akan melihat kondisi di luar rumah." Arhan membuka sedikit daun pintu, dan melihat para tetangganya sebagian besar keluar dari dalam rumah. "Lihatlah, tetangga kita banyak berkumpul di luar rumah. Mungkin mereka juga terkejut."
Arhan dan Nabila pun turut keluar dari rumahnya, berjalan mendekati para tetangganya yang terlihat sedang menerka-nerka suara tadi.
"Ada apa, Pak? Suara apa tadi?" ucap Arhan kepada Kasim, tetangganya.
"Tidak tahu. Tapi tadi anak Pak Tito melihat sebuah cahaya terang melesat dari langit menuju ke arah utara." sahut Kasim.
"Cahaya?" Arhan berpikir cahaya apa yang melesat di langit dan menimbulkan suara keras tadi. "Itu menunjukkan arah ke hutan."
Cukup lama mereka menebak suara keras apa yang sudah menggangu ketenangan malam mereka.
"Sayang, di luar dingin. Ayo kita masuk." bisik Nabila.
Arhan mengangguk dan masuk ke dalam rumahnya.
***
Esok paginya, Arhan bersiap akan berangkat ke rumah sakit menjalankan tugasnya sebagai dokter. Ia masuk ke dalam mobilnya kemudian melaju setelah melambai ke arah Nabila yang menatapnya dari depan rumah.
"Hati-hati ya, sayang."
Setelah mobil Arhan tidak terlihat lagi, Nabila berniat masuk ke dalam rumahnya. Tapi, langkahnya terhenti ketika seorang pemuda berteriak di komplek perumahan itu. "Ada meteor! Ada meteor!" serunya.
Spontan para penghuni perumahan itu keluar dari dalam rumah mereka. "Meteor apa maksud kamu?" ucap Kasim.
Nabila yang merasa ingin tahu juga segera mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Ternyata suara keras tadi malam berasal dari meteor yang jatuh, Pak. Saya barusan melihatnya di pinggir hutan!" sahut Vito, pemuda yang suka melakukan camping bersama teman-temannya itu.
"Benarkah? Kamu tidak bohong?" desak Kasim memastikan.
"Uhuk! Uhuk! Benar, Pak. Buat apa saya bohong." Vito menjawab sambil terbatuk-batuk.
"Ya sudah, ayo kita lihat beramai-ramai benda asing apa sebenarnya itu." ajak Kasim.
Para warga segera bergegas menuju ke tempat yang Vito maksud untuk melihat benda yang disebut meteor itu.
Sementara Nabila yang juga penasaran pun merasa ingin ikut juga, ia mengambil kunci mobilnya dan segera pergi bersama Mika.
Sesampainya di tempat yang di maksud, ternyata tempat itu sudah penuh dengan para polisi dan perangkat desa lainnya.
Sepertinya mereka tengah memeriksa benda asing itu. Bahkan Nabila dan Mika merasa sulit untuk melihat di karenakan ramai dan polisi yang menjaga ketat area tersebut.
"Ma ... kita pulang aja, yuk. Di sini ramai sekali, kita gak akan bisa melihat." keluh Mika dengan nada kecewa.
Nabila setuju dengan ucapan anaknya. Sia-sia mereka ke sini, kalau ternyata polisi sudah menjaga tempat itu dengan ketat. "Iya, Nak. Kita pulang aja." Nabila menjawab. "Lagian kenapa Vito gak bilang kalau tempatnya sudah ramai begini." gerutunya, sedikit kecewa karena tidak bisa melihat wujud benda asing itu.
Tapi dari yang ia dengar, benda itu cukup besar. Tak heran suaranya sampai ke rumahnya hingga menimbulkan getaran di bumi.
Nabila melajukan mobil merahnya dan kembali ke rumah.
Ia hanya akan menunggu bagaimana cerita Kasim nanti yang tadi terlihat begitu berusaha agar diizinkan masuk ke area itu untuk melihat.
Nabila memasuki gang perumahan elit tempatnya tinggal. Awalnya semua terlihat tenang, hingga matanya tak sengaja melihat Vito yang terlihat sesekali mengusap hidungnya. "Vito ... kenapa dia? Perasaan tadi baik-baik aja." gumam Nabila.
"Ma ... kenapa wajah Om Vito jadi merah gitu?" tanya Mika yang juga memperhatikan Vito dari dalam mobil.
Nabila melihat ke arah Vito sekali lagi, dan ya, wajah Vito kini terlihat semakin memerah seperti tomat. Ia juga terbatuk-batuk seperti tengah mengalami flu.
"Mungkin Om Vito sedang flu, Nak," ucap Nabila tanpa curiga sedikit pun. Ia memarkirkan mobilnya ke garasi dan masuk ke dalam rumah.

KucingKertas
4 Pengikut · 1 Novel