"Binsar, kapan lagi kau menikah?"
Kalimat itu kembali terdengar bahkan sebelum Binsar sempat mengangkat sendok berisi mi instan.
Panggilan video keluarga yang awalnya ia kira hanya untuk menanyakan kabar berubah menjadi sidang adat versi daring.
Di layar ponsel, wajah Inang memenuhi separuh layar.
"Bukannya makin muda kau di Jakarta, malah makin tua. Umurmu sudah tiga puluh, bah."
Amang ikut menyahut dari belakang,"Coba cari paribanmu itu. Dulu waktu kecil kalian sering main di sawah."
"Aku bahkan sudah lupa wajahnya, Mang."
"Lupa wajah boleh. Marga jangan lupa."
Belum selesai Binsar menjawab, suara Opung terdengar lebih keras daripada pengeras suara gereja.
"Horas! Kalau kau pulang bulan ini, siapa tahu langsung dapat tanggal pesta."
Binsar memijat pelipis.
"Opung pulang belum tentu langsung nikah."
"Kalau begitu, pulang dulu. Soal nikah nanti biar kampung yang mengurus."
Semua orang mengangguk seolah itu solusi paling masuk akal di dunia.
Telepon ditutup.
Binsar memandangi langit-langit kontrakannya sambil mengembuskan napas panjang.
"Kalau satu keluarga sudah kompak begini, melawan mereka sama saja melawan angin Danau Toba."
Tiga hari kemudian, sebuah bus melaju menyusuri jalan berliku menuju kawasan Danau Toba.
Udara berubah semakin sejuk.
Perbukitan hijau berlapis kabut membentang sejauh mata memandang. Angin membawa aroma tanah basah bercampur harum pinus. Di kejauhan, permukaan danau berkilau diterpa matahari pagi seperti hamparan kaca biru.
Binsar menurunkan kaca jendela.
"Ah ini baru udara," gumamnya.
Di terminal kecil, ia menyewa sepeda motor.
Pemilik rental menyerahkan kunci.
"Mau ke mana, amang?"
"Ke rumah Tulang Sihombing."
"Oh pakai Maps saja. Sinyal sekarang lumayan."
Binsar tersenyum percaya diri.
"Aman. Google Maps tidak pernah salah."
Kalimat itu diucapkannya dengan keyakinan penuh.
Semesta rupanya sedang menahan tawa.
Motor matic itu melaju melewati jalan sempit yang diapit sawah menghijau. Sesekali ayam kampung berlari menyeberang tanpa rasa bersalah.
Dari sebuah lapo, aroma kopi baru diseduh bercampur bau ikan arsik menyeruak ke jalan.
Beberapa bapak tertawa sambil memainkan kartu.
"Bah, orang kota itu."
"Naik motor pelan kali."
"Takut ayam rupanya."
Binsar pura-pura tidak mendengar.
Google Maps tiba-tiba berbunyi.
"Lurus seratus meter, kemudian belok kanan."
Ia menurut.
"Lanjut lima ratus meter."
Ia kembali menurut.
Jalan makin kecil.
Rumah-rumah adat mulai berjajar.
Di kejauhan terdengar gondang Batak mengalun meriah.
"Wah," gumamnya. "Pas kali. Mungkin memang ada pesta di kampung Tulang."
Google Maps kembali berbicara.
"Tujuan Anda berada di sebelah kiri."
Binsar menghentikan motor.
Sebuah rumah adat besar berdiri megah.
Halamannya dipenuhi tenda.
Puluhan orang mengenakan ulos.
Anak-anak berlarian.
Ibu-ibu sibuk membawa panci.
Asap masakan mengepul bersama aroma saksang dan arsik yang membuat perutnya langsung berbunyi.
"Bah tepat kali."
Ia mematikan motor.
Belum sempat melepas helm, seorang bapak bertubuh besar menghampiri sambil tersenyum lebar.
"Horas! Akhirnya datang juga!"
Binsar tersenyum kikuk.
"Horas."
"Nah, inilah anak Jakarta itu!"
Dalam hitungan detik, lima orang sudah mengelilinginya.
Seorang inang memegang lengannya.
"Aduh, ganteng juga."
Yang lain mengangguk.
"Paslah."
Binsar mulai bingung.
"Maaf, ini rumah Tulang Sihombing, kan?"
Semua mendadak diam.
Lalu bapak tadi tertawa keras.
"Sihombing? Bah! Di sini marga Simamora!"
Tawa meledak dari berbagai arah.
Binsar ikut tertawa kecil, walaupun sebenarnya ingin menghilang.
"Kalau begitu saya salah kampung."
"Sudah terlanjur turun," kata seorang opung santai. "Masuk dulu. Salah kampung boleh, asal jangan salah makan."
Belum sempat menolak, seseorang sudah menyodorkan secangkir kopi.
Yang lain memberinya sepiring kue.
Seorang anak kecil berbisik kepada temannya dengan suara cukup keras.
"Itu pasti calon menantu dari Medan."
"Bukan. Dari Jakarta."
"Jakarta lebih mahal."
Dalam waktu kurang dari lima menit, gosip itu menyebar lebih cepat daripada notifikasi grup keluarga.
Di sudut halaman, seorang ibu berbisik kepada ibu lain.
"Itulah katanya yang mau dijodohkan."
"Kerjanya apa?"
"Gajinya berapa?"
"Sudah punya rumah?"
"Mobilnya ada?"
"BPJS aktif?"
Binsar yang mendengar sebagian percakapan itu hampir tersedak kopi.
"Ai bahkan BPJS pun ikut ditanya."
Ia buru-buru mengeluarkan ponsel.
Google Maps masih menampilkan tanda tujuan dengan percaya diri.
Ia memperbesar peta.
Lalu memperkecil.
Memperbesar lagi.
Barulah ia menyadari ada dua desa dengan nama yang hampir sama.
Yang satu berada tiga kilometer dari tempatnya berdiri.
Yang satu lagi adalah kampung ini.
Binsar menepuk dahinya.
"Tamatlah aku."
Saat ia hendak berpamitan, suara seorang wanita terdengar dari belakang.
"Amang Binsar?"
Ia berbalik.
Seorang gadis berambut panjang berdiri di ambang pintu rumah adat sambil memegang baki berisi gelas.
Ia tersenyum ramah.
"Katanya Abang datang mau bertemu pariban?"
Seluruh halaman mendadak sunyi.
Puluhan pasang mata serempak menoleh kepada Binsar.
Binsar membeku.
Di layar ponselnya, Google Maps tiba-tiba berbunyi dengan nada datar yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Anda telah tiba di tujuan."
***
Suara dari ponsel itu membuat semua orang spontan menoleh.
Arga mengangkat layar ponselnya tinggi-tinggi.
"Nah, dengar kan? Akhirnya dia mengaku juga!"
Tiur terkekeh. "Mengaku apa?"
"Kalau tujuan sebenarnya memang kamu."
"Ih, pede kali."
"Bah, setelah mutar satu kabupaten, masa enggak boleh pede?"
Opung berdeham. "Jadi, siapa yang paling berjasa?"
"Google Maps?" tebak Tulang.
"Salah," jawab Arga sambil merangkul Tiur.
"Lalu?"
"Opung yang salah pencet titik lokasi."
Semua tertawa.
Opung mengangkat cangkir kopinya. "Kalau begitu, salah pencetku ternyata paling berguna seumur hidup."
"Setuju!" seru semua kompak, disusul tawa panjang yang menghangatkan sore.