


oleh Ely Arsad · 57 Bab
Nadhiva Shima Adnan, gadis yatim piatu yang berjuang keras meraih banyak prestasi di pesantren tempatnya menimba ilmu. Ia ingin mendapatkan kepercayaan dari pemilik pesantren guna mewujudkan amanat ibunya sebelum meninggal, yakni membersihkan nama ibunya semasa masih di pesantren. Apa yang sebenarnya terjadi terhadap ibunya? Dapatkah Nadhiva mewujudkan amanat tersebut meski banyak aral melintang di depannya yang notabene adalah salah satu keluarga pesantren itu sendiri?
Byuuur! Byuuur!
Dua ember air dingin mengguyur sesosok tubuh muda berbalut gamis warna hitam dengan jilbab lebar berwarna senada yang tengah tergolek di gudang belakang milik pesantren Nuzulul Qur'an.
"Allaahu akbar … astaghfirullahal'adhiim," pekik gadis itu kaget. Kedua bola inderanya menatap sekitarnya dengan kebingungan.
Sambil meringkuk karena merasa kedinginan, Nashima, nama gadis berusia dua puluh tahun itu bertanya, "Ke-kenapa saya bisa berada di-di gudang ini, Ustazah Marni?"
"Kamu bertanya kenapa kamu bisa berada di gudang ini?! Hei, Nashima! Harusnya kami yang bertanya hal itu terhadapmu! Sekarang bangun! Ikut kami menghadap Bu Nyai Aisyah dan kamu jelaskan semua di hadapan beliau juga Pak Kyai. Cepat!" hardik Ustazah Marni, ketua para ustazah yang berusia jelang kepala tiga. "Kalian seret dia ke pesantren dalam, ke kediaman Nyai Aisyah."
Ustazah Marni kemudian berlalu terlebih dahulu setelah memberi perintah kepada ustadzah lain yang merupakan bawahannya. Tak ada yang berani menolak perintah Ustazah Marni karena dia adalah ketua para santri dan ustadzah yang bertanggung jawab di pesantren tersebut.
"Ayo, Shima. Daripada nanti Ustazah Marni bertambah marah," ujar Ustazah Ruwaidah yang tak lain merupakan sahabat Ustazah Nashima, dengan lembut.
"Kenapa aku bisa berada di gudang ini, Ruwaidah?" tanya Nashima lemah.
Ruwaidah memandang sahabatnya heran. "Bagaimana mungkin kamu tidak tahu, Shima? Bukankah semalam kamu tidur di ruanganmu? Tidak mungkin kan, kamu berjalan sendiri ke gudang dalam keadaan tidur? Sudahlah. Ayo, kamu ganti baju terlebih dahulu biar kamu tidak kedinginan, kemudian kita menghadap Ibu Nyai Aisyah."
Diikuti beberapa ustazah lain, mereka bergegas menuju pesantren putri. Dalam keadaan basah kuyup, Nashima diarak ke lapangan pesantren putri.
*****
Sementara itu Ustazah Marni langsung menuju kediaman Nyai Warningsih.
"Perintah sudah saya laksanakan, Bu Nyai. Saya yakin, sebentar lagi Nashima akan dikeluarkan dari pesantren." Dengan tersenyum sinis, Ustazah Marni memberi laporan.
"Bagus sekali kerjamu, Marni. Kita akan eksekusi dia setelah keluar dari pesantren ini. Ambil botol kecil itu. Kalian lakukan agak jauh di belakang pesantren, dekat rumpun bambu sana, biar mayatnya tidak ditemukan orang. Buat berita miring terhadapnya," titah Nyai Warningsih dengan pandangan seolah menyimpan dendam.
"Baik, Bu Nyai. Sekarang saya menghadap ke kediaman Nyai Aisyah. Permisi. Assalamualaikum," pamit Ustazah Marni.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah."
******
Satu jam yang lalu, dari jarak yang tak terlalu jauh, Nashima memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ustazah Marni di dapur pribadi Nyai Aisyah.
Terlihat oleh Nashima, Marni secara diam-diam sedang mencampurkan sesuatu ke dalam makanan yang hendak disajikan kepada Kyai Sufyan Anshori dan keluarganya sambil menoleh ke kanan dan kiri.
‘Bukankah itu sajian makan malam untuk Pak Kyai Sufyan dan istri beliau, Bu Nyai Aisyah? Apa yang sudah dimasukkan Ustazah Marni ke dalam makanan itu?’ Nashima bertanya dalam hati.
“Bubuk penghancur janin ini akan bekerja selama seminggu ke depan. Jadi, tak akan ada yang curiga jika Bu Nyai Aisyah mengalami keguguran dan Pak Kyai Sufyan meninggal karena serangan jantung akibat efek obat ini secara perlahan-lahan. Dan aku ... akan mendapat hadiah yang besar seperti yang telah dijanjikan Nyai Warningsih,” seringai Ustazah Marni girang. "Ah, ini untuk Gus Hadi. Maafkan saya, Gus. Sebenarnya saya tidak tega."
Ustazah Marni segera menyelesaikan membubuhkan bubuk obat ke makanan terakhir yang merupakan milik Gus Hadi Sufyan Anshori, putra pertama kyai Sufyan Anshori yang berusia lima tahun.
“Beres. Tugasku dari Nyai Warningsih sudah selesai!” ujar Ustazah Marni. Untuk memastikan tidak ada yang melihat apa yang diperbuatnya, Ustazah Marni melihat sekeliling dengan waspada. Kemudian ia berlalu.
Nyai Warningsih merupakan anak bawaan dari Nyai Ajeng ketika menikah dengan Kyai Yusuf Anshori, ayahanda dari Kyai Sufyan Anshori.
Nashima membelalak seketika mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Marni. Dibekapnya mulutnya dengan kedua tangan agar tak mengeluarkan suara.
“Astaghfirullahaladzim … ya Allah.” Dengan cepat Nashima pergi dari tempat persembunyiannya menemui sahabatnya, Ruwaidah.
Nashima ngos-ngosan saat tiba di depan sahabatnya.
“Kamu kenapa, Shima? Kok ngos-ngosan gitu? Kayak habis dikejar hantu,” tanya Ruwaidah heran. “Atur dulu napasmu baik-baik. Lalu bicara.”
Nashima mengatur napasnya sesuai saran sahabatnya. Setelah dirasa sudah membaik, dengan berbisik, Nashima menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya.
“Astaghfirullahaladzim, innalillahi wa innailaihi rojiun. Segitu jahatnya mereka. Kita harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Pak Kyai dan Bu Nyai juga Gus Hadi, Shima,” ujar Ustazah Ruwaidah.
“Betul. Sekarang apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus menabrak Mbak Khadamah yang bertugas mengantar makanan untuk beliau-beliau? Tapi kita juga harus menyiapkan makanan lain sebagai pengganti,” tanya Nashima.
“Aku yang akan membuatnya. Tapi kamu harus laporkan dulu hal ini ke dewan keamanan pesantren. Apa menu makan malam beliau dan istrinya?” tanya Ruwaidah.
“Sambal goreng terong campur kerang, pepes ikan, tahu masak balado dan udang masak mie soun,” sahut Nashima.
“Aku akan belanja keluar sebentar. Jangan katakan ini kepada siapa-siapa. Akan kuusahakan semuanya beres tepat waktu. Kita nanti hanya perlu membuat Mbak Khadamah lengah sebentar kemudian kita tukar kedua lauk tersebut.”
Nashima mengangguk setuju. Kemudian Ruwaidah menemui asisten periznan di kantor kesantrian untuk meminta izin berbelanja kebutuhan yang tak didapatkannya di kantin maupun market pesantren.
Setelah mendapat izin, tanpa membuang waktu, Ruwaidah segera bergegas ke pasar yang jaraknya hampir lima ratus meter dari pesantren dengan mengendarai sepeda motor milik pesantren.
******
Nyai Warningsih menemui Ustazah Marni.
“Aku percaya kamu pasti bisa melakukan tugas ini dengan baik, Marni. Yang botol hijau untuk menggugurkan kandungan, yang botol putih itu racun yang dapat menyebabkan yang meminumnya akan mati perlahan. Dokter akan mengira terkena serangan jantung. Sedangkan yang botol kecil ini untuk Gus Hadi. Paham?” titah Nyai Warningsih kepadaku beberapa hari lalu. Beliau menemuiku saat aku menyiapkan sarapan untuk Pak Kyai dan keluarganya.
Sejujurnya Marni bingung harus bagaimana. Ia tahu siapa keluarga Kyai Sufyan dan keluarga Nyai Warningsih. Ibu Nyai Warningsih hanyalah anak yang dibawa oleh Nyai Ajeng saat menikah dengan Kyai Yusuf Anshari, ayah dari Kyai Sufyan Anshori.
“Aku akan memberimu kuasa mengelola sawah satu hektar yang ada di sebelah kiri pesantren jika kamu berhasil,” Nyai Warningsih memberikanku tawaran yang menggiurkan. “Kalau masih kurang, aku ada sebuah rumah di kawasan Tanjung Pecinan. Akan kuberikan padamu,” imbuhnya sebelum aku sempat menjawab.
“Tapi-” jawab Manrni ragu.
“Kamu juga tak perlu takut, aku yang akan melindungimu,” serobotnya sebelum Marni menjawab. “Aku tahu kamu sedang memerlukan uang untuk keluargamu. Aku juga tahu kamu ingin mempertahankan kedudukan sebagai ketua santri dan ustadzah di pesantren ini. Dan aku bisa membantumu dengan mudah.”
“Baiklah, Bu Nyai." Bagaimanapun juga Marni tidak munafik karena saat ini butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya.
“Bagus. Ambil ini!” Nyai Warningsih menyodorkan tiga buah botol kepadanya. Satu berwarna putih, sedang satu lagi berwarna hijau dan satu lagi ukuran kecil. “Awas jangan sampai gagal apalagi diketahui orang lain.” Kemudian beliau pergi.
“Baik, Bu Nyai.” Ia simpan ketiga botol tersebut lalu melanjutkan pekerjaannya.

Ely Arsad
0 Pengikut · 1 Novel