Seorang wanita cantik tampak tergopoh membawa beberapa pakaian untuk dipajang di etalase. Hari ini, toko tempatnya bekerja sangat ramai. Membuatnya sering melakukan peregangan otot dan sesekali mengelus perutnya yang sudah terlihat membesar. Rambutnya yang diikat setengah, tergerai melambai di depan wajahnya. Menyatu dengan kulit putih bersih itu.
"Kamu lelah, Cit?" tanya rekannya sesama pekerja.
"Tidak kok, Mbak. Hanya sedikit lelah saja, kok," ujar wanita cantik itu.
Dia adalah Citra Putri Wardani. Seorang gadis cantik yang terlahir dari keluarga yang sangat kaya. Keluarganya, Wardana, merupakan pembisnis terkenal nomor 2 di Indonesia. Dia merupakan putri bungsu dari keluarga Wardana.
Walaupun terlahir dari keluarga kaya, Citra sama sekali tidak mau mengandalkan kekayaan keluarganya. Dia ingin berdiri sendiri dengan penghasilan yang dia punya. Meski lelah mendera tubuhnya yang lemah, tapi semua itu tidaklah menjadi penghalang baginya. Terlebih, saat ini dia sedang hamil muda.
Citra bekerja di sebuah butik tempat kenalan kakak iparnya. Dia bekerja sebagai karyawan toko butik itu.
Meski pemiliknya adalah teman kakak iparnya, dia selalu meminta kepada teman kakaknya itu agar tidak mengistimewakan dirinya di antara rekan lainnya, agar tidak ada kesalahpahaman nantinya. Sungguh, Citra merupakan gadis yang sangat mandiri dan hebat.
Butik Cantika, merupakan tempat Citra bekerja dan merupakan tempat yang menjadi pertama kalinya dia bertemu dengan suaminya, Radit Mulyono. Awal pertemuan yang terlihat biasa saja sebenarnya, tapi meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi keduanya.
Radit yang saat itu tengah mengambil pesanan baju atas perintah bosnya, tanpa sengaja bertemu dengan Citra. Dirinya terpana akan sosok Citra, hingga membuatnya bertekad untuk mengenal sosok Citra lebih dekat.
Citra pun bukanlah gadis yang sombong. Dia dengan senang hati menerima tawaran pertemanan dari Radit Mulyono. Hingga, lama kelamaan, Citra dan Radit memiliki rasa satu sama lain, dan berakhir dengan menjalin hubungan yang lebih.
Hubungan yang telah lama dibentuk, ingin segera disahkan dalam ikatan yang sakral dan suci. Membuat mereka berdua meminta restu dari keluarga masing-masing. Tapi, keluarga Citra sama sekali tidak merestui hubungan mereka. Mereka takut, Radit akan melukai Citra nantinya.
Citra yang tahu keluarganya tidak menerima Radit saat ini, berusaha dengan sekuat tenaga, membujuk orang tuanya dan saudaranya. Meyakinkan mereka, bahwa sosok Radit adalah sosok pria yang sangat baik dan bertanggung jawab.
"Ma, Pa ... Mas Radit pria yang baik. Citra yakin itu," bujuk Citra kala itu.
Cukup lama Citra berjuang membujuk keluarga besarnya. Dan akhirnya, keluarga besar Wardana menyetujui pernikahan mereka. Mungkin, dengan memberi kesempatan pada Radit, itu merupakan jalan yang baik.
Pernikahan pun berlangsung begitu meriah. Keluarga besar Wardana bahkan memberikan hadiah sebuah rumah untuk ditempati oleh Citra dan Radit.
Kehidupan rumah tangga Citra dan Radit sangatlah bahagia di awal. Bahkan, tidak ada kata bertengkar di antara mereka. Mereka berdua saling menopang dan membantu dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Hingga kini, Citra yang tengah hamil muda pun, tetap bekerja dengan keras tanpa mengenal lelah.
Sebenarnya, mudah baginya bila ingin meminta bantuan kepada keluarganya. Tapi, sifatnya yang mandiri dan tidak ingin membebani keluarga besarnya, membuatnya memilih untuk bertahan bekerja dalam situasinya yang saat ini.
"Cit, mbak lihat, kamu seperti kurang sehat. Apa enggak sebaiknya kamu resign aja? Lagian, Radit bekerja di kantor. Gajinya cukup loh untuk memenuhi kebutuhan kalian dan persiapan lahiran nanti. Kasihan kami, Cit. Lihat, badanmu bengkak di mana-mana. Apa kamu tidak pernah memeriksakannya ke dokter?" ujar rekan Citra yang bernama Mbak Lastri.
"Enggak masalah, Mbak. Aku kuat kok. Lagian, aku bukan kurang sehat. Mungkin karena kecapekan aja, makanya terlihat seperti orang kurang sehat. Mbak tenang aja, ya," balas Citra dengan lembut.
Lastri merupakan rekan Citra yang sangat dekat dengannya. Dia bahkan sudah menganggap Citra sebagai adiknya sendiri. Melihat perjuangan Citra, dia begitu miris dan kasihan, serta mempertanyakan, benarkah Radit mencintai dirinya.
"Ya udah kalau kamu memang tidak apa-apa. Tapi, bila merasa sudah merasa capek dan lelah, kamu langsung istirahat saja ya, Cit. Jangan dipaksakan. Kasihan nanti kamu dan janin kamu," pesan Lastri.
"Iya, Mbak."
Citra dan Lastri kemudian melanjutkan pekerjaan mereka. Saat ini, toko sudah tidak ramai lagi, jadi mereka bekerja dengan sedikit santai, merapikan beberapa pakaian yang berantakan, saat pengunjung tadi melihat dan memilah pakaian di gantungan.
"Selamat siang semua," sapa seorang wanita dengan girang. Wajahnya yang masih muda dan cantik, serta menyebarkan senyuman manis di mana saja, membuat setiap orang yang melihatnya, meski merasa lelah, semuanya akan hilang kala melihat kehadiran dirinya.
"Eh ... Mbak Tika," ujar salah seorang rekan di toko itu.
"Bos datang, Mbak," ujar Citra kepada Lastri.
"Hai semuanya .... Gimana dengan pekerjaan? Apa hari ini sangat ramai?" tanyanya dengan bersemangat.
"Sangat, Mbak. Kami sampai-sampai lelah semuanya. Apalagi Mbak Citra. Kasihan dia, Mbak. Posisi kayak gitu, tapi masih semangat kerja," lapor salah satu pekerja di toko itu.
Citra yang mendengar namanya dipanggil, hanya bisa tersenyum manis saja. Dia tidak membantah perkataan rekannya itu. Tapi, dia juga tidak mengeluh akan apa yang telah terjadi. Lagian, ini adalah pilihannya. Jadi, dia tidak akan menyerah sampai kapanpun juga.
Mbak Tika pun turut melihat ke arah Citra. Senyuman tulus diberikan kepada Citra, mengingat kondisi dari adik sahabat baiknya itu.
"Citra, kamu ikut saya sebentar, ya," ujarnya dengan lembut. Lalu, dia berjalan dengan anggun mengarah ke kantor di mana bosnya itu bekerja bila telah datang.
Citra yang diminta untuk mengikutinya ke kantor miliknya, dengan segera melangkah menuju kantor bos cantiknya itu. Tak lupa, senyum manis selalu ditampilkan oleh dirinya.
"Citra, kamu yakin masih sanggup untuk bekerja, Dek?" tanya Mbak Tika, bosnya.
Tika, sosok yang meski teman baik kakak ipar Citra, tapi dia selalu menganggap Citra seperti adiknya sendiri. Dia memang tidak memiliki seorang adik, sehingga dengan adanya sosok Citra, membuat dia merasa memiliki seorang adik. Terlebih, temannya itu juga mengizinkannya menganggap Citra sebagai adiknya sendiri.
Citra yang melihat kekhawatiran di mata wanita muda itu, menjadi tersenyum ke arahnya. Ditutupnya pintu ruangan itu, kemudian dia berjalan ke arah Tika dengan perlahan.
"Mbak, tenang saja. Aku bisa kok. Tidak usah khawatir," ujar Citra dengan lembut.
"Tapi, kehamilan kamu itu tidak wajar, Dek. Lihat, masih empat bulan, tapi badan kamu sudah membengkak seperti itu. Apa kamu belum pernah mengeceknya ke dokter?" tanya Tika penuh kekhawatiran.
Citra yang mendengar perkataan cek, hanya bisa terdiam. Memang, sejak pertama kali dia mengetahui bahwa dirinya hamil, dia tidak pernah sama sekali mengecek kandungannya ke dokter. Apalagi, Radit dan ibu mertuanya mengatakan bahwa tidak baik untuk periksa ke dokter. Kasihan janinnya bila terkena radiasi dan gelombang ultrasonik dari alat USG.
"Citra, kenapa kamu diam? Jawab mbak!" Tika membuyarkan lamunan Citra karena tidak mendapatkan jawaban sedikitpun.
Citra tidak berani menjawab. Namun, dirinya hanya bisa menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak pernah periksa ke dokter.
"Apa? Kenapa? Apa keluargamu tahu?" tanya Tika beruntun.
"Mereka ..."
Apakah keluarga Wardana tahu?
Dan bagaimana reaksi mereka nanti?
Tetap stay di ceritaku ini ya
-Bersambung-