


oleh Angkasa94 · 15 Bab
Karena suatu masalah yang menimpa keluarganya di kampung, Riana terpaksa menikah dengan majikannya. Royco Selamet, duda anak satu itu menagih janji Riana yang pernah berkata akan melakukan apa saja asalkan pria itu mau menyelamatkan hidupnya.
“Apa benar ini tempatnya?’’
Riana mengernyitkan dahinya. Sekali lagi dia menatap layar ponselnya untuk memastikan shareloc yang dikirim temannya itu benar.
“Ini seperti tempat apa gitu,” timpalnya heran. Dia berpikir sendiri dengan perasaan ragu dengan tawaran kerja dari temannya itu.
“Aku telepon Nia aja deh.”
Riana pun menghubungi Nia, temannya satu kampung yang sudah satu tahun bekerja di kota.
Beberapa saat kemudian, Nia keluar menemui Riana.
“Hei, Riana!’’ sapanya penuh semangat. Raut wajahnya tampak gembira saat bertemu teman lamanya itu. Mereka berdua saling berpelukan.
“Kamu sudah lama nyampe?’’ tanya Nia dengan senyuman.
“Belum Nia. Baru beberapa menit saja. Oh ya, ini tempatmu bekerja?’’ tanya Riana memastikan.
“Iya, ayo masuk. Hari ini kamu langsung bisa kerja,” tukasnya.
Riana sontak kaget bercampur girang. Ternyata tidak susah cari kerja di kota seperti yang orang -orang bilang. Begitulah yang ada di dalam pikirannya.
“Seriusan Nia, langsung bisa kerja?” Riana masih kurang percaya.
“Hooh.” Nia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ayo masuk.”
Riana pun mengikuti Nia masuk ke dalam. Tempatnya remang-remang dengan suasana yang membuat bulu kuduk Riana merinding.
Selama ini dia tidak pernah ke tempat begituan. Ramai sekali para kaum wanita dan pria berjoget bebas semau mereka.
Riana mengusap tengkuknya yang merinding melihat aksi para orang-orang di sana dengan pakaiannya yang kurang bahan. Ada yang saling ciuman, ada yang saling peluk tanpa ada rasa malu di depan banyak orang.
Nia yang berjalan di depan Riana tersenyum manis pada pria bertubuh tegap, memiliki cambang tipis, kulit sawo matang. Riana yang masih banyak tanya dalam pikirannya menarik tangan Nia.
“Nia, tunggu.’’
Nia menghentikan langkahnya dan menoleh pada Riana.
“Ada apa, Ri?’’ tanya Nia.
Nia sudah tahu kalau Riana sudah merasa heran dengan tempat ini. Selama ini tidak ada yang tahu di kampungnya kalau dia bekerja sebagai wanita penghibur di cafe.
Raut wajah Riana terlihat gelisah dan kebingungan. Namun, dia masih berusaha tetap percaya pada temannya itu.
“Ini tempat apa Nia, kok serem amat sih?’’ bisik Riana pada telinga Nia. Deguman music dj terdengar begitu kuat.
“Apa, aku gak dengar?’’ imbuh Nia sembari lebih mendekatkan telinganya ke bibir Riana.
“Ini tempat apa, kok serem?’’ Riana menambah volume suaranya di telinga Nia. Nia tertawa kecil mendengarnya.
“Kamu mau kerja kan?’’ kata Nia pada Riana.
“Iya, aku butuh banget pekerjaan. Kamu tahu kan, ayahku sakit-sakitan di kampung, belum lagi adikku yang masih sekolah. Ibuku hanya bertani, cukup pas-pasan buat makan sudah alhamdulillah,” jawab Riana.
“Oke, kalau begitu gak usah banyak tanya. Di sini kamu kerja langsung dapat uang. Apalagi kalau service-an kamu memuaskan pelanggan, bisa-bisa kamu dapat tip yang gede.”
“Service-an??’’ Riana kebingungan. Dia menatap Nia penuh tanda tanya.
“Iya, service. Udah ah, jangan banyak tanya lagi. Aku akan tunjukkan pekerjaanmu. Ayo ikut aku.’’
Hati Riana menolak untuk ikut tapi pikirannya melayang ke kampung memikirkan nasib ayahnya yang rutin check up penyakit dalam.
“Aku harus kerja. Aku harus bisa membantu perekonomian keluargaku,” ucap Riana di dalam hati.
Dia pun ikut Nia ke suatu tempat. Nia menatap pria itu sambil bermain mata lalu menatap ke arah Riana. Riana yang tidak memperhatikan itu jadi tidak tahu bahwa dia sedang dijebak pada pria hidung belang oleh temannya.
Pria itu pun mengikuti mereka berdua dari belakang. Sesampainya di dalam ruangan, hati Riana kembali gelisah. Jantungnya berdegup kencang seakan takut sesuatu akan terjadi padanya.
“Ini tempat kerjanya, Nia?’’
“Iya. Kamu gak usah banyak tanya, Riana. Kamu harus pikirkan keluargamu di kampung. Kalau kamu kerja di sini, kamu akan dapat uang yang banyak. Kamu bisa bantu keluargamu, bisa kirim uang pada mereka.”
Tiba-tiba saja pria itu hadir di hadapan mereka. Wajahnya terlihat sangar sekali dengan senyuman nafsu menatap Riana dari atas sampai bawah.
Pria itu memegang dagunya dan tatapannya fokus pada Riana yang cantik dan menggairahkan.
Kulitnya yang putih, wajahnya yang cantik, tinggi 165 cm, rambut panjang seukuran sedikit di atas pinggang. Alis mata yang tebal dan rapi. Bola matanya yang indah berwarna coklat muda. Bibirnya yang berwarna pink asli tanpa lipstik terlihat manis.
Belum lagi kegadisannya yang masih tersegel membuat pria itu semakin tidak sabar untuk menghajarnya di ranjang.
“Ini, Rodison yang akan menunjukkan pekerjaanmu.” Nia memperkenalkan pria bercambang tipis itu pada Riana.
“Aku keluar dulu. Tolong ajari dia cara kerjanya Tuan, dia masih baru belum punya pengalaman,” ucap Nia pada pria itu sembari tersenyum genit.
Nia keluar dari dalam ruangan itu. Ruangan yang terlihat seperti kamar tapi dengan ukuran yang tidak terlalu luas.
Pria hidung belang itu tersenyum genit pada Riana yang membuat gadis berusia 18 tahun itu semakin khawatir.
“Kamu datang dari kampung yah?’’ tanya pria itu basa-basi.
“I-iya Om,” jawab Riana gugup.
Bruk!
Pria itu menutup pintunya. Jantung Riana berpacu semakin kencang.
Deg, deg, deg
Rodison melangkah perlahan ke arah Riana. Tubuh Riana gemetar sembari melangkah mundur.
“Kamu kenapa?’’ tanya Rodison dengan nada suara pelan namun mencekam.
“A-apa Om bisa tunjukin apa pekerjaan aku?” Riana semakin takut.
Selama ini dia tidak pernah berhadapan dengan pria seperti ini.
“Jangan menjauh, ayo mendekat. Pekerjaan kamu sudah dimulai Sayang ….’’ Dia sudah gak sabar untuk mengeksekusi si Riana di atas ranjang.
“Ma-maksud Om??’’
Bub!
Riana sudah skak mat. Dia tidak punya tempat lagi untuk mundur. Tubuhnya jatuh terduduk di atas ranjang.
Pria hidung belang itu tersenyum miring. Dia menatap Riana begitu nafsu. Pria itu semakin mendekat, Riana mundur dengan posisi duduk di atas ranjang.
“Om, mau apa?’’ tanyanya gugup. Dia sangat ketakutan melihat pria sangar itu.
“Kerja Sayang … biar kamu gajian,” canda pria itu dengan tawanya yang renyah. Riana menjadi paham apa pekerjaannya yang sebenarnya.
“Ya Tuhan, bantu aku, ya Tuhan …. ” Ia berucap lirih sambil gemetar dengan hati yang pilu.Tangannya meremas sprei berwarna putih yang membalut kasur empuk itu.
“Kamu masih perawan kan, aku akan membayarmu mahal untuk itu, hahaha!’’
Rodison tertawa menggelegar.
Rodison menarik kaki Riana yang jenjang. Dia yang memakai gaun sedikit di bawah lutut membuat pria itu semakin mudah untuk menggapainya.
“Ja-jangan, Om!’’ Riana berteriak memohon pada pria itu agar tidak menodainya.
Pria itu tidak menghiraukan rintihan dibarengi tangis dari Riana. Yang ada di otaknya sekarang, dia harus bisa menuntaskan hasratnya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mendapat gadis cantik plus masih perawan.
Tangan pria kekar itu mulai menarik paksa gaun yang dikenakan Riana. Riana tetap berusaha mempertahankan gaunnya agar tidak lepas.
Bub!

Angkasa94
13 Pengikut · 3 Novel