


oleh Desy cichika · 30 Bab
Azzalyn tak menyangka sang ibu memiliki masa lalu yang kelam, yang membawanya pada kenyataan bahwa ayahnya yang selama ini ia yakini telah meninggal ternyata masih hidup. Takdir yang membawanya kembali bertemu dengan sang ayah. Namun, hidupnya mendapatkan banyak masalah yang mengharuskan ia untuk tetap bertahan dan membalas segala perbuatan jahat yang ia terima.
“Maaf Bintang, sampai merepotkan kamu, jauh-jauh datang ke sini.” Azzalyn berkata dengan tak enak hati.
“Tidak masalah, lagi pula aku ingin tahu kampung halaman kamu.” Bintang tersenyum manis. “Aku kasihan melihat Abyl seperti orang gila. Dia tidak bisa fokus bekerja, padahal sedang banyak mengerjakan proyek perusahaan.”
“Jadi karena itu dia tak bisa datang sendiri ke sini?” tanya Azzalyn.
“Bukan hanya karena itu, aku rasa. Dia bilang ingin ke sini, tapi takut ibu kamu marah lagi.”
Azzalyn diam. Ia kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, waktu Abyl datang ke rumahnya. Saat itu Abyl berniat untuk meminta restu dari sang ibu, agar mereka bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Abyl berniat meminang Azzalyn.
Awalnya semua baik-baik saja. Renita begitu ramah menyambut kedatangan Abyl. Namun, sikap ibunya berubah tatkala Abyl menceritakan tentang orang tua dan keluarganya. Renita mengusir Abyl dan meminta Abyl untuk memutuskan hubungan asmaranya dengan Azzalyn.
“Memangnya apa yang terjadi hari itu? Apa Abyl menyinggung perasaan ibumu?” Pertanyaan Bintang mengagetkan Azzalyn yang sedang melamun.
Azzalyn menghela napas. “Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja Ibu marah, mengusir Abyl dan mengunciku di kamar selama hampir dua hari. Ibu juga mengambil dan menyimpan ponselku.”
“Pantas saja. Jadi karena itu Abyl tak bisa menghubungi kamu sama sekali.” Bintang bergumam. “Sekarang ibu kamu di mana?”
“Ibu kerja di pelabuhan kecil dekat sini. Mungkin sebentar lagi pulang.”
“Jadi, apa kamu bisa ikut aku pulang ke kota? Aku sudah berjanji pada Abyl, akan membawamu saat pulang nanti.”
“Aku tak bisa memastikannya, Bintang. Aku tak berani ke mana-mana kalau Ibu tidak mengizinkan. Lagi pula aku masih penasaran, kenapa Ibu sangat menentang hubunganku dan Abyl. Apalagi dari yang aku dengar, ini menyangkut keluarga Abyl. Aku rasa ibuku punya hubungan dengan keluarga Abyl di masa lalu.”
Kening Bintang berkerut. “Hubungan yang seperti apa?”
Azzalyn mengedikkan bahu. “Ibu tidak mau bilang. Tiap aku bertanya, Ibu selalu mengalihkan pembicaraan. Ibu melarangku untuk bertemu Abyl lagi. Aku harus bagaimana?”
Mata Azzalyn mulai memerah. Tiba-tiba ia merasa sangat rindu pada Abyl.
Dia dan Abyl saling mencintai, meski keluarga Abyl terutama ibu dan adiknya tak menyukai hubungan mereka.
Bintang hanya menatap gadis cantik di depannya. Gadis yang sebenarnya sudah lama ia sukai diam-diam. Meski sebenarnya ia yang lebih dulu mengenal dan menyukai Azzalyn, tapi ia terlalu lama bertindak.
Ia terlalu malu untuk mendekati dan mengungkapkan perasaannya. Hingga saat ia mengenalkan Abyl pada Azzalyn, ia merasa semua sudah terlambat.
Azzalyn jatuh ke dalam pelukan Abyl. Dan sebagai sahabat, ia hanya bisa merestui hubungan mereka meski hatinya merasa sakit setiap kali melihat kemesraan Abyl dan Azzalyn.
“Kita tunggu ibumu pulang dan aku akan meminta izin untuk membawamu kembali ke kota.”
“Azzalyn tak akan ke mana-mana!”
Tiba-tiba suara Renita terdengar, membuat mereka terkejut.
“Ibu pulang lebih awal?” tanya Azzalyn yang heran, sebab biasanya sang ibu belum pulang di waktu seperti sekarang ini.
Renita tak menjawab pertanyaan anaknya. Ia mendekati Bintang yang tampak salah tingkah.
“Katakan pada temanmu untuk menjauhi Azzalyn. Selamanya! Dan jangan coba-coba dia menyuruh siapa pun untuk membawa anakku pergi dari sini. Sekarang kamu pulang!” kata Renita pada Bintang sambil menarik paksa lengan Azzalyn.
Dengan satu empasan kasar ia menutup pintu. Meninggalkan Bintang yang bahkan tak sempat mengucapkan sepatah kata pun.
*
“Kenapa, Bu? Apa alasan Ibu tidak merestui hubungan kami?” tanya Azzalyn sambil memandang kegelapan malam di luar sana.
Renita sedang duduk dengan pandangan kosong di sofa sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Sementara Azzalyn berdiri di depan jendela yang terbuka, mengharapkan angin malam yang dingin dapat menyejukkan hatinya yang baru saja kecewa.
“Kamu sudah tahu kalau keluarganya tidak merestuimu, Azzalyn. Tapi kenapa kamu malah nekat dengan menerima pinangannya? Apa yang menutupi hatimu? Apakah karena dia kaya? Kamu pikir dengan menikah tanpa restu dari keluarganya akan membuat kamu bahagia? Mereka akan menerima kamu? Jangan mimpi! Mereka selamanya akan menganggap kamu tidak selevel dengan mereka! Kamu hanya akan sakit hati!” Renita menumpahkan segala kekesalannya pada Azzalyn.
“Kami saling mencintai, Bu. Bukan karena dia kaya. Tapi karena memang aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya.” Azzalyn menjawab dengan emosi.
Dia memang memiliki watak yang keras dan tidak mau ditentang tanpa alasan yang jelas. Azzalyn akan mempertahankan apa pun keinginannya selagi ia merasa apa yang ia mau bukanlah suatu kesalahan.
“Cinta itu tak akan bertahan lama, Azzalyn. Pernikahan itu bukan untuk seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, atau setahun dua tahun. Pernikahan itu untuk seumur hidup. Kalau dari awal pernikahan kalian saja sudah diawali dengan tanpa adanya restu, maka selamanya akan seperti itu.”
“Om Krisna menyukaiku, Bu. Hanya Tante Riska dan adik perempuan Abyl yang memang terlihat lain sikapnya terhadapku. Tapi kata Abyl sifat mereka memang seperti itu.”
“Jangan menjadikan itu sebuah pembenaran, Azzalyn! Sekali sikap mereka seperti itu, maka selamanya mereka akan seperti itu!”
“Kenapa Ibu bicara seolah-olah sangat mengenal mereka?”
“Ibu memang mengenal mereka. Karena itu Ibu minta jangan berurusan lagi dengan keluarga Abyl!”
“Beri aku alasan Bu, kenapa aku harus melepaskan Abyl. Alasan yang kuat. Kalau hanya karena Ibu mengenal mereka secara sekilas, itu tak cukup untuk mengikis perasaanku pada Abyl.” Azzalyn masih bersikeras. Dia bukanlah orang yang mudah melepaskan keinginannya.
“Cukup dengarkan Ibu, Azzalyn! Putuskan hubunganmu dengan mereka. Lupakan Abyl. Berhenti bekerja di perusahaan mereka. Lebih baik kau tetap di sini bersama Ibu.” Renita berkata tegas.
“Sekarang Ibu meminta aku untuk berhenti bekerja? Ibu tahu kan kalau ini adalah pekerjaan impianku? Kerja di kantor layaknya wanita karier seperti cita-citaku sejak dulu baru kudapat setelah diterima bekerja di perusahaan Abyl, Bu! Apa Ibu tidak merasa kalau terlalu mengekang dan mengatur hidupku?”
“Ini demi kebaikan kamu, Azzalyn! Demi masa depanmu!”
“Kalau begitu katakan Bu, kenapa? Kenapa aku harus melepaskan semuanya. Aku tak sanggup kalau harus berhenti bekerja. Aku juga tak bisa putus dari Abyl! Aku akan memperjuangkan Abyl dan pekerjaanku!”
“Jangan kau tanyakan lagi, Azzalyn! Ibu tak mau membuka luka lama!”
“Kalau Ibu tidak mau jujur apa alasannya, maka aku juga tak akan mau mendengarkan Ibu. Aku akan pergi sekarang!”
Azzalyn berbalik dan masuk ke kamarnya. Dengan cepat ia memasukkan pakaian dan barang-barang miliknya ke dalam koper. Ia berniat akan pergi malam itu juga.
Sementara Renita hanya bisa menangis, berusaha menahan tangan Azzalyn yang memasukkan pakaian ke dalam travel bag, tapi Azzalyn selalu menepis tangannya.
“Azzalyn, tolong dengarkan Ibu! Tolong jangan pergi!” katanya sambil menangis.
“Ibu tidak bisa memberiku alasan yang jelas mengapa aku harus putus dari Abyl. Maka aku pun tak punya alasan untuk tetap bertahan di sini, Bu! Biarkan aku mengejar kebahagiaanku sendiri!”
“Azzalyn, kamu tidak boleh menikah dengan dia! Dia saudara lelaki kamu! Krisna Hadi itu ayah kandungmu!” pekik Renita sambil memeluk anaknya dari belakang.
Azzalyn berbalik dan memandang Renita dengan wajah kebingungan, penuh tanda tanya. Ia benar-benar tak mengerti apa yang sudah terjadi.

Desy cichika
1 Pengikut · 1 Novel