


oleh Sfrauf · 12 Bab
Menulis adalah pelarianku saat bentakan Papa merobek ketenangan rumah. Lewat aksara, kuciptakan dunia tanpa luka. Namun, aku tak pernah menyangka bahwa Arkananta Atlas Dewangga telah membaca seluruh jiwaku sejak kecil. Si anak teknik yang kaku, tapi ugal-ugalan memuja, hadir membawa cerita baru. Arka adalah Atlas yang bersikeras memanggul beban Semesta milikku, meski trauma masa lalu membuatku enggan percaya pada cinta. Kehadirannya begitu intens, mendesak, hingga melibatkan ibunya demi meluluhkan bentengku yang kokoh. Haruskah aku menyerah pada pengejaran gila ini? Di antara aroma buku dan debar tak menentu, Arkananta membuktikan bahwa dia adalah pemuja paling ugal yang pernah nyata adanya.
"Mas, tolong kecilkan suaranya. Kaluna sudah tidur, besok ada ulangan matematika." Suara Mama terdengar gemetar, mencoba meredam badai yang mulai berkecamuk di ruang tengah.
"Kamu tidak perlu mengaturku, apalagi di rumahku sendiri, Rahayu! Kalau dia bangun, ya biarkan saja bangun!" Suara bentakan Papa menggelegar, menembus celah pintu kamarku yang sedikit merenggang.
Aku meringkuk di atas kasur, menarik selimut hingga menutupi telinga. Namun, kayu jati pintu ini seolah tidak punya kuasa untuk menahan amarah Papa yang meluap-luap.
Di usiaku yang baru menginjak sebelas tahun, aku sudah hafal betul pola ini. Papa pulang terlambat, Mama bertanya dengan nada paling lembut yang ia punya, lalu Papa akan merasa harga dirinya terinjak hanya karena sebuah pertanyaan sederhana.
"Aku cuma tanya kenapa ponselmu tidak aktif sejak sore, Mas. Aku khawatir," lirih Mama lagi. Aku bisa membayangkan matanya mulai berkaca-kaca sekarang.
"Khawatir atau mau memata-matai? Bilang saja kalau kamu tidak percaya padaku! Begitu, kan?" Papa membalas lebih keras. Suara hantaman benda tumpul ke atas meja kayu membuatku tersentak.
Aku terengah, dadaku terasa sesak seolah oksigen di kamar ini baru saja disedot habis oleh ketakutan.
Dengan tangan gemetar, kuraih meja belajar. Aku tidak bisa hanya diam dan mendengarkan mereka hancur. Aku butuh pengalihan. Tanganku meraba-raba mencari buku tulis bersampul biru yang biasa kugunakan untuk mencatat tugas sekolah.
"Kenapa diam? Jawab!" bentak Papa lagi.
"Sudahlah, Mas. Aku lelah. Kita bicara besok lagi saja saat kepalamu sudah dingin." Suara Mama terdengar pasrah, langkah kakinya menjauh, mungkin menuju dapur.
"Jangan berani-berani memunggungi aku saat aku lagi bicara, Rahayu! Kembali ke sini!"
Kubuka buku itu dengan kasar. Jemariku mencengkeram pulpen pilot hitam dengan kuat hingga buku-buku jariku memutih. Aku mulai berbisik pada diriku sendiri, mencoba menenggelamkan suara-suara kasar dari luar sana.
"Jangan didengerin, Lun. Jangan didengar," bisikku lirih, nyaris seperti mantra.
Aku menempelkan ujung pulpen ke kertas putih yang masih bersih itu. Apa yang harus kutulis? Apa saja. Apa saja asal bukan tentang teriakan Papa. Aku mulai menggoreskan kata pertama.
"Dulu, ada sebuah bintang yang kesepian …." Aku menggumamkan kata-kata yang kutulis. "Dia tidak punya teman karena semua bintang lain terlalu sibuk bersinar untuk diri mereka sendiri."
Suara barang pecah terdengar dari luar. Piring atau gelas, aku tidak tahu pasti. Jantungku berdegup kencang, seirama dengan kecepatan tanganku menulis.
"Bintang itu bertemu dengan sebuah planet kecil," lanjutku, suaraku sedikit meninggi untuk melawan kebisingan di luar. "Planet itu namanya Semesta. Ya, Semesta. Dia sangat tenang, tidak pernah marah, dan selalu mendengarkan cerita si Bintang."
"Kamu itu tidak berguna sebagai istri kalau bisanya cuma menangis!" Teriakan Papa kembali menyambar.
Aku memejamkan mata sejenak, air mata pertamaku jatuh tepat di atas kata 'Semesta', membuat tintanya sedikit meluber. "Tolong diam, Papa. Tolong diam."
Aku kembali menulis dengan terburu-buru. "Semesta ingin melindungi Bintang itu. Dia ingin membuat dinding yang sangat tebal agar suara badai dari luar angkasa tidak bisa masuk. Semesta berkata, 'Kamu aman di sini, bersamaku'."
"Luna? Kamu sudah tidur, Sayang?" Tiba-tiba suara Mama terdengar dari balik pintu, sangat dekat. Suaranya terdengar sengau, jelas habis menangis.
Aku segera menghapus air mataku dengan punggung tangan. "Belum, Ma. Aku lagi ... baca buku sebentar."
Pintu terbuka perlahan. Mama masuk dengan senyum yang dipaksakan. Matanya sembap, dan sudut bibirnya sedikit bergetar. Dia duduk di pinggir kasurku, mengelus rambutku dengan tangan yang masih terasa dingin.
"Tadi Papa cuma lagi capek kerja, Nak. Jangan dimasukkan ke hati, ya?" ucap Mama pelan, berusaha menenangkanku padahal dirinya sendiri sedang hancur.
Aku menatap Mama lekat-lekat. "Kenapa Papa selalu marah, Ma? Apa aku nakal?"
Mama menggeleng cepat, memelukku erat. "Bukan, Luna. Kamu anak paling baik. Papa cuma sedang tidak tahu cara bicara yang benar. Maafkan Mama, ya?"
"Mama tidak salah apa-apa," sahutku pelan di balik pundaknya. "Kenapa Mama yang minta maaf?"
Mama terdiam, hanya mengusap punggungku lama. Di ruang tengah, suasana mendadak sunyi. Itu lebih menakutkan.
Papa biasanya akan mendiamkan Mama selama berhari-hari setelah ledakan seperti tadi. Hening yang mencekam, seolah kami semua hidup di bawah ancaman bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
"Tidurlah, besok sekolah kan," kata Mama seraya melepaskan pelukan. Dia melihat buku di mejaku. "Nulis apa?"
"Cuma cerita pendek, Ma. Tentang bintang dan planet," jawabku sambil menutup buku itu cepat-cepat. Aku tidak ingin Mama tahu kalau kujadikan imajinasi sebagai benteng pertahanan.
"Anak pintar. Kamu memang selalu punya dunia sendiri." Mama mencium keningku lalu beranjak keluar.
Setelah pintu tertutup rapat, kubuka buku biru itu. Suasana sunyi di luar sana mulai terasa menindih. Kembali kupegang pulpen. Kali ini, aku ingin menulis sesuatu yang lebih kuat. Sesuatu yang bukan hanya tentang melarikan diri, tapi tentang seseorang yang bisa menjagaku.
"Kalau planetnya bernama Semesta, maka pelindungnya harus punya nama yang kokoh," gumamku pada kegelapan kamar.
Aku menulis satu kata di bagian paling atas halaman baru. ATLAS.
"Atlas akan membawa Semesta di pundaknya. Dia tidak akan membiarkan Semesta jatuh atau terluka," bisikku lagi. "Dia akan menjadi satu-satunya orang yang tidak akan pernah membentak Semesta."
Tanganku terus bergerak, merangkai kalimat demi kalimat yang tidak masuk akal bagi anak seusiaku, tapi terasa sangat nyata bagi hatiku yang terluka.
Di bawah sinar lampu belajar yang temaram, aku merasa beban di dadaku sedikit terangkat. Setiap kata yang tertulis adalah satu batu bata untuk membangun dinding rumahku sendiri. Rumah yang tidak ada suara bentakan di dalamnya.
"Suatu hari nanti, aku akan tunjukin ke dunia kalau masih ada cinta yang tidak menyakitkan," janjiku pada buku itu.
Malam itu, di kamar kecil berukuran tiga kali tiga meter, lahirlah draf kasar dari sesuatu yang bertahun-tahun kemudian akan mengubah hidupku.
Aku tidak tahu kalau di luar sana, di sebuah rumah yang tidak jauh dari sini, ada seseorang yang nantinya akan memuja setiap kata yang kutulis malam ini. Seseorang yang akan menjadikan 'Atlas dan Semesta' sebagai kitab sucinya dalam mencintaiku.
Untuk sekarang, aku hanyalah Kaluna, gadis kecil yang ketakutan, yang hanya punya pulpen dan buku tulis sebagai senjatanya melawan dunia yang terlalu keras untuknya.
Aku mematikan lampu, memeluk buku biru itu erat-erat ke dadaku, mencoba menjemput mimpi di mana Papa tersenyum pada Mama di meja makan. Mimpi yang selalu berakhir sebelum matahari terbit.
"Besok pasti lebih baik," bisikku tepat sebelum mataku terpejam sempurna, meskipun aku tahu itu adalah kebohongan paling sering yang kucatatkan dalam hati.

Sfrauf
21 Pengikut · 9 Novel