


oleh lovelypurple · 55 Bab
Ketika Padepokan Bayu Langit dihancurkan oleh Pasukan Kabut Merah yang dipimpin Sura Weling, Raka menjadi satu-satunya murid yang selamat. Dalam situasi hidup dan mati, saat Sura Weling hampir menghabisinya, muncul Ksatria Naga yang menyelamatkan Raka di saat terakhir. Ksatria Naga kemudian mengangkat Raka sebagai murid dan mewariskan seluruh ilmu yang dimilikinya kepada pemuda itu. Namun, bantuan itu datang dengan syarat berat—Raka harus siap menjadi penerus Ksatria Naga dan menyelesaikan misi yang belum tuntas. Dibakar oleh dendam atas kehancuran padepokannya serta kematian guru dan teman-temannya, Raka bersumpah untuk menumpas Pasukan Kabut Merah. Bagi Raka, nyawa harus dibayar nyawa
Padepokan Bayu Langit, sebuah tempat yang selama ini dikenal sebagai benteng ilmu bela diri dan kebijaksanaan, kini hanya menyisakan abu dan puing-puing.
Angin malam yang dingin membawa aroma kayu terbakar, bercampur dengan darah dan tangisan yang telah redup.
Raka terbatuk-batuk di tengah kepulan asap, mencoba mengangkat tubuhnya yang penuh luka.
Di sekelilingnya, bayangan mayat para saudara seperguruan bergelimpangan, wajah mereka membeku dalam ekspresi ketakutan dan perlawanan terakhir.
Raka menekan luka di perutnya, darah hangat merembes di sela-sela jarinya. Namun, rasa sakit itu tak sebanding dengan kehancuran yang ia rasakan di hatinya.
“Guru ….,” bisiknya serak, matanya mencari sosok yang dihormati.
Namun, yang ia temukan hanyalah tongkat kayu sang guru yang patah, tergeletak di tanah basah oleh darah.
Tiba-tiba, suara langkah berat terdengar mendekat. Dari balik kabut yang memerah oleh cahaya bulan, muncul sosok Sura Weling, pemimpin Pasukan Kabut Merah.
Tubuhnya tinggi dan kokoh, dengan tatapan mata tajam seperti elang. Di tangannya, terdapat sebilah pedang melengkung yang meneteskan darah.
“Anak muda, kau masih bernapas?” Suara Sura Weling terdengar seperti raungan singa.
“Sayang sekali, aku tak bisa membiarkanmu hidup. Kau mungkin lemah sekarang, tapi dendam membuat orang seperti dirimu menjadi berbahaya.”
Raka menggertakkan giginya. Tangannya meraih pedang yang tergeletak di dekatnya.
Namun, sebelum ia sempat bangkit, Sura Weling sudah mengayunkan pedangnya. Waktu terasa melambat.
Dalam detik-detik itu, Raka merasa ajalnya sudah tiba.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Sebuah bayangan melesat di antara mereka, disertai suara dentingan logam yang memekakkan telinga.
Pedang Sura Weling terpental, lalu berdiri di hadapan Raka seorang pria dengan baju zirah berwarna hitam berkilauan seperti sisik naga.
Wajahnya tersembunyi di balik topeng yang menyerupai kepala naga.
“Sura Weling.” Suara pria itu terdengar dalam dan berwibawa.
“Kau telah cukup membuat kerusakan di dunia ini. Saatnya kau berhenti,” ucap pria itu.
Sura Weling mundur beberapa langkah, raut wajahnya menunjukkan kewaspadaan. “Ksatria Naga? Aku pikir kau sudah mati.”
“Sayang sekali, aku masih hidup Sura Weling,” balas pria itu sambil menarik pedang besar dari punggungnya.
“Dan aku tak akan membiarkanmu menyentuh pemuda ini!” seru pria yang dijuluki Ksatria Naga itu.
Pertarungan antara mereka berlangsung dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata Raka.
Dentingan pedang, kilatan cahaya, dan getaran di tanah membuat tubuhnya lemas.
Ia hanya bisa menatap dengan mata setengah terbuka, hingga akhirnya kelelahan membuatnya tak sadarkan diri.
***
Ketika Raka membuka matanya, ia telah berada di sebuah gua yang hangat.
Api unggun menyala di dekatnya, dan di sampingnya duduk pria berjubah hitam dengan topeng naga yang kini sudah dilepas.
Wajah pria itu tampak tegas, dengan mata yang menyimpan kehangatan sekaligus ketegasan.
“Kau akhirnya bangun,” kata pria itu, suaranya tenang.
“Namaku Rajendra, tapi orang-orang menjulukiku Ksatria Naga. Mulai sekarang aku adalah gurumu.”
Raka terdiam, rasa syok dan bingung masih menyelimuti pikirannya. “Kenapa kau menyelamatkanku?” tanyanya pelan.
Ksatria Naga tersenyum tipis. “Karena aku melihat potensi dalam dirimu, Raka. Dunia ini membutuhkan lebih banyak orang seperti kita. Orang-orang yang telah berjuang untuk keadilan, meski itu berarti menanggung penderitaan.”
“Keadilan?” gumam Raka, menggenggam selimut yang menutupi tubuhnya.
Ingatan tentang kehancuran padepokannya menghantamnya seperti gelombang.
“Apa yang bisa aku lakukan? Aku bahkan tidak mampu menyelamatkan saudara-saudaraku,” tutur Raka.
“Kau masih hidup, dan itu berarti perjuanganmu belum berakhir,” jawab Ksatria Naga. “Kita akan mulai dari awal. Aku akan melatihmu, membuatmu lebih kuat. Tapi ini bukan tanpa syarat.”
“Syarat apa?” tanya Raka, suaranya bergetar.
“Kau harus siap mengemban beban menjadi penerus Ksatria Naga. Menjadi Ksatria Naga berarti meninggalkan dendam pribadi demi melindungi keseimbangan dunia,” sahut Ksatria Naga.
“Tapi jika kau memilih untuk tetap mengejar balas dendam, pastikan itu dilakukan dengan kehormatan dan kebijaksanaan.
Aku akan memberikanmu kekuatan, tapi tanggung jawab itu ada ditanganmu,” jelasnya lebih lanjut.
Raka menatap mata pria itu, mencari kepastian. Dalam tatapan Ksatria Naga, ia menemukan sesuatu yang telah hilang dalam dirinya, yakni harapan.
“Baik,” jawab Raka akhirnya. “Aku akan menjadi muridmu.”
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Raka tiba.
Hari ini Raka akan belajar ilmu kanuragan bersama gurunya, Rajendra, si Ksatria Naga. Raka memulai sesi latihannya dengan suasana yang sunyi.
Rajendra, sang Ksatria Naga, berdiri tegap di tengah lapangan kecil yang dikelilingi pepohonan.
Ia menatap Raka dengan serius, seolah menilai seberapa kuat tekad pemuda itu.
“Raka, sebelum kau memegang tanggung jawab sebagai Ksatria Naga, kau harus menguasai jurus-jurus inti. Ini bukan sekedar teknik bertarung, tetapi cara untuk memahami keseimbangan diri dan dunia,” ujar Rajendra.
Raka mengangguk. Meski tubuhnya masih terasa lemah, hatinya bertekad baja untuk melanjutkan warisan gurunya.
Rajendra mulai dengan Jurus Bayu Naga, yang meniru kecepatan dan kelincahan angin. Ia memerintahkan Raka untuk berdiri dengan posisi kuda-kuda ringan, kemudian bergerak cepat di sekitar lapangan, membentuk pola melingkar yang tak beraturan.
“Gerakan ini mengajarkanmu untuk bergerak secepat dan seluwes angin. Dalam pertarungan, kau harus bisa menghindari serangan lawan sebelum membalas dengan tusukan yang tepat,” jelas Rajendra sambil menunjukkan gerakan cepat yang nyaris tak terlihat.
Rajendra bergerak seolah bayangan, muncul di berbagai sisi lapangan dalam sekejap hingga membuat Raka sulit mengikutinya dengan mata.
Raka pun mencoba meniru, namun tubuhnya masih kaku. Berkali-kali ia tersandung, tetapi gurunya itu hanya memerintahkan satu hal,
“Bangkit!” perintah Rajendra.
Suara itu bergema di telinga Raka, memaksanya untuk terus mencoba.
Latihan dilanjutkan dengan Raka melompati bebatuan di sungai tanpa membuat percikan air. Sementara Rajendra berdiri di tepi sungai, mengawasi dengan seksama.
“Kau harus bergerak tanpa jejak, seperti angin,” katanya tegas.
Setiap kali Raka gagal, ia harus mengulangi dari awal. Hari itu tubuhnya penuh luka ringan, tetapi gerakannya mulai lebih cepat dan halus.
Langkah-langkahnya menjadi ringan seperti angin yang menyentuh permukaan air.
Sampai ketika malam tiba, Rajendra menyuruh Raka berhenti dan melanjutkan latihan pada besok hari.
Setelah keduanya membersihkan diri di sungai, guru dan murid itu duduk di depan gua sambil membakar singkong untuk mereka santap malam itu.
Setelah selesai menyantap makanannya, Rajendra dan Raka duduk di bawah pohon besar menikmati keindahan bulan.
Ditengah keheningan, tiba-tiba Rajendra membuka suaranya. Pria itu bercerita kepada Raka tentang kehidupannya di masa lalunya.
“Raka,” katanya dengan nada serius. “Ada yang harus kau ketahui tentang masa laluku.”
Raka pun menoleh dan mendengarkan Rajendra penuh perhatian.
“Aku bukanlah Ksatria Naga pertama. Sebelumku, ada seorang pria bernama Aryaka yang merupakan guru sekaligus ayah angkatku. Ia yang mengajarkan semua jurus ini padaku. Namun, aku gagal melindunginya.”

lovelypurple
8 Pengikut · 1 Novel