Cahaya matahari masuk melalui celah jendela, burung-burung berkicau merdu. Aku yang sedang menatap cermin, melihat pantulan diriku. Seragam, rok, kerudung, sepatu. Semuanya lengkap dan rapi. Aku tersenyum. Kemudian mengambil tas yang aku letakan di kursi meja belajarku dan turun ke bawah untuk sarapan bersama ibu dan adikku.
"Selamat pagi, Bu!" sapaku.
"Selamat pagi, Bintang!" sapaku pada adikku sambil mencubit pipinya. Ia hanya diam saja.
"Pagi juga, Sayang!" jawab ibu tersenyum.
"Gimana sekolah kamu, Sayang," tanya ibu seraya mengambil nasi untuk adikku.
"Seru, Bu," sahutku seraya menyuap nasi ke mulut.
Aku bersekolah di SMA N 11 Bandung dan baru naik ke kelas 11, beberapa minggu yang lalu. Tapi aku senang berada di sana karena teman-teman sekelasku baik.
"Tidak mau ini ah, Bu," keluh Bintang menyingkirkan brokoli dari piringnya.
"Kamu harus dibiasakan makan sayuran. Sayuran itu bagus untuk pertumbuhan lho," nasihat Ibu.
"Iya, makannya tidak tumbuh-tumbuh tuh," ledekku pada Bintang.
"Nanti kalau Adek sudah besar, Adek tumbuhlah," jawabnya seraya menjulurkan lidah.
"Jawab saja bisanya." Aku mendengus kesal.
"Bu, hari ini tidak usah makan sayur dulu ya, Bu," mohonnya menatap ibu.
"Ya sudah, tapi besok janji lho ya, Adek harus makan sayur," ucap Ibu.
"Iya, Bu."
"Kamu itu harus dibiasakan untuk tidak pilih-pilih makanan dong. Lihat kakakmu tidak pilih-pilih makanan, setiap ibu masak apa saja pasti dimakan." Ibu memberi nasihat pada Bintang, namun aku yang mendengarkan malah tersipu malu.
"Iya iya, Bu," jawabnya lirih.
Tak ada obrolan lagi diantara kami, hanya denting sendok dan garpu saja yang berbunyi.
Setelah selesai sarapan, aku pun berdiri dan berpamitan pada Ibu.
"Bu, Bulan berangkat dulu ya." Aku mencium punggung tangan Ibu.
"Iya, Sayang. Hati-hati ya."
"Iya, Bu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Ibu.
Aku keluar dari rumah dan mengambil sepedaku di bagasi samping rumah. Kalau kalian tanya mengapa aku menggunakan sepeda? Itu, karena jarak rumah dan sekolah tidak terlalu jauh, jadi lumayanlah, hitung-hitung irit ongkos dan bisa sambil berolahraga juga kan? Hehe.
***
Sesampainya di sekolah, aku pun memarkirkan sepedaku di tempat parkir lalu berjalan menuju kelas.
Tapi tiba-tiba ada yang menabrakku.
"Maaf-maaf, aku tidak sengaja," ucap siswa yang menabrakku.
"Iya, tidak apa-apa," balasku seraya menunduk. Jika dibilang sakit, tentu saja sakit.
"Ada yang sakit tidak?" tanya siswa itu.
Ow, kenapa dia bisa membaca pikiranku?
"Soalnya, aku melihat kamu memegang bahumu terus. Aku menabrakmu kencang ya, sampai sakit begitu? Ya sudah, aku antar ke UKS saja, yuk?"
Aku langsung mendongak, begitu tangannya ingin memegang tanganku. "Eh, jangan!"
"Ma-maksudku tidak usah, ini tidak sakit kok," tolakku saat melihat wajahnya yang tampak datar saat menatapku.
"Benar?"
Aku mengangguk. Yang benar saja, masa begini, mau dibawa ke UKS sih.
"Oh yasudah kalau begitu, aku pergi ya," pamitnya dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Dia siapa ya? Perasaan, aku belum pernah melihatnya," gumamku seraya memandangi kepergiannya.
"Eh, kamu sudah datang," ucap Devina, teman sebangkuku saat aku baru sampai kelas
"Kamu sudah mengerjakan PR sejarah belum? Lihat dong."
"Dasar, kebiasaan," gerutuku lalu mengeluarkan buku tulis sejarah. kulihat ia hanya menyengir.
Aku mendorong buku itu dan Devina langsung menulis, sementara itu, aku mengeluarkan buku novel yang belum selesai ku baca.
"Omong-omong, Lan, kamu tahu tidak? Kakak kelas yang sering dibicarakan sama orang-orang sekelas, yang sangat populer itu, lho?" tanyanya menghentikan kegiatan menulisnya. Menoleh ke arahku.
"Tidak," jawabku singkat tanpa mengalihkan pandanganku.
Mendengar tidak ada suara lagi darinya, aku menoleh. Aku melihat ia masih menulis, tapi mukanya cemberut. "Memangnya kenapa?" tanyaku akhirnya. Aku tahu ia marah, karena aku hanya menjawabnya singkat.
Mendengar aku menanyakan itu, ia langsung menatapku dengan wajah yang berseri-seri.
"Ternyata dia kembali lagi ke sini, setelah lamanya belajar di luar negeri."
"Oh." Aku mengalihkan pandanganku lagi ke buku yang ku baca.
"Kok hanya 'oh' sih? Kamu tidak penasaran?" Tanyanya.
"Orang-orang penasaran lho, seperti apa dia sekarang dan kelas berapa dia."
"Itu kan mereka, bukan aku," ucapku tanpa mengalihkan pandangan. "Yaampun, Bulan! Yasudah, terserah kamu sajalah," ucapnya gemas, lalu kembali menulis.
***
Saat aku di kantin bersama Devina, aku tak sengaja mendengar obrolan seseorang. Aku menoleh dan terkejut saat melihat ke sebelah ternyata orang yang menabrakku tadi dia ada di sebelah mejaku.
"Eh, Iz bagaimana di sini betah tidak?"
"Kamu enak sekali Iz, baru datang sudah banyak yang mengenalimu."
"Tentu saja banyak yang mengenalimu, kamu kan terkenal dari dulu dan jadi pusat perbincangan di sekolah ini, paling yang tidak mengenalimu hanya kelas sepuluh, haha."
"Haha, biasa saja kok," jawab siswa itu santai.
"Bagaimana, kamu betah di sini?"
Aku dan Devina seketika menoleh karena mendengar suara kepala sekolah.
"Alhamdulilah, betah, Pa. Sama seperti dulu."
"Pa? Berarti dia anak kepala sekolah dong? Gila! Sudah tampan, anak kepala sekolah lagi, ut ut ut pasti kaya," ucap Devina pelan.
"Kamu ini, sudah ah, gosip terus." Aku menjitak kepalanya.
"Aduh, sakit tahu!" ringisnya seraya mengelus-elus kepalanya.
"Pantas saja populer, anak kepala sekolah."
"Tapi bener ya, Lan, kalau bisa jadian sama dia, pasti perempuan itu akan ikut populer deh."
"Makananku sudah habis nih, ke kelas yuk," ajakku, tanpa berniat menjawabnya dan pergi meninggalkannya.
"Eh, tunggu!" Aku mendengar suaranya yang mengejarku.
"Ibu, aku pulang!" Aku berjalan masuk lalu meletakan tasku di sofa.
"Ucapkan salam dulu dong, Nak," ucap Ibu berjalan dari arah dapur seraya membawa mangkok berisi sayur.
Aku hanya cengengesan.
"Assalamualaikum." Aku mengulang salam dan mencium punggung tangan Ibu.
"Wa'alaikumsalam. Bagaimana sekolahnya, Sayang?"
"Biasa saja, Bu," jawabku, lalu aku ingin mengambil gorengan di piring, tetapi Ibu menegur. "Ets, cuci tangan lalu ganti baju dulu sana!"
Aku menyengir. "Iya, Bu." Aku pun langsung berjalan ke sofa untuk mengambil tas dan menaiki tangga.
Setelah berganti pakaian, aku langsung turun ke bawah untuk makan, karena perutku sudah keroncongan, hehe.
"Adek, mana, Bu?" tanyaku sambil menarik kursi meja makan.
"Di kamar. Lan, tolong bilangin ke Adek deh jangan main game terus, Ibu takut mata adik kamu rusak kalau dia main game terus."
"Ibu juga sih yang salah, harusnya Ibu jangan kasih handphone dulu ke Adek, jadinya gitu kan?" ucapku seraya mengambil nasi di sangku.
"Iya, sih."
"Yasudah, nanti Bulan bilangin deh."
"Makasih, Nak," ucap Ibuku dan aku hanya tersenyum.