


oleh Dwiwanti Afifah Wulandari · 23 Bab
Bulan yang memang selalu cuek terhadap pria, tapi setelah bertemu dengan Faiz, ia merasakan hal yang berbeda dan ia baru tahu kalau ia benar-benar menyukai Faiz. Awalnya ia kesal kenapa ia harus menyukai Faiz yang tak lain adalah kakak kelasnya, murid terpopuler juga di sekolahnya, yang membuat ia cemburu akan gadis-gadis yang mendekatinya. Terutama tentang Faiz yang berpacaran dengan teman sekelasnya. Tetapi Bulan tidak benar-benar berani untuk mengungkapkan perasaannya, akhirnya ia hanya mengaguminya dalam diam. Tapi bagaimana reaksi Faiz jika ada yang diam-diam mengaguminya yang orang itu adalah Bulan?
"Eh, kemarin tahu tidak? Aku melihat Kak Faiz pulang bersama wanita naik mobilnya."
"Hah? Masa sih?"
"Iya. Hiks, bagaimana kalau mereka berpacaran, Ti? Pasti hatiku hancur."
"Tuh lihat, deh. Ini gadis yang aku lihat kemarin. Mereka sampai nempelin foto di mading. Apa mereka berpacaran, ya?"
"Ck ... itu kan hanya foto, siapa tahu hanya gosip. Aku yakin itu ada orang iseng yang nempelin."
"Tapi bagaimana kalau mereka benar-benar berpacaran? Hiks. Aku jadi tidak semangat bersekolah."
"Hiks, aku juga."
Aku masih diam, menatap foto di hadapanku. Foto Kak Faiz dan seorang gadis. Dalam foto itu, mereka saling bertatapan sambil tersenyum di sebuah cafe. Terlihat begitu dekat, seperti sepasang kekasih.
Tadi aku dan Devina hanya lewat dan tak sengaja mendengar percakapan siswi-siswi itu. Saat mendekat, kami terkejut karena benar ada foto Kak Faiz bersama seorang gadis di mading.
Entah kenapa, hatiku terasa sesak melihatnya.
Devina menepuk pundakku, berusaha menenangkanku.
"Siapa siswi ini?" tanyanya pelan, lebih seperti berbicara pada diri sendiri.
"Tapi, sepertinya, aku pernah melihat gadis ini," gumamnya.
"Cantik," lirihku, memperhatikan gadis dalam foto itu.
Devina menoleh cepat. "Masih cantikan kamu, Lan," ucapnya.
"Sudahlah, benar kata gadis itu." Devina menepuk pundakku lagi. "Ini hanya sebuah foto, belum tentu kebenarannya. Kita cari tahu nanti," lanjutnya.
Kemudian kami pun pergi dari sana.
***
Di kantin, aku masih saja memikirkan tentang foto itu.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Mungkin benar kata siswi itu, kalau semua ini hanya gosip."
Aku menoleh ke meja Kak Faiz. Ternyata ia sedang dihampiri oleh wanita yang selama ini digosipkan dengannya. Wanita itu memberikan sebotol air.
"Cieee."
Aku tak tahan melihat pemandangan itu, aku memilih pergi.
"Kenapa pergi, sih? Kamu tidak mau mendengar pembicaraan mereka dulu? Siapa tahu, itu hanya gosip," ucap Devina saat kami sudah berada di kelas.
"Tidak peduli, tidak peduli! Mau itu gosip atau bukan, aku tetap tidak peduli! Aku akan berhenti menyukainya."
"Masa kamu menyerah sih, Lan?"
"Nyatanya menyukai orang populer itu susah, Dev." Aku berbalik menatapnya. "Sekarang mungkin dia cuma didekati satu orang, tapi nanti pasti akan banyak. Sudah pasti banyak yang menyukai. Aku tidak sanggup. Aku memang salah telah menyukainya," ucapku sambil menunduk.
Ia menghampiriku. "Tidak ada yang salah, Lan, dalam menyukai seseorang. Kamu cuma perlu bertahan sedikit lagi sampai bisa mendapatkannya."
"Tapi... apa mungkin aku bisa?" lirihku.
"Pasti bisa, pasti. Sudah ya." Ia mengelus punggungku.
"Apa?! Kamu menyukai Kak Faiz, Bulan? Hahaha, mimpi kali"
Aku mendongak saat mendengar suara Claudia. Ternyata dia mendengar obrolanku dengan Devina.
"Claudia tertawa.
"Memang kenapa kalau Bulan menyukainya? Ada yang salah?" Devina membelaku.
"Ya, jelas salah," ucapnya dengan nada mere sambil menunjuk ke arahku. "Kak Faiz itu orang terpopuler di sekolah ini. Sedangkan kamu?"
"Memang kalau menyukai seseorang harus sama-sama populer?!"
"Ya iya dong. Kak Faiz itu cocoknya sama yang populer juga, seperti aku."
"Cih, jangan kegeeran! Belum tentu Kak Faiz juga suka sama kamu!" tegas Devina.
"Sudahlah, Dev." Aku menggandeng tangan Devina, mengajaknya pergi.
***
Beberapa hari berikutnya, aku masih saja mendengar gadis-gadis di sini membicarakan Kak Faiz yang katanya sudah punya pacar.
"Apa aku sebaiknya berhenti saja untuk menyukainya?" tanyaku dalam hati. Aku merasa mereka semakin hari semakin dekat.
Seperti waktu itu, aku melihatnya sekelompok siswa sedang berkumpul. Aku tidak menyadari kalau Kak Faiz juga ada di sana.
Flashback on
"Ah, Devina mana sih? Katanya mau menemaniku mengantar kertas absen ini ke Reno," ucapku celingak-celinguk mencari Devina. "Ya sudah sendiri saja deh," putusku.
Aku pun berjalan, untuk mencari Reno. Kalau tidak salah, dia masih di lapangan karena jam olahraga baru saja selesai dan aku diminta mengantarkan absen ini kepadanya.
"Tuh, kan benar." Aku tersenyum saat melihatnya duduk berbicang dengan teman-temannya. Tapi, kenapa Kak Faiz ada di sana? Bersama gadis itu lagi.
Aku menghela napas panjang. "Oke, Bulan, tidak apa-apa. Ini cuma mengantar absen." Aku mencoba menenangkan diri.
Dengan kepala sedikit menunduk, aku memberanikan diri melangkah.
"Eh, lihat siapa tuh yang datang? Cieeee ..."
Meskipun malu karena semua perhatian tertuju padaku, tapi aku tetap melangkah.
"Aku ke sini hanya ingin mengantarkan ini," ucapku seraya menyodorkan kertas absen itu. Tanganku sedikit dingin karena Kak Faiz ikut menatapku.
"Oh iya, makasih, ya," ucapnya.
Aku hanya tersenyum kecil dan mengangguk sebelum berbalik.
"Bulan, mau ke mana?" Aku menghentikan langkah saat Reno memanggilku.
"Mau ke kelas," jawabku sambil menatapnya. "Oh ya, soal yang tadi... aku minta maaf."
Meskipun sudah beberapa kali meminta maaf, aku tetap saja tidak enak karena ia sempat terkena lemparan bola voli dariku.
"Iya, aku tahu kamu tidak sengaja," ucapnya.
Aku melanjutkan berjalan.
"Memang ada apa, Ren?"
"Ah tidak. Tidak ada apa-apa," jawabnya santai.
"Cieeee."
"Apa sih, cie, cie?"
Flashback off
"Bulan!" Suara itu membuyarkan lamunanku. "Tolong perhatikan ke depan!"
"I-iya Bu, maaf," jawabku sambil menunduk.
"Oke kita lanjutkan kembali..."
"Hei, ada apa?" bisik Devina.
"Tidak ada apa-apa," jawabku.
Tak lama, bel istirahat pun berbunyi. Suasana kelas menjadi heboh karena semua ingin keluar kelas.
"Hei! Semuanya, sebelum kalian keluar, ada pengumuman penting!" teriak Claudia.
Aku yang sedang membereskan dan memasukkan buku-buku ke dalam tas, menoleh. Murid-murid lain juga ikut menoleh.
"Ada apa, sih?" tanya salah satu siswa.
Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat. Napasku mulai tidak teratur. Firasatku tidak enak. Aku takut Claudia akan membongkar tentang perasaanku pada Kak Faiz.
"Pengumumannya itu ..." Claudia menjeda kalimatnya sambil melirik ke arahku.
"Eh, tidak jadi deh. Lupa, hehe," katanya sambil menyengir dan menggaruk tengkuknya.
Aku langsung menghembuskan napas lega.
"Huh, dasar tidak jelas," ucap salah satu siswa, lalu berjalan pergi bersama yang lain.
"Dia memang tidak jelas," tambah Reno sambil merangkulnya.
Setelah yang lain pergi, Claudia tertawa keras lalu melirikku. "Pasti takut ya? Aku bakal bilang ke mereka?" bisiknya di telingaku.

Dwiwanti Afifah Wulandari
6 Pengikut · 2 Novel