


oleh IR Windy · 36 Bab
Dikucilkan dan dicap sebagai pembawa sial membuat kehidupan Hanna serasa di dalam Neraka. Namun, suatu hari dia tak sengaja bertemu dengan sosok pria tampan yang bernama Barra Adiswara yang tengah berlibur ke pedesaan. Di luar dugaan ternyata perlakuan Barra berbanding jauh dengan perlakuan yang Hanna dapat dari warga desa selama ini, bahkan Barra tiba-tiba melamarnya dan mengajaknya pergi dari tempat terkutuk tersebut. Apakah ini hanya mimpi bagi Hanna? Lantas apakah Barra benar-benar sosok pahlawan yang datang dari Surga?
"Apa maksudnya? T-tuan mau melamarku?" Kening Hanna mengerut, tak percaya dengan perkataan yang baru saja ia dengar.
Tetapi sebuah anggukkan dan senyuman manis pun membuat situasi terasa begitu hangat. Dengan santainya Barra menjawab, "Betul, aku akan melamarmu. Aku juga akan membawamu pergi dari tempat menyedihkan ini ke tempatku. Akan kupastikan kamu memiliki tempat yang layak dan bahagia bersamaku."
"Hah!?"
Bukannya merasa senang, Hanna justru heran dan semakin tak percaya dengan situasi saat in
"Apa aku sedang bermimpi? Aku yakin aku juga tidak memakan sesuatu yang memabukkan," gumamnya seraya mencubit pipi yang ternyata rasa sakit yang ia dapatkan, "apa karena aku terlalu sering memakan makanan basi sehingga pikiranku tidak beres??"
Sungguh, Hanna benar-benar merasa bingung saat ini. Di tengah-tengah kehidupannya yang terasa berat serta dipenuhi penderitaan karena kematian kedua orang tuanya secara bersamaan membuat dirinya dicap sebagai anak pembawa sial sehingga diasingkan ke tempat terpecil dari desa oleh para warga, hanya dalam waktu beberapa hari saja setelah pertemuannya dengan sosok pria asing yang menamakan dirinya Barra Adiswara di sebuah pasar beberapa waktu lalu, semua berubah total.
Mulanya Hanna hanya berniat untuk menjual hasil kebunnya berupa buah Strawberry yang berhasil ia panen di halaman gubuk kecilnya. Namun, tiba-tiba pria itu datang menghampiri dan bahkan memborong semua dagangannya yang belum sempat ia jual ke pengepul.
Sejak saat itu keduanya tanpa sengaja sering berpapasan, Barra bahkan merasa penasaran dan mengunjungi Hanna untuk sekadar melihat keadaan kebun strawberry-nya yang tidak begitu luas. Namun, keadaan tiba-tiba saja berubah setelah Barra mengungkapkan maksud dan tujuannya seperti saat ini.
Lelaki itu terus menampakkan senyuman manisnya di hadapan gadis berpenampilan compang-camping dan sebatang kara.
"Bagaimana? Apa kamu mau menerima lamaranku dan ikut denganku?" tanya Barra kembali memastikan, "kamu tidak usah khawatir dengan kebunmu karena aku akan menyuruh pegawaiku untuk mengelola ini sehingga akan terus terawat dengan baik, atau bahkan akan semakin meluas."
Hanna kembali mengerutkan kening, tampak keraguan yang mendalam pada raut wajahnya. Herannya ia tak menemukan keraguan sedikitpun yang terlihat dari pria di hadapannya.
"Ini tidak lucu, Tuan. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Tuan bicarakan," ucapnya bernada datar, "jika Tuan berbuat seperti ini karena mengasihani saya sebaiknya hentikan ... dan pergilah kalau urusan Tuan sudah selesai."
Tidak hanya menunjukkan sikap yang acuh, gadis itu kini menggeser duduknya yang sedikit menjaga jarak dari lelaki tersebut.
Melihat itu Barra pun sedikit terkejut. Namun, ia tak menghilangkan senyumannya barang sedikitpun. Karena ia tahu bahwa hal ini mungkin akan membuat Hanna bingung.
Barra lantas menghela napas panjangnya. "Kamu terlalu berpikir jauh, Hanna. Sepertinya aku sudah menjelaskannya dengan sangat jelas dan mudah dimengerti kalau aku akan melamar dan menjadikanmu milikku. Bagian mana yang kamu tidak paham?"
Barra menautkan alisnya, terlihat khawatir jika gadis itu tidak mempercayai ucapannya sedikitpun, apa lagi lelaki itu memang sudah menyadari bahwa ia bergerak terlalu cepat sehingga tidak heran kalau Hanna akan mencurigainya.
"Yah, baiklah. Kalau kamu masih ragu ... aku tidak akan memaksakan dan silakan pikirkan baik-baik," ucap Barra di tengah lamunan Hanna yang masih menatapnya penuh keraguan, "besok aku akan kembali dan menanyakan keputusanmu."
Pria itu beranjak dari duduknya dengan senyuman yang tidak pernah pudar. "Semoga harimu menyenangkan," ucapnya penuh kehangatan.
Hanna hanya terdiam tanpa menimpali, menatapi sosok Barra yang mulai berlalu meninggalkan dirinya yang masih duduk termangu dengan pikiran kalut sampai saat lelaki itu tidak lagi terlihat oleh pandangannya Hanna pun mendesah.
"Sepertinya aku benar-benar sedang berhalusinasi, ini terlalu mengejutkan!"
Hanna lalu beranjak dari duduknya lalu meneruskan aktifitasnya yang sempat tertunda, berusaha mengesampingkan pikiran kalutnya dengan kembali merawat kebunnya serta beberapa pekerjaan lain di dalam gubuk.
Niat hati ingin menghilangkan beberapa hal tentang tawaran lelaki itu, pikirannya justru tidak sejalan. Hanna terus dibayang-bayangi oleh perkataan manis yang terus ia dengar dari mulut Barra. Bagaimanapun ia menyibukkan diri, sosok Barra dan senyumnya terus menghantui.
Hal itu berlanjut hingga malam tiba. Hanna berbaring di tempat tidurnya yang terbuat dari kasur lapuk berselimutkan selendang peninggalan ibunya. Hanna menatap kosong ke arah langit-langit berhiaskan sarang laba-laba.
"Apa yang harus kulakukan saat laki-laki itu kembali?" tanyanya pada diri sendiri, "aku tentu tidak bisa pergi dari tempat yang sudah kutinggali selama 10 tahun."
Untuk beberapa saat Hanna tenggelam dalam kebimbangannya ditemani oleh cahaya lilin yang menerangi ruangan itu serta suara jangkrik yang bersahutan.
Tidak ada rasa kantuk sama sekali yang menyerang karena otaknya masih sibuk mencari sesuatu yang bahkan tak bisa terpikirkan olehnya.
Saat malam semakin larut, terdengar suara riuh meski samar tapi tetap membuat Hanna merasa penasaran. Gadis itu mengerjapkan matanya berusaha memperjelas pendengarannya.
"Suara apa itu? Jarang sekali tengah malam begini ada suara seperti itu."
Hanna lalu bangkit, bersama dengan bertambahnya volume suara yang semakin terdengar jelas. Untuk seketika kedua alisnya mengerut kala ia menyadari sesuatu.
"Tunggu! Sepertinya suara itu mengarah ke tempat ini!"
Dengan gerakkan tiba-tiba Hanna beranjak dengan setengah melompat dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju jendela lalu sedikit membukanya untuk mengintip. Tampak matanya terbuka lebar saat melihat beberapa iringan obor tengah berasal dari desa berjalan menuju tempat tinggalnya.
"Siapa mereka!? Jangan-jangan-"
Ucapan Hanna terhenti, bersama dengan munculnya dugaan dalam benaknya.
"Sial! Apa mereka mencoba mengusirku lagi!?"
Hanna segera menutup kembali jendela itu dengan rapat, berjalan dan berdiri tepat di depan pintu. Napasnya memburu serta debaran jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
"Padahal aku sudah berusaha menjalani hidupku dengan baik dan hati-hati, tapi mereka masih saja tidak menerima keberadaanku?" batinnya.
"Keluar kau! Pembawa sial!"
Hanna terkesiap, saat mendengar teriakkan dari arah luar yang memanggil dirinya dengan julukan yang selama ini selalu diterima olehnya.
"Keluar atau kami akan membakar tempat ini! Kami tahu kamu di dalam!"
Terdengar beberapa teriakkan yang terus memanggilnya dengan berbagai sebutan kasar, entah itu pembawa sial, anak tidak berguna, semua perkataan buruk dan kasar saling bersahutan. Namun, Hanna hanya diam sembari menautkan tangannya.
"Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Kenapa mereka tidak membiarkanku hidup tenang meski di tempat seperti ini?"
Hanna terus berpikir hal apa yang membuat warga desa murka dan mendatanginya dengan penuh amarah, tetapi walaupun demikian, Hanna tidak memiliki pilihan lain.
Perlahan ia berjalan mendekati pintu lalu membukanya. Tepat di balik pintu tersebut, para warga sudah berdiri menunggu dirinya dengan menatap nyalang padanya, tampak amarah mereka menggebu-gebu, sama halnya dengan kobaran api yang terdapat pada beberapa obor yang mereka bawa.
Hanna menghela napas panjangnya mencoba menguasai diri. "Maaf, ada perlu apa mendatangiku malam-malam?"
Salah satu warga kemudian melangkah sembari memasang raut wajah sinisnya. "Ck! Kau memang terlihat tidak berdosa, ya. Haruskah kita langsung membakar tempat ini!?"

IR Windy
31 Pengikut · 4 Novel