Cahaya kuning redup dari lampu kamar mandi menyinari uap tipis yang mengepul dari pancuran air hangat. Ayla menggeliat pelan, sebelum meraih handuk putih bersih dari gantungan di dinding.
Ia berniat mandi cepat, tubuh lengket setelah seharian bekerja, dan pikirannya penat oleh berbagai hal yang tak ingin lagi ia ingat malam ini.
Saat baru menyampirkan handuk di pundak, langkahnya terhenti. Ada rasa ganjil, seperti ada yang memperhatikan dari jauh.
Instingnya berteriak.
Tengkuk mulai meremang.
Ayla mengerutkan kening. Mata menyapu sekeliling kamar mandi yang sepi. Tak ada suara atau gerakan. Namun, perasaan itu tetap ada.
Dengan napas tertahan, Ayla mendongak perlahan. Jantungnya seperti dihentak palu.
Di langit-langit, tergantung kaki seseorang. Kaki pucat, kaku, tak menyentuh lantai. Menggantung begitu saja seperti boneka mati.
Suara tercekik lolos dari tenggorokan. Lalu ia menjerit.
“SANDI!!” teriaknya histeris, nyaris terisak.
Lutut lemas.
Ia hampir pingsan.
Suaranya pecah. Melihat tubuh suaminya menggantung kaku. Wajah Sandi membiru. Mata setengah terbuka, seolah masih menatap dunia yang telah meninggalkannya.
Ayla limbung.
Ia mundur hingga punggungnya membentur dinding.
Lalu semuanya gelap.
***
Langit mendung mengiringi barisan pelayat di pemakaman siang itu.
Satu lagi suami Ayla dimakamkan.
Sandi ditemukan gantung diri malam tadi. Polisi menyimpulkan kematian itu sebagai bunuh diri. Tidak ada tanda kekerasan, atau pesan terakhir. Hanya tubuh dingin dan benang panjang yang menjuntai.
Ayla berdiri di sisi makam, wajah tertutup kacamata. Pakaiannya serba hitam, dan jemari menggenggam erat bunga krisan putih. Tak ada air mata di pipi, tapi semua orang tahu duka itu nyata, atau begitulah kesannya.
Bisik-bisik mulai terdengar pelan dari para pelayat.
“Suami ketiga?”
“Katanya yang pertama kecelakaan, kedua kena serangan jantung mendadak.”
“Sekarang gantung diri. Aneh banget.”
“Dia itu sial, atau ada apa, sih, sebenarnya?”
Ayla mendengarnya, tapi ia diam. Hatinya terlalu beku untuk menjelaskan, terlalu lemah untuk membela diri.
Di antara kerumunan, seorang pria berdiri di kejauhan. Wajah tertutup payung. Mata tajamnya mengamati Ayla, tidak dengan belas kasih, tapi mencurigakan.
Langkah Ayla pelan, mengikuti jenazah Sandi diturunkan ke liang. Di belakangnya, bisikan-bisikan kecil terus berdesakan, seperti duri-duri tak kasatmata yang menusuk punggungnya.
“Aku dengar dulu suami pertamanya tabrakan pas malam pertama.”
“Iya, terus yang kedua, katanya serangan jantung? Padahal baru dua minggu nikah.”
“Masa iya tiga-tiganya mati kebetulan semua? Ini mah kayak kutukan!”
Beberapa ibu menutup mulut dengan kerudung, pura-pura sopan. Ayla tahu, mata mereka berbicara lebih keras dari mulut mereka.
Di antara barisan pria tua, seseorang berbisik lirih,
“Mungkin dia yang bawa sial, atau dia yang nyebabin semua itu. Kasihan Bu Tya, padahal dia pengen Sandi anak satu-satunya hidup bahagia.”
“Saya pernah dengar dari adik iparnya Rocky, suami kedua. Katanya, Ayla sering bicara sendiri malam-malam, di depan cermin.”
“Ah, kamu percaya hal begituan?”
“Saya percaya, insting perempuan nggak pernah salah.”
Sementara itu, seorang wartawan lokal berdiri di dekat gerbang makam, sibuk mencatat sesuatu di buku kecil. Matanya menyorot tajam ke arah Ayla. Kasus ini mungkin bisa dijual. Tiga kali nikah, tiga kali jadi janda. Narasi yang terlalu bagus untuk dilewatkan.
“Pengantin Pembawa Maut,” begitu bisik sebagian dari mereka. Julukan itu menyebar seperti wabah. Membekas lebih dalam dari tanah yang menelan tubuh Sandi hari itu.
Ayla berdiri sendiri di samping batu nisan. Menggenggam bunganya lebih erat, seolah itu satu-satunya yang bisa ia gunakan untuk perlindungan.
Belum reda lukanya karena ocehan para pelayat, kini ibu mertuanya, Bu Tya, datang mengamuk.
"Apa kubilang? Sejak awal aku sudah larang Sandi nikah sama kamu, Ayla!" bentak Bu Tya dengan mata sembab dan suara bergetar marah. Tangan menunjuk lurus ke wajah Ayla, tanpa sedikit pun rasa kasihan.
Ayla hanya menunduk, berdiri membatu di halaman rumah duka. Aroma bunga sedap malam dan dupa bercampur jadi satu, memuakkan. Tangis duka belum benar-benar reda, tapi amarah Bu Tya seakan menenggelamkan semuanya.
"Kamu bawa sial! Kamu itu kutukan buat keluarga kami!" Suara itu menusuk.
Beberapa kerabat mencoba menenangkan, menarik pelan lengan Bu Tya, tapi perempuan itu menepis kasar.
“Sekarang anakku! Besok siapa lagi yang akan jadi tumbal? Kamu pikir ini semua cuma ‘kebetulan’?!”
Ayla tak bisa menjawab. Ia hanya berdiri diam, seperti mayat hidup yang tidak punya kata untuk membela diri.
“Tiga kali kamu nikah. Tiga kali kamu bikin kuburan!” Suara Bu Tya hampir pecah. “Dasar pembawa maut! Kamu bakal kena ganjarannya, Ayla. Tunggu aja. Tuhan nggak tidur!”
Tangis pecah dari bibir Ayla, sementara Bu Tya akhirnya roboh dalam pelukan salah satu saudara. Dina muncul dari belakang, meraih bahu Ayla pelan.
"Udah, Ay, jangan dengerin mereka," bisiknya lembut.
Ayla tahu, ia harus kuat. Atau ia akan hancur.
Begitu Dina menarik Ayla menjauh dari kerumunan pelayat dan keluar dari gerbang rumah duka, kilatan lampu kamera langsung menyambar.
“Ayla! Lihat ke sini, Ayla!”
“Apa benar kematian suami ketiga Anda ada hubungannya dengan kutukan?!”
“Benar kah Anda menggunakan racun?!”
Suara-suara keras itu datang bersamaan, seperti hujan batu yang menimpuk dari segala arah. Wartawan berlarian, mikrofon diarahkan ke wajah Ayla, kamera menyala, dan suara shutter tak berhenti.
Ayla membeku. Mata nyaris tak berkedip. Cahaya dari blitz menyilaukan, membuat dadanya sesak. Dina langsung berdiri di depan, melindungi tubuh Ayla dengan lengan.
“Udah cukup! Dia masih berduka!” bentak Dina pada salah satu wartawan, yang mencoba menyodorkan ponsel untuk merekam reaksi Ayla lebih dekat.
Mereka tak peduli. Satu bertanya, yang lain menulis dan merekam. Semua berlomba mendapatkan headline terbaik. Ayla hanya bisa menunduk. Kakinya lemas.
Dina mencengkram tangan Ayla dan mendorongnya masuk ke mobil. “Cepat! Ayo!” katanya dengan suara panik.
Begitu pintu mobil tertutup, Dina menguncinya, menarik napas dalam-dalam, dan menyalakan mesin. Mobil melaju pelan, meninggalkan kerumunan yang masih meneriakkan nama Ayla di belakang.
Di dalam, Ayla bersandar ke jendela, memejamkan mata.
“Aku nggak kuat, Din.” Suaranya lirih. “Mereka semua lihat aku kayak monster.”
Dina menoleh singkat, lalu kembali menatap jalan.
“Kalau kamu monster, aku pasti udah pergi dari dulu. Kamu itu sahabat aku!”
Kata-kata itu tak cukup menenangkan, karena Ayla tahu ini bukan pertama kali bencana datang dalam hidupnya.
Di tengah keheningan di dalam mobil, suara dering telepon tiba-tiba memecah suasana. Ayla membuka mata, meraba tas dengan gemetar, lalu mengangkat ponsel. Di layar tertera: Nomor Tak Dikenal.
“Ayla Ardiansa?” Suara berat di seberang menyapa, dingin, tetapi sopan.
“Iya, saya sendiri.”
“Saya Detektif Nunu. Sudah menunggu di rumah Anda. Kita perlu bicara.”
Ayla menelan ludah. Jantungnya yang baru saja tenang, kembali berdebar. Dina melirik sekilas.
“Siapa?” bisiknya.
Ayla tak menjawab. Ia hanya menggenggam ponsel lebih erat, seolah ingin memastikan dirinya tak benar-benar hancur.
“Ada sesuatu yang perlu Anda ketahui seputar kematian suami Anda,” ujar Detektif Nunu di ujung sana. “Saya harap Anda jujur sepenuhnya.”
Klik.
Telepon terputus.
Ayla memejamkan mata sesaat. Dina, yang memperhatikan perubahan raut wajahnya, bertanya pelan, “Dia detektif ya?”
Ayla mengangguk pelan.
Dina merapatkan pegangannya ke setir. “Mau aku temani?”
Ayla menatap keluar jendela. Bayangan wajah Sandi, senyum terakhir, dan sosok tergantung di plafon, masih menari di matanya.
“Enggak. Aku harus hadapi ini sendiri.”