


oleh Miss Aquarius · 107 Bab
Riandi Erick menjodohkan putri bungsunya, yaitu Vinessa Abshari Erick, dengan kolega bisnis sekaligus investor terbesar di perusahaannya yang hampir bangkrut. Dengan pernikahan tersebut, maka semua akan baik-baik saja. Namun, siapa yang menyangka, saat hari pernikahan tiba, Vinessa kabur bersama kekasihnya. Riandi Erick mengalami serangan jantung, lalu dilarikan ke rumah sakit miliknya. Di saat itu, ia harus merelakan putri kesayangannya—Crystal Diayni Erick—menggantikan posisi Vinessa sebagai mempelai wanita. Peristiwa memalukan tersebut, membuat Riandi Erick tak lagi mengakui Vinessa sebagai anaknya. Siapakah pria yang menjadi kolega bisnis Riandi Erick? Bagaimana kehidupan rumah tangga Crystal dan Vinessa? Apakah Riandi Erick akan memaafkan Vinessa?
"Apa tidak ada syarat lain, Pak Greyson?" tanya seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahalnya.
Riandi Erick, seorang pengusaha kaya yang memiliki beberapa aset besar di negara maritim—Indonesia. Erick Group, perusahaan yang bergerak di bidang properti dan teknologi. Ia juga memiliki rumah sakit terkenal di Jakarta dan sudah ada cabang di mana-mana. Karena kesalahan satu orang sehingga berimbas pada perusahaan yang ia bangun serta asetnya yang lain. Hampir gulung tikar, jika saja seseorang tidak mengulurkan bantuan. Namun, timbal balik yang orang itu minta sangat memberatkan bagi Tuan Riandi. Ralat, lebih tepatnya sebagai seorang ayah.
"Tuan saya meminta satu syarat saja, tidak ada yang lain, Pak Erick. Saya datang dari luar negeri ke Indonesia, bukan untuk tawar menawar dengan Anda. Itu bukan ranah saya, Tuan Riandi. Tugas saya hanya menyampaikan apa yang tuan saya perintahkan."
Tuan Riandi mengusap wajahnya dengan kasar sambil menatap ke arah seorang pria dewasa yang mengenakan setelan mahal. Pria blasteran Swedia-Indonesia itu bernama Greyson Michael Wirawan, ayahnya orang Indonesia asli sedangkan ibunya orang Swedia. Ia salah satu tangan kanan dari pengusaha paling kaya di Benua Eropa dan Asia—orang yang mengulurkan bantuan investasi besar dengan satu syarat.
Syarat itu sebenarnya mudah, tetapi tidak untuk sebagian seorang ayah.
"Tapi saya tidak bisa menyerahkan salah satu putri saya, mereka bukan barang! Yang mengalami kebangkrutan adalah perusahaan saya, Pak Greyson. Bukankah investor biasanya meminta keuntungan besar? Bukan meminta salah satu putri dari pengusaha yang tengah bangkrut macam saya! Tidak masalah jika tuan Anda meminta sebagian saham atau keuntungan besar, tetapi tidak untuk putri saya!" ucap Tuan Riandi dengan frustrasi.
"Tuan saya tidak menganggap putri Anda sebagai barang, Pak Erick. Memang Anda pikir ini zaman apa? Sehingga ada unsur tukar menukar. Ini hanya sebuah persyaratan sakral saja, setelah setuju, maka tuan saya akan datang bersama keluarganya melamar putri Anda secara baik-baik, sesuai adat di negara ini. Dia hanya sedang mencari seorang istri, ingin melepas masa lajang dan hidup berdampingan dengan bahagia meski dadakan," sahut Greyson dengan raut wajah seperti tangan kanan bos biasanya, yaitu datar dan dingin.
"Lagi pula, tuan saya sangat baik, Pak Erick. Ia hanya jahat dan berdarah dingin pada orang-orang yang berbuat curang. Ibaratnya, licik dibalas lebih licik, kejam dibalas lebih kejam. Sedangkan pada Anda, ia memberi penawaran bersyarat yang baik dan sopan. Tidakkah Anda berpikir ulang sebelum memberikan penolakan. Dengan menerima tawaran tersebut, maka Anda yang akan mendapatkan banyak keuntungan, kan? Bukan saya atau orang lain. Bahkan, putri Anda terjamin hidupnya. Bagaimana?" lanjut pria dengan raut wajah datar itu.
Riandi terlihat bodoh di hadapan pria yang menjadi tangan kanan dari Sean Geraldo Adhitama. Pengusaha muda yang sangat kaya raya, pemilik Adhitama Group dan Heston Corporation. Dua perusahaan raksasa yang memiliki cabang hampir di seluruh negara, selain itu, Tuan Sean memiliki banyak usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Bahkan, ia juga mempunyai casino, klub malam, dan perusahaan yang bergerak di bidang persenjataan.
Tuan Sean mengelola usaha legal untuk menutupi usaha ilegalnya, meski tidak pernah terendus, tetapi tetap harus waspada. Banyak tikus-tikus kecil yang selalu ingin bermain-main dan berbuat curang.
"Katakan pada tuan Anda, Pak Greyson. Saya tidak akan menyerahkan salah satu putri saya untuknya. Saya tidak ingin melakukan perjodohan bisnis ini. Saya belum siap kehilangan salah satu dari mereka. Keduanya adalah anugerah terindah dari Tuhan. Berkat kehadiran putri sulung saya, rumah tangga yang sempat renggang kembali harmonis. Dan berkat putri bungsu saya, rumah tangga menjadi lengkap."
"Anda yakin, Pak Erick?" Tuan Riandi mengangguk mantap, meski raut wajahnya terlihat gelisah.
"Baiklah kalau begitu, tuan saya tidak akan memberikan penawaran dua kali jika sudah mendapat penolakan. Anda mungkin sudah mengetahui bagaimana sikap tuan saya." Greyson menampilkan raut wajah yang sangat dingin setelah mendengar penolakan dari Tuan Riandi.
Tuan Riandi mengembuskan napas berat, merasa putus asa dan bimbang. Ia ingin mempertahankan egonya, tetapi mengingat ada banyak orang yang bergantung pada usahanya. "Pak Greyson. Saya mendengar bahwa Tuan Sean sering ditinggalkan oleh calon istrinya saat hari pernikahan. Terkadang, sebelum hari pernikahan calon-calon istrinya tertangkap basah sedang selingkuh. Dan karena perbuatan itu, Tuan Sean membuat perhitungan pada keluarga si calon istri. Saya merasa takut, jika putri saya akan melakukan hal yang sama, sehingga berimbas kepada keluarga saya yang lain. Yang tidak bersalah," jelasnya.
Greyson menghela napas kasar. Ia mengira jika Tuan Riandi menolak sang tuan karena murni tidak ingin mengorbankan putrinya dengan pernikahan bisnis ini. Ternyata sama saja seperti orang tua dari para mantan calon istri Tuan Sean. Namun, Greyson memuji sikap Tuan Riandi yang sangat melindungi keluarganya. Lagi pula, sang tuan sudah sangat ingin menikah, meski perempuan itu berasal dari keluarga miskin sekalipun. Yang terpenting baginya, perempuan itu tulus.
Yang Greyson tahu, Tuan Sean iri dengan kedua adik kembar angkatnya karena sudah berkeluarga. Sehingga keluarga besar Adhitama dan Heston selalu mengejek, bahkan beberapa aset masih tertahan oleh sang kakek dari pihak Ibu—Juan Heston—hanya karena ia belum menikah.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Greyson sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
Tuan Riandi terkejut, ternyata sedari tadi pria itu sudah menghubungi bosnya.
"Tuan saya mengatakan, jika Anda tidak ikut campur akan apa yang dilakukan putri Anda ke depannya, maka dia tidak akan melakukan apa pun."
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Tuan Riandi menyetujui perjodohan bisnis tersebut, membuat Greyson menampilkan senyum sinis dan mencemooh.
Ya Tuhan, ampuni aku karena seolah menjual beli anugerah dari-Mu, batin Tuan Riandi berteriak.
***
Tuan Riandi pulang ke rumah lebih awal. Melangkah masuk ke dalam dan mencari keberadaan istrinya. Ia harus membicarakan hal penting. Selain itu, ia butuh pencerahan, putri mana yang harus ia korbankan.
"Mayang," panggil pria paruh baya tersebut setelah menemukan keberadaan istrinya di dalam perpustakaan pribadi keluarga Erick.
Kediaman Tuan Riandi memang terdapat beberapa ruangan yang tidak akan ditemukan di sebagian rumah orang kaya. Ruang perpustakaan pribadi, ruang perawatan untuk orang-orang yang sakit ringan terutama para pekerja di sana (putri sulungnya yang akan menjadi dokter), ruang bioskop mini, ruang musik, ruang gym, dan masih banyak lagi. Tuan Riandi memang sengaja menyediakan ruangan tersebut agar keluarganya tidak keluyuran dengan tidak jelas hanya untuk sekadar menonton, bernyanyi, berolahraga, dan berobat.
"Iya, Mas. Ada apa?" tanya perempuan baya yang masih cantik bernama Mayang Diabshari Erick, istri tercinta pria itu.
"Aku ingin membicarakan hal penting."
"Apa?"
Tuan Riandi pun menceritakan segalanya tanpa mengurangi ataupun melebihi. Nyonya Mayang terdiam, tidak tahu harus melakukan apa. Pikirannya tiba-tiba menjadi abu-abu, seolah tidak mampu berpikir. Apa yang suaminya bicarakan tentu saja membuat ia terkejut secara mendadak, beruntung dirinya tidak punya riwayat penyakit jantung.
"Aku berat melepas salah satu putriku, bukan karena takut akan kabur saat hari pernikahan. Aku berbohong pada Pak Greyson. Tapi aku belum siap berpisah," ungkap Tuan Riandi yang meneteskan air mata.
"Mas sudah menyetujui syarat tersebut. Jadi, mau tidak mau kita harus mengikhlaskan salah satu putri kita. Biarkan putri bungsu kita yang menikah," usul Nyonya Mayang.
"Nessa?" beo Tuan Riandi.
"Ya, aku lebih percaya padanya untuk menikah dibandingkan dengan Dee," kata Nyonya Mayang.
Tanpa keduanya sadari, ada seorang gadis yang tengah mengintip dan mencuri dengar pembicaraan tersebut sambil menitikkan air mata.
"Mama memang selalu mempercayai Nessa, dibanding aku yang penyakitan ini," gumamnya.

Miss Aquarius
30 Pengikut · 10 Novel