Selepas kepergian Gala, Nabila dan Oma Nira pun masuk ke dalam rumah. Nabila kemudian pergi ke taman belakang dekat kolam. Ia duduk merenung di sana seorang diri.
“Baru juga pergi, aku sudah rindu sama Mas Gala. Ya Tuhan … tolong permudah jalan untuk Mas Gala memperbaiki keadaan perusahaannya. Aku tidak sanggup jika harus berjauhan dengannya seperti ini,” batin Nabila penuh harap.
Nabila menyibak rambutnya yang diterpa angin.
Cukup lama Nabila duduk di kursi taman. Merasa bosan, ia pun berpindah tempat ke tepi kolam.
Nabila duduk di pinggiran kolam, kedua kakinya sengaja ia masukkan ke dalam air kolam. Entah kenapa, bayang-bayang wajah Gala selalu terlihat. Tidak bisa dihilangkan walau hanya sekejap.
Dirabanya perut yang masih kecil itu. Nabila tersenyum kecil saat teringat bahwa kini ia tengah mengandung benih cinta dari Gala. Tidak menyangka, jika ia bisa sampai menikah dan mengandung anak dari Gala, yang awalnya hanyalah seorang pengasuh dan majikan. Bahkan awal pertemuan mereka pun, kurang baik. Nabila pernah menampar lelaki itu di toilet klinik. Sungguh, yang namanya jodoh ternyata benar-benar sangat misterius. Hanya Tuhan yang tahu jalan hidup semua umat manusia.
“Kamu yang sabar ya, Nak. Papa pasti cepat pulang. Mama juga kangen sama papa kamu. Padahal, baru saja papa kamu berangkat,” gumam Nabila, ia mengajak ngobrol janin yang ada di dalam perutnya.
Nabila mengayun-ayunkan kedua kakinya di dalam air, hingga menimbulkan bunyi kecipak. Ia begitu menikmati dinginnya air kolam yang mengenai kedua kakinya. Seakan membuatnya menjadi lebih rileks daripada sebelumnya. Namun, ia tak sadar, di bahunya sesuatu tengah merayap.
Angin kembali berhembus cukup kencang. Membuat rambut Nabila yang selalu terurai, kembali tertiup angin. Wajahnya tertutup oleh rambut, membuat pandangan Nabila cukup terhalang.
Dengan cepat Nabila menyingkirkan rambut itu dari wajahnya. Disibaknya rambut tersebut ke belakang. Hingga tangannya menyentuh sesuatu yang merayap itu di bahunya, yakni ulat berwarna hijau yang tak sengaja mengenai bajunya dari pohon di dekat kolam.
Nabila mengambil ulat tersebut lalu dilihatnya. Nabila sangat terkejut, sontak ia berteriak ketakutan sekaligus geli sambil melempar hewan tersebut. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Nabila tidak sengaja tercebur ke dalam air kolam.
Nabila yang tidak bisa berenang, hanya bisa berteriak minta tolong walaupun beberapa kali ia tenggelam dan timbul ke permukaan.
“Tolong saya!” teriak Nabila.
Nabila meronta-ronta di dalam air. Berharap seseorang datang dan melihatnya. Namun, tidak ada tanda-tanda ada seseorang datang ke tempat itu.
Nabila yang terus meronta, bukannya ia mendekat ke tepi kolam, ia malah semakin berada di tengah dengan kedalaman air yang semakin dalam. Jelas membuatnya semakin panik dan ketakutan.
Cukup lama bergelut dengan air kolam yang cukup dalam itu. Nabila mulai kehabisan tenaga, perlahan tubuhnya mulai melemah, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri, tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.
Di dalam rumah, Ello merasa suntuk berdiam diri di depan televisi. Dihisapnya sebatang rokok, sambil berjalan santai ke teras depan. Ia duduk seorang diri di sana, sambil sesekali ia membentuk kepulan asap rokok dari mulutnya, membentuk huruf o.
Sementara Oma Nira, ia tengah berada di dalam kamarnya. Punggungnya terasa sakit, maka wanita tua itu pun memutuskan untuk beristirahat.
“Mang, sini!” Ello melambaikan tangan ke arah tukang kebun.
Tukang kebun di rumah Gala itu, kemudian berjalan menghampiri Ello.
“Iya, Mas. Ada apa?” tanya tukang kebun.
Ello menyodorkan satu bungkus rokok kepada tukang kebun itu.
“Terima kasih banyak, Mas.” Tukang kebun itu menerima rokok pemberian dari Ello. Tampak sekali ia kegirangan mendapatkan satu bungkus rokok gratis itu.
“Kamu sudah menikah?” tanya Ello.
Tukang kebun yang berjenis kelamin lelaki itu segera mengangguk menjawab pertanyaan Ello.
“Sudah, Mas. Saya sudah 2 tahun menikah dan sudah punya anak satu masih bayi. Memangnya kenapa, Mas?” tanya tukang kebun.
Ello mengajak duduk tukang kebun tersebut.
“Bagaimana rasanya nikah?” tanya Ello, ia kembali menyulut sebatang rokok yang baru.
Tukang kebun itu mengernyitkan dahinya. Merasa aneh, kenapa Ello bisa bertanya seperti itu.
“Menurut saya pribadi, sih, enak. Apalagi yang kita nikahi wanita yang sangat dicintai. Bahagianya behh … nggak bisa diucapkan dengan kata-kata. Em … memangnya kenapa gitu, Mas?” tanya tukang kebun.
Ello mengedikkan bahunya, seraya membuang puntung rokok yang sudah memendek.
“Cuma pengen tahu saja, saya cuma mau kamu sharing saja tentang pengalaman kamu menikah,” jawab Ello.
“Ya sudah, kamu boleh lanjut bekerja lagi. Cuaca hari ini panas sekali, saya mau berenang,” ucap Ello.
Ello kemudian masuk ke rumah, lanjut ia masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka baju dan celana, hingga tersisa hanya kolor saja yang melekat di tubuhnya. Sebelum pergi ke kolam, ia mengenakan bathrobe.
Setelah bersiap, Ello pun segera pergi ke taman belakang, di mana letak kolam itu berada.
“Mbok Min, buatin saya jus alpukat, ya! Nanti bawa ke taman belakang, saya mau berenang di kolam sana!” pinta Ello.
Mbok Min yang baru saja menyelesaikan setrikaannya, mengangguk.
“Baik, Pak Ello!” sahut Mbok Min.
Ello melanjutkan langkahnya ke kolam. Namun, saat kakinya menapaki taman belakang dan berjalan ke arah kolam, ia mendapati seseorang yang tengah mengapung di tengah kolam.