Di dalam hutan yang sunyi, di tengah malam yang hanya
diterangi sinar rembulan, terdengar suara langkah seseorang. Seorang pria
dengan sebuah tali di tangannya yang terhubung pada seorang wanita yang
terikat. Pria itu menyeret wanita yang terikat itu di atas rumput dan juga
semak-semak yang tumbuh di hutan tersebut.
"Tolong lepasin saya, Pak! Kasihanilah saya. Biarkan
saya pulang, saya mohon!" Suara memohon dan isak tangis dari wanita malang
itu mengiringi perjalanan.
Terdapat luka di sekujur tubuh wanita itu, seperti habis
dianiaya. Darahnya bercecer meninggalkan bekas pada rerumputan dan semak yang
dilaluinya. Pakaian yang dikenakannya pun robek di berbagai bagian, akibat
terkena semak duri dan kerikil yang tajam, menambah perih luka di sekujur
tubuhnya. Udara dingin yang menusuk bercampur dengan perihnya luka yang
dirasakan membuat wanita itu semakin merasa lemah dan tak berdaya.
Hal itu sama sekali tak membuat sosok pria yang saat ini
tengah menyeretnya merasa iba kepadanya. Pria itu hanya diam tak
menghiraukannya, dan dengan raut wajah dingin, pria itu tetap melanjutkan
perjalanannya sambil terus menyeret wanita itu menuju ke sebuah danau yang
berada di tengah hutan.
Sesampainya di tepi danau, pria itu menghela napas sejenak
seraya menyeka peluh di dahinya. Matanya menyisir ke atas permukaan danau yang
tampak tenang di tengah keheningan malam, yang di atasnya terpantul cahaya
rembulan. Lolongan anjing hutan dari kejauhan mulai terdengar, menambah
kengerian suasana malam bulan purnama itu.
Wanita malang yang tergeletak di bawah kakinya itu kemudian
diangkatnya dan dipaksanya untuk berdiri dengan kasar. Namun, wanita yang sudah
sangat lemah itu kembali terjatuh ke bawah kakinya. Tak putus asa, pria
misterius itu kembali berusaha untuk membuat wanita itu berdiri dan berjejak
pada kakinya sendiri, walau ia harus menopang wanita itu dari belakang.
Wanita itu semakin mengerang kesakitan, akibat luka di
kakinya semakin menganga dan darah segar pun kembali mengucur dan mengalir ke
danau.
Darah yang mengalir itu mulai masuk dan bercampur dengan air
danau. Pria misterius itu tersenyum puas, karena memang itulah yang
diharapkannya. Darah yang telah bercampur dengan air danau itu akhirnya
berhasil memancing sesosok mahluk penghuni danau untuk muncul ke atas permukaan
air.
Wanita itu membulatkan matanya tak percaya melihat sesosok
mahluk besar mengerikan yang baru saja muncul dari dalam danau tersebut.
Sementara sang pria misterius itu menyeringai, seolah merasa senang dengan
kehadiran mahluk tersebut. Sama sekali tak ada rasa takut sedikit pun di raut
wajah pria itu.
"Ini makananmu, ambillah!" seru pria itu, lalu
mendorong wanita tersebut ke dalam danau yang dalam dan besar itu.
"JANGAAAAAANNN!" teriak wanita itu seiring
tubuhnya yang kini terlempar ke danau dalam keadaan terikat.
Dengan secepat kilat, mahluk mengerikan itu menyambar
santapannya dari dalam air.
Lagi-lagi pria itu tersenyum puas, ia merasa lega karena
telah berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik malam itu.
***
Dua tahun berlalu.
Jane duduk di balkon kamarnya dengan air mata yang membasahi
pipinya. Sesekali ia menyeka air matanya, tapi sayangnya air matanya tak
berhenti berlinang dari pelupuk matanya.
"Aku benci ayah. Kenapa ayah lebih memilih si nenek
lampir itu dan tidak mau mendengarkan permintaanku. Aku tidak mau memiliki
seorang ibu tiri, pokoknya tidak mau!" keluhnya sambil terisak.
Malam semakin larut, karena kelelahan akibat terlalu lama
menangis, kantuk pun menghampiri dirinya hingga membuatnya memutuskan untuk
segera tidur.
Pagi telah tiba, kini Jane duduk bersama ayahnya di meja
makan dengan mata sembab akibat menangis semalam.
"Semalam, kau menangis lagi?" tanya sang ayah di
sela santap paginya.
Jane tak menjawab, ia masih sibuk mengunyah makanan di
mulutnya.
"Kau masih marah pada ayah, karena rencana ayah yang
ingin menikahi tante Dian, kan?" tanya sang ayah lagi.
Mendengar itu, Jane menghentikan makannya, seketika nafsu
makannya langsung hilang mendengar nama itu. Ia pun bangkit berdiri dan meraih
tasnya.
"Maaf, Ayah. Jane berangkat dulu." Jane mencium
punggung tangan ayahnya dan berpamitan untuk berangkat kuliah.
Ayahnya menggeleng sambil menatap punggung Jane yang semakin
menghilang di balik pintu. Ia bukannya tak mengerti bahwa putri semata
wayangnya itu sangat tidak setuju jika ia menikahi Dian, sekretaris di
kantornya.
"Maafkan ayah, Nak. Suatu saat nanti, kau pasti akan
mengerti," gumam Doni Suhendra, ayah dari gadis bernama Jane Ruby Suhendra
itu.
***
Siang hari, di kampus.
Jam istirahat dihabiskan Jane untuk makan dan mengobrol di
kantin bersama kedua orang sahabatnya, yakni Julia dan Lili, sambil menunggu
mata kuliah selanjutnya.
"Jane, kamu kenapa sih? Dari tadi pagi kelihatan murung
terus?" tanya Julia yang duduk di samping kanannya.
"Iya, Jane. Mata kamu kelihatan sembab, seperti habis
menangis. Kenapa? Habis diputusin pacar ya?" Giliran Lili yang duduk di
hadapannya ikut bertanya.
"Pacar dari mana? Aku kan lagi nggak punya pacar!"
timpal Jane sewot.
"Ya, siapa tahu kamu diam-diam punya pacar. Iya, nggak,
Jul?" Lili memberi kode pada Julia sambil tersenyum iseng.
"Iya, benar. Apalagi akhir-akhir ini aku lihat si Jimmy
rajin banget deketin kamu," timpal Julia.
"Apaan sih kalian, aku sama Jimmy nggak ada apa-apa,
kok. Ya, memang lagi dekat sih, tapi belum ke arah situ," jawab Jane.
"Oh, begitu. Terus kamu kenapa murung kayak gitu?"
tanya Julia lagi.
"Ayahku, dia mau menikah dengan sekretarisnya, si nenek
lampir yang tempo hari kuceritakan itu," jelas Jane.
"Tante Dian?" tebak Lili.
"Iya," jawab Jane sendu.
"Lha, terus kenapa? Harusnya kamu ikut senang dong,
karena akhirnya ayahmu akan ada yang menemani dan mengurusnya lagi," kata
Julia dan diangguki oleh Lili.
"Kalian kan tahu, kalau aku nggak suka sama tante Dian,
si nenek lampir itu."
"Memangnya apa sih yang bikin kamu benci banget sama
tante Dian? Bukannya dulu kamu dekat ya sama tante Dian, sewaktu ibumu masih
bersama ayahmu?" tanya Julia penasaran.
"Karena dulu aku pikir tante Dian itu baik, tapi
sekarang aku yakin kalau penyebab perceraian kedua orang tuaku dulu adalah
tante Dian."
"Kamu yakin?" tanya Lili.
"Hem." Jane mengangguk yakin.