


oleh IRLINA · 100 Bab
Rumah yang tampak sempurna, tapi di balik pintu, tersembunyi rahasia yang dapat menghancurkan segalanya. Amanda, menelan pil pahit karena suaminya yang jauh lebih mementingkan hobi mengoleksi burung. Dia bekerja demi memenuhi kebutuhan sehar-hari, bertahan suaminya pengangguran dan sibuk dengan burungnya. Tidak hanya sang suami, tapi ibu mertua dan adik iparnya ikut campur dalam kehidupannya itu. Amanda, sudah lelah dengan rumah tangga ini. Berusaha mencari kebahagiaan dengan suaminya, tapi sang suami mengabaikannya. Tiba-tiba seorang pria yang mengisi kekosongan hatinya dan membuat Amanda merasa nyaman. Akankah Amanda, memilih pengkhianatan atau kesetiaan?
Hujan lebat mengguyur semesta. Seorang wanita tengah melepaskan jas hujannya. Tubuhnya gemetar kedinginan karena hujan yang turun tiba-tiba di tengah perjalanannya pulang.
Matanya tertuju pada teras rumahnya, melihat beberapa pasang sandal yang familiar. "Sepertinya Ibu Mertuaku ada di rumah, semoga saja beliau sempat memasak untuk makan malam," gumamnya pelan, lalu masuk ke dalam rumah.
Namun, bukan kebahagiaan yang ia temui, melainkan rumahnya yang berantakan. Ia berusaha menahan emosi yang ingin meledak, mencoba tetap tenang. "Kenapa rumah bisa seperti ini?" batin wanita yang bernama Amanda.
"Jam berapa ini, Amanda? Kamu sebagai istri jangan sibuk kerja terus! Suamimu itu, emangnya tidak membutuhkan makan? Kalau kamu itu suka kerja terus, bagaimana bisa hamil?" omel Bu Ratu, menatap tajam ke arah menantunya.
Amanda tersenyum tipis, merasa sedikit terpojok oleh ucapan ibu mertuanya. "Bu, bagaimana aku bisa tidak bekerja? Mas Tomi, sudah hampir setengah tahun jadi pengangguran. Uang tabungan kami habis dia belikan burung hias yang harganya jutaan, tapi saat burung itu terjual, uangnya tak kunjung kembali untuk kebutuhan kami. Mana mungkin aku bisa berhenti bekerja?" Amanda mencoba memahami posisinya sebagai istri dan menantu, sekaligus penyokong keluarga. Ia tahu betapa beratnya hidup ini, jika tak bekerja keras dan berusaha.
Kini ia harus berjuang demi kebahagiaan keluarganya, walaupun terkadang harus merelakan kenyamanan dan menghadapi kritik yang tak lelah mendera.
Amanda menghembuskan napas berat, kesal dengan keadaan rumah yang berantakan dan tidak ada niat dari suaminya untuk membereskan. "Aku pulang saja, rumah seperti kapal pecah. Mas Tomi, sudah keterlaluan. Tolong jangan menghakimiku, Bu," keluh Amanda kepada ibu mertuanya.
Bu Ratu menatap tajam ke arah Amanda. "Kamu tidak pantas bicara seperti itu pada ibu Mertuamu, Amanda. Kamu sebagai istri dan wajib melayani suami. Tomi, menyalurkan hobi dan bisa jadi uang. Kamu itu, seharusnya berdoa biar cepat laku burungnya."
Amanda menahan amarah dan kecewanya. "Bukankah rumah tangga ini, seharusnya menjadi tanggung jawab kami berdua? Kenapa aku yang harus menanggung semua ini sendirian?" batinnya meneriakkan pertanyaan. Namun, Amanda tidak mengucapkan semua itu.
Suaminya ikut menimpali. "Kalau burungnya banyak yang laku, kamu yang enak dan bisa beli emas. Aku janji sama kamu, Amanda dan ibuku juga. Sudahlah, mendingan kamu masak buat makan malam," ujarnya, lalu keluar dari kamar.
Amanda merasa seolah tekanan di dadanya semakin berat. Dengan suara parau, dia berkata, "Aku capek, mau istirahat sekarang. Apa kamu tidak kasihan sama aku, Mas?" Namun, pertanyaan itu tidak mendapat respons yang diharapkannya, meninggalkannya tenggelam dalam perasaan kesepian dan kekecewaan yang mendalam.
Tomi menatap wajah istrinya dengan tatapan tajam. "Terus, aku sama ibu mau makan apa? Ibu tidak bisa pulang karena hujan. Kamu sebagai istriku, berbakti sama suami dan ibuku!"
Amanda ingin sekali meledakkan amarahnya sekarang juga. Namun, dia tahu harus mengontrol dirinya demi menjaga keharmonisan rumah tangga. "Telur di kulkas masih ada, kamu sama Ibu bisa buat telur ceplok. Aku merasa tidak enak badan, aku capek!"
Amanda berlalu pergi meninggalkan suami dan ibu mertuanya, mencoba untuk tidak peduli akan makian ibu mertuanya yang terus saja menyakitkan hatinya. "Sampai kapan seperti ini? Aku sangat lelah, apakah aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan?" gumamnya lirih sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Matanya kemudian tertuju pada foto pernikahannya tiga tahun silam. Kala itu, suaminya masih bekerja dan memberikan nafkah uang kepadanya. Namun, entah mengapa suaminya memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan sejak itulah Tomi mulai menyalurkan hobi demi mengikuti jejak temannya.
Seiring berjalannya waktu, perasaan sakit yang menghantui pikiran Amanda semakin mendalam, membuatnya bertanya-tanya apakah dia salah dengan keputusan yang telah diambil di masa lalu. Akan tetapi, satu hal yang menjadi pegangannya, Amanda akan terus berusaha melalui rintangan demi mencari titik terang dalam kehidupan pernikahannya ini.
*****
Pagi harinya, Amanda bangun dengan perasaan yang tidak enak. Dalam benaknya, ada kekhawatiran akan kondisi keuangan mereka. Ia segera menuju dapur dan membuat nasi goreng untuk sarapan, sambil merasakan kepala yang terasa sakit dan demam setelah hujan semalam.
Tomi menguap dan duduk di kursi sambil berkata, "Amanda, buatkan kopi untukku. Apa Ibu sudah pulang?"
Amanda menahan rasa sakitnya dan segera membuatkan kopi untuk suaminya. Dia lalu mengungkapkan isi hatinya. "Mas, mendingan kamu cari pekerjaan sampingan dulu. Gajiku saja, tidak cukup untuk kebutuhan kita sebulan. Apalagi, harga bahan dapur semakin naik. Kamu sayang tidak sama aku, Mas?"
Tomi terlihat tersinggung dan memasang wajah masam. "Tidak mau mencari pekerjaan, gimana nasib burung-burungku? Masalah sayang, iya aku sayang sama kamu. Yah ... harus berhemat dong, jangan boros-boros jadi orang. Uang simpananku sudah mau habis, kalau gajian aku minta buat beli makanan burung. Burung mahalku nanti pada mati, kalau tidak dikasih makan dan vitamin."
Amanda merasa marah dan kecewa. "Tidak! Aku tidak mau memberikan uang untuk peliharaanmu itu, kita kurang setiap bulannya. Orang memelihara burung itu, punya uang banyak dan usaha."
Amanda mencoba memahami kenapa Tomi lebih mementingkan burung mahalnya daripada kebahagiaan rumah tangga mereka. Apakah dia tidak berharga di mata suaminya? Amanda bertekad untuk mencari jalan keluar dari masalah ini, demi kehidupan yang lebih baik untuk mereka berdua.
"Intinya kamu harus mau, Amanda! Jangan membantah perkataan suami, mengerti! Beruntung kamu punya suami sepertiku, hobi mengoleksi burung bukan wanita!" Tomi membentak istrinya itu.
"Apa-apaan ini? Kenapa ribut pagi-pagi, hah?" Bu Ratu, langsung mendekati anak dan menantunya itu. "Pasti kamu membuat keributan ya, Amanda. Jangan menjadi istri durhaka kamu."
"Heran aku sama dia, Bu? Gajiku pas-pasan buat makan sehari-hari, dia mau minta buat beli makanan burung dan vitaminnya. Lalu, akhir bulan mau makan batu?" Amanda kesal dengan suaminya cuman diam.
"Kamu kerja di toko sembako, bisa ambil-ambil di sana dan bon dulu. Kalau burung suamimu laku, nanti dibayar sampai lunas. Kamu itu, jangan bikin repot segala dan turuti perkataan suami." Bu Ratu, menggelengkan kepalanya.
Tomi beranjak dari duduknya. "Apa yang dikatakan Ibu, ada benarnya juga. Intinya aku minta gaji kamu, jangan sampai akui merebutnya dengan paksa."
Bu Ratu tersenyum mengejek ke arah Amanda. "Ingat baik-baik ucapan suamimu itu, Amanda. Jangan sok belagu kamu, mentang-mentang bekerja. Cuman kerja toko sembako, belagunya minta ampun!"
Amanda melihat kepergian suaminya dan pasti bersama burungnya di teras rumah. Ia juga, tidak peduli dengan raut wajah ibu mertuanya. "Jangan harap kamu bisa merampas uangku, Mas!" desisnya pelan, dengan raut wajah sulit diartikan.

IRLINA
14 Pengikut · 4 Novel