Angin itu datang menjelang magrib.
Ia tidak seperti angin biasa yang hanya menyentuh dedaunan lalu pergi tanpa pesan. Angin dari timur sore itu membawa bau asin laut dan sesuatu yang lain—aroma logam basah, seperti hujan yang jatuh di atas besi tua.
Arka menghentikan langkahnya di tepi dermaga kayu.
“Kamu merasakannya?” tanya Nara pelan. Rambutnya yang sebahu terangkat diterpa embusan yang makin kencang.
“Anginnya?” Arka menyipitkan mata ke arah ufuk timur yang mulai memerah. “Ya. Rasanya berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
Arka tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak oleh rasa penasaran yang tak bisa ia jelaskan. Sejak kecil, ia selalu percaya bahwa angin membawa cerita. Ayahnya pernah berkata begitu sebelum berlayar dan tak pernah kembali.
Jangan abaikan angin dari timur. Ia selalu datang membawa perubahan.
“Seperti dipanggil,” jawab Arka akhirnya.
Nara mendengkus kecil. “Kamu dan firasatmu.”
Belum sempat Arka membalas, sesuatu berdebum pelan di antara peti-peti kayu dekat gudang tua. Mereka saling berpandangan.
“Kamu dengar itu?” bisik Nara.
“Dengar.”
Mereka melangkah mendekat. Angin berputar, menggeser debu, membuat papan-papan kayu berderit. Di sela dua peti besar, selembar kain kusam tersangkut dan berkibar liar.
Arka meraihnya. “Ini bukan kain biasa,” gumamnya.
“Itu seperti potongan layar kapal,” kata Nara, mendekat.
“Kenapa ada gambar di situ?”
Di atas kain itu terlukis garis-garis berwarna. Bukan tinta hitam atau arang, melainkan pigmen aneh yang berkilau samar—biru, hijau, dan oranye seperti api senja. Garis-garis itu membentuk sesuatu yang menyerupai peta.
Jantung Arka berdegup lebih cepat.
“Ini peta,” ucapnya tegas.
Nara menyipitkan mata. “Peta ke mana? Desa kita saja tidak pernah punya peta.”
Arka membalik kain itu. Di sudut bawah ada simbol kecil: lingkaran dengan tiga garis yang mengarah ke timur.
Angin tiba-tiba berhenti.
Sunyi merayap di antara mereka.
“Kamu lihat itu?” Nara menunjuk bagian tengah peta. “Garis biru itu seperti sungai, tapi sungai di mana?”
“Bukan sungai,” Arka menggeleng. “Lihat warnanya. Itu berubah.”
Benar saja. Garis biru tadi perlahan memudar menjadi ungu, lalu hijau, seperti hidup.
Nara mundur selangkah. “Aku tidak suka ini.”
“Aku justru suka,” Arka tersenyum tipis. “Ini petualangan.”
“Petualangan?” Nara menatapnya tajam.
“Arka, kita bahkan belum selesai memperbaiki perahu. Kamu mau mengejar kain ajaib?”
Arka terdiam sesaat. Ia tahu Nara benar. Mereka hanya anak-anak nelayan. Dunia mereka sebatas laut dangkal dan pasar pagi. Namun, kain itu terasa seperti pintu.
“Kamu tidak penasaran?” tanya Arka pelan.
Nara menghela napas panjang. “Penasaran, iya, tapi penasaran sering membawa masalah.”
“Masalah juga membawa jawaban.”
“Kamu selalu punya kalimat aneh untuk membenarkan keputusan nekatmu,” balas Nara cepat.
Arka tertawa kecil. “Kamu selalu ikut meski mengeluh.”
Nara membuka mulut hendak membantah, tetapi suara berat memotong mereka.
“Kalian menemukan sesuatu?”
Keduanya menoleh. Dari balik bayang gudang, Bram muncul dengan langkah tenang. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, dan tatapannya selalu sulit ditebak.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Nara cepat, berusaha menyembunyikan kain itu.
Bram mengangkat alis. “Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kalian berbisik seperti pencuri?”
Arka mendekat dan menyerahkan kain itu tanpa ragu. “Lihat ini.”
Bram membentangkannya. Angin kembali berembus, kali ini lebih pelan, seolah menunggu.
“Apa ini?” tanyanya.
“Peta,” jawab Arka.
“Peta ke mana?”
“Itu yang ingin kami cari tahu.”
Bram menatap simbol di sudut kain. Wajahnya yang biasanya datar berubah sedikit tegang.
“Simbol ini aku pernah melihatnya.”
Arka dan Nara saling pandang.
“Di mana?” tanya Arka cepat.
“Di buku tua milik kakekku,” jawab Bram perlahan.
“Ia pernah bercerita tentang Negeri Warna. Tempat di mana tanah, air, bahkan langit berubah mengikuti hati penjelajahnya.”
Nara terdiam. “Itu hanya dongeng.”
“Kakekku bukan pembohong,” Bram menatapnya tajam.
“Ia bilang tempat itu hanya bisa ditemukan oleh mereka yang dipanggil angin.”
Arka merasa tengkuknya meremang.
“Angin dari timur,” gumamnya.
Bram mengangguk pelan. “Kakekku juga menyebutnya begitu.”
Sunyi kembali turun, kali ini lebih berat.
“Apa yang terjadi pada orang yang pergi ke sana?” tanya Nara hati-hati.
Bram terdiam cukup lama. “Tidak semua kembali.”
Jawaban itu menggantung di udara.
Nara memeluk lengannya sendiri. “Aku tahu ini ide buruk.”
Arka menatap garis-garis warna yang terus berubah di kain itu. Di dalam dirinya, sesuatu bangkit bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan keyakinan.
“Kalau kita tidak pergi,” katanya pelan, “kita akan terus bertanya-tanya.”
“Kalau kita pergi?” balas Nara.
“Kita mungkin menemukan alasan kenapa angin itu datang.”
Bram menggulung kain itu perlahan. “Kalau ini benar peta menuju Negeri Warna, berarti lokasinya tidak jauh dari timur desa. Ada pulau kecil yang jarang disinggahi.”
“Pulau Batu Hitam?” tanya Arka.
Bram mengangguk.
Nara menggeleng cepat. “Tidak. Tempat itu penuh karang tajam. Perahu kita bisa hancur.”
“Kita bisa berangkat saat air pasang,” jawab Arka. “Anginnya juga sedang mengarah ke sana.”
“Kamu sudah memutuskan, ya?” Nara menatapnya kesal.
Arka tersenyum miring. “Belum. Aku hanya menimbang.”
“Kamu menimbang dengan wajah orang yang sudah siap berlayar,” sahut Nara.
Bram menyelipkan kain itu ke dalam jaketnya. “Kita tidak perlu memutuskan sekarang, tapi kalau mau pergi, kita berangkat sebelum fajar. Angin seperti ini tidak bertahan lama.”
Arka menatap langit yang kini hampir gelap. Warna oranye berubah menjadi ungu tua.
“Besok,” katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Nara menghela napas berat. “Kalau kita tenggelam, aku akan menyalahkanmu.”
“Kita tidak akan tenggelam,” jawab Arka cepat.
“Kamu yakin?”
“Tidak,” Arka tersenyum tipis. “Aku percaya.”
Bram terkekeh pelan. “Percaya pada apa?”
“Pada angin.”
Nara memutar mata. “Kamu memang sulit dipahami.”
“Kalau mudah dipahami, hidup membosankan,” sahut Arka.
Angin kembali berembus, kali ini lebih hangat, seolah mengusap wajah mereka satu per satu.
Di kejauhan, laut berkilau aneh. Bukan pantulan biasa, melainkan semburat warna yang samar, seperti pelangi yang larut dalam air.
Arka menahan napas.
“Kalian lihat itu?” bisiknya.
Nara mengikuti arah tatapannya. “Itu bukan cahaya kapal.”
Bram berdiri tegak. “Pulau Batu Hitam tidak pernah memantulkan warna seperti itu.”
Jantung Arka berdentum keras.
Ini bukan kebetulan.
Angin dari timur berputar, membawa bisikan yang tak terdengar jelas, tetapi cukup kuat untuk menggetarkan hati.
“Besok sebelum fajar,” kata Arka mantap.
Nara menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Baik, tapi kita pergi bersama.”
Bram tersenyum tipis. “Bersama.”
Di atas laut yang mulai gelap, warna-warna itu masih berpendar samar.
Seolah menunggu.