


oleh Millania Jingga · 19 Bab
"Ada tujuh hari dalam sepekan, dan dalam tujuh hari itu ada waktu di mana Mas Andi harus menghabiskan waktunya hanya denganku.” Sarah menatap Elya dengan penuh kemenangan. Dia merasa Elya kalah telak dengan kuasa yang dia miliki. Masa bodoh dengan suami barunya sekarang, hatinya sudah dibutakan dengan cinta yang seharusnya tidak pernah dia rasakan lagi. Tangan Elya mengepal, dia tak mengatakan sepatah kata pun. Hanya memberikan senyum tipis yang sulit diartikan, sembari benaknya menyusun strategi apa yang harus dia siapkan di meja pengadilan nanti. Permainan ini, baru akan dimulai.
Tangannya yang kini berlumur dengan cairan merah berbau anyir itu masih terus menggeser-geser layar ponsel suaminya.
Berbagai transaksi pembayaran ada di sana, dengan nama Sarah Sesilia, perempuan yang resmi berpisah dengan Andi Ghautama dua tahun yang lalu.
Elya sama sekali tidak mempedulikan kaca-kaca yang berserakan di lantai rumahnya, akibat percobaan menyakiti diri yang berhasil digagalkan oleh asisten rumah tangga mereka.
Benak perempuan itu memutar kembali, tiap kenangan indah yang berhasil diciptakan oleh Andi.
Hadiah-hadiah yang selama ini diberikan untuk Elya, ternyata diberikan juga untuk Sarah. Hebat sekali laki-laki ini perihal menjaga hati. Dia bisa melakukan hal yang sama kepada istri dan mantan istrinya.
“Sayang, Mas pulang.”
Panggilan itu, dulu begitu dirindu tiap hari. Namun, sekarang mendengarkannya serasa jijik. Seperti bangkai yang sudah membusuk sejak lama, tapi baru tercium bau sekarang. Apa lagi yang hendak diberikan laki-laki itu sebagai penyamaran perselingkuhannya kali ini?
Elya tak menjawab sepatah kata pun. Dia hanya tersenyum tipis melihat suaminya yang saat ini sedang bersandiwara menjadi laki-laki sempurna, setelah melakukan pengkhianatan kepada perempuan yang sanggup menemani dia dari nol.
“Tangan kamu kenapa itu?”
Andi mencoba mengangkat tangan Elya yang kini masih berdarah akibat terkena pecahan kaca dari gelas yang dia pecahkan sendiri. Lelaki itu dengan sigap mengambil obat merah dan membalut luka di tangan Elya, berpura-pura bersedih atas luka itu.
“Tadi aku habis ambil air, mungkin airnya terlalu panas jadi pecah terus kena tanganku.”
Jika suaminya pandai bersandiwara, maka Elya pun juga harus pandai bersandiwara. Namun, meski begitu, dia sudah berhasil mengirimkan seluruh bukti transaksi yang ada di smartphone suaminya, ke smartphone miliknya.
Mengetahui hal ini, ada banyak sekali yang harus diselesaikan sebelum semuanya berakhir di pengadilan.
Dia jadi ingat, apa yang diucapkan penghulu kepadanya saat selesai melangsungkan akad nikah.
Bagaimana lagi? Bahkan sampai saat ini, saat pernikahan mereka berusia satu tahun, sang suami justru malah menyalakan api kehancuran itu sendiri. Lalu, jika sudah begitu, apakah Elya harus mengalah dan pasrah, menunggu keajaiban itu terjadi?
Saya selalu berdoa kepada para pengantin baru, semoga kedua buku ini kembali di KUA sebagai persyaratan untuk berangkat ke tanah suci. Bukan di pengadilan agama, sebagai syarat permohonan cerai.
Cukup lama Elya terdiam dan tenggelam pikirannya sendiri. Dia sama sekali tak merasakan kesedihan, hatinya sudah membatu karena mengetahui kenyataan yang baru saja dia ketahui. Bahkan, darah yang tadi menetes begitu deras di tangannya, tidak terasa perih sama sekali.
“Kamu kenapa sih? Dari tadi aku lihat diam saja terus, bengong juga. Mau makan di luar? Atau kita beli skincare kamu yang sudah mau habis? Atau mau jalan-jalan? Aku punya rekomendasi tempat yang instagramable buat kamu. Dandan dulu, gih. Pakai jilbab yang aku kasih kemarin ya, Sayang.”
Begitulah, ada saja hal lain yang dilakukan oleh Andi untuk kembali mencairkan suasana. Mencairkan hati Elya yang sudah terlanjur membeku karena sikap Andi yang ternyata masih aktif berhubungan dengan mantan istrinya, yang kini juga sudah memiliki suami baru.
Perempuan itu berjalan lemah menuju lemari bajunya. Matanya menelisik, memilih jilbab mana yang akan dia pakai untuk agenda hari ini.
Setelah tiga menit memilih jilbab, akhirnya pilihan Elya, jatuh pada pashmina dengan motif bunga-bunga kecil yang membuatnya semakin ceria, meski hatinya kini entah bagaimana rasanya. Sebab, semua bergo syar’i yang dia punya sejak sebelum menikah itu, sudah hilang entah ke mana. “Ayo, Mas. Aku sudah siap.”
Sempurna. Riasan yang menempel pada wajahnya kali ini, semakin membuat perempuan itu berbeda dari biasanya yang hanya menggunakan daster sebagai pakaian kebesarannya. Cantik sekali, tak pernah berubah dari semenjak mereka berdua memutuskan untuk menikah. Namun, beberapa kali Elya tampak memperbaiki posisi kerudungnya, yang masih belum rapi. Dia tampak tidak nyaman dengan pashmina yang dia kenakan.
“Tidak usah dirapikan lagi, Sayang. Percaya sama Mas, kamu cantik banget pakai kerudung itu.”
Meskipun sudah sangat berusaha menyamakan penampilan Elya dengan Sarah, tapi perasaan dalam hati kecil Andi untuk keduanya masih jauh berbeda. Selama ini, diam-diam Andi membuang kerudung-kerudung bergo satset milik Elya dan digantikan dengan pashmina seperti milik Sarah.
“Mas, aku lebih nyaman pakai bergo. Aku nggak biasa pakai kerudung seperti ini.”
Elya tertunduk lesu. Dia tak berani meluruskan pandangannya ke depan, sebab sudah jelas bagaimana respon suaminya jika dia mengatakan hal seperti itu.
Ingin membantah, tapi dia tidak pernah punya kuasa untuk melawan suaminya, sebab sudah tentu akan dicap sebagai istri durhaka.
“Sejak kamu memutuskan untuk menerima lamaranku, itu berarti,seluruh baktimu pindah ke aku, Elya binti Heri Sasongko! Apa pun yang aku inginkan harus kamu iyakan. Tidak ada alasan sedikit pun kamu bisa membantah kemauanku. Lagi pula, jika tanpa harta dariku, kamu dan keluargamu sudah pasti jadi gelandangan!”
Hanya karena Elya meminta untuk berganti kerudung, jauh sekali respon yang diberikan Andi kepadanya. Lelaki itu mengungkit dari mana Elya berasal, kemudian tangannya menarik Elya dengan kasar, seakan menyuruh perempuan itu berjalan lebih cepat agar bisa lebih cepat sampai di tempat yang sudah dijanjikan Andi kepadanya.
Untuk cinta yang tulus, haruskah dia menjadi orang lain? Mengapa cinta yang dulu dijanjikan begitu manis, jadi cinta yang sesakit dan seperih ini? Tak adakah jatahnya dicintai tulus di dunia?

Millania Jingga
51 Pengikut · 3 Novel