


oleh Cherry · 15 Bab
Cherry seorang gadis yang tadinya berniat mewakili ayahnya mengurus para anak angkat selagi sang ayah kerja, justru menjadi adik yang diasuh oleh para anak angkat tersebut–Julian, Leo, dan Picho, karena usianya yang paling muda dan sikapnya yang masih kekanakan. Tingkah manja dan menggemaskan Cherry, membuat para kakak tak sedarah diam-diam memperebutkan hatinya dengan berbagai cara dan kepribadian masing-masing.
"Cherry, Papa berangkat dulu ya," pamit pria paruh baya yang adalah ayah kandung Cherry, dari luar pintu kamar. Ransel dan koper sudah siap ia bawa dengan rapi.
"Ke mana, Pa?" sahut Cherry dari dalam kamar, seraya bermain ponsel di tempat tidurnya, tanpa membuka pintu.
"Biasa, bawa tamu dari Jerman keliling Jawa–Bali dua bulan. Kamu jaga kedai dan para anaknya, ya."
Cherry sempat terdiam beberapa detik, menurunkan ponselnya dari pandangan, memandang dinding penuh gambar buatannya sendiri.
"Jawa–Bali? Dua bulan!?" gumamnya pada dirinya sendiri.
"Mampus! Lama juga!" lanjutnya, berbisik.
"Eh, tunggu! Bukan itu, nggak sih, yang harus dipikirin sekarang!?" Cherry mulai panik, tersadar sesuatu.
Buru-buru ia bangkit dari tempat tidur, lalu membuka pintu kamarnya.
"Pa, Cherry belum bisa jaga anak-anak angkat Papa ... Cherry kan belum berpengalaman, Pa!" Cherry berseru setelah keluar dari kamarnya. Namun, ayahnya sudah tidak ada di depan pintu—sudah bergegas membawa kopernya ke gerbang luar rumah.
Cherry berlari menyusul ayahnya dengan tergesa. Ia tak peduli dengan pakaian yang ia kenakan dari kamar—hanya tanktop dan celana pendek ketat hitam. Cherry memang gemar mengenakan baju terbuka jika tidak keluar rumah, untuk menghindari gerah.
"Pa, tunggu!" panggilnya. Namun, lagi-lagi ia terlambat. Ayahnya sudah dikerumuni tiga pria dewasa yang siap mengantarnya hingga pagar.
"Bawa tamu lagi, Om?" tanya Picho, ramah dan manis.
Pria hangat berambut bergelombang sepanjang bahu, membantu membawakan ransel berat dari bahu sosok pria yang telah ia anggap ayah.
"Iya, tur solo satu perempuan yang mau eksplor Indonesia," jawab ayahnya Cherry.
"Wah, pulang tur nanti bawa ibu baru buat Cherry dong, Om?" Kali ini Julian yang berbicara sembarangan.
Pria berambut tebal dengan potongan berantakan, sigap mengangkat koper ayah angkatnya di bahu. Sontak kepala Julian dihadiahi oleh pukulan ringan dari Leo, pria dingin yang sinis.
"Jaga mulutmu!" tegurnya, datar.
Dengan elegan, Leo menyusul sosok yang ia anggap ayah menuruni tangga sebelum pagar, membawa kotak bekal dan botol termos air panas. Diberikannya bekal dan termos itu dengan santun kepada sang ayah angkat.
"Ini, Om. Supaya nggak jajan di travel dan kereta," tuturnya, santun, namun masih terkesan dingin.
"Oy, Adik durhaka! Beraninya kau memukul kepala Kakak tertuamu!"
Julian nyaris melemparkan koper yang ia pikul ke arah Leo, saking kesalnya.
"Julian, tahan! Jangan buat ayah angkat kita terlambat karena harus melipat lagi baju-baju di dalamnya." Picho melerai, menahan pergerakan Julian sebelum koper benar-benar melayang ke arah Leo.
Cherry hanya membeku melihat kekacauan di hadapannya pagi ini. Mata cokelat jernihnya tak mampu mengatup, angin pagi mengibarkan rambut cokelat tuanya yang pendek namun tebal.
Dadanya berdenyut pilu menyaksikan bagaimana tiga pria yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah, bisa seaktif itu melayani ayah kandungnya, sedangkan dirinya hanya bisa menyahuti pamitan sang ayah dari balik pintu kamar.
Begitu kurang empatinya terhadap ayah kandungnya, yang sudah membesarkan dan merawatnya sedari usia tiga tahun seorang diri.
Cherry menggigit bibir bawahnya sendiri, matanya berkaca-kaca menahan rasa penyesalan. Hal yang paling menyakitkan lagi adalah, ketika ia tersadar untuk mulai berbakti, ayahnya akan pergi dalam waktu yang lama.
Dengan langkah ragu, Cherry menuruni tangga. Perlahan, mulai berlari menerobos tiga pria itu ke luar pagar, menyusul ayahnya. Matanya kian basah, napasnya sesak.
Untuk beberapa waktu, setiap kebisingan heboh di antara tiga pria itu berganti sunyi. Mereka terkejut melihat Cherry yang untuk pertama kalinya mengantar ayahnya ke depan pagar.
Rasa khawatir juga terlintas dalam benak ketiganya, ketika melihat air yang terbendung di mata Cherry. Mereka menantikan suara dari gadis yang tampaknya rapuh itu.
Setelah Cherry berusaha keras menstabilkan napasnya, ia memaksakan senyuman termanisnya di hadapan sang ayah yang nyaris memasuki mobil.
"Hati-hati di jalan, Papa. Sukses dan bahagia selalu, ya .... Jaga kesehatan!" Cherry melambaikan tangan seraya akhirnya meneteskan air matanya juga.
Sontak siapa pun yang melihat aksi Cherry membeku dengan rahang yang kendur ke bawah, terkejut dengan perubahan sikap Cherry yang biasanya acuh itu. Ada juga rasa bangga yang menggelitik hati mereka, memahami gadis mungil itu kini telah tumbuh, menjadi lebih dewasa.
Acara pamitan pun berjalan seperti semestinya keluarga normal, hingga mobil yang mengantar ayahnya melaju pergi menjauhi rumah sebelum akhirnya menghilang juga dari pandangan.
Cherry menghela napas panjang sebelum berbalik badan, menghadap ketiga pria yang setia di belakangnya.
"Nah, karena Papa sedang pergi ... sekarang kedai aku yang jaga," katanya, riang.
"Kalau kalian perlu apa-apa, panggil aku saja ya," lanjutnya, ramah, penuh kasih.
Julian, Leo, dan Picho sempat terdiam beberapa detik, melihat gadis mungil yang jauh lebih pendek dari mereka, dengan pakaiannya yang terbuka hingga ketiganya mampu melihat lekuk tubuh Cherry dengan amat jelas.
Mereka mencoba mensinkronisasi tubuh rapuh Cherry dengan ucapan penuh ambisi dan janji manisnya, lalu tertawa secara hampir bersamaan.
Julian tertawa terbahak-bahak, Leo tertawa sinis, sedangkan Picho tertawa gemas. Tawa ketiga pria itu membuat Cherry memiringkan kepala tak mengerti, seraya menatap polos.
"Kamu? Mau jaga kedai ini?" tanya Leo, dingin.
Cherry mengangguk polos.
"Papa nitipin kedai ini ke aku."
"Lihat dirimu, Nona Kecil! Kau bahkan tadi menangis saat ditinggal papamu tersayang!" ledek Julian, sarkas.
Cherry hanya cemberut kesal mendengarnya, tak mampu mengelak. Namun, justru wajah cemberutnya itu membuatnya tampak jauh lebih menggemaskan di mata ketiga pria tersebut.
"Apa kamu sudah sarapan, Manis? Bisa masak sendiri? Atau perlu dimasakin?" Picho bertanya ramah, tulus peduli pada kerapuhan Cherry.
Cherry kian cemberut, matanya basah karena malu, wajah merahnya membuat ia terlihat imut dan menggoda.
"Aku belum sarapan sih, dan ya ... aku belum terlalu jago masak."
"Lihat! Kebutuhan dasar hidup seperti memasak saja, kau tidak bisa! Dari mana nyalimu, menawarkan bantuan pada kami, hah?" Leo menegaskan dengan sorot mata tajam.
"Cherry ... Cherry! Harusnya kami yang menjagamu, kocak!" ledek Julian, tertawa lebih keras lagi.
"Tapi ... aku kan anak pemilik rumah ini, tempat yang kalian jadikan kedai." Cherry masih mencari pembelaan diri.
"Oleh sebab itulah, Gadis Cantik .... Biarkan kami yang melayanimu, sebagai bentuk terima kasih kami karena telah diberikan lahan usaha." Picho bertutur lembut, dengan sorotan mata hangat, penuh kasih sayang dan ketulusan.
"Tapi ... Papa menitipkan kalian ke aku." Cherry masih belum bisa menerima penawaran mereka.
"Sudah, duduk manis saja di bangku yang kau suka, dan biarkan kami menyiapkan sarapan untukmu!" titah Leo, tegas.
"Perlu digendong, biar terasa bagaikan putri?" rayu Julian, tersenyum nakal.
Napas Cherry tertahan di tengah tenggorokan, wajahnya kian merah akibat malu.
"Tak perlu! Aku jalan sendiri saja ke bangku di atas!" Cherry akhirnya melangkah kasar menaiki anak tangga, mencari tempat duduk di atas.
"Dia ... anak yang manis, ya?" puji Picho dari bawah tangga.
"Yah, sepertinya aku akan bersemangat melayani putri kecil kita, jika harus melihat tubuh indahnya setiap hari," sahut Julian, berseringai bagaikan iblis.
Lagi-lagi, kepala Julian dihadiahi oleh pukulan dari Leo, kali ini lebih keras.
"Fokus buatkan makanan untuknya, bodoh! Jaga isi kepalamu!" tegurnya, sebelum naik dengan elegan menuju dapur.
"Oy! Sopankah itu!? Aku yang tertua di sini, loh!" keluh Julian, jengkel.
"Sadar diri, Julian! Ucapanmu tentang Cherry tadi juga kurang sopan!" tegur Picho ramah, melerai.
"Tapi kan, dia paling muda di antara kita," Julian mencari pembelaan.
"Ingat, dia anak pemilik rumah ini. Tanpa ayahnya, kita nggak punya tempat tinggal dan lapak berjualan." Picho memperingatkan dengan lembut, tapi tegas.
Julian menghela napas kasar.
"Baiklah, baiklah. Aku akan memperlakukannya dengan hormat."
Ia pun akhirnya menyusul Leo ke dapur dengan langkah malas, ingin membantu memasak di sana.
Sedangkan Picho hanya menggelengkan kepalanya pelan seraya melangkah santai menyusul para kakaknya.
"Manusia itu, unik ya," gumamnya, gemas dengan dinamika para kawan yang ia anggap saudara.

Cherry
0 Pengikut · 1 Novel