


oleh Veil · 50 Bab
Patah hati karena pengkhianatan kekasih, Silvia memutuskan untuk fokus meneruskan bisnis kue ibunya. Hingga datang pesanan istimewa, kue untuk pertunangan CEO Greenfrog yang misterius, Arlo Dirgantara. Seorang duda beranak satu yang terkenal dingin dan tak terjamah. Tapi satu insiden mengubah segalanya. Ketika Silvia menemukan seorang anak kecil yang tersesat, dia malah dituduh sebagai penculik! Siapa sangka anak itu adalah Aruna, putri dari klien VIP-nya sendiri. Pertemuan di hotel tempat acara pertunangan seharusnya menjadi akhir dari kesalahpahaman ini. Tapi takdir berkata lain. Silvia terjebak dalam tawaran yang tidak bisa ditolak untuk .... Menjadi tunangan dadakan sang CEO!
"Menjadi tunangan saya," katanya dengan suara berat.
Kedua matanya tak memancarkan kehangatan yang biasa diucapkan oleh seseorang tengah dimabuk cinta. Melainkan tatapan seperti perjanjian perang dingin. Mata itu tidak seperti yang ditunjukkannya tadi sore, ketika bersama Aruna, anaknya.
"M-maksud Bapak, apa ya?"
“Bukannya tunangan Bapak sudah ada?” tanyanya dengan suara lirih, hampir tercekat.
***
Lima hari yang lalu.
Seharusnya dia dapat menikmati keindahan pantai di Bali hari ini.
Sayangnya, dia tidak dapat merasakan perasaan dengan orang lain yang berwisata di sini.
Kekasihnya selingkuh beberapa minggu lalu. Sebelum pernikahan mereka sempat dilaksanakan bulan depan. Namun, Silvia mencoba mengalihkan perhatian hatinya dengan terus bekerja di sebuah toko kue yang diwariskan sang ibu kepadanya.
Beberapa hari yang lalu, dia mendapatkan pesanan dari salah satu pengusaha terkemuka untuk acara pertunangan CEO Greenfrog di Bali.
Mungkin ini kesempatan bagus untuk mengalihkan segala kesedihan dengan kesibukannya di sini. Namun, terkadang hatinya masih sempat terbayang wajah mantan tunangannya, Yoga.
Silvia menggelengkan kepalanya cepat, kembali memandang jalan sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kemudian membuangnya perlahan, berharap otaknya berhenti berpikir tentang Yoga.
Dia memakai topi lebar dengan dress pendek selutut bermotif bunga. Namun, segerombolan orang membuatnya mengalihkan pandangannya. Ada beberapa orang yang mengitari seseorang di sana, cukup riuh.
Silvia kemudian menghampiri sekumpulan orang-orang itu dan melihat gadis kecil berpakaian gaun merah, menangis tersedu-sedu.
Akhirnya Silvia mendekati seorang wanita paruh baya tak jauh darinya, lalu menepuk pundaknya. "Bu, anak ini kenapa?"
"Kurang tahu. Tadi saya sudah tanya, tapi dia tetep nangis dan gak mau jawab. Kita jadi bingung harus menolong seperti apa," jawabnya.
"Mereka sudah mencoba menenangkan, tapi nangisnya malah kenceng," tambahnya.
Silvia kembali menatap gadis kecil itu, dia menghampirinya. Dia berjongkok agar pandangannya dapat dengan mudah dilihat oleh anak kecil di depan.
"Kalau kamu kasih tahu apa yang terjadi, Tante janji beliin kamu sesuatu, mau gak?"
Gadis kecil ini masih menangis, malah dia sempat menggelengkan kepalanya. Melihat tanggapan dari gadis kecil itu, Silvia terdiam sesaat memandang kedua mata yang berkaca-kaca.
"Mau Tante beliin es krim gak sama kue? Nanti kita sekalian cari orang tua kamu, mau?" tanya Silvia.
Akhirnya, gadis kecil itu pun mulai berhenti dari tangisnya meskipun dia masih menyedot ingus yang keluar dari hidungnya. Silvia segera mengambil tisu dengan wadah berukuran kecil dari tas bahu cokelat yang dia kenakan.
"Aduh, Tuan Putrinya keluar ingus, nih!" kata Silvia sambil terkekeh.
Silvia pun mengusap hidung gadis kecil itu, dia juga mengusap air matanya dengan kedua ibu jarinya. "Nah, kalo Tuan Putrinya gak nangis jadi lebih cantik, tahu!"
Gadis itu pun berhenti menangis dan mulai menatap Silvia lekat-lekat. Wajah Silvia nampak semringah menyambutnya.
"Oh iya, nama tante Silvia. Nama kamu siapa?" kata Silvia menyadari tatapan sendu di depannya.
"A-Aruna, Tante," katanya yang masih sesenggukan.
Orang-orang di sekitarnya pun mulai lega karena akhirnya anak kecil itu mau berbicara. Salah seorang wanita setengah baya yang memakai gaun pendek berwarna putih, serta beberapa perhiasan yang dia kenakan membuat pantulan cahaya menyilaukan mata, membungkuk ke dekat Aruna.
"Namamu Aruna ya. Ibu kamu mana? Kok gak jagain kamu, sih?"
Aruna tak membalas dan hanya menatapnya makin sinis. Semua orang tampak bingung karena Aruna seperti melihat musuh.
"Ayah kamu mana?" tanya wanita paruh baya itu seolah tidak mau menyerah.
Tangan wanita itu hampir meraih Aruna. "Biar Tante antar ya!"
Aruna memundurkan kakinya selangkah, demi menghindari tangan yang hendak menggapainya. "Aruna gak mau!"
"Gak apa-apa, nanti Tante beliin kamu makanan enak, kok. Biar sekalian kita cari sama-sama ayah kamu," bujuknya.
Tangan wanita tersebut meraih lengan Aruna. Menyadari perlakuan kurang menyenangkan, kini raut wajah Aruna berubah menjadi lebih waspada dan marah. Aruna menggelengkan wajahnya cepat, dia berusaha melepas tangannya tetapi kedua pipinya langsung dipegang erat dengan tangan penuh perhiasan mencolok.
"Nurut ya," ucap wanita itu dengan suara lirih tapi penuh penekanan.
Melihat gadis kecil itu makin tidak nyaman, akhirnya Silvia menjauhkan wanita paruh baya itu dari Aruna. Dia melepaskan tangan wanita itu dan mendorong perlahan menjauh dari Aruna. "Sepertinya, biar saya saja yang antar Aruna."
"Loh, gak bisa dong! Saya yang mau antar Aruna, dia juga setuju tuh," ucapnya.
"Ibu gak denger sebelumnya dia nolak?" tanya Silvia makin geram.
Orang-orang di sekitar mereka hanya menonton tanpa mau melerai. Keduanya mulai bercekcok satu sama lain, hingga wanita paruh baya itu langsung menggandeng Aruna yang berdiri di belakang Silvia. "Gak usah banyak omong kamu! Dia ikut saya!"
Aruna bahkan tidak terlihat mengenalnya sama sekali. Sebelum sempat menarik, dia menggigit lengan wanita baya itu hingga rentetan giginya mengecap layaknya tato alami. Wanita itu pun mengerang kesakitan dan menarik lengannya. Tangannya langsung siap menggampar Aruna. "Anak kurang ajar!"
Silvia refleks menghentikan tangan wanita paruh baya yang mengambang di udara dan siap dilayangkan kapan saja. "Eh, eh! Apa-apaan Ibu ini?!"
"Dia gigit saya, loh! Harus diaduin sama ayahnya biar tahu rasa!"
Seketika Aruna mulai ketakutan memandang tatapan mata melotot wanita paruh baya di depannya. Dia mundur dan bersembunyi di belakang Silvia. "Gak ada, gak ada! Saya saja yang antar Aruna!"
"Sudah, Mbaknya saja yang antar, takut kenapa-kenapa kalo diantar Ibu ini," ucap tiba-tiba salah seorang wanita yang menonton sejak tadi.
Akhirnya orang-orang di sekitar lebih mendukung Silvia dibandingkan wanita paruh baya yang menyeramkan bagi Aruna. Namun, tiba-tiba salah seorang pria bertelanjang dada melangkah maju.
"Gimana kami bisa memercayakan Aruna sama Mbak?"
Silvia menghela napasnya panjang, dia menganggukkan kepala sembari mengambil sesuatu di dalam tasnya.
"Ini, ingat baik-baik nama saya, kalo perlu catet nomor hp saya juga," kata Silvia menunjukkan KTP-nya di hadapan orang sekitar.
Pria tadi akhirnya mengangguk. "Okey, Mbak Silvia. Saya percaya."
Setelah itu, orang lain pun memberikan tanggung jawabnya kepada Silvia. Mereka pun mulai bubar dari lingkaran penonton yang melihat kegaduhan. Sementara itu, wanita paruh baya tersebut menatap sinis ke arah Silvia. Namun, tatapan matanya beralih tiba-tiba ke arah Aruna yang sedang mengejek dengan menjulurkan lidahnya.
Wanita itu pun naik pitam dan hendak mendekat, tapi tangan Silvia langsung menghadang. "Eits, lama-lama saya laporin juga ke polisi, nih!"
Mendengar hal tersebut, wanita itu berdecih, lalu pergi menjauh sambil menggerutu. Kini Aruna tersenyum menatap kepergian wanita yang memaksa ikut dengannya.
Sementara itu, Silvia yang menatap Aruna dengan membungkukkan tubuhnya, menyamai pandangan gadis kecil di dekatnya. "Aruna, sesuai janji Tante, mau beli es krim dulu atau beli kue dulu?"
Aruna yang sudah tampak membaik saat ini mulai berpikir dengan dahi berkerut, serta tangan memegang dagu, melihat ke arah samping. "Mm, apa ya?"
Silvia memandangnya sambil tersenyum. "Jangan malu-"
"Es krim coklat, roti es krim sama kue stroberi khusus buat Aruna!" serunya dengan antusias.
Belum sempat Silvia menyelesaikan kalimatnya, Aruna sudah memotongnya dengan permintaan penuh percaya diri. Silvia yang mendengar hal itu langsung tertawa hambar.
"Ternyata gak malu-malu," batin Silvia.
Aruna mengacungkan jari telunjuk ke dekat wajah Silvia. "Gimana, Tante? Tante janji beli, loh! Harus ditepatin, kata Papah!"
Silvia menurunkan jari telunjuk Aruna dari dekat wajahnya. "Tante tahu, Aruna."
Silvia menegakkan tubuhnya, kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah Aruna sambil tersenyum. "Ayo kita beli es krim dulu!"
Aruna tersenyum lebar sambil mengepalkan tangannya di samping pipi dan berseru, "Yes!"
Akhirnya mereka berdua pun berjalan bersama sambil bergandengan tangan. "Papa kamu namanya siapa?" tanya Silvia.
"Papah Arlo garang," jawab Aruna sambil menunduk memperhatikan langkah.
Suaranya yang mengecil diakhir membuat Silvia mencerna dengan nama yang berbeda. Silvia yang berjalan pelan pun mengerutkan dahinya. "Arlo Galang?"

Veil
0 Pengikut · 1 Novel