Rea baru saja sampai di alamat kediaman keluarga Levander. Rumah super megah yang berdiri gagah di kawasan elit kota dengan penjagaan yang begitu ketat. Mata bulatnya semakin membola sempurna saat melihat penampakan rumah dua lantai bergaya american modern.
Kagum. Itulah yang Rea tunjukkan saat melihat rumah impiannya selama ini. Bahkan jauh lebih dari ekspektasinya.
"Mbak! Malah bengong. Ini barang-barangnya." Sopir taksi itu mengagetkan Rea saja. Ia menurunkan koper serta tas besar berisi barang-barang berharga miliknya meskipun harganya tak seberapa.
Rea menoleh dan merasa tidak enak jadinya. "Maaf, Pak Sopir. Habisnya aku baru lihat rumah sebesar ini di kota," cicitnya merasa malu.
"Kalau di kota, rumah besar seperti ini sudah jadi pemandangan biasa," tutur pria itu. "Apalagi ini milik kediaman keluarga terpandang di kota. Jelas megah dan super mewah."
Rea tak tahu harus menanggapinya dengan apa. Alhasil ia hanya tersenyum tipis dan merasa sangat kampungan sekali. Ya, memang dirinya dari kampung. Pakaiannya saja sederhana. Hanya memakai cardigan rajut dengan rok semata kaki.
Sepeninggal taksi online tadi, Rea celingukan mencari seorang satpam yang katanya selalu ada di setiap rumah orang-orang kaya.
"Eleuh ... eleuh ... kamu teh siapa? Ngapain berdiri di depan pintu pagar rumah ini?" Seorang satpam muncul sambil membawa pentungan hitam. Perutnya sedikit buncit dan berbau asap rokok.
"Aku Rea, Pak Satpam. Aku dari desa, mau ketemu sama Bi Asih." Rea memperkenalkan diri dengan senyuman yang begitu manis dan ramah.
Satpam itu menatap Rea dari atas sampai bawah lalu mengangguk paham. "Kamu teh siapanya Bi Asih kalau boleh saya tahu?"
Rea terlihat sedikit memainkan ujung cardigan miliknya. Sedikit grogi. "A-aku keponakannya," sahutnya pelan.
"Masa? Jangan bohong kamu! Coba telepon nomor Bibi kamu!" Satpam itu tidak percaya begitu saja. Takut kalau itu hanya penipuan.
Gadis itu menurut. Mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan berusaha untuk melakukan panggilan telepon dengan Bi Asih.
"Halo! Rea, kamu sudah sampai belum? Kamu di mana sekarang?" Itu suara Bi Asih yang terdengar jelas melalui telepon genggam. Sengaja di-loudspeaker supaya kedengaran.
Satpam itu memberikan instruksi untuk segera menjawab pertanyaan Bi Asih.
"Aku udah sampai di depan gerbang rumah keluarga Levander, Bi. Ada satpam juga yang nemenin aku."
"Tunggu sebentar! Aku akan keluar."
Tut!
Panggilan berakhir, Rea memasukkan ponselnya kembali dalam tas dan menunggu kedatangan Bi Asih. Katanya, wanita itu akan membantunya untuk mencari siapa Ibu kandung Rea di kota ini.
"Ayo ikut aku masuk! Bawa semua barang-barang kamu sendiri ya. Aku lelah bekerja," kata Bi Asih sedikit ketus.
Rea hanya bisa menurut. Setelah satpam membuka pintu gerbangnya, ia mulai mengikuti langkah Bi Asih yang masuk melalui pintu samping rumah. Mungkin kalau lewat depan akan terasa tidak sopan.
Bi Asih berbalik saat sampai di kamarnya yang berada di bagian belakang rumah. "Kamu taruh saja semua barang-barang di sini. Aku sudah bicara dengan Tuan Denta dan Nyonya Lita untuk menampung kamu sementara di sini," tuturnya panjang lebar yang dimengerti oleh Rea.
"Istirahat saja dulu. Supaya kalau aku meminta bantuan, kau punya tenaga," kata Bi Asih lantas pergi meninggalkan Rea sendiri.
Rea menghela napas dan duduk di pinggir ranjang minimalis. "Aku penasaran bagaimana wajah Mama sekarang," gumamnya tersenyum tipis.
-o0o-
BUGH!
Seorang pemuda tampan pemilik rahang tegas itu baru saja melayangkan pukulan kepada siswa laki-laki hingga tersungkur ke bawah. Mengundang seluruh atensi yang melihat sekaligus mendengar betapa kerasnya pukulan itu.
"Kau apakan gadisku sampai menangis, hm?" Renzo menarik kerah seragam lelaki itu hingga bangkit secara terpaksa. Kilatan tajam penuh intimidasi tercetak jelas di sana.
"Ugh ... mengerikan. Renzo kalau marah seperti mau membelah bumi."
"Tolongin itu si Raka! Nanti kalau m*mpus gimana?"
"Emangnya Renzo marah gara-gara apa sih?"
"Ceweknya paling digodain sama si Raka. Renzo marah terus pukul tuh anak."
"Jelas-jelas Mindy nangis katanya! Kau nggak dengar?!"
"Emang benar ya, kalau orang tengil tuh sekalinya marah serem banget. Takut aku jadinya mau deketin Renzo."
Dia Lorenzo Levander. Sosok cowok populer bukan karena ketampanannya saja, melainkan kiprahnya dalam dunia basket. Ia memang berprestasi, tetapi cap Playboy dalam dirinya telah melekat sejak dulu.
Terbukti dari deretan para mantan yang begitu cantik dan seksi. Bahkan tercatat dalam mini book milik salah satu temannya. Dan hatinya kini justru berlabuh pada sosok Mindy Laksitha—sahabat masa kecilnya sekaligus primadona di sekolah.
BUGH!
Renzo kembali memukul Raka hingga kembali tersungkur ke bawah. "KAU APAKAN GADISKU, SIALAN?!" Ia membentak dan hendak menendang lelaki itu, tetapi Mindy muncul diikuti teman-teman Renzo di belakang.
"RENZO!" Mindy berteriak kencang bahkan terdengar membentak. "AKU MINTA KAMU BERHENTI PUKULIN RAKA!" pintanya.
Lelaki itu malah semakin menjadi-jadi. Tak mau mendengar suara Mindy.
"LORENZO LEVANDER! BERHENTI PUKULIN RAKA! DIA NGGAK TAHU APA-APA!" Mindy kembali membentak. Menarik kasar lengan Renzo.
"Kalian berdua bantu aku dong!"
Kedua temannya Renzo yang semula diam planga-plongo kini mendekat dan berhasil memisahkan keduanya.
"Untung kau belum buat si Raka m*mpus! Takutnya kau punya catatan kriminal setelah ini," tutur Alden di sela helaan napas lelahnya.
Sementara Renzo terlihat begitu berbeda. Bahkan seperti bukan dirinya.
"BUBAR-BUBAR, GUYS! INI BUKAN ATRAKSI TOPENG MONYET YANG BISA DITONTON RAMAI-RAMAI!" Asael berujar dengan suaranya yang begitu khas untuk mengusir kerumunan.
"Jangan lupa angkut nih bocah!" celetuk Asael lagi. Melirik sekilas ke bawah di mana Raka berada.
Mereka semua membubarkan diri. Sementara Raka dibawa segera ke UKS untuk mengobati luka-lukanya.
Kini, Mindy berdiri tepat di hadapan Renzo. Keduanya saling bertatapan sejenak.
"Raka ngapain kamu? Dia pasti macem-macemin kamu, kan?" Renzo berkata sangat lembut. Berbanding terbalik ketika bersama yang lainnya.
Mindy justru menepis tangan besar Renzo saat hendak menyentuh pipinya. Perubahan ekspresi Renzo terlihat sangat jelas. "Kamu—"
"Kenapa kamu malah pukulin Raka?!" Suara tajam Mindy terasa menusuk telinga mereka.
"Kamu malah bela laki-laki lain. Kan, Raka yang bikin kamu nangis," ujar Renzo serius.
Mindy membuang napas kasar. "Aku nangis karena ulah kamu! Bukan Raka!" Ia berlalu sambil menghentakkan kedua kakinya kesal.
"Lah, kok jadi gini?" Asael menyeletuk bingung sambil bertolak pinggang.
"Emang maunya gimana anjir?!" timpal Alden sambil mentoyor kepala Asael kencang.
Renzo berlalu begitu saja meninggalkan kedua temannya.
"RENZO! MALAM INI JADI PARTY NGGAK?!" Asael berteriak yang langsung dibalas acungkan jempol dari temannya.
"YES! Kita party coy!" Keduanya lantas bertos ria dan menyusul langkah Renzo.
-o0o-
Renzo berdecak dan membuang napas kasar saat panggilan teleponnya lagi-lagi ditolak oleh sang kekasih. Mindy belum menjelaskan di mana letak kesalahannya. Ia pikir dengan membalas Raka adalah langkah yang tepat. Setahunya Mindy menangis ulah lelaki sialan itu.
"Gila, aku paling suka main-main di tempat seperti ini. Gadis-gadisnya bening dan seksi!" Asael seperti sangat menikmati suasana dalam klub.
"Gadis terus yang ada di otakmu! Pantas saja semakin besar justru semakin bodoh." Ken melempari Asael dengan kulit kacang.
"Kau juga mantan OSIS sedang apa di sini?"
"Aku setia kawan. Berjaga-jaga kalau Renzo mabuk supaya tidak berakhir dengan wanita lain." Ken mengedikan bahu acuh.
Alden menoleh sambil menikmati segelas minuman. "Mindy belum angkat teleponmu?"
Renzo menggeleng. "Ck, cemburuan sekali! Sepertinya dia marah bukan hanya soal aku memukul Rabi," tuturnya terlihat merana.
"Rabi siapa njir?" Asael menimpali.
"Raka Babi."
"Hahaha ...!" Tawa mereka pecah setelah mendengar Renzo dengan santainya mengganti nama orang.
Malam semakin larut. Renzo dan beberapa temannya hanyut dalam minuman memabukkan itu. Bahkan sejak tadi, Renzo terus menyebut nama Mindy. Sesekali nama mantan-mantannya juga.
"Renzo, cepat bangun! Aku antar kau pulang sekarang!" Ken membantu Renzo yang tengah mabuk untuk menuju ke depan parkiran dan mengantarnya pulang.