


oleh Wee Daevii · 111 Bab
Lima tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat bagi Kiara menunggu sebuah keajaiban yang tak kunjung datang. Seorang anak. Aris, suaminya yang seorang dokter, hanya berkata singkat, "Sabar, Ra. Mungkin belum waktunya." Namun, kata itu tak lagi menenangkan. Yang lebih menyesakkan, Aris bukanlah pria tanpa anak, ia memiliki seorang putri dari pernikahan pertamanya. Sementara di rumah lain, Arhan dan Dewi tampak pasangan yang sempurna. Namun di baliknya, hanya ada kehampaan. Suara yang paling sering terdengar di rumah mereka hanyalah notifikasi ponsel, bukan percakapan ataupun tawa. Akankah dua pasangan ini menemukan jalannya menuju bahagia? Atau tenggelam dalam kekosongan yang mereka coba sembunyikan?
Pagi itu langit tampak muram. Gerimis turun sejak subuh.
Kiara membuka mata dengan tubuh yang terasa lemah. Wajahnya pucat, tanpa energi.
Di sebelahnya, Aris, suaminya, masih terlelap. Hari itu hari Sabtu, hari di mana ia bisa bangun sedikit siang karena tak ada jadwal di rumah sakit.
Kiara beranjak perlahan, berniat menuju kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti saat ponsel di meja samping tempat tidur bergetar pelan.
Layar menyala, menampilkan satu pesan dari kontak. Mamanya Dinda.
“Hari ini jadi kan? Dinda sejak kemarin sudah merengek minta ke rumah neneknya. Sekalian ke puncak.”
Kiara menatap layar itu tanpa ekspresi. Namun, ketika ponsel kembali bergetar, matanya refleks melirik.
“Kalau bisa jangan ajak istrimu. Takut Dinda jadi nggak nyaman menghabiskan waktu liburannya.”
Jemarinya mengepal. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya cepat, mencoba menahan rasa muak yang sejak lama ia pendam.
-
Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya. Dengan tubuh yang masih terasa lemah, Kiara memaksakan diri menyiapkan sarapan.
Tak lama, Aris keluar dengan kaus polos dan celana panjang. Namun, Kiara tahu dari raut wajah dan jam tangannya yang sudah terpasang, suaminya sedang bersiap untuk bepergian.
Dengan langkah pelan, Kiara meletakkan sarapan di meja makan. Aris duduk tanpa menoleh, matanya sibuk menatap ponsel.
“Hari ini aku mau ke tempat Dinda. Sekalian mampir ke rumah Ibu,” katanya datar.
Kiara hanya mengangguk kecil.
“Kamu mau ikut?” tanyanya, suaranya terdengar seperti basa-basi. Lalu tanpa menunggu jawaban, ia menambahkan, “Tapi kayaknya kamu ada pesanan kue dari tetangga, kan?”
Bilang saja, ajakan itu cuma basa-basi. Aku tahu, kamu memang tak ingin aku ikut, Kiara membatin.
Di tengah Aris menikmati sarapan, ponselnya kembali bergetar.
Suara anak perempuan terdengar samar dari ujung telepon. Riang, manja.
“Iya, Sayang. Sebentar lagi Papa ke rumah, ya. Tunggu Papa.”
Nada lembut itu menampar ruang sepi di dada Kiara.
Aris meneguk minumannya cepat, lalu berdiri. Ia mengambil kunci mobil di atas meja.
“Kalau begitu, aku berangkat dulu,” ucapnya singkat tanpa menatap Kiara yang kini terlihat pucat.
Pintu tertutup perlahan, meninggalkan keheningan yang hanya diisi detak jam dan suara gerimis yang belum juga reda.
Kiara memejamkan mata, mencoba menelan rasa yang entah sudah berapa lama ia pendam.
***
Sementara tanpa ia tahu, sda seorang yang diam-diam menanti kedatangannya. Arhan sudah cukup lama duduk berdiam di kafe menunggu Kiara muncul.
"Apa hari ini dia tidak mengantar pesanan?" gumamnya dengan melihat jam di tangannya.
Di waktu yang sama, wanita yang ditunggu Arhan masih merasakan tubuhnya semakin lemah. Meski begitu, ia tetap memaksakan diri untuk menyelesaikan pesanan.
Ia sudah terlanjur mengiyakan permintaan tetangganya yang akan mengadakan arisan sore ini, dan menolak bukan pilihan. Namun, ketika membuka lemari dapur, ia menyadari sesuatu.
Butter-nya habis.
Kiara menatap kosong sejenak, lalu menghela napas panjang.
'It's oke, beli sebentar saja,' pikirnya.
Tangannya sempat meraih kunci di atas meja, tapi segera terhenti. Pandangannya kabur membuatnya sedikit limbung. Ia menatap kunci sebentar, lalu menurunkannya pelan, memilih memesan taksi menuju minimarket terdekat.
Di dalam taksi, ia duduk bersandar, matanya terpejam setengah, mencoba menenangkan degup jantungnya yang tak beraturan.
Setelah berbelanja, langkahnya terasa kian berat. Dunia di sekelilingnya tampak berputar pelan, warnanya memudar.
Keringat dingin mulai membasahi wajah dan lehernya.
Dari seberang jalan, Arhan, yang kebetulan baru keluar dari kafe, melihat sosok Kiara. Sudut bibirnya perlahan terangkat, ada kilau hangat di matanya, seperti seseorang yang akhirnya menemukan sosok yang telah lama ia tunggu. Ia refleks melambaikan tangan. Namun, Kiara tak membalas. Pandangannya mulai buram, napasnya tersengal, dan tiba-tiba tubuhnya ambruk begitu saja di tepi trotoar.
Tanpa pikir panjang, Arhan langsung berlari menyeberangi jalan. Wajahnya yang tadi merekah seketika menegang panik, langkahnya menembus suara kendaraan dan rintik hujan yang mulai deras.
Di antara riuh dan degup jantungnya, tak ada yang tahu, hari-hari sebelumnya, hidup Kiara memang sunyi. Seperti serangkaian hari yang kosong, tanpa arah, tanpa warna.
-
Dua hari sebelumnya.
Kiara berdiri di depan cermin.
Kulitnya terawat, matanya indah, bahkan senyumannya begitu lembut. Senyum yang sering membuat orang iri saat melihatnya di arisan atau sekedar di minimarket. Namun, di balik semua itu, ia hanyalah seorang perempuan yang menunggu.
Sudah lima tahun menikah tapi perutnya masih juga rata. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana. Tidak ada juga tangisan seorang anak yang memanggilnya 'Mama'. Yang ada cuma pertanyaan orang-orang yang makin lama makin terdengar menyakitkan.
'Kapan hamil, Kiara?'
'Kapan nih punya momongan?'
'Masih berdua terus aja.'
Dengan mata yang masih melihat cermin, dia menarik napas panjang, tangannya refleks mengusap perut. Tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja.
Kiara hampir larut dengan kesedihannya. Namun, suara pintu depan terdengar. Aris pulang. Kiara langsung menghapus air matanya, merapikan rambut, lalu keluar kamar seolah tidak terjadi apa-apa.
Jas dokter masih menempel di tubuhnya. Sorot matanya datar, seperti tidak benar-benar melihat Kiara.
"Kamu belum tidur?" tanyanya singkat.
"Belum, aku baru saja selesai bikin kue," jawab Kiara sambil mencoba tersenyum.
"Pesanan dari kafe biasa?"
Kiara mengangguk.
"Ngapain capek-capek bikin pesanan? Apa uang bulanan kamu kurang?" tanya Aris tiba-tiba.
Nada suaranya datar, tapi cukup menusuk hati Kiara.
Kiara sempat membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Aris sudah menyerahkan tas, berjalan ke kamar seolah enggan mendengar jawaban istrinya. Tak ada pelukan, tak ada ciuman, atau bahkan sekedar pertanyaan 'gimana kabar hari ini'.
Kiara diam di tempat. Melihat punggung suaminya dari belakang, yang semakin lama makin terasa asing. Hatinya sesak. Namun, dia sudah cukup kebal. Malam-malam seperti ini terlalu sering terjadi.
-
Kiara masuk kamar setelah menghangatkan makan malam suaminya. Di sana, lampu sudah diredupkan. AC menyala dingin. Aris duduk di tepi ranjang, sibuk membuka kancing kemejanya satu per satu.
"Pasien banyak banget hari ini," ucapnya singkat.
Kiara ingin sekali menanggapi, menanyakan detail seperti dulu. Tentang kasus-kasus yang ia ceritakan penuh semangat. Namun, sudah terlalu sering ia mencoba. Dan selalu berakhir dengan jawaban pendek yang mematikan percakapan. Malam ini ia memilih diam.
Aris pun masuk kamar mandi, meninggalkan Kiara sendiri. Kiara duduk dengan mengaitkan jari-jarinya. Ada perasaan aneh setiap kali berada di ruangan yang sama dengan suaminya. Dekat secara jarak, tapi seperti jauh dirasakan hati.
Beberapa menit kemudian, Aris keluar dengan piyama. Ia langsung merebahkan diri di kasur.
"Tidur ya, Ra. Besok aku harus berangkat pagi," ucapnya tanpa menatap. Namun, tangannya meraih ponsel. Sebuah pesan suara terdengar samar.
"Papa, jangan lupa ya hari Sabtu."
Kiara menatap wajah suaminya yang masih menatap layar. Senyumnya terlihat lebar. Senyuman yang sudah lama tak Kiara dapatkan.
Akhirnya ia membuka suara. "Kamu nggak makan dulu? Aku tadi bikin sup ayam, sudah aku siapkan di meja makan."
Aris menggeleng. Membalikan badan dan meletakan ponselnya.
"Aku tadi sudah makan di rumah sakit."
Lagi-lagi jawaban suaminya membuat Kiara merasa terabaikan.
Aris sudah memejamkan mata, napasnya perlahan stabil, tenggelam dalam tidur.
Malam itu, sekali lagi, hanya ada keheningan. Dua orang berada di dalam satu atap yang sama. Namun, terasa seperti berada di dunia yang berbeda.
Akhirnya Kiara kembali ke dapur. Meja makan masih rapi, dua piring masih kosong. Ia duduk, lalu makan perlahan, sendirian.
Masih dengan perasaan kesepian, ia merapikan kembali meja makannya. Lalu beralih untuk membereskan pesanannya.
Loyang-loyang berisi brownies masih berjejer di meja. Aromanya manis, wangi coklatnya bikin siapapun betah. Ironisnya, wangi itu malah membuat hati Kiara seperti diejek. Rumahnya wangi kue. Namun, hatinya tak sedikit pun merasakan manis.
Satu per satu brownies dikeluarkan dari loyang. Besok pagi, semua harus diantar ke sebuah kafe, dekat deretan perkantoran. Tempat yang tanpa Kiara taHu bakal jadi persimpangan sulit dalam hidupnya.

Wee Daevii
11 Pengikut · 2 Novel