“Taruh saja kardus yang itu di sudut dekat jendela, Din. Hati-hati, isinya pigura foto dan koleksi cangkir keramik peninggalan nenekku,” seru Jasmine sambil menyeka peluh yang merembes di dahi menggunakan punggung lengannya.
Dina, sahabat sekaligus rekan kerjanya di agensi periklanan, meletakkan kardus cokelat berukuran sedang itu dengan napas tersengal. Ia berkacak pinggang, menatap sekeliling ruang tamu yang masih kosong melompong dengan sisa-sisa debu yang berterbangan tertiup angin dari pintu depan.
“Gila ya, Jas. Aku masih nggak nyangka kamu akhirnya benar-benar beli rumah di Cluster Magnolia. Ini kan kawasan elite, tempat nongkrongnya para istri pejabat sama pengusaha tajir. Berapa lama kamu puasa jajan kopi kekinian dan liburan demi bisa bayar uang muka rumah ini?” tanya Dina, menggelengkan kepalanya takjub.
Jasmine hanya tertawa kecil. Ia melangkah menuju kotak pendingin portabel, mengambil dua botol air mineral yang embunnya menetes dingin, lalu mengangsurkan salah satunya kepada sahabatnya itu.
“Delapan tahun, Din. Delapan tahun aku makan siang bawa bekal dari rumah, pakai baju lungsuran kakakku, dan menahan diri nggak ikut kalian staycation setiap akhir pekan. Rasanya mau menangis darah tiap kali lihat saldo tabungan yang naiknya merayap, tapi dipotong inflasi dan biaya hidup di kota ini,” jawab Jasmine.
Ia membuka tutup botolnya dan menenggak air dingin itu dengan rakus. Rasa dahaga yang menggerogoti kerongkongannya perlahan sirna, berganti dengan kelegaan yang sulit dijabarkan dengan kata-kata.
Mata Jasmine menyapu ruangan berukuran enam kali sepuluh meter tersebut. Cat dindingnya berwarna putih tulang, lantainya berlapis keramik porselen yang memantulkan cahaya matahari sore, dan ada sebuah taman kecil di halaman belakang yang dibatasi pintu kaca geser.
Untuk ukuran Cluster Magnolia yang mayoritas diisi rumah-rumah gedongan berlantai tiga, rumah tipe 45 milik Jasmine ini mungkin terlihat seperti paviliun mungil. Namun, bagi perempuan berusia dua puluh delapan tahun yang merantau sendirian dan merintis karier dari nol, rumah ini adalah sebuah istana.
“Kamu yakin sanggup tinggal di lingkungan begini?” Dina melongok ke luar jendela kaca, menunjuk ke arah jalanan kompleks yang diaspal mulus tanpa cela. “Coba kamu perhatikan. Kiri kanan kamu mobilnya Eropa semua. Minimal SUV keluaran terbaru yang harganya di atas setengah miliar. Lah, mobil kamu?”
Pandangan Jasmine mengikuti arah telunjuk Dina, berlabuh pada sebuah mobil LCGC (Low Cost Green Car) berwarna perak yang terparkir di carport rumahnya. Mobil itu sudah menemaninya selama enam tahun, catnya mulai kusam di beberapa bagian, dan ada bekas penyok kecil di dekat lampu belakang akibat menyerempet tiang listrik tahun lalu. Diapit oleh deretan rumah megah berpagar besi tempa yang menjulang tinggi, mobil mungil dan sederhana itu memang tampak seperti salah tempat.
“Biarin saja,” sahut Jasmine santai. Ia duduk bersila di atas lantai berdebu, tak memedulikan celana jinsnya yang kotor. “Aku beli rumah ini karena lingkungannya aman, keamanan dua puluh empat jam, dan dekat sama stasiun MRT. Aku nggak peduli sama tetangga yang pakai mobil mewah atau tas branded. Lagi pula, orang-orang kaya di kompleks begini biasanya individualis, kan? Paling kita cuma saling sapa basa-basi kalau pas berpapasan buang sampah. Nggak akan ada yang mengurusi hidup orang lain.”
Dina mengangkat bahu, ikut duduk di sebelah Jasmine. “Ya, semoga saja tebakan kamu benar. Kadang, orang yang kelihatannya berkelas justru lebih julid daripada ibu-ibu kompleks perumahan biasa, tapi, anyway, selamat ya, Jas! Kamu pantas mendapatkan semua ini. Kerja keras kamu akhirnya terbayar lunas.”
Jasmine tersenyum tulus. “Makasih, Din. Kalau nggak ada kamu yang sering pinjami aku uang pas akhir bulan zaman kita masih jadi staf junior, aku nggak mungkin bisa bertahan sampai sekarang.”
Sisa sore itu dihabiskan oleh kedua perempuan tersebut untuk membongkar barang-barang esensial. Mereka merakit tempat tidur lipat, menata peralatan mandi, dan menyapu seluruh ruangan hingga bersih dari sisa-sisa renovasi kecil. Tepat ketika azan magrib berkumandang dari kejauhan, Dina pamit pulang karena harus menjemput adiknya di stasiun.
Sepeninggal Dina, keheningan perlahan merayap turun dan menyelimuti rumah baru Jasmine. Suasana di Cluster Magnolia memang luar biasa tenang. Tidak ada suara bising knalpot motor yang lalu lalang, tidak ada teriakan anak-anak kecil yang bermain bola di jalanan, apalagi suara pedagang keliling. Hanya terdengar gesekan daun-daun dari pohon ketapang kencana yang ditanam rapi di sepanjang trotoar perumahan.
Jasmine merebus air menggunakan kompor portabel dan menyeduh teh celup melati kesukaannya. Sambil membawa cangkir keramik yang mengepulkan asap tipis, ia melangkah keluar menuju teras depan. Lampu-lampu jalan bergaya Eropa klasik baru saja menyala, memendarkan cahaya kuning keemasan yang hangat dan temaram.
Ia duduk di kursi plastik satu-satunya yang baru ia keluarkan dari kardus, menyandarkan punggungnya yang pegal. Matanya terpejam sejenak, menghirup aroma petrikor yang samar-samar tercium karena gerimis sempat turun siang tadi.
Perasaan damai menyusup ke dalam rongga dadanya. Tidak ada lagi ibu kos yang cerewet menagih uang sewa. Tidak ada lagi atap bocor saat hujan deras turun. Ini adalah rumahnya. Area kekuasaannya sendiri.
Saat Jasmine membuka mata untuk menyesap tehnya, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada bangunan besar yang berdiri tepat di seberang rumahnya.
Rumah itu jauh lebih besar dan megah dibandingkan deretan rumah lain di blok tersebut. Fasadnya bergaya klasik modern dengan pilar-pilar Romawi yang menjulang kokoh. Pagar besinya dicat hitam legam dengan ornamen emas di bagian ujungnya, setinggi hampir tiga meter, sepenuhnya menutupi privasi penghuni di dalamnya. Di garasinya yang terbuka lebar, terparkir dua buah mobil mewah, sebuah sedan hitam mengilap dan sebuah SUV putih yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari mobil LCGC milik Jasmine.