Sore itu, matahari menggantung rendah di ufuk barat, menebarkan cahaya jingga yang membasuh dinding-dinding kota. Jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang berjalan santai, sebagian menenteng kantong takjil, sebagian lain sekadar menikmati udara senja Ramadan. Di tengah keramaian itu, Yohana berdiri di depan halte tua, memeluk ransel kecilnya.
“Ramadan selalu begini, ya,” gumam Yohana pelan. Ramai, tapi hangat.
“Begini bagaimana?” Suara seseorang menyahut dari samping.
Yohana menoleh. “Rama, kamu bikin kaget.”
Rama terkekeh. “Salah sendiri melamun. Kamu nunggu siapa?”
“Lila sama Dimas. Katanya mau beli kolak dulu,” jawab Yohana sambil melirik jam tangan.
“Padahal kita janjian ngabuburit keliling kota.”
“Tenang, waktu masih panjang,” sahut Rama santai. “Azan magrib juga belum dekat.”
Yohana tersenyum tipis. Ia menyukai cara Rama selalu melihat segalanya dengan sederhana. Rama berpuasa, sementara Yohana tidak. Namun, sejak awal bulan Ramadan, mereka justru lebih sering bersama.
“Kadang aku takut salah bicara,” batin Yohana. Takut tanpa sengaja menyinggung.
“Yo, kalian sudah datang!” teriak Lila dari seberang jalan.
Dimas mengikutinya sambil membawa dua kantong plastik. “Maaf telat. Antreannya panjang.”
“Kolak?” tanya Rama antusias.
“Kolak dan es buah,” jawab Dimas. “Tenang, ini buat nanti.”
Yohana tertawa kecil. “Kalian serius banget menunggu magrib.”
“Ini soal kesabaran,” Rama menimpali cepat. “Niat.”
“Kedengarannya berat,” Yohana menyahut, setengah bercanda.
Rama menoleh padanya. “Berat, tapi indah.”
Kalimat itu membuat Yohana terdiam sejenak. Ia menatap jalanan yang semakin padat. Pedagang kaki lima berbaris rapi, lampu-lampu kecil mulai dinyalakan, dan aroma gorengan bercampur wangi sirup manis memenuhi udara.
“Ke mana dulu?” tanya Lila, memecah keheningan.
“Ke taman kota,” jawab Dimas cepat. “Katanya ada pertunjukan musik akustik.”
Rama mengangguk. “Setuju. Sekalian duduk.”
Yohana mengiyakan. “Aku ikut.”
Mereka berjalan beriringan. Langkah mereka menyatu dengan langkah banyak orang lain yang memiliki tujuan sama: menunggu senja habis, menjemput malam Ramadan.
Di taman kota, suasana lebih hidup. Anak-anak berlari, pasangan duduk berdampingan, dan sekelompok pemuda memainkan gitar sambil bernyanyi pelan. Yohana duduk di bangku kayu, memperhatikan sekeliling.
“Yo, kamu kelihatan mikir,” kata Lila, menyenggol lengannya.
“Ah, enggak,” Yohana menggeleng. “Cuma … aku senang.”
“Karena?” tanya Lila penasaran.
“Karena bisa ikut merasakan Ramadan,” jawab Yohana jujur. “Walau aku tidak berpuasa.”
Rama menoleh, menatap Yohana dengan wajah tenang. “Ramadan bukan cuma soal menahan lapar.”
“Terus?” Yohana menatap balik.
“Soal menahan diri,” lanjut Rama. “Belajar menghargai.”
Dimas menyahut cepat, “Berbagi. Lihat itu.”
Ia menunjuk seorang anak kecil yang membagikan kurma kepada pejalan kaki. Yohana tersenyum.
‘Mengapa aku baru sadar sekarang?’ batinnya.
Keindahan ini selalu ada.
Tiba-tiba, seorang pedagang tua mendekat. “Permisi, Nak. Mau beli takjil?”
Rama menggeleng halus. “Nanti saja, Pak. Kami tunggu magrib.”
Pedagang itu tersenyum maklum. “Baik. Semoga puasanya lancar.”
Yohana menatap pedagang itu berjalan pergi. Ada rasa hangat menyelinap di dadanya.
“Yo,” Dimas berbisik. “Kamu enggak keberatan kita ngabuburit terus selama Ramadan?”
Yohana menoleh cepat. “Kenapa harus keberatan?”
“Takut kamu bosan,” jawab Dimas jujur.
Yohana menggeleng. “Enggak. Justru aku belajar banyak.”
Lila tersenyum lebar. “Itu namanya toleransi.”
Rama tertawa kecil. “Atau persahabatan.”
Mereka terdiam ketika suara bedug samar terdengar dari kejauhan. Orang-orang mulai berdiri, bersiap. Rama meraih kantong kolak, tangannya sedikit gemetar karena menahan lapar.
“Sudah hampir,” kata Rama pelan.
Yohana memperhatikan wajah teman-temannya. Ada lelah, ada sabar, ada harap. Ia menarik napas panjang.
‘Bulan ini bukan milikku,’ batinnya, tapi aku boleh ikut menjaganya.
Azan magrib akhirnya berkumandang, merambat lembut di antara gedung dan pepohonan. Rama tersenyum lebar. Dimas segera membagikan takjil.
“Terima kasih sudah menemani,” kata Rama sambil membuka kolak.
Yohana tersenyum balik. “Terima kasih sudah mengajakku.”
Di senja pertama itu, Yohana sadar, petualangan ngabuburitnya baru saja dimulai. Bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi belajar berjalan bersama dalam perbedaan, di kota penuh warna yang bernama toleransi.
***
Rama menyuap kolaknya pelan. “Ah, ini yang paling ditunggu,” katanya sambil tersenyum lega.
“Rasanya bagaimana setelah seharian puasa?” tanya Yohana, matanya berbinar penasaran.
“Campur aduk,” jawab Rama jujur.
“Lapar, iya. Haus, pasti, tapi pas azan tadi terdengar, rasanya seperti menang.”
“Menang dari siapa?” Yohana memiringkan kepala.
“Dari diri sendiri,” sahut Dimas cepat.
Yohana terdiam sejenak. Menang dari diri sendiri. Kalimat itu mengendap di benaknya.
Lila meneguk es buahnya. “Besok kita ke mana lagi? Masa cuma taman?”
“Ke Pasar Sore Ramadan di alun-alun,” usul Dimas. “Katanya lebih ramai.”
Rama mengangguk. “Setuju. Banyak pedagang kecil di sana.”
Yohana tersenyum. “Aku ikut lagi.”
“Kamu serius?” Lila menatapnya lekat. “Enggak capek?”
Yohana tertawa pelan. “Capek sih, tapi menyenangkan.”
‘Aku tidak ingin ketinggalan,’ batinnya.
Angin sore berembus lembut. Lampu-lampu taman mulai menyala, memantulkan cahaya ke wajah mereka. Beberapa orang bersalaman setelah berbuka, sebagian lain bergegas menuju masjid.
“Kami salat dulu, ya,” kata Rama sambil berdiri.
“Iya, kami tidak lama,” tambah Dimas.
Yohana mengangguk cepat. “Silakan. Aku dan Lila tunggu di sini.”
Setelah mereka berjalan menjauh, Lila menoleh pada Yohana. “Kamu benar-benar nyaman, kan?”
Yohana menatap langit yang mulai gelap. “Aku sempat takut tidak diterima.”
“Kenapa?” tanya Lila lembut.
“Karena aku berbeda,” jawab Yohana pelan. “Aku takut kehadiranku justru mengganggu.”
Lila tersenyum hangat. “Persahabatan tidak selemah itu, Yo.”
Yohana menunduk, lalu tersenyum kecil. Mungkin benar. Selama ini aku yang terlalu banyak ragu.
Tak lama kemudian Rama dan Dimas kembali.
“Terima kasih sudah menunggu,” kata Rama.
Yohana mengangkat bahu ringan. “Terima kasih sudah percaya.”
“Percaya apa?” Dimas mengerutkan dahi.
“Bahwa aku bisa berjalan bersama kalian,” jawab Yohana mantap.
Rama tersenyum lebar. “Kita tidak sedang berjalan sendiri-sendiri, Yo.”
“Lalu?”
“Kita berjalan berdampingan.”
Kata-kata itu sederhana, tetapi menghangatkan. Yohana merasakan sesuatu yang tumbuh pelan di dadanya—keyakinan bahwa perbedaan bukan jarak, melainkan warna.
“Besok jangan terlambat,” ujar Dimas sambil terkekeh.
“Siap,” sahut Yohana cepat.
Mereka tertawa bersama, suara mereka menyatu dengan riuh kota malam Ramadan. Di antara lampu yang berkilau dan langkah yang pulang, Yohana tahu, petualangan ini bukan hanya tentang senja. Ini tentang menjaga satu sama lain, tanpa syarat.