Angin sore berembus pelan di antara pepohonan raksasa Hutan Eldara. Daun-daun berguguran, menari mengikuti aliran udara yang membawa aroma tanah basah dan lumut tua.
Di tengah hutan itu, seorang pemuda berusia delapan belas tahun sedang memandangi sebuah peta lusuh.
"Edoo, kau yakin jalannya ke sini?" tanya seorang gadis sambil menyibakkan ranting di depannya.
Gadis itu adalah Santi.
Edoo menggaruk kepalanya.
"Menurut peta, reruntuhan itu ada di balik bukit ini."
"Menurut peta?" ulang Santi sambil mengangkat alis.
"Iya."
"Menurut peta yang kau beli dari pedagang keliling yang bahkan tidak tahu arah utara?"
Edoo berdeham.
"Itu tidak penting."
"Itu sangat penting."
"Tidak."
"Sangat penting."
"Tidak."
Santi memejamkan mata sejenak.
Kadang-kadang ia heran bagaimana dirinya bisa berteman dengan pemuda keras kepala seperti Edoo.
Dari belakang mereka terdengar suara tawa kecil.
Hanii melompat turun dari batu besar.
"Aku memihak Santi."
"Tentu saja," gerutu Edoo.
Hanii tersenyum jahil.
"Aku hanya menyukai peluang hidup yang lebih besar."
"Terima kasih atas dukungannya."
"Sama-sama."
Santi menahan senyum.
Mereka bertiga sudah melakukan perjalanan selama hampir dua hari untuk mencapai lokasi yang ditunjukkan peta misterius itu.
Menurut legenda yang beredar di kota pelabuhan Meridia, terdapat reruntuhan kuno tersembunyi di Hutan Eldara.
Konon tempat itu menyimpan peninggalan dari era sebelum perang para naga.
Kebanyakan orang menganggap cerita itu hanya dongeng. Namun, Edoo tidak.
Entah mengapa, sejak kecil ia selalu tertarik pada kisah naga.
Bahkan terkadang ia bermimpi tentang api merah yang membelah langit.
Mimpi yang terus berulang tanpa pernah ia pahami.
"Kalau reruntuhan itu benar-benar ada," kata Hanii, "kira-kira kita akan menemukan apa?"
"Harta karun."
"Itu jawaban paling membosankan."
"Kalau begitu kau yang jawab."
"Mungkin artefak kuno."
Santi mengangguk.
"Itu lebih masuk akal."
"Aku tetap memilih harta karun."
"Kau memang sederhana."
Mereka terus berjalan.
Semakin jauh masuk ke hutan, suasana semakin sunyi.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada suara hewan.
Hanya desir angin yang bergerak di antara batang pohon.
Edoo mulai merasa ada sesuatu yang aneh.
"Kalian merasakan itu?"
Santi langsung menoleh.
"Merasakan apa?"
"Hutan ini."
"Apa yang salah?"
"Terlalu sepi."
Mendadak wajah Hanii berubah serius.
"Aku juga menyadarinya."
Ketiganya berhenti.
Beberapa saat kemudian.
KRAK!
Suara ranting patah terdengar dari arah semak-semak.
Mereka refleks menoleh.
Santi menggenggam tongkat pendek di pinggangnya.
Hanii meraih busur.
Edoo mengambil pedang pendek miliknya.
Keheningan kembali menyelimuti tempat itu.
Lalu—
"Hei! Tunggu aku!"
Suara perempuan terdengar dari kejauhan.
Beberapa detik kemudian muncul seorang gadis berambut hitam panjang yang berlari sambil melambaikan tangan.
"Asyah?" seru Edoo.
Gadis itu berhenti di depan mereka sambil mengatur napas.
"Kalian benar-benar meninggalkanku."
"Kau yang terlambat."
"Aku harus menyiapkan perlengkapan."
"Dua jam?"
"Itu waktu yang wajar."
"Tidak."
"Asyah," sela Santi, "bagaimana kau bisa menemukan kami?"
Asyah tersenyum bangga.
"Aku mengikuti jejak kalian."
Hanii melirik tanah.
"Jejak?"
"Iya."
"Kami berjalan di atas batu selama satu jam terakhir."
Senyum Asyah perlahan menghilang.
"Itu detail yang tidak perlu dibahas."
Mereka tertawa.
Untuk sesaat suasana menjadi lebih ringan. Namun, tawa itu tidak berlangsung lama.
Karena tiba-tiba tanah di bawah kaki mereka bergetar.
DUUM!
Getaran keras membuat semua orang kehilangan keseimbangan.
"Apa itu?" tanya Hanii.
Belum sempat siapa pun menjawab.
DUUM!
Getaran kedua datang lebih kuat.
Burung-burung yang sebelumnya tidak terlihat mendadak beterbangan dari kejauhan.
Santi membelalakkan mata.
"Itu berasal dari balik bukit!"
"Ayo lihat!" kata Edoo.
Mereka segera berlari.
Melewati pepohonan.
Menembus semak-semak.
Lalu tiba di puncak bukit, dan mereka langsung terpaku.
Di bawah sana berdiri sebuah bangunan raksasa yang hampir tertelan oleh akar pohon dan lumut.
Reruntuhan kuno.
Dinding batu menjulang tinggi.
Pilar-pilar besar berdiri meski sebagian telah runtuh.
Simbol-simbol aneh memenuhi permukaannya.
Seolah tempat itu berasal dari dunia lain.
"Jadi," gumam Hanii.
"Reruntuhan itu benar-benar ada," lanjut Santi.
Mata Edoo berbinar.
Untuk pertama kalinya, peta itu terbukti benar.
Mereka segera turun menuju bangunan tersebut.
Semakin dekat, semakin jelas ukiran yang menghiasi setiap batu.
Asyah menyentuh salah satu simbol.
"Lambang ini kuno sekali."
"Kau bisa membacanya?" tanya Edoo.
"Tidak."
"Lalu kenapa kau terlihat yakin?"
"Aku hanya terdengar pintar."
"Jujur sekali."
Mereka memasuki gerbang utama.
Bagian dalam reruntuhan jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar.
Lorong panjang membentang menuju kegelapan.
Patung-patung naga berjajar di kedua sisi.
Meski telah rusak dimakan usia, bentuknya masih terlihat megah.
Tiba-tiba Santi berhenti.
"Tunggu."
"Ada apa?"
Ia menunjuk lantai.
Di sana terdapat pola lingkaran yang tersusun dari batu berbeda.
Mata Santi menyipit.
"Jangan injak bagian tengah."
"Kenapa?"
"Aku curiga itu jebakan."
Edoo langsung mundur.
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena kau hampir menginjaknya."
"Aku tidak suka kalimat itu."
Hanii mengambil batu kecil.
"Lihat ini."
Ia melempar batu ke tengah lingkaran.
Klik.
Semua orang membeku.
Lalu—
SWIING!
Puluhan anak panah melesat dari dinding.
Mereka berdesing melewati lorong dengan kecepatan mengerikan.
Beberapa menancap di pilar batu.
Yang lain menghancurkan patung.
Edoo menelan ludah.
"Baiklah."
"Aku benar," kata Santi.
"Untung kau benar."
Mereka mencari jalan memutar.
Setelah melewati berbagai lorong dan ruang runtuh, akhirnya mereka tiba di sebuah aula besar, dan di tengah aula itu terdapat sebuah altar batu.
Di atasnya melayang benda berwarna merah menyala.
Kristal.
Cahaya merahnya berdenyut pelan seperti jantung yang hidup.
Seluruh ruangan diterangi sinarnya.
"Asyah," bisik Hanii.
"Aku melihatnya."
"Apakah itu artefak?"
"Mungkin."
"Mungkin?" tanya Edoo.
"Tidak ada buku yang pernah menunjukkan benda seperti itu."
Edoo tidak bisa mengalihkan pandangan.
Entah mengapa ada sesuatu yang menariknya.
Sesuatu yang terasa akrab.
Seolah kristal itu telah menunggunya sejak lama.
"Edoo?" panggil Santi.
Pemuda itu terus berjalan.
"Edoo!"
"Aku hanya ingin melihat lebih dekat."
"Ini jelas bukan ide bagus."
"Setuju," kata Hanii.
"Tolong dengarkan kami."
Langkah Edoo tidak berhenti.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Detak jantungnya semakin cepat.
Lalu—
Suara aneh bergema di kepalanya.
Datanglah.
Edoo langsung berhenti.
Ia menoleh ke kanan dan kiri.
Tidak ada siapa-siapa.
Datanglah pewaris.
Tubuhnya menegang.
Suara itu terdengar jelas. Namun, hanya di dalam pikirannya.
"Apa kalian mendengar sesuatu?" tanyanya.
"Tidak," jawab Santi.
"Edoo, wajahmu pucat."
Suara itu kembali terdengar.
Api akan bangkit.
Segel akan terbuka.
Temukan kebenaran.
"Edoo!" seru Asyah.
Sebelum ia sempat menjawab.
Kristal merah itu tiba-tiba memancarkan cahaya menyilaukan.
BRAAAK!
Seluruh aula bergetar.
Retakan muncul di lantai.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
"Apa yang terjadi?!" teriak Hanii.
Edoo refleks mengulurkan tangan, dan saat jemarinya menyentuh kristal itu.
BOOOOM!
Ledakan cahaya merah memenuhi ruangan.
Semua orang terpental.
Santi menghantam lantai.
Asyah berusaha melindungi wajahnya.
Hanii menutup mata.
Lalu keheningan datang.
Perlahan cahaya memudar.
Mereka membuka mata.
"Edoo!" teriak Santi.
Pemuda itu masih berdiri. Namun, sesuatu telah berubah.
Di tangan kanannya muncul simbol merah bercahaya.
Bentuknya menyerupai naga yang melingkar.
Semua orang terpaku.
Bahkan Edoo sendiri tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Lalu tiba-tiba terdengar suara gemuruh mengguncang reruntuhan.
Bukan dari dalam.
Melainkan dari luar.
DUUM!
DUUM!
DUUM!
Seperti langkah makhluk raksasa.
Wajah Hanii berubah tegang.
"Ada sesuatu di luar."
"Apa?"
"Aku tidak tahu."
Mereka saling berpandangan.
Sementara simbol merah di tangan Edoo terus bersinar, dan jauh di kedalaman reruntuhan yang belum pernah dijelajahi siapa pun selama ribuan tahun.
Sepasang mata merah perlahan terbuka di tengah kegelapan.
Mata yang seharusnya tidak pernah bangun lagi.
Mata seekor naga.