Mobil hitam berhenti di sebuah mansion mewah milik keluarga Adipura. Terlihat keluar seorang gadis berambut hitam sebahu dengan memakai celana jeans pendek dan kaos hitam serta kemeja levis berlengan panjang. Zaina Aulia Adipura, seorang gadis yang baru saja ditemukan keluarga lamanya, sewaktu kecil ia diculik dan baru bertemu ketika berumur tujuh belas tahun.
“Zaina!” pekik seorang wanita lembut dengan penampilan anggun seperti sosialita kelas atas.
“Selamat datang kembali ke rumah, Nak. Akhirnya Papa dan Mama bisa menemukanmu lagi!” ucap Adipura, Ayah kandung Zaina.
Zaina hanya mengangguk sekilas, tatapannya tertuju pada wanita paruh baya itu dan tiba-tiba tubuhnya ditabrak. Mega, Ibu kandung Zaina memeluknya dengan erat.
“Anakku, Ya Tuhan, akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan anakku!” ucap Mama Mega menangis haru.
“Lepas!” ucap Zaina menekan katanya.
Mama Mega langsung memeluknya. “Maafkan mama, Nak, mama memang cengeng banget pasti kamu risih ya,” ucap Mama Mega mengusap air matanya.
Zaina hanya menyunggingkan senyum tipis. Papa Adipura langsung mengalihkan suasana canggung itu dan mengajak Zaina untuk masuk ke dalam rumah mereka.
Mata Zaina menatap sekeliling mansion besar besar milik keluarga kandungnya itu, hanya seringaian tipis yang terlihat di bibirnya.
‘Lumayan!’ batinnya.
“Papa, Mama!” panggil seorang gadis menghampiri kedua orang tua Zaina. Penampilannya berbeda sekali dengan Zaina yang terkesan tomboy dan dingin sementara gadis itu terlihat anggun dengan penampilannya yang memakai dress pink serta bando kelinci di kepalanya.
“Qisya!” Mama Mega menyambut Qisya, anak angkat yang kedua orang tua Zaina besarkan setelah kehilangan Zaina.
Setelah Zaina kecil di culik, orang tua Zain bertemu dengan Qisya kecil yang yatim piatu sehingga pasangan suami istri itu memilih untuk mengadopsinya.
“Zaina, perkenalkan ini Qisya, dia saudari kamu. Setelah kamu menghilang, kami mengadopsi Qisya!” ucap Mama Mega memperkenalkan Qisya.
Zaina memperhatikan wajah Qisya dengan tajam membuat Qisya sedikit grogi.
‘Pantas mereka nggak mencari keberadaanku pasti karena sudah mendapatkan penggantinya!’ batin Zaina lagi.
“Nak, kamu jangan salah paham ya. Bukannya kami tidak ingin mencari keberadaan kamu, tapi kami bersumpah semenjak kamu diculik, kita tidak berhenti mencari keberadaan kamu sampai di mana kami mendengar kabarmu minggu lalu,”ucap Mama Mega memberi penjelasan agar Zaina tidak salah paham pada mereka.
“Zaina, kamu jangan marah ya, sama Papa dan Mama. Mereka juga sayang sama kamu kok, kamu itu anak kandung mereka!” ucap Qisya memeluk Zaina dengan erat.
“Lepaskan!” titah Zaina. Namun, Qisya tetap memeluknya.
“Tidak mau. Aku masih ingin memeluk kamu, pokoknya setelah ini kita akan menjadi saudari terkompak dan tidak terkalahkan!” sahut Qisya menggoyangkan tubuh Zaina membuat keduanya hampir saja jatuh, beruntung Zaina yang mempunyai fisik lebih kuat bisa menahannya.
“Maaf, Zaina, aku nggak bermaksud membuat kita jatuh bersamaan. Sumpah bergeledek-geledek!” ujar Qisya buru-buru melepaskan tubuhnya, ia mengangkat tiga jarinya pertanda keseriusannya.
Zaina hanya terdiam, melengos dan duduk di sofa ruang tamu. Kedua orang tuanya dan Qisya menyusulnya.
“Zaina masih marah ya? Jangan marah ya, nanti aku sedih!” tanya Qisya menggandeng lengan Zaina bergelayut manja.
Zaina menepisnya, ia menatap Qisya dengan galak. “Aku nggak tahu niatmu sebenarnya, tapi satu hal yang harus kamu ingat. Jangan macam-macam denganku.”
“Sumpah aku nggak punya maksud apa-apa kok. Aku cuma ingin jadi saudari terbaikmu, sumpah sampai tergeledek-geledek!” balas Qisya meyakinkan.
“Zaina, jangan marah ya, sama Qisya, dia memang seceria itu, mungkin dia terlalu bahagia akhirnya punya saudari seperti kamu. Dia cuma mengungkapkan kebahagiaannya,” ucap Mama Mega lembut.
Sebelum Zaina menjawab, tiba-tiba tiga cowok masuk ke dalam rumah dan memanggil kedua orang tuanya.
“Papa, Mama!”
“Mereka siapa?” tanya Zaina melirik ketiganya sekejap.
Semuanya menoleh. Papa Adipura mempersilakan ketiga untuk duduk bergabung dengan mereka.
“Zaina, ini Ezra, Gavin dan Fathan. Mereka anak angkat kami juga, kamu bisa panggil mereka dengan sebutan Kakak!” jawab Papa Adipura memperkenalkan ketiga pria di depannya.
Ketiga laki-laki itu sudah diadopsi oleh keluarga Adipura setelah kehilangan Zaina kecil, keluarga itu juga mengangkat ketiga cowok itu untuk menemani Qisya.
“Baik sekali kalian sampai mengangkat empat anak sedangkan untuk mencariku, nggak bisa. Cuih, menjengkelkan!” cetus Zaina.
“Nak, kok kamu ngomong begitu sih, kami beneran bukan bermaksud tidak mencari kamu. Sudah semua kami kerahkan, tapi tidak ada hasilnya. Mama juga selalu berharap kamu baik-baik saja, Mama dan Papa merawat mereka untuk menyembuhkan duka kami!” ucap Mama mega sendu.
“Iya, Nak, benar apa yang Mama kamu katakan. Kamu jangan marah ya, kami sayang kamu kok. Lagi pula kami juga mengadopsi mereka juga untuk menjaga kamu dan Qisya, Papa dan Mama berencana akan menjadikan mereka calon suami kamu kelak!” sahut Papa Adipura.
“Zaina aku harap kamu tidak membenci Papa dan Mama karena kehadiran kami. Aku janji sama kamu, kita akan menjadi saudara, siapa pun yang kamu pilih. Kami akan terima!” ujar Qisya mengelus tangan Zaina.
Qisya juga menjelaskan ketiga kakak mereka yang seorang mahasiswa semester akhir. Ezra, di usianya yang muda menjadi orang kepercayaan Papa Adipura, ia sedang menjabat sebagai CEO disalah satu perusahaan milik keluarga Adipura. Gavin, mengambil jurusan kedokteran. Ia dikenal dengan asisten Dokter bedah sampai ditawari beberapa rumah sakit besar di Jakarta.
Sementara Fathan, mengambil jurusan pertanian. Ia pengusaha sukses dalam pertanian, banyak tanaman dengan varian baru yang ia ciptakan.
“Tuan, Nyonya, makanannya sudah siap!” ucap seorang pelayan memberitahu.
“Makanannya sudah siap, kami sudah menyiapkan makanan spesial untuk menyambut kedatangan Zaina. Ayo, kita ke ruang makan untuk makan bersama!” ajak Papa Adipura mengubah suasana yang awalnya canggung karena melihat wajah Zaina yang terlihat tidak suka.
“Hore, kita makan!” seru Qisya menggandeng lengan Zaina dan membawanya ke ruangan makan.
Zaina hanya terlihat ogah-ogahan dengan tingkah Qisya yang seperti anak kecil. Namun, gadis itu tetap menurutinya.