


oleh Noona Y · 109 Bab
Bella sungguh tidak pernah menyangka bahwa Juna, pria biasa yang ia nikahi, ternyata adalah pewaris tunggal dari keluarga tersohor. Selama hampir satu tahun pernikahan—bahkan jauh sebelum mereka memutuskan untuk kawin lari tanpa restu—Juna berhasil menyembunyikan identitas aslinya dengan sempurna. Di mata Bella, Juna hanyalah pria sederhana, bukan bagian dari dunia yang penuh gelimang harta. Ketika kebenaran itu akhirnya terkuak, rasa cinta berganti menjadi luka yang mendalam. "Aku benci padamu, Juna! Kau sudah membohongiku selama ini!" "Dengarkan aku dulu! Aku ini calon suamimu, Bella!"
"Ah, Pak Arjuna! Anda sungguh luar biasa, pencapaian target Anda yang luar biasa untuk resort baru ini. Saya sangat kagum dengan visi dan misi Anda," puji pria itu dengan nada tersanjung yang kentara.
"Terima kasih, Pak Mahendra. Ini semua berkat kerja sama tim yang solid," jawab Juna ramah.
Pria itu mengangguk-angguk puas, lalu dengan sengaja menggeser tubuhnya untuk menunjukkan seorang gadis muda cantik yang sejak tadi berdiri di belakang punggungnya. Gadis itu mengenakan gaun malam yang sangat anggun, menatap Juna dengan binar mata yang penuh damba.
"Pak Arjuna, perkenalkan ini putri tunggal saya, Clarissa," ujar pria itu dengan nada bangga yang sengaja ditinggikan agar terdengar oleh kolega di sekitar mereka. "Dia baru saja menyelesaikan S1 dan S2-nya di London dengan predikat cumlaude. Tidak hanya itu, putri saya ini juga sangat berbakat main piano klasik, bahkan pernah tampil di aula konser megah di Eropa."
Clarissa mengulas senyum manis yang sudah dilatihnya di depan cermin, lalu mengulurkan tangannya yang lentik ke arah Juna. "Senang sekali berkenalan dengan Anda, Pak Arjuna."
Juna menyambut uluran tangan Clarissa, menjabatnya sekilas dengan formalitas yang begitu dingin hingga membuat senyum manis di wajah gadis itu sedikit membeku.
Pak Subroto yang menyadari respons dingin sang pewaris takhta tidak patah arang. Ia justru tertawa renyah, berusaha mencairkan suasana yang mendadak kaku.
"Hahaha, Pak Juna ini memang orang yang sangat fokus pada bisnis, ya. Persis seperti kakekmu, Yudistira sewaktu muda. Putriku ini juga sangat tertarik dengan konsep eco-luxury resort seperti yang Anda bangun ini, Pak. Siapa tahu, kalian berdua bisa mengobrol lebih banyak, bertukar pikiran di waktu senggang ... atau mungkin makan malam bersama?"
Clarissa menunduk malu-malu, sesekali melirik Juna dari balik bulu matanya yang lentik. "Iya, Pak Arjuna. Kebetulan tesis S2 saya di London kemarin membahas tentang perkembangan properti berkelanjutan di Asia Tenggara. Saya rasa, saya bisa belajar banyak dari Anda."
Juna langsung mencium aroma perjodohan dari gelagat pria paruh baya dan putrinya itu. Alih-alih meladeni obrolan lebih jauh, Juna sengaja mengangkat tangan kanannya, pura-pura membetulkan letak kerah tuxedo-nya dengan gerakan perlahan.
Gerakan itu secara langsung memamerkan sebuah cincin emas yang melingkar kokoh di jari manisnya.
Melihat benda berkilau di jari manis Juna, senyum manis di wajah Clarissa langsung runtuh seketika. Ia terbelalak kaget, sementara Pak Mahendra melongo dengan mulut sedikit terbuka, kehilangan kata-kata.
Bukan hanya mereka, beberapa kolega bisnis dan pemegang saham lain yang berada di dekat pun ikut terkejut. Kasak-kusuk langsung terdengar riuh di antara para tamu elit.
"P-Pak Arjuna ... Anda ... Anda sudah menikah?" tanya Pak Mahendra terbata-bata, memastikan penglihatannya tidak salah.
"Benar, Pak. Saya sudah memiliki seorang istri dan akan segera memiliki anak," jawab Juna dengan nada suara yang mantap, tanpa ragu sedikit pun.
Clarissa meremas pelan gaun malamnya, mencoba menutupi rasa malu dan gengsinya yang jatuh di depan umum.
"Astaga, ini berita besar! Siapa wanita dari kalangan elit beruntung yang telah menikahi Anda, seorang pewaris The Raden? Apakah dia putri dari taipan minyak, atau pewaris tunggal dari kolega bisnis internasional Anda di Eropa?" ujar salah seorang pemegang saham.
Mendengar pertanyaan itu, Juna hanya menyunggingkan senyum misterius. Di dalam kepalanya, wajah Bella yang sedang memakai daster sederhana sembari mengelus perut buncitnya kembali berputar, membuat dada Juna mendadak dipenuhi rasa hangat.
"Dia bukan dari kalangan elit yang kalian maksud," jawab Juna tenang, membuat atmosfer di sekitar mereka kembali hening karena penasaran. "Dia hanya wanita sederhana, tapi bagi saya, dia adalah satu-satunya ratu yang pantas mendampingi saya di puncak takhta ini."
Sambil tersenyum sinis penuh intimidasi, Juna memandangi wajah-wajah di hadapannya satu per satu, membuat beberapa orang di sana mendadak salah tingkah.
"Lagipula, bukankah aneh jika kalian mengharapkan saya menikahi wanita dari kalangan kelas atas seperti kalian?" tanya Juna, suaranya naik satu oktaf, cukup bergema untuk menghentikan obrolan beberapa kelompok di sekitar mereka.
Juna memutar gelas kosong di tangannya, lalu menatap tajam Pak Mahendra dan beberapa pemegang saham senior yang sudah lama bercokol di perusahaan The Raden.
"Saya rasa ingatan kalian semua sangat pendek," sindir Juna telak. "Beberapa tahun lalu, bukankah kalian juga yang berbisik-bisik di belakang saya? Meremehkan saya,"
Mendengar ucapan Juna, wajah Pak Mahendra dan beberapa investor tua langsung memucat. Mereka saling lempar pandang dengan dahi berpeluh dingin. Luka lama yang sengaja Juna buka itu adalah fakta sejarah keluarga Raden yang selama ini berusaha ditutupi oleh karpet merah kemewahan.
Juna terkekeh hambar. "Dulu, jangankan menawarkan putri kalian yang lulusan luar negeri dan pandai main piano," lanjut Juna, tatapannya menghunus ingatan masa lalu. "Saya bahkan pernah dihina dan dicemooh habis-habisan oleh salah satu putri pemegang saham di sini. Dia menolak keras perjodohan, hanya karena status kelahiran saya!"
Keheningan mencekam menyelimuti area tersebut. Tidak ada satu pun yang berani memotong ucapan sang pewaris tunggal.
"Jadi, Pak Mahendra ...." Juna melangkah satu tindakan lebih dekat, membuat pria tambun itu refleks mundur setapak. "Urungkan niat Anda yang menjijikkan itu, karena saya tidak akan pernah sudi menukar ketulusan istri saya dengan selembar kertas saham, atau dengan wanita kelas atas mana pun!"
Setelah menumpahkan sindiran tajam yang membungkam seluruh ruangan, Juna mengusap pelan rambutnya yang tertata klimis untuk menetralkan sisa amarahnya. Ia kemudian berbalik dengan gagah meninggalkan ruangan ballroom.
*****
Tik-tok-tik-tok.
Jam dinding kuno di ruang tamu terus berdetik, memecah keheningan malam yang kian larut.
Bella duduk bersila di atas karpet kain, bersandarkan bantal sofa yang empuk untuk menopang punggungnya yang sering terasa pegal akhir-akhir ini.
Di pangkuannya, berserakan gulungan benang wol berwarna pastel dan sepasang jarum rajut. Jari-jemarinya yang lentik tampak sibuk bergerak, mencoba merangkai benang-benang itu menjadi sebuah sepatu bayi berukuran mungil.
Aktivitas baru yang sengaja ia pelajari demi menyambut kehadiran buah hatinya. Namun, fokus Bella buyar setiap kali matanya melirik ke arah jam dinding.
"Sudah jam delapan malam, belum pulang juga, sih? Katanya sebelum malam sudah sampai rumah," gumamnya dengan bibir mengerucut maju.
Ting-tong!
Suara bel rumah panggung mereka tiba-tiba berbunyi nyaring, memecah kesunyian malam.
Bella seketika menegakkan tubuhnya. Wajah bersungut-sungutnya langsung berganti dengan binar lega. "Nah, akhirnya pulang juga!" gumamnya senang.
Sambil menopang pinggangnya yang terasa berat, Bella bangkit berdiri perlahan, lalu berjalan menuju pintu.
Cekrek.
Mata bulat Bella melebar sempurna, menatap sosok yang berdiri di ambang pintu.

Noona Y
6 Pengikut · 5 Novel