


oleh reinzx · 6 Bab
Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan di waktu beranjak dewasa, aku akan mendapatkan hadiah pernikahan yang sulit. Bukan pernikahan normal seperti hal biasanya di lakukan dua orang insan yang saling mencintai, bahkan aku tidak bisa memberikan cintaku secara pasti. Aku menikahi dua orang pria, satu sahabatku sejak kecil dan satunya lagi seorang pria yang baru datang ke dalam hidupku. Alhasil dalam hidupku selalu datang pilihan, lantas bagaimana cara terbaik membuat pilihan rencana hidupku?
Aku berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk bertahan hidup. Dua makhluk yang ada di sampingku, Nicho dan Alex, tidak ada yang mau mengalah untuk memeluk tubuhku sehingga aku dipermainkan seperti boneka. Mereka menarikku ke sana kemari hingga aku merasa sesak yang luar biasa.
"KALIAN MAU MEMBUNUHKU, HAH?" teriakku kesal.
Nicho dan Alex, yang sedari tadi sibuk berebut memeluk tubuhku, akhirnya berhenti. Keduanya mendengus tidak terima dan saling menatap dengan tatapan ingin menerkam satu sama lain. Aku selalu berusaha untuk memberikan perhatian yang adil kepada dua suamiku itu agar mereka tidak merasa dipilih kasih.
"Araaa." Alex menatapku dengan puppy eyes-nya, membuatku tersenyum. Nicho mencibir, dan tatapan itu membuat Alex naik pitam kembali. Mereka berdua bertengkar seperti tikus dan kucing di atas ranjang, dan aku harus turun tangan menghentikan tingkah mereka dengan sebuah kecupan. Itu membuat dua pria itu terdiam dengan senyuman yang mengembang di wajah mereka.
Aku memutar bola mata malas melihat tingkah Nicho dan Alex yang kekanak-kanakan. Aku mencoba memberikan solusi pada keduanya dengan cara bermain batu, gunting, kertas, dan yang kalah harus rela tidur sendiri malam ini.
Mereka berdua tampak setuju dengan saranku, dan aku yang menentukan permainan dimulai.
"Aku pasti menang, cabe," ujar Nicho dengan tatapan sengitnya kepada Alex, yang dibalas dengan tatapan membunuh oleh pria itu. "Kau lihat saja buncit, pasti aku yang akan menang."
Aku menggeleng tidak percaya mendengar mereka saling mencibir seperti itu, benar-benar seperti bocah berusia 5 tahun.
"Ya ampun. Yak, aku sudah mengantuk, jadi aku mohon jangan bertengkar lagi," kataku memelas, membuat keduanya menatapku iba.
Nicho mengulurkan tangannya untuk mengusap wajahku, tetapi tindakannya segera dicegat oleh Alex. Dasar.
"Satu, dua, tiga." Aku melihat Alex-lah yang menang. Pria itu bersorak ceria, membuatku bingung apa yang bisa membuat senyumannya merekah cerah seperti itu. Dia imut sekali.
Nicho mendesis dan terpaksa harus keluar dari kamar. Aku setia mengantarkannya sampai ambang pintu. Pria itu menghela napas putus asa, dan aku mengusap wajahnya. "Jangan tunjukkan wajah yang seperti itu, Sayang," pintaku agar dia tidak sedih. Pria itu tersenyum dan menarik pinggangku agar menyempitkan jarak di antara kami, membuat Alex yang duduk di kasur mendesis tidak terima.
Nicho mencium bibirku lembut, dan aku membalasnya. "Janji ya, besok aku yang akan tidur denganmu." Aku hanya tertawa kecil sembari menganggukkan kepala, membuat senyuman di wajah tampannya semakin terlihat.
Setelah Nicho pergi, aku menutup dan mengunci pintu kamar lalu menghampiri Alex yang mengerucutkan bibirnya. Baru saja aku akan duduk, pria itu menarik tubuhku ke atas ranjang dan memposisikan aku untuk berbaring tepat di sampingnya. Aku hanya tersenyum sembari menatap manik mata hitam pekatnya. "Ara, apa kau benar-benar mencintaiku dengan tulus?" tanyanya.
Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. "Kalau begitu ... bisakah kau tinggalkan Nicho dan hidup bahagia denganku?" tanyanya lebih jauh.
Aku memukul kepala Alex pelan. "Jika kau berada di posisiku, kau pasti akan mengerti bagaimana rasanya." Aku menunjukkan wajah sedih, membuatnya memelukku lebih erat.
"Kalau aku yang pergi, apa kau akan bahagia hidup bersama Nicho?" tanyanya lagi.
Aku menatapnya dengan tatapan kaget sembari menggeleng-geleng. "Jangan katakan itu. Kau membuatku sedih." Ciuman Alex yang tiba-tiba membuatku terkejut, tetapi aku memakluminya karena dia adalah suamiku, dan aku membalasnya selembut dia mencium bibirku.
"Maaf, sikapku dan Nicho pasti membuatmu kesulitan." Inilah yang aku sukai dari Alex, dia lebih dewasa dari Nicho. Aku tersenyum dan menangkup wajahnya. "Percayalah bahwa aku sangat mencintaimu." Alex menganggukkan kepala dan membenamkan wajahnya di pundakku lalu tertidur pulas.
Aku membuka mata karena mendengar teriakan pintu yang digedor keras entah siapa yang melakukannya. Selain itu, aku juga merasakan ada yang memelukku agresif, dan ternyata itu Nicho. Dia menyapaku di pagi hari dengan wajah cerianya, dan aku tersenyum, tetapi aku tidak melihat Alex ada di dalam kamar.
"Hey, apa jangan-jangan yang menggedor pintu itu Alex? Kau yang mengurungnya?" selidikku seraya memelototinya. Nicho mengangguk tanpa wajah berdosa, sehingga membuatku heran.
Aku berniat membuka pintu, tapi pria itu menahan lenganku sembari menggeleng. Aku menunjukkan wajah marah membuatnya melepaskan genggaman di tanganku.
Aku membuka pintu dan melihat wajah Alex yang merah padam. Aku tahu dia kesal dengan Nicho. Bahkan aku harus memeluknya agar dia tidak menghajar pria itu. Nicho turun ke lantai bawah karena tadi aku menyuruhnya sarapan. Aku menatap Alex, "Kau sudah mandi?"
Dia menggeleng. Aku menyuruhnya mandi dan aku juga akan mandi karena aku berniat mengajak Alex dan Nicho pergi ke mall untuk belanja sekaligus refreshing.
"Aku mau mandi denganmu saja," ujar Alex jahil, dan tahu-tahu sudah menggendong tubuhku ala bridal style seraya membawaku kabur ke dalam kamar mandi.
Selesai memakai baju, aku ingin makan dan ada pemandangan yang membuatku terkejut. Alex dan Nicho duduk tenang di meja makan tanpa ribut. Ah, rasanya bahagia sekali melihat mereka akrab seperti itu.
"Ah, suamiku tampan sek—"
"Suami yang mana?" Aku tersedak saat sedang minum mendengar pertanyaan yang sama-sama keluar dari mulut dua pria itu dan aku menjawab pertanyaanku tadi untuk mereka.
Selesai makan, mereka berdua berebut melayaniku untuk sarapan, padahal sudah berulang kali aku katakan bahwa aku bisa sendiri tetapi tidak ada yang mau mengerti.
Aku mengambil kunci mobil dan menyeret mereka masuk ke dalam mobil. "Aku makan di luar saja! Sekarang siapa yang akan membawa mobilnya?" gerutuku kesal sembari memperhatikan Alex dan Nicho yang saling menunjuk dan kembali sibuk bertengkar. Ini membuat kepalaku ingin meledak.
Aku meletakkan mereka di jok belakang dan memutuskan aku saja yang membawa mobilnya daripada kedua suamiku itu bertengkar lagi. Sungguh sulit hidup berdua dengan mereka, tapi jujur saja ada rasa senang tersendiri untukku karena kehadiran dua kunyuk itu dalam kehidupanku.
Aku melempar senyuman lewat kaca spion mobil ketika mendapati Alex dan Nicho yang lumayan tenang. Setidaknya, mereka tidak membuat kepalaku kacau-balau seperti biasanya, bertengkar sana-sini hanya untuk mendapatkan perhatianku. Padahal, aku sangat mencintai mereka berdua, baik Alex maupun Nicho. Merekalah orang-orang yang berharga selain kedua orang tuaku.
"Eh, ada apa ini?" Aku tersentak kaget dan mendadak menginjak pedal rem, membuat Alex dan Nicho terdorong ke depan. Aku khawatir dan segera mengecek keadaan mereka, tetapi malah sebaliknya. Bukan aku yang sibuk melakukan itu, melainkan mereka berdua. Beruntung sekali aku mempunyai dua pria itu. Tapi … ya begitulah. Susah jika dihadapkan dalam sebuah pilihan.
Untuk saat ini, aku tidak merasa ada kasih sayang yang berat sebelah. Syukurlah jika begitu. Aku tidak mau ada yang terluka karena hubungan yang sering disebut poliandri ini. Andaikan aku bisa menentukan takdirku sendiri, pasti aku akan memilih pria lain untuk calon masa depanku dibanding … mereka. Aku tidak tahu bagaimana ke depannya karena secara tidak sengaja kami bertiga sudah saling mencintai. Namun, tidak dengan Nicho dan Alex yang ibaratkan seperti anjing-kucing.
"Ada polisi?" heran Nicho dan segera turun dari mobil. Aku pun mengikuti pria itu hingga berhadapan dengan seorang polisi, sedangkan Alex seorang diri di dalam mobil. Pria itu malas keluar karena sedang tidak enak badan, katanya.
Aku sedikit cemas, tapi lebih cemas lagi polisi itu mencegat mobil kami. Ada apa? Hanya itu saja yang aku pikirkan hingga sedikit membuat kepala pusing.
"Ara?" Nicho tampak khawatir terhadapku. Lengannya yang panjang itu menarik pinggangku agar dekat dengan tubuhnya. Sepertinya pria itu tahu tadinya aku akan tumbang jika saja tidak ada yang menahan keseimbangan tubuhku ini. Sial, aku terus kepikiran perihal polisi ini menahan kami. Aku lemas memikirkan semuanya.

reinzx
0 Pengikut · 1 Novel