


oleh hanyaengkau16 · 94 Bab
Pemuda itu akrab dipanggil dengan nama Beryl. Nama lengkapnya adalah Beryl Bernando. Cowok yang punya sejuta pesona di kampus. Banyak digandrungi oleh cewek-cewek. Juga pintar untuk meluluhkan hati perempuan. Cewek mana pun pasti berhasil ditaklukkannya. Tidak hanya cewek sesama mahasiswa saja yang berhasil masuk dalam jeratan dan perangkap cintanya, tapi dosen killer dan senior di kampus juga berhasil ditaklukkan hatinya. Bahkan dosennya menjadi teman main di atas ranjang. Dia adalah Bu Liana. Bagaimanakah ujung petualangan cinta Beryl bersama banyak cewek? Bagaimana juga kisah Beryl dengan Bu Liana?
“Kamu memang benar-benar brengsek!” bentak Ririn dengan nada kesal.
Avanza berwarna metalic yang dikemudikan Beryl meluncur di sepanjang jembatan Suramadu.
Beryl hanya tersenyum sekilas, senyum buas dan benar-benar menunjukkan pribadinya yang memang terkesan playboy di mata Ririn. Ia memandang Ririn yang kini tengah duduk di samping kemudinya.
“Maaf Cantik, kalau aku selalu salah di matamu.”
“Kamu memang playboy kelas kakap. Selalu pakai trik hidung belang kamu!” seru Ririn sambil membanting pintu mobil ketika Beryl menepi menghentikan laju mobilnya.
Tanpa menghiraukan omelan Ririn, Beryl menghentikan begitu saja mobilnya di tepi jalan. Beryl dengan cekatan segera turun dari mobil.
“Percuma selama ini aku menjalin hubungan sama kamu.” Ririn kembali melampiaskan kejengkelannya. “Kamu hanya mempermainkan aku!”
Sementara Ririn mengomel sendiri, Beryl memeriksa ban mobilnya tanpa menoleh ke arah Ririn lagi. Beryl berjalan mondar-mandir mengitari mobilnya yang kini begitu manis terparkir di tepi jalan di sepanjang lintasan Suramadu.
Tanpa menghiraukan segalanya, dengan santai Beryl bersiul. Kini dengan senyum playboy, Beryl memandang Ririn yang begitu tampak kesal.
“Cantik, tapi suka judes,” ucap Beryl dengan senyum simpul.
Ririn memang cantik. Bintang di kampus. Juga jenius. Tak heran jika Beryl yang bertampang playboy itu mampu menggaetnya.
Karena di samping punya wajah yang oke banget, Beryl juga dikenal sebagai mahasiswa yang pintar, ketua senat di kampus.
Sebenarnya begitu beruntung Beryl bisa mendapatkan Ririn, karena cowok lain akan sulit mendekatinya. Lagi pula siapa pun orangnya akan segan mendekati cewek di kampusnya Beryl, jika cewek itu terlihat memiliki hubungan spesial dengan sang ketua senat yang lumayan ganteng dan pintar.
Beryl memeriksa kondisi mobilnya. Ia masih berjalan mondar-mandir di sekitaran mobil yang diparkirnya. Ia memeriksa kondisi ban mobil. Entah apa yang terjadi. Sepertinya ada masalah dengan kondisi Avanza metalic itu.
Beryl melihat ada yang tidak beres dengan ban mobil. Di balik sikapnya yang saat ini acuh pada Ririn, cowok itu menyembunyikan sebuah kekhawatiran dengan kondisi mobilnya.
Hati kecil Beryl sebenarnya menggerutu dengan keadaan ban mobilnya. Tapi ia tak ingin menunjukkan sikap bodohnya di depan Ririn.
Beryl mengusap wajahnya yang tiba-tiba terasa kusut. Rasa kesal menjalar ke seluruh jiwanya.
“Ban mobil jadi bikin ribet saja,” gumamnya.
‘Kenapa harus kempes segala? Aku paling benci berhubungan dengan kerusakan mobil,’ teriak batinnya.
Pikiran Beryl membayangkan bahwa mobil itu mesti dibawa ke bengkel. Dengan jelas ia membayangkan betapa bosannya harus menunggu ban mobil itu diganti. Beryl cowok yang tak suka menunggu sesuatu.
Dalam ingatan Beryl bagaimana semua keinginan dan obsesi-obsesinya segera terwujud. Bukan untuk mengurusi mobil yang mesti ganti ban. Wajah playboynya sedikit memerah karena terpanggang wajah matahari siang itu.
Wajah matahari yang juga memanggang seluruh jembatan Suramadu. Rambutnya yang lurus dan sedikit menutup dahi makin menambah ketampanan Beryl.
Cewek mana yang tidak akan jatuh cinta jika sudah mengenalnya. Ketua senat di kampus yang memiliki prestasi yang cemerlang. Banyak penghargaan, tropi, piala, piagam, maupun sertifikat dari berbagai kegiatan yang telah dikantonginya.
Beryl beringsut sedikit, agak menjauh dari mobilnya. Ia mengambil handphonenya. Mau tidak mau ia harus menghubungi orang bengkel kalau ingin kondisi mobilnya bisa baik lagi seperti sebelumnya.
Tapi Beryl merasa bersyukur juga dengan keadaan mobilnya saat ini. Ia ingin melihat Ririn tambah mengomel karena marah. Cewek itu akan tambah cantik jika marah-marah.
Sudah berulang kali, cewek itu marah-marah padanya. Sesudah selesai ngomel-ngomel tadi, kini Ririn hanya diam. Diam yang tampak kesal. Tanpa juga menanyakan ada apa dengan mobilnya. Beryl bisa memastikan jika Ririn tahu ban mobil kempes, pasti dia akan tambah marah.
Samar-samar Beryl melirik Ririn yang tengah asyik memainkan handphonenya. Begitu cuek, kali ini cewek itu tak memperhatikan Beryl sedikit pun. Dengan sikap cuek juga Beryl tak ingin memberitahukan keadaan mobilnya yang sebenarnya.
“Kamu ada tujuan apa dari tadi berhenti?” Suara Ririn yang bertanya dengan tiba-tiba begitu mengagetkan Beryl.
Beryl tersenyum. “Eh, ini ... mumpung kita sampai di tempat sepi aku berniat memperkosa kamu,” ujar Beryl sekenanya tanpa berpikir panjang.
“Enak saja. Ayo kita segera jalan!” kata Ririn dengan sedikit nyengir.
Beryl masih tetap dengan sikap santai tanpa menanggapi kata-kata Ririn. Perhatiannya masih terfokus pada mobilnya.
Sedangkan Ririn merasa bertambah gusar melihat sikap Beryl. Sejujurnya dalam hati Ririn merasa khawatir, kalau ucapan Beryl tadi bukan hanya sekadar bergurau. Ririn paham banget siapa sesungguhnya Beryl si playboy kampus. Berapa kali sudah Beryl menidurinya di kamar hotel. Belum lagi di tempat-tempat yang lain.
“Kok, kamu justru santai begitu sih? Ayo, cepat kita jalan! Panas, nih!” seru Ririn yang mulai tak sabar.
“Eh, tunggu … tunggu … baru saja kamu bilang panas. Aku baru ingat, sudah waktunya aku mesti meniduri kamu lagi,” ucap Beryl masih sambil mengelus-elus lengan Ririn.
Beryl memang selalu bisa mencari celah buat meluluhkan hati Ririn dan cewek-cewek lain di kampusnya. Bermodal wajah playboynya yang memang ganteng dan juga otaknya yang bisa dibilang encer.
“Memangnya kenapa, playboy? Kalau ngomong dijaga!”
“Apanya yang harus dijaga, Ririn cantik? Berapa kali coba kita tidur bersama, mereguk kebahagiaan bersama. Entah itu di kamar hotel atau … di kasur hijau. Adakah selama ini kamu menolaknya? Tidak bukan? Yang ada kamu selalu ketagihan!”
“Oh, itu kemarin … karena aku khilaf dan selalu tertipu oleh rayuan gombal kamu,” jawab Ririn dengan wajah cemberut.
“Oh begitu … tapi tampaknya siang ini kamu ketagihan lagi. Bolehkah aku memelukmu? Kebetulan aku juga lagi ingin, Rin.”
“Eh? Enak aja,” jawab Ririn yang mencoba mengibaskan tangannya, namun justru tangannya yang mungil dan manis jatuh dalam genggaman Beryl.
“Rin, jari-jemari kamu memang indah,” puji Beryl sambil memegang tangan Ririn.
“Cukup, playboy,” bantah Ririn.
“Sejak aku bertemu kamu di kampus dan kita sering bersama dengan kegiatan kemahasiswaan, aku memang telah jatuh cinta sama kamu.”
“Kamu mau membuat lagi? Itu cuma gurauan yang saat ini kuanggap sudah tidak mempan lagi,” kata Ririn sambil tersenyum sinis.
“Dari awal aku memang suka sama kamu, Rin. Makanya aku selalu memberikan yang terbaik buat kamu.”
“Apa kamu bilang?”
“Kamu begitu indah, Rin. Sama indahnya dengan matahari yang tengah bersinar itu. Hangat …, ah begitu menyengat. Kamu benar-benar seperti aliran listrik yang setiap saat siap menyengatku. Panas yang kamu tawarkan begitu membakar jiwaku,”
“Kamu ngomong gombal apa lagi? Seperti orang gila saja.”
“Sama indahnya dengan matahari, Rin.”
“Ih, rupanya kamu tambah gila!” seru Ririn yang kian cuek.
Beryl masih memegang lengan Ririn dan kembali mengelus-elusnya dengan lembut. Kali ini Beryl melakukannya dengan lebih mesra dan begitu romantis. Entah siapa yang mulai terbakar lebih dulu. Beryl ataukah Ririn?”
Maunya Ririn tidak ingin memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Beryl. Belaian lembutnya, rayuan gombalnya, atau apa pun ucapan yang berhubungan dengan meluluhkan hati seseorang. Namun, entah kenapa dalam sekejap bahkan seluruh tubuh Ririn kini sudah seutuhnya jatuh dalam dekapan Beryl.
Rupanya dari kejauhan seorang mekanik bengkel yang tadi di telepon Beryl untuk mengganti ban mobil menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh dua remaja ini. Mekanik bengkel itu mencoba berpikir untuk mengalihkan fokus perhatian Beryl dan Ririn. Mekanik bengkel itu khawatir kalau keduanya bisa kebablasan melakukan yang tidak manusiawi di tepi jalan.
Beryl melepaskan pelukannya terhadap Ririn saat telepon genggamnya tiba-tiba berbunyi. Ia menjawab panggilan dari mekanik bengkel, seraya menoleh dan mencari-cari sosok mekanik tersebut. Begitu menemukannya, Beryl langsung mengisyaratkan lokasi kepada mekanik itu.
Mekanik bengkel melangkah mendekati Beryl dan Ririn.

hanyaengkau16
4 Pengikut · 2 Novel