


oleh authorrichh_ · 14 Bab
Diam-diam suamiku telah menikah dan menyimpan potret keluarga barunya di rumah kami. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas sakit hatiku?
“Dek, masak apa hari ini? Hm, aromanya harum sekali, pasti enak.” Mas Hardi tiba-tiba menyapa dan memelukku dari belakang. Aku menoleh dan membalasnya dengan senyum manis.
“Masak cumi balado, dong. Kesukaan Mas, kan?” jawabku sambil kembali mengoseng cumi di wajan. Mas Hardi masih memelukku erat, sesekali mengecup rambutku yang sudah dua hari belum keramas karena sedang haid.
“Mas, jangan dicium terus, dong. Rambutku bau, belum sempat keramas,” ujarku, sedikit risih. Bukan karena tidak suka diperlakukan manis, tapi aku khawatir dia mual karena aroma rambutku.
Mas Hardi tertawa kecil, lalu mengacak rambutku lembut. “Kamu ini. Meski belum keramas, rambutmu tetap wangi, kok. Kamu selalu wangi, dalam kondisi apa pun,” katanya membuatku melayang seakan terbang ke langit ketujuh.
Kalau setiap hari diperlakukan seperti ini, bagaimana bisa melirik yang lain? Di rumah sudah ada segalanya, buat apa mencari-cari lagi?
“Ih, Mas bisa saja. Sana, ke meja makan duluan,” ucapku seraya mematikan kompor, lalu berbalik dan mendorong tubuh Mas Hardi dengan lembut.
Bukannya langsung beranjak, Mas Hardi malah menggoda dengan gaya seolah enggan berpisah. Bisa kalian bayangkan?
Tubuhnya dibuat seperti sedang ditarik seseorang, sementara tangannya diulurkan ke arahku dengan ekspresi dramatik nan sendu.
Duh, makin meleleh saja rasanya. Aku benar-benar merasa seperti wanita satu-satunya yang dicintainya. Tentu, setelah ibunya dan saudara perempuannya.
“Ah, Mas Hardi. Sudah, deh. Aku makin meleleh,” gumamku sambil menggigit ujung kuku dengan gemas—tanpa menyadari bahwa putra semata wayang kami sudah memperhatikan sejak tadi.
“Mama, Papa, kapan kita sarapan?” tanyanya datar, dengan tas punggung menggantung di bahu kanan. Ia berjalan menuju meja makan dan meletakkan tas di kursi sampingnya.
“Dek, Mas ke sana dulu, ya.” Mas Hardi pamit dan menyusul Rafael ke meja makan. Tapi sebelum pergi, ia mendekat dan mengecup keningku.
Ah, pagi-pagi sudah dapat banyak asupan gizi hati. Rasanya makin semangat menjalani hari.
“Iya, Mas.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Entah ke mana perginya kata-kata lain—mungkin ditelan kebaperanku?
Mengingat semua ini membuatku semakin melayang. Rasa sayang suamiku begitu besar. Kalau begini, rasanya aku siap memberitahunya tentang restoran yang selama ini aku kelola diam-diam. Selama ini Mas Hardi hanya tahu aku punya butik. Mungkin malam ini adalah waktu yang tepat untuk bercerita.
“Maa, masakannya sudah siap belum? Sudah siang, nih!” seru Rafael membuyarkan lamunanku. Aku pun tergagap, segera mengambil mangkuk dari rak dan memindahkan cumi balado ke dalamnya. Dengan sedikit tergesa, aku menghampiri mereka di meja makan.
“Nah, Mama masak ini. Kesukaan kalian berdua,” ucapku sambil menyendokkan cumi ke piring suamiku. Sementara Rafael justru membalik piringnya, mengambil nasi dan beberapa potong ayam goreng kiriman dari Sania, adik iparku.
“Lho, Fael. Kamu nggak makan cumi?” tanyaku heran. Biasanya dia paling semangat jika ada cumi—dimasak apa pun pasti habis. Tapi kali ini, kenapa malah memilih ayam goreng yang sebenarnya tidak terlalu dia suka?
“Enggak, Ma. Lagi bosan. Aku nggak mau sama kayak Papa,” jawabnya datar.
Aku mengerutkan dahi. Bukankah biasanya dia bangga disebut mirip ayahnya? Kenapa sekarang malah menjauhi?
Kulirik Mas Hardi yang tampak tenang saja mendengar ucapan itu. Ada apa dengan mereka? Biasanya, mereka berdua sangat bangga disebut serupa. Tapi kali ini, ada yang berbeda. Apa yang sebenarnya terjadi?
Terlalu banyak pertanyaan melintas di kepala, sampai-sampai aku belum sempat mengambil makanan untukku sendiri.
“Dek, kamu nggak makan?” tanya Mas Hardi, menyadarkanku dari lamunan. Aku tersenyum kikuk.
“Belum ah. Nanti saja, aku belum lapar.”
Mas Hardi mengangguk, lalu melanjutkan sarapan. Namun, gerakannya terlihat tergesa setelah melirik ponselnya.
“Ada apa, Mas?” tanyaku menyadari gelagat anehnya. Dia hanya menggeleng dan segera menghabiskan makanannya. Dari ekor mataku, kulihat tangan Rafael terkepal erat. Ia tampak marah, entah kepada siapa.
“Fael, cepat habiskan. Setelah itu, berangkat bareng Papa, ya, Nak.”
Rafael menggeleng, lalu menyelesaikan makanannya, berdiri, dan mengambil tas dari kursi.
“Enggak usah, Ma. Aku naik angkot atau bus saja. Aku berangkat dulu,” ucapnya datar sambil mencium punggung tanganku, lalu pergi.
“Aku juga berangkat dulu, ya. Ada urusan penting yang harus diselesaikan,” ucap Mas Hardi. Ia berdiri, mendekat, lalu mencium keningku. Aku membalas dengan mencium punggung tangannya, tanda hormat seorang istri.
“Hati-hati, Mas.” Begitulah ucapan perpisahan kami pagi ini. Mas Hardi pun berangkat ke yayasan tempatnya bekerja, sementara aku membereskan meja makan dan segera naik ke kamar.
Setelah mengambil handuk, aku masuk ke kamar mandi. Baju ganti sudah tersedia di dalam lemari, jadi aku tinggal berganti dan keluar dengan gaun berbeda.
Tak butuh waktu lama, aku sudah mengenakan kemeja putih dan rok selutut warna krem. Rambut yang tidak basah dibiarkan tergerai. Aku menyambar tas dan mengenakan sepatu hak krem.
Saat hendak memutar kenop pintu, sudut mataku menangkap ranjang yang belum rapi. Karena risih, aku menghampiri dan merapikannya. Seprai dan selimut kubenahi, lalu kuatur bantal milik Mas Hardi yang posisinya miring.
Saat merapikan bantal bermotif batik itu, aku melihat sesuatu menyembul dari dalam sarungnya. Tampaknya selembar kertas, atau mungkin foto. Tapi jika tidak penting, mengapa disimpan di sini?
Karena penasaran, aku mengambilnya. Ternyata sebuah foto berukuran 8R, terlipat hingga gambarnya tersembunyi.
Pelan-pelan, aku membuka lipatannya. Betapa terkejutnya aku saat menyadari bahwa itu adalah foto keluarga.
Dan yang lebih mengejutkan—Mas Hardi ada di dalam foto itu.
Apa yang sebenarnya telah kamu lakukan, Mas?

authorrichh_
0 Pengikut · 2 Novel