


oleh 👑Chaotic Devil Queen👑 · 68 Bab
Di tengah kehancuran dunia yang dilanda invasi robot mematikan, Felicia, seorang gadis kecil berusia lima tahun, menyaksikan keluarganya hancur saat mencoba menyelamatkannya. Sendirian dan terluka, ia terombang-ambing di ambang putus asa hingga muncul seorang cyborg misterius yang menyelamatkannya dari maut. Siapa sosok setengah manusia setengah mesin itu, dan apa yang sebenarnya terjadi pada dunia mereka? Dalam perjalanan penuh bahaya ini, Felicia harus menemukan harapan dari kehancuran dan menjawab teka-teki besar yang mengelilinginya. Power X Maker adalah kisah tentang keberanian, kehilangan, dan secercah harapan yang muncul bahkan di saat tergelap.
Seorang gadis kecil berusia lima tahun berbaring di atas ranjang kecilnya dengan nyaman. Namanya Felicia. Rambutnya panjang bergelombang, hitam dengan beberapa helai merah muda yang membuatnya tampak unik dan imut. Ia mengenakan dress pendek merah muda, menambah kesan polos di wajah mungilnya.
"E-es klim ..." Felicia mengigau, senyum kecil muncul di bibirnya. Dalam mimpi, ia sedang menikmati es krim kesukaannya.
"E-eh? Es klimnya telbang!" gumamnya lagi, membayangkan es krim raksasa dengan sayap yang tiba-tiba melayang menjauh. Imajinasi liar seorang anak kecil yang menciptakan ketenangan sejenak.
Namun, kedamaian itu tak bertahan lama. Seorang pria dewasa berambut merah menyala masuk ke dalam kamar. Dengan wajah penuh kesedihan, ia mengangkat tubuh kecil Felicia yang masih terlelap ke pundaknya.
"Ayah! Apa yang Ayah lakukan?! Tinggalkan saja anak sialan ini di sini!" bentak seorang pemuda berambut merah. Wajahnya begitu mirip dengan pria dewasa itu, jelas mereka adalah ayah dan anak.
"Kita tidak bisa meninggalkannya, Nak! Dia adalah tanggung jawab kita," jawab pria dewasa itu, matanya berkaca-kaca. "Pergilah duluan! Selamatkan dirimu!"
"Tch!" Pemuda itu mendecak kesal, melangkah pergi sambil menggertakkan gigi. Kenapa mereka repot-repot menyelamatkan anak angkat ini? pikirnya.
namun, langkahnya terhenti.
Tangisan dan suara kehancuran menggema. Pemuda itu menoleh, wajahnya memucat melihat kedua orang tuanya tertimpa puing-puing rumah yang runtuh. Darah mengalir dari tubuh mereka, dan kaki mereka hancur tertindih reruntuhan.
Tangisan Felicia terdengar memilukan. Tubuh kecilnya terjatuh dari gendongan ayah angkatnya, terluka dan gemetar di tengah kehancuran.
“Ayah! Ibu! Apa yang terjadi?!" teriak pemuda itu dengan panik. Ia berlari kembali, mencoba mengangkat puing-puing besar yang menghancurkan tubuh kedua orang tuanya.
“Nak …” Sang ayah berbicara pelan, darah mengalir dari sudut bibirnya. Matanya menatap putranya dengan penuh kasih. “Selamatkan Felicia. Tinggalkan kami di sini. Bawa dia pergi … sekarang juga!”
“Ta-tapi, aku—”
“Tidak ada waktu!” Ibu mereka memotong dengan tegas, meski suara dan tubuhnya bergetar. “Masa depan kalian masih panjang. Pergilah sekarang, Nak!"
Pemuda itu menunduk, air matanya jatuh tanpa henti. Dunia seperti runtuh di hadapannya, tapi perintah orang tuanya jelas.
Dengan penuh rasa sakit, ia menggendong Felicia yang menangis keras, tubuh kecilnya bersimbah darah. Ia berlari sekuat tenaga, meninggalkan kedua orang tuanya yang tersenyum penuh pengorbanan.
“Ayah … Ibu …!” teriaknya di tengah tangis, langkahnya berat namun, terus maju.
“Felicia,” gumamnya lirih, tekad menyelimuti hatinya meski air mata terus mengalir. “Aku akan melindungimu. Aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan apa pun melukaimu lagi.”
"Ka-kakak ... Ayah ... Ibu ..."
Suara kecil Felicia terdengar lirih namun, penuh kepedihan. Ia meremas erat baju kakak angkatnya, matanya menatap lurus ke belakang. Dalam pandangannya, kedua orang tua angkatnya yang tertimpa reruntuhan kini dicabik-cabik tanpa ampun oleh robot-robot penghancur.
Pemuda berambut merah itu terdiam sejenak, dadanya sesak oleh rasa sakit yang tak tertahankan. Namun, ia segera mengganti posisi menggendong Felicia, menutupi mata gadis kecil itu dengan tangannya. "Jangan melihat ke belakang, Cia! Jangan!" serunya, suaranya serak oleh emosi.
Felicia menggigit bibir, tubuh kecilnya gemetar ketakutan. Tapi sebelum ia sempat memproses apa yang terjadi, kakaknya tiba-tiba tersentak. Tubuh pemuda itu terhuyung dan terjatuh keras ke tanah.
“A-aaaah!” Pemuda itu mengerang, melihat kedua kakinya hancur terkena tembakan laser. Felicia terlempar dari gendongannya, tubuh kecilnya membentur keras ke tanah.
"Huwaaa ..." Tangisan Felicia pecah. Ia merasakan sakit luar biasa dari tubuhnya yang terluka. Namun, lebih dari itu, rasa takut menyelimutinya ketika matanya menangkap sosok sebuah robot besar berjalan mendekat, langkahnya berat dan menakutkan.
“Manusia! Manusia! Hancurkan! Hancurkan!” Robot itu mengeluarkan suara serak, tatapannya dingin dan mematikan.
"Kakak ... Cia takut ..." Felicia merangkak dengan susah payah, mendekati kakaknya yang tergeletak tak berdaya. Ia memeluk tubuh kakaknya yang penuh luka, air matanya bercucuran tanpa henti.
Pemuda berambut merah itu menggigit bibirnya menahan rasa sakit. Matanya memandang ke arah kakinya yang telah putus, darah mengalir deras membasahi tanah. Tapi ia tak punya waktu untuk meratapi nasibnya. Pandangannya terfokus pada adik kecilnya yang terus menangis ketakutan.
“Sialan!” Dengan sisa tenaganya, pemuda itu meraih sebuah tong sampah beroda yang tergeletak di dekatnya. Tangannya gemetar, tapi ia memaksa tubuhnya bergerak. Ia memasukkan Felicia yang menangis ke dalam tong itu.
"Cia, dengarkan kakak!" suaranya bergetar, tapi penuh ketegasan. “Kau harus selamat!”
Pemuda itu mendorong tong sampah dengan sekuat tenaga. Roda-roda itu bergerak cepat, membawa Felicia meluncur di jalanan yang menurun. Suara angin dan tangisan Felicia bercampur, menggema di antara kehancuran.
Namun, robot itu bergerak maju hendak mengejar Felicia. Pemuda berambut merah itu mengulurkan tangannya, menggenggam kaki logam robot itu dengan seluruh kekuatannya.
“Mau membunuh adikku?” teriaknya penuh amarah. “Hadapi dulu kakaknya!”
Dengan kedua tangannya yang bergetar, ia menahan robot itu sekuat tenaga, meski tubuhnya sendiri semakin melemah. Wajahnya penuh darah dan air mata, namun, ia terus bertahan, tak peduli pada rasa sakit yang menyayat tubuhnya.
Tong sampah yang membawa Felicia semakin menjauh, meninggalkan pemuda itu dalam perjuangannya yang putus asa.
Robot itu berhenti sejenak, tatapannya dingin dan tak bernyawa. Lalu suaranya yang serak terdengar, "Bukan target. Bukan target."
Tanpa peringatan, laser melesat dari senjatanya, tepat mengenai leher pemuda berambut merah itu.
Zzrrt!
Dalam sekejap, kepala pemuda itu terpisah dari tubuhnya, melayang di udara. Waktu seperti melambat, dan kenangan dari masa lalu berkelebat dalam pikirannya yang kini kehilangan tubuhnya.
Flashback.
"Hei kau! Dasar anak miskin! Pintar juga untuk apa? Hanya buang-buang waktu!"
"Serahkan uang sakumu pada kami! Cepat!"
“Kalau tidak, kami akan memukulmu!"
Pemuda berambut merah itu dipojokkan oleh sekelompok anak-anak sekolah yang lebih besar darinya. Wajahnya penuh luka, tapi ia hanya menggertakkan gigi, menahan malu dan amarah.
Namun, sebelum pukulan pertama melayang ke arahnya, sosok kecil muncul di depan matanya.
"Felicia?! Apa yang kau lakukan di sini?!" serunya kaget.
Gadis kecil itu—Felicia—merentangkan tangannya, berdiri di antara kakaknya dan para pembully itu. "Tidak boleh! Jangan pukul Kakak!" serunya tegas, meski tubuh kecilnya gemetar.
Para pembully tertawa terbahak-bahak melihat keberanian Felicia yang seperti lelucon. "Hahaha! Anak kecil ini pikir dia pahlawan!"
"Pergi dari sini, Cia! Pulang ke rumah! Ini urusan kakak!" bentak pemuda itu, matanya melebar penuh kecemasan.
Namun, Felicia tak bergeming. Salah satu dari pembully itu mendekat sambil mencibir. "Anak kecil, kau benar-benar berani? Kakakmu sendiri saja pengecut-"
Belum sempat kalimat itu selesai, Felicia melayangkan tinju kecilnya yang penuh tenaga. Pukulan itu tepat mengenai ulu hati anak SMK itu, membuatnya tersentak ke belakang dengan wajah pucat.
"B-bos!" Salah satu anak buahnya menjerit.
"Sepertinya dia pingsan ... cepat bawa dia ke UKS!" teriak yang lain, panik.
Pemuda berambut merah itu hanya bisa terdiam. Matanya terpaku pada adiknya yang berdiri dengan tangan terkepal, wajahnya serius meski tubuh kecilnya gemetar.
Felicia menoleh padanya dengan senyum ceria, menyerahkan beberapa lembar uang receh. "Kakak, ini uang saku dari Ayah. Kakak lupa membawanya."
Pemuda itu menelan ludah, hatinya bergetar.
“Cia ...."
Kembali ke realitas.
Kepala pemuda itu terlepas dari tubuhnya, melayang di udara dengan tatapan kosong. Tapi di saat terakhir, pikirannya tertuju pada Felicia.
"Cia ...."
‘Kau memang ditemukan dari tempat sampah. Kau diselamatkan menggunakan tempat sampah pula. Tapi ingatlah satu hal,’ pikirnya, suaranya seperti bergema dalam kehampaan. “Kau adalah orang yang sangat berharga. Dengan kekuatan unikmu itu, kakak yakin... suatu hari nanti, kau akan menjadi pahlawan yang hebat.”
Di kejauhan, Felicia yang berada dalam tong sampah melihat segalanya. Matanya membelalak, tubuhnya kaku, sebelum akhirnya suara tangisnya pecah menghancurkan malam yang sunyi.
“Kakak!”
Tangis histerisnya menggema, namun, roda tong sampah terus meluncur, semakin cepat menuruni jalanan curam.

👑Chaotic Devil Queen👑
43 Pengikut · 6 Novel