Bulan merah menggantung rendah di langit Kerajaan Ardhana, seolah meneteskan cahaya seperti darah yang membasahi benteng-benteng batu raksasa. Angin malam berembus dari pegunungan berkabut, membawa aroma tanah basah yang baru diguyur hujan serta bisikan yang terdengar seperti suara orang-orang yang telah lama mati.
Di atas tembok pertahanan ibu kota, para penjaga berdiri dengan tombak terangkat. Api obor berderak diterpa angin. Tak seorang pun berbicara.
Mereka hanya memandangi Hutan Vardala di kejauhan.
Hutan purba itu biasanya tenggelam dalam kegelapan biasa. Namun, malam ini, kabut hitam merayap keluar dari sela pepohonan seperti makhluk hidup yang sedang mencari mangsa.
Lalu terdengar raungan. Panjang. Dalam. Tidak menyerupai suara binatang mana pun yang dikenal manusia.
Seorang penjaga menelan ludah. "Itu terdengar lagi. Sudah tiga malam berturut-turut."
"Jangan sebut-sebut!"
Suara dentang lonceng darurat memotong percakapan mereka. Dong! Dong! Dong!
Burung-burung malam beterbangan dari pepohonan. Dari kejauhan, kepakan sayap makhluk raksasa mengguncang udara.
Di halaman Benteng Merah, seorang pemuda menghentikan ayunan pedangnya. Napas Rizky memburu. Keringat membasahi pelipisnya meski udara begitu dingin.
Pedang latihan itu berhenti tepat di depan boneka jerami. Retak. Boneka tersebut terbelah menjadi dua.
Pelatih tua berjubah merah mengangguk pelan. "GeRizky nmu semakin tajam."
Rizky menurunkan pedangnya. "Belum cukup."
"Memang," tatapan sang pelatih mengarah ke bulan merah. "Tak pernah cukup bagi seorang calon Prajurit Merah."
Belum sempat Rizky menjawab, lonceng darurat kembali menggema. Kali ini lebih cepat. Lebih keras. Wajah para prajurit yang sedang berlatih langsung berubah tegang.
Seseorang berlari memasuki halaman. "Naga pembawa pesan dari Menara Timur!"
Semua menoleh. Makhluk bersisik hijau itu mendarat dengan napas terengah. Pada salah satu cakarnya tergantung gulungan surat yang telah berlumuran darah.
Komandan benteng segera membukanya. Raut wajahnya mengeras. "Hutan Vardala diserang."
Sunyi.
"Lima desa hilang dalam semalam."
Beberapa prajurit saling berpandangan. "Hilang? Bukan dihancurkan?"
Komandan mengepalkan surat itu. "Tidak ada mayat. Tidak ada bangunan. Tidak ada jejak. Seolah desa-desa itu tidak pernah ada."
Rizky merasakan bulu kuduknya berdiri. Pelatih tua menarik napas panjang. "Binatang Bayangan."
Nama itu membuat udara seakan semakin dingin. Tak seorang pun mengucapkannya lagi selama ribuan tahun.
***
Beberapa jam kemudian. Empat penunggang kuda melintasi gerbang utara Ardhana. Rizky berada di depan. Di sampingnya, seorang gadis berambut hitam pendek memegang tongkat kayu yang dipenuhi ukiran rune. Namanya Livia. Murid terbaik Perpustakaan Sihir Kerajaan.
Di belakang mereka ada Damar, pemanah yang hampir tak pernah meleset, serta Bram, pendekar bertubuh besar dengan perisai baja setinggi tubuh manusia.
Kabut semakin tebal. Suara air Sungai Lumina terdengar berkilauan di balik pepohonan. Cahaya kebiruan mengalir di permukaan air seperti ribuan bintang yang hanyut. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang merasa damai. Semua terlalu sunyi.
Rizky memperlambat kudanya. "Dengar!"
Mereka berhenti. Hanya suara angin. Kemudian, langkah kaki. Bukan manusia. Bukan kuda. Seperti kuku tajam menggores batu. Krek. Krek.
Damar memasang anak panah. "Arah kiri!"
Livia mengangkat tongkat. Rune merah mulai menyala. Kabut bergulung perlahan. Lalu, sesosok rusa muncul. Tubuhnya seluruhnya hitam. Matanya kosong. Bayangannya justru bergerak lebih dulu dibanding tubuhnya.
Rizky menggenggam gagang pedang. "Itu bukan rusa!"
Makhluk itu mengangkat kepala. Rahangnya terbelah hingga ke dada. Raungannya mengguncang pepohonan. Dalam sekejap puluhan mata merah menyala dari balik kabut.
Bram mengangkat perisai. "Kita dikepung!"
Binatang-binatang itu keluar satu demi satu. Serigala. Beruang. Harimau. Burung raksasa. Semuanya tersusun dari bayangan pekat dengan mata merah menyala. Mereka tidak meninggalkan jejak di tanah. Tidak mengembuskan napas. Namun, aroma darah, dan besi memenuhi udara.
Rizky mencabut pedangnya. Kilatan baja memantulkan cahaya bulan merah. "Jangan biarkan mereka menyentuh kalian!"
Raungan pertama meledak. Seekor serigala bayangan menerjang. Clang! Pedang Rizky bertemu cakar hitam. Percikan merah menyembur, bukan darah, melainkan cahaya seperti bara api. Makhluk itu terpental. Namun, tubuhnya segera menyatu kembali.
"Luka itu menutup!" seru Damar.
Livia segera merapal mantra. Rune-rune merah melayang di udara. "Api Suci!"
Ledakan cahaya merah membelah kabut. Tiga Binatang Bayangan terbakar. Jeritan mereka terdengar seperti ribuan suara manusia bertumpuk menjadi satu.
Bram menghantam seekor beruang hingga menabrak batu besar. Batu itu hancur. Namun, makhluk tersebut bangkit kembali. "Kita tidak bisa membunuh mereka!" teriak Bram.
Rizky mengatur napas. Tatapannya bergerak cepat. Lalu, ia melihat sesuatu. Di dada setiap monster terdapat simbol yang sama. Sebuah lingkaran hitam. Dengan retakan merah di tengahnya. "Serang lambangnya!" teriaknya.
Damar langsung melepaskan panah. Wus! Panah itu menembus simbol tersebut. Seekor serigala bayangan pecah menjadi serpihan asap hitam. "Berhasil!"
Pertempuran berubah. Mereka mulai mengincar lambang yang sama. Satu demi satu monster lenyap. Namun, tiba-tiba semua Binatang Bayangan berhenti bergerak. Mereka mundur serempak. Sunyi kembali memenuhi hutan.
Livia menurunkan tongkat perlahan. "Kenapa mereka pergi?"
Tidak ada yang menjawab. Kabut di depan mereka perlahan terbelah. Terlihat reruntuhan sebuah altar kuno yang tertutup akar pohon raksasa. Rune merah menyala di setiap pilar batu.
Di tengah altar berdiri sebuah gerbang hitam setinggi tiga manusia. Permukaannya seperti air yang tidak pernah tenang. Udara di sekitarnya terasa membeku. Napas mereka berubah menjadi embun putih. Di atas gerbang itu terukir kalimat dalam bahasa kuno.
Livia mendekat. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh ukiran tersebut. Ia membaca perlahan. "Ketika darah merah terakhir kembali. Gerbang Alam Bayangan akan terbuka."
Rizky merasakan dadanya berdegup semakin keras. "Itu ramalan."
Livia mengangguk pelan. "Ada bagian yang hilang."
Tiba-tiba angin berhenti. Tidak ada suara serangga. Tidak ada gemerisik daun. Hanya keheningan yang terasa terlalu berat.
Lalu, sebuah suara lirih terdengar dari balik gerbang. "Rizky ."
Pemuda itu membeku. "Itu suaraku?"
Suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih jelas. "Bukalah gerbang."
Kabut hitam mulai mengalir keluar dari celah gerbang. Di balik permukaan gelapnya, tampak siluet seorang pria berjubah panjang dengan sepasang mata merah menyala. Wajahnya tidak terlihat. Namun, kehadirannya membuat seluruh hutan seperti menahan napas.
Livia mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat. "Itu," suaranya nyaris tak terdengar. "Raja Bayangan."
Pada saat yang sama, nama sosok berjubah itu perlahan menghilang dari ingatan Bram, dan Damar. Mereka masih menatap ke arah gerbang, tapi ekspresi mereka berubah bingung, seolah sedang melihat seseorang yang tidak mampu mereka kenali.
Sementara itu, di lengan kanan Rizky , sebuah tanda merah berbentuk api tiba-tiba menyala, memancarkan panas yang membakar kulitnya, dan dari dalam gerbang, sebuah tangan hitam perlahan menjulur keluar.