


oleh Bintang Harapan ๐ ยท 35 Bab
Pasca perceraian yang pahit, Sharla berusaha tegar menjalani hidup sebagai orang tua tunggal demi membesarkan putri semata wayangnya yang membutuhkan perhatian khusus. Sebagai Ibu, Sharla berjuang demi kebahagiaan putrinya, sampai suatu hari dunia Sharla runtuh saat Emilia menjadi korban perundungan dan pelecehan yang meninggalkan luka mendalam secara fisik dan mental. Sharla menempuh jalur hukum untuk mendapatkan keadilan demi putrinya, tetapi tak di dengar. Sharla berjuang mati-matian dengan segenap jiwa raganya untuk menemukan kebenaran yang selama ini tersimpan. Akankah Sharla mampu membuat para pelaku mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatan mereka terhadap putrinya?
Pagi itu, langit menyelimuti Kota Jakarta dengan warna biru pucat, menyembunyikan matahari di balik gumpalan awan. Di dapur sebuah perumahan, suara gemerincing sendok menyentuh pinggir gelas mengiringi aroma kopi yang baru diseduh. Sharla, dengan rambut hitamnya diikat asal, memandangi kalender di dinding. Memperhatikan deadline pekerjaannya.
Pandangannya beranjak ke arah kamar, sosok tubuh mungil yang masih terlelap.
"Emilia, ayo bangun, Nak. Hari ini kamu harus berangkat sekolah." Sharla mengecup pipi tembam putrinya, sembari membuka gorden.
"Masih ngantuk, Mom," sahut bocah perempuan berkulit kuning langsat sambil menarik selimutnya.
"Ayo, jangan malas. Kemarin kita sudah berlibur. Sekarang saatnya, untuk pergi ke sekolah." Sharla tak putus asa membujuknya. Dengan malas, Emilia membuka matanya dan duduk sesaat untuk menyetabilkan tubuhnya.
"Mommy sudah menyiapkan air hangat, cepatlah mandi. Jangan sampai terlambat." Sharla mengecup pucuk kepala putrinya. Emilia menurut dan segera beranjak ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Emilia sudah siap dengan seragamnya. Namun, tersirat keraguan dari wajahnya.
"Ada apa, sayang? Apa kamu ingin membicarakan sesuatu?" Seakan-akan Sharla mampu membaca pikiran putrinya, dia pun mencoba bertanya.
"Mom, boleh nggak aku tidak masuk sekolah hari ini?" Suara kecil Emilia terdengar dari balik meja makan. Wajah bocah tujuh tahun itu tertunduk, jemarinya sibuk menggulung seragam putihnya.
Sharla menghela napas panjang, mendekati putrinya. "Emilia, sayang, kamu harus pergi sekolah. Teman-temanmu pasti sudah kangen bermain denganmu." Sharla tetap berusaha tersenyum, meskipun hatinya sedikit mencelos melihat wajah murung putrinya.
Emilia menggeleng kuat. "Mereka nggak suka aku, mereka bilang aku bicaranya aneh."
Kalimat itu seperti tamparan keras. Sharla menelan salivanya kasar, menyembunyikan kegelisahannya. "Kamu nggak aneh, Nak. Kamu istimewa. Nanti kamu bisa belajar pelan-pelan. Setelah kamu lancar bicara, mereka akan mengerti. Percaya Mommy."
Emilia hanya mengangguk kecil, sangat sulit bagi dirinya yang memiliki keterbatasan untuk beradaptasi saat belajar dan bermain dengan teman-teman sebayanya.
Keterbatasannya sebagai penderita autisme, menyebabkan, Emilia terkesan lebih lambat cara berpikirnya dibandingkan teman-temannya.
Di sekolah, Emilia sering menyendiri. Di kelas, dia lebih banyak menghabiskan waktu duduk di pojok, menjauh dari teman-temannya. Ketika anak-anak lain bercanda tawa bersama, Emilia hanya memandangi dari kejauhan. Saat dia mencoba berbicara, seringkali ejekan yang dia dapatkan.
"Emilia kamu ngomongnya kayak bayi, nggak jelas banget yang diomongin," ujar salah seorang anak di siang hari saat di halaman sekolah, membuat sekelompok anak tertawa terbahak-bahak.
Suara tawa itu seakan-akan menusuk di hatinya tetapi Emilia hanya bisa menggigit bibirnya dan menundukkan kepala menerima perlakuan mereka.
Hari berlalu terasa lambat. Ketika Emilia pulang dengan wajah terlihat pucat. Sharla yang memperhatikan langkah gontai putrinya menoleh dengan cepat.
"Kamu kenapa, Nak? Kok, pulang-pulang mukanya lemas gitu?"
Emilia menunduk ragu, lalu berbisik pelan. "Mom, aku sakit."
"Apanya yang sakit, Nak. Kepala, perut atau ...." Sharla mendekat dengan penuh kekhawatiran pada putrinya.
Emilia menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Mom. Aku merasa sakit saat buang air."
Sharla tertegun sejenak. Dia memperhatikan dengan seksama wajah putrinya tetapi tetap berpikiran positif. "Mungkin karena kamu malas makan sayuran dan buah makanya kamu susah buang air."
"Tidak, Mom. Bukan begitu." Emilia bicara sedikit lalu terdiam.
"Ya sudah, besok kita ke dokter ya," bujuk Emilia pada putrinya.
Keesokan harinya, Sharla sengaja menyempatkan diri untuk tidak ke kantor dan mengajak putrinya ke rumah sakit.
Di rumah sakit, seorang dokter wanita berwajah ramah memeriksa Emilia dengan teliti. Sharla duduk di kursi sebelah, menggenggam tangan putrinya.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter kembali duduk di belakang meja. Dokter menatap raut wajah Sharla dengan serius.
"Bu Sharla, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda." Dokter muda bernama Adelin itu menatap Sharla dengan wajah khawatir, dia juga menatap Emilia yang sibuk dengan mainannya sekilas.
"Ada apa, Dok?" Sharla mulai semakin khawatir.
"Bu Sharla, anak Ibu mengalami luka serius di area sensitifnya. Sepertinya, dia mengalami luka robek di selaput daranya," kata dokter dengan sangat serius.
"Maksud, Dokter?" Jantung Sharla semakin berdebar kencang tak sabar ingin mendengar penjelasan selanjutnya dari dokter.
Dokter menghela napas berat. "Kalau menurut perkiraan saya, sepertinya putri Anda mengalami trauma fisik. Apakah Emilia pernah mengalami pelecehan?" tanya dokter Adeline secara langsung.
Dunia Sharla seolah berhenti berputar. Kata-kata sang dokter itu menggema bagai palu yang menghantam kepalanya. Trauma fisik? Pelecehan? Sharla menatap Emilia yang sibuk dengan mainannya.
"Tidak, tidak mungkin," Sharla tergagap. Namun, rasa ragu mulai menjalar di pikirannya. "Apa yang harus saya lakukan, Dok?"
"Saya sarankan, cari tahu lebih lanjut. Perhatikan perubahan perilakunya dan coba melakukan pendekatan perlahan. Jika perlu, bicarakan pada pihak sekolah," jelas dokter itu.
Setelah bicara dengan dokter, Sharla memutuskan pulang. Di perjalanan pulang, Sharla memandangi wajah putrinya melalui kaca spion. Anak itu hanya duduk terdiam di kursinya dan pandangannya menerawang ke luar jendela.
Sesampainya di rumah, Sharla mengajak Emilia duduk di dekatnya. "Emilia, Mommy mau tanya sesuatu, apa di sekolah ada yang berbuat tidak baik padamu? Atau menyentuh kamu dengan cara yang tidak kamu suka?"
Emilia menunduk, memainkan ujung bajunya, kemudian menggeleng pelan.
"Nak, kamu boleh cerita apa saja ke Mommy. Mommy janji tidak akan marah." Sharla meyakinkan putrinya.
Namun, Emilia tetap diam dan memeluk Sharla erat-erat, seakan-akan meminta perlindungan.

Bintang Harapan ๐
11 Pengikut ยท 1 Novel