Azan Magrib berkumandang lembut dari masjid ujung gang. Suaranya bergetar pelan di udara senja, menyelinap di antara atap-atap rumah yang berdempetan rapat. Langit Ramadan sore itu berwarna jingga keemasan, tenang, seolah tak pernah menyimpan rahasia.
Heni menata tiga gelas teh hangat di atas meja kecil ruang tamu. Uapnya naik tipis, berembun di udara. Di sampingnya ada sepiring gorengan sederhana dan kurma yang ia beli dua hari lalu di pasar.
Sederhana, tetapi itu lebih dari cukup. Ia menyeka tangannya dengan kain lap, lalu melirik jam dinding.
"Lima menit lagi," gumam Heni lirih.
"Berapa, Bu? Lima menit lagi? Kok lama sekali, ya?" sambung Husna, si sulung, dengan wajah lesu.
"Sabar, Kak. Lima menit itu sebentar. Nonton TV nanti juga tidak terasa," jawab Nuaira, si bungsu.
"Ah, kamu kan tidak puasa," balas Husna.
Heni tertawa geli melihat tingkah kedua putrinya yang selalu beradu mulut, tetapi saling mencintai dan menyayangi.
Nenek Heni tiba dari pengajian sore di musala Desa Kembang.
"Assalamu'alaikum," ucap Nenek dengan senyum di wajahnya.
Kedua putri Heni merangkul paha Nenek, lalu mencium tangannya.
"Hen," panggil Nenek lembut seraya duduk menunggu waktu berbuka tiba.
"Iya, Nek?" jawab Heni yang masih menyiapkan lauk-pauk dan nasi.
"Tadi saat Nenek di musala, ada orang yang menyebut nama kamu. Nenek tidak tahu karena fokus mendengarkan kajian Pak Kiai. Saat jalan pulang, Wa Indah bilang katanya kamu ada masalah dengan tetangga sebelah?" tanya Nenek dengan nada halus.
"Masalah? Tidak ada, kok, Nek," jawab Heni seraya menalar dan mengingat.
"Oh iya. Aku komplain di grup. Soal arisan, aku tanya apakah namaku keluar berkali-kali lalu dimasukkan kembali?" jelas Heni.
"Oh iya, disebutkan soal grup itu. Ada apa memangnya?" tanya Nenek.
"Kemarin aku sempat dengar dari beberapa orang. Katanya gara-gara Wa Ami mau meminjam arisanku yang sudah keluar lalu dimasukkan lagi. Katanya aku tidak boleh meminjamkan. Aku klarifikasi di grup, Nek. Aku tanya kepada admin arisan apakah benar namaku sempat muncul dua kali. Ternyata memang benar. Itu memang kemauanku. Aku jawab iya karena aku ikut dua, Nek," jelas Heni.
"Iya, memang kamu selalu begitu dari dulu, kan?" ujar Nenek.
"Iya. Makanya aku kaget dengar gosip tidak sedap. Aku capai, tidak pegang uang sepeser pun hari ini, perut lapar, cucian banyak. Lalu dengar kabar aku dikatai sombong dan hal-hal yang aku sendiri tidak tahu. Akhirnya emosiku memuncak, Nek," keluh Heni.
"Aku akhirnya klarifikasi dan menjelaskan kepada admin serta yang lain. Mereka juga tahu," lanjutnya.
"Dari awal aku ikut dua. Satu keluar, yang satu untuk terakhir agar aku semangat mengisi dan tidak merasa seperti punya utang. Aku menabung untuk diri sendiri. Tiba-tiba ada yang bicara seenaknya karena aku tidak meminjamkan," keluh Heni lagi.
Azan Magrib kembali berkumandang. Heni menyiapkan takjil untuk anak-anak. Setelah semuanya terbagi, Heni bersiap menyantap takjilnya sendiri. Namun sebelum ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya, ponselnya berdering nyaring terus-menerus.
Heni melihat layar ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Tertera nama Farhatun. Ia mengabaikannya dan melanjutkan berbuka puasa.
Sambil memakan takjil, Heni membuka pesan yang sudah berjumlah tiga puluh lima. Isinya makian dan hinaan yang menusuk hati. Ia merasa sangat syok. Dengan tangan bergetar, ia membalas, "Astaghfirullah."
Namun Farhatun terus mengirim berbagai ancaman dan hinaan yang berdatangan tanpa henti.
"Ada apa, Bu?" tanya Husna yang melihat ekspresi wajah ibunya tegang.
"Tidak ada apa-apa. Lanjutkan makan. Ibu mau salat dulu," jawab Heni, mencoba mengalihkan perhatian putrinya.
Selesai salat Magrib, Heni melanjutkan makan. Namun suara ponsel terus berbunyi.
"Bu, jangan diladeni," ucap Husna khawatir.
Heni membaca salah satu pesan, "Angkat! Sini kalau berani!"
Tak lama kemudian, panggilan masuk kembali ke ponselnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Heni seperti biasa.
"Tidak usah sok munafik! Kamu ngomong apa kepada ibuku di grup? Dasar sok alim!" bentak Farhatun tanpa membalas salam.
Heni memejamkan mata sejenak sebelum menjawab. Ia tersenyum kecil sambil mengendalikan rasa cemas yang tiba-tiba kambuh.
"Mbak Farhatun, saya hanya klarifikasi. Saya tidak menyebut nama siapa pun di grup. Saya hanya bertanya," ucap Heni lembut.
"Bohong! Jangan pura-pura polos! Kamu ini memang haus validasi! Klarifikasi apa? Kamu sengaja membuat ibuku malu di grup. Mentang-mentang merasa paling benar!" cetus Farhatun.
"Jangan mentang-mentang bisa bicara lalu seenaknya. Kamu sudah punya dua anak, bukan? Cobalah dewasa. Jangan seperti anak kecil. Bicara seenaknya!" lanjutnya.
Heni meletakkan ponsel di atas meja makan. Ia membiarkan suara di seberang sana terus mengoceh, sementara ia melanjutkan makan. Hari itu sudah cukup berat baginya. Selain menahan lapar, ia juga harus menahan amarah dan kecewa.
"Eh, kok malah ditinggal?" teriak Farhatun ketika tidak mendapat respons.
Heni hanya menjawab, "Hmm," karena baginya diam adalah solusi saat menghadapi orang yang sedang emosi.
"Saya hanya bertanya soal nama saya yang keluar dua kali. Itu hak saya dan admin juga sudah menjawab, Mbak. Tidak ada sangkut paut dengan ibu Mbak," jawab Heni dengan nada sedikit kesal.
"Kalau kamu tidak mau meminjamkan arisan, bilang saja. Tidak usah drama klarifikasi segala. Sok suci sekali!"
Kata-kata itu terasa seperti cambuk, tajam, terbuka, dan tanpa jeda.