“Lepaskan, dia, Baskoro! Polisi sudah mengepung area ini. Jika peluru itu meledak, kamu tidak akan punya jalan keluar."
Suara Maya terdengar lantang dari balik pintu mobil yang telah terlepas engselnya. Baskoro membeku. Jemarinya yang menempel pada tuas senjata sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran bahwa rencananya yang sempurna telah terganggu oleh variabel yang tidak ia perhitungkan.
Aruna, dengan sisa tenaga yang ada, memanfaatkan keraguan itu. Dengan satu sentakan kuat, ia menendang dada Baskoro menggunakan kedua kakinya. Pria itu terhuyung ke belakang, pistolnya terlepas dan terpelanting jauh ke dalam kegelapan gang.
Tanpa membuang waktu, Maya menarik kerah baju Aruna dan menyeretnya keluar dari bangkai mobil, segera berlindung di balik tembok beton bangunan tua di dekat lokasi kecelakaan.
"Dika! Lari!" teriak Maya.
Dika, yang sudah keluar dari mobil sebelum hantaman terjadi, langsung berlari zig-zag mengikuti instruksi Maya menuju lorong sempit yang gelap.
Suara tembakan dari anak buah Baskoro kembali memecah keheningan malam, menyalak di dinding-dinding bata. Aruna tersungkur, napasnya tersengal, dadanya terasa seperti dihimpit beban gunung.
"Kita tidak bisa terus begini, Maya," isak Aruna di tengah kepulan debu.
“Mereka punya senjata, mereka punya koneksi, mereka punya segalanya. Apa keadilan itu benar-benar ada untuk orang seperti kita?"
Maya menatap Aruna dengan sorot mata yang tajam. Ia mencengkeram bahu Aruna kuat-kuat.
“Keadilan bukan sesuatu yang diberikan, Aruna. Keadilan adalah sesuatu yang kita ambil dengan paksa dari tangan orang-orang yang merampasnya. Lihat dirimu! Kamu merasa tidak adil karena hidupmu hancur? Hidupmu hancur karena kamu membiarkan orang lain menulis naskah untuk masa depanmu!”
Kata-kata itu menghantam Aruna lebih keras daripada hantaman bodi mobil tadi. Selama ini, ia selalu menganggap bahwa kepatuhannya adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab.
"Aku akan membereskannya," bisik Aruna, suaranya kini dingin dan mantap. "Bukan untuk keluarga, bukan untuk perusahaan, tapi untuk diriku sendiri."
Di balik tembok, mereka bertiga, Aruna, Maya, dan Dika, terjepit. Suara langkah kaki anak buah Baskoro semakin mendekat. Dika, yang wajahnya masih pucat pasi, menatap Aruna dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Kak," bisik Dika, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi sirene yang semakin keras. "Aku tidak pernah berniat menjualmu. Aku hanya, aku hanya takut mati."
Aruna menatap adiknya. Untuk pertama kalinya, kemarahan yang meluap digantikan oleh rasa lelah yang teramat sangat. Ia sadar, memarahi Dika tidak akan memperbaiki apa pun. Adiknya hanyalah produk dari didikan Ayah yang egois dan pengecut.
"Ketakutan adalah hal manusiawi, Dika," ujar Aruna datar. "Pengecut adalah pilihan, dan mulai hari ini, jangan harap aku akan menanggung pilihan pengecutmu lagi."
Maya memberikan isyarat agar mereka bergerak perlahan menuju saluran pembuangan air di ujung gang. Saat mereka merayap di tanah yang basah dan berbau busuk, Aruna sempat menoleh ke belakang.
Ia melihat Baskoro sedang berteriak marah kepada bawahannya karena polisi telah menutup akses jalan utama. Baskoro tampak begitu kecil, begitu rentan, ketika ia tidak lagi memiliki kekuasaan atas orang lain.
Jadi ini yang mereka takutkan, pikir Aruna. Mereka takut kehilangan kendali atas orang-orang yang mereka injak.
Setelah berjam-jam merayap dalam kegelapan lorong bawah tanah, mereka akhirnya muncul di sebuah area pemukiman padat yang kumuh, jauh dari pusat kota. Mereka terengah-engah, tubuh mereka berlumuran lumpur, mereka berhasil lolos.
***
Aruna duduk di tepi selokan, menatap pantulan wajahnya di air yang keruh. Ia melihat seorang wanita yang kehilangan segalanya, pekerjaan, keluarga, dan rasa percaya. Namun, di balik itu semua, ia melihat sorot mata yang berbeda.
Sesuatu yang selama ini terpendam di dalam dirinya, kekuatan untuk mengatakan ‘cukup’, akhirnya terbangun sepenuhnya.
“Apa rencana kita selanjutnya?” tanya Dika, suaranya memecah keheningan.
Maya mengeluarkan flash disk perak dari saku jaketnya yang kini basah kuyup.
“Data ini adalah bom waktu. Jika kita merilisnya ke media internasional, bukan hanya Baskoro yang akan tumbang, tetapi seluruh jaringan pencucian uang yang melibatkan perusahaan itu akan tersingkap. Namun, itu akan membuat kita menjadi buronan nomor satu di negara ini.”
Aruna mengambil flash disk itu. Ia menggenggamnya dengan erat.
“Biarlah. Selama ini aku hidup sebagai budak dari ekspektasi orang lain. Jika menjadi buronan adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi orang yang bebas dan jujur, maka aku siap membayarnya.”
Tiba-tiba, ponsel milik Maya yang sempat dimatikan, bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Maya mengangkatnya dengan gemetar.
“Ya?”
Suara di seberang telepon tidak langsung menjawab. Hanya ada deru napas yang berat, diikuti oleh suara tawa yang sangat dikenal Aruna. Suara Ayahnya.
“Aruna sudah bersama kalian, bukan?” Suara ayahnya terdengar dingin, jauh dari kesan pria yang sedang sekarat atau menyesal.
“Bagus. Karena ada satu hal yang belum kalian tahu tentang flash disk itu. Aruna, sayang, data yang kamu pegang sekarang bukanlah bukti kejahatan mereka. Itu adalah daftar nama-nama orang yang sudah menyetor uang ke rekening pribadimu tanpa sepengetahuanmu selama dua tahun terakhir. Jika data itu bocor, kamulah yang akan dituduh sebagai otak dari semua kejahatan ini.”
Aruna merasakan darahnya seolah membeku. Ia menatap flash disk perak di tangannya dengan tatapan horor. Maya menarik ponsel itu dari tangan Maya dan mendekatkannya ke telinganya, dan wajah Maya seketika memucat.
“Tunggu, apa maksudmu?” tanya Maya panik.
“Artinya,” jawab Ayahnya dengan nada yang sangat puas, “kalian tidak sedang memegang kartu as. Kalian sedang memegang tali gantungan kalian sendiri, dan omong-omong, polisi yang kalian harapkan datang untuk menolong? Mereka bukan datang untuk menangkap Baskoro. Mereka datang untuk menjemput kalian atas tuduhan tindak pidana pencucian uang terbesar dalam dekade ini.”
Suara sirene yang tadinya terdengar jauh, kini meraung-raung tepat di depan lorong tempat mereka bersembunyi. Puluhan lampu senter mulai menyorot ke arah mereka dari segala penjuru.
Aruna menatap flash disk di tangannya, lalu menatap Maya dan Dika. Mereka tidak lagi memiliki jalan keluar.
Jebakan itu bukan hanya menutup pintu, tapi juga mengunci hidup mereka selamanya. Aruna merasakan pistol yang tadi disimpannya di balik jaket terasa sangat berat, saat langkah sepatu laras panjang aparat keamanan semakin dekat, mengepung mereka dari kedua sisi jalan yang buntu.