Mentari pagi menyinari atap istana dengan cahaya keemasan. Burung-burung berkicau di taman, sementara embun masih melekat di dedaunan. Di balik keindahan itu, suasana kerajaan terasa tegang.
Di aula utama, para bangsawan dan rakyat berkumpul. Raja duduk di singgasananya, wajahnya muram. Di sampingnya, berdiri seorang gadis berparas lembut dengan mata sejernih embun. Dialah Hesti Fauziah Hafidz, puteri tunggal kerajaan yang dijuluki Puteri Embun.
“Yang Mulia,” kata salah satu prajurit sambil menunduk, “tadi malam Harimau Emas kembali menyerang. Dua kandang ternak hancur, dan para petani tidak berani ke sawah.”
Hening menyelimuti ruangan. Semua mata memandang ke arah raja.
“Apakah prajurit kita tidak bisa menghentikannya?” tanya raja dengan suara berat.
Prajurit itu menunduk lebih dalam. “Kami mencoba, Paduka, tapi Harimau Emas terlalu cepat, terlalu kuat. Kami hanya bisa menghalau, bukan mengalahkan.”
Bisik-bisik mulai terdengar di antara rakyat.
“Kalau begini terus, kita tidak bisa hidup tenang.”
“Harimau itu jelmaan kutukan, katanya.”
“Bahkan prajurit kalah, apa jadinya kita?”
Hesti melangkah maju, suaranya tenang, tapi tegas. “Ayahanda, izinkan hamba pergi ke hutan. Hamba ingin berbicara dengan Harimau Emas.”
Ruangan seketika gaduh.
“Tidak mungkin, Puteri!” seru seorang menteri.
“Itu terlalu berbahaya,” timpal seorang prajurit.
“Bagaimana jika puteri celaka?”
Raja mengerutkan kening. “Hesti, anakku. Apa yang kau pikirkan? Harimau itu bukan hewan biasa. Ia buas, ia ganas, dan bisa mencabik siapa saja.”
Hesti menatap ayahandanya dengan penuh keyakinan. “Ayahanda, setiap amarah pasti ada sebab. Harimau tidak menyerang tanpa alasan. Biarlah hamba mencari tahu, mengapa ia mengganggu desa kita.”
Raja terdiam. Hati seorang ayah ingin melindungi, tapi wajah puterinya menyiratkan keberanian yang tak bisa dipadamkan.
Seorang rakyat tua berdiri dengan tubuh gemetar. “Ampun, Paduka mungkin Puteri benar. Hutan itu dulu tempat sakral. Bisa jadi Harimau Emas marah karena ada yang merusak.”
Bisikan kembali memenuhi aula. Ada yang setuju, ada pula yang ragu.
Raja menarik napas panjang. “Hesti, kalau itu memang tekadmu, kau tidak boleh pergi sendiri. Setidaknya bawa beberapa pengawal.”
Hesti menggeleng pelan. “Jika hamba datang dengan pedang, Harimau akan melihat hamba sebagai musuh. Biarkan hamba pergi seorang diri. Bukankah embun turun dengan lembut, bukan dengan teriakan?”
Semua terdiam mendengar perumpamaan itu.
***
Beberapa jam kemudian, di taman istana, Hesti duduk di bangku batu sambil menatap kolam teratai. Ia bergumam dalam hati, Apakah benar aku sanggup? Atau ini hanya keberanian yang lahir dari kepolosan?
Langkah kaki mendekat. Ternyata sahabat masa kecilnya, Arya, seorang prajurit muda.
“Hesti, kau benar-benar ingin pergi?” tanya Arya cemas.
Hesti tersenyum samar. “Arya, aku tidak bisa tinggal diam melihat rakyat ketakutan. Jika aku hanya bersembunyi di balik dinding istana, apa gunanya aku disebut Puteri?”
Arya menggenggam gagang pedangnya dengan resah. “Kalau begitu izinkan aku ikut. Aku tidak akan mengangkat senjata, hanya berjaga dari jauh.”
Hesti menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Arya, terima kasih, tapi aku ingin membuktikan bahwa kelembutan bisa lebih kuat daripada pedang. Kau percaya padaku, bukan?”
Arya terdiam, lalu menghela napas. “Aku percaya, tapi janji, kau akan kembali dengan selamat.”
Hesti menatapnya lembut. “Aku janji.”
***
Sore itu, Hesti mengenakan jubah sederhana, meninggalkan mahkota dan segala perhiasan. Ia hanya membawa sebotol air, sepotong roti, dan kalung kecil pemberian ibunya yang sudah tiada.
Langkahnya mantap menuju hutan. Angin berembus lembut, tapi hawa di dalam hutan terasa berbeda. Daun-daun berdesir seakan berbisik.
“Siapa yang berani masuk ke wilayahku?” Suara berat itu menggema, entah dari mana asalnya.
Hesti terhenti. Ia menoleh ke kanan-kiri, dan tak ada siapa pun.
“Aku Hesti Fauziah Hafidz,” katanya mantap. “Aku datang bukan untuk melawan, tapi untuk mendengar.”
Tiba-tiba, dari balik pepohonan, muncullah seekor harimau besar dengan bulu berkilau keemasan. Matanya tajam, suaranya menggetarkan tanah.
“Manusia kalian serakah! Kalian menebang pohon, mengeringkan sungai, merampas tanah kami! Apa lagi yang kalian inginkan?”
Hesti menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Namun, ia melangkah maju, tatapannya penuh keberanian.
“Jika benar rakyatku yang bersalah, maka biarkan aku yang memperbaikinya. Jangan hukum mereka dengan ketakutan. Katakan padaku, apa yang membuatmu marah, Harimau Emas?”
Harimau itu mendengus keras, lalu menatapnya dalam-dalam. Seolah ingin menguji apakah kata-kata puteri itu tulus atau sekadar tipuan manusia.
Hutan kembali hening. Hanya desiran angin yang terdengar, membawa aroma tanah basah dan rahasia yang belum terungkap.
Hesti pun menyadari, inilah awal dari teka-teki besar yang harus ia pecahkan.
***
Harimau Emas melangkah maju. Tanah bergetar setiap kali cakarnya menjejak bumi. Sorot matanya berkilat, seakan bisa menembus hati siapa pun yang menatapnya.
“Puteri kecil,” desisnya, suaranya seperti gemuruh jauh di langit. “Kau berani berdiri di hadapanku tanpa senjata? Apakah kau tidak takut?”
Hesti menahan degup jantungnya. Ia menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara lembut, “Takut itu wajar, tapi aku lebih takut jika harus hidup tanpa kebenaran. Jika aku mundur, rakyatku akan terus hidup dalam bayang-bayangmu. Maka biarlah aku yang melangkah.”
Harimau Emas mendengus, mengeluarkan suara berat. “Kata-katamu berbeda dengan manusia lain. Mereka datang dengan tombak dan panah, bukan dengan hati.”
Hesti menunduk sejenak, lalu menatap lurus ke mata binatang besar itu. “Mungkin karena mereka tidak tahu. Ajari aku, agar aku bisa mengerti amarahmu.”
Tiba-tiba angin kencang berembus, dedaunan berputar di sekeliling mereka. Hesti merasakan hawa aneh, seolah pepohonan ikut bernapas.
“Jika kau benar ingin tahu,” ujar Harimau Emas, suaranya lebih rendah dan tetap menggetarkan, “ikuti jejak sungai ini hingga hilirnya. Kau akan menemukan jawaban, meski kebenaran itu bisa membuatmu ragu pada bangsamu sendiri.”
Hesti terdiam. Ia menoleh ke arah aliran sungai yang membelah hutan. Airnya tampak keruh, berwarna kecokelatan, jauh dari jernih seperti biasanya.
Dalam hatinya ia bergumam, Apa yang sebenarnya terjadi di hutan ini? Mengapa air sungai begitu keruh?
Hesti melangkah mendekat ke tepi sungai. Ia mencelupkan telapak tangannya, merasakan air yang dingin dan berbau aneh. “Air ini tidak wajar. Apa yang telah terjadi di hulu?”
Harimau Emas mengangkat kepalanya, tatapannya tajam. “Itulah tugasmu untuk mencari tahu. Aku hanya memberi jalan. Ingat, puteri semakin dekat dengan kebenaran, semakin besar pula bahaya yang akan datang.”
Suara itu menghilang seiring hembusan angin. Sekejap saja, Harimau Emas lenyap di antara bayangan pepohonan, seakan ia hanyalah ilusi.
‘Hesti menatap kosong ke arah hutan yang kembali tenang. Dia benar-benar ada atau hanya bayangan yang menguji hatiku?’ batinnya.