Langit Aerithia berpendar biru pucat, seakan menyimpan rahasia ribuan tahun di balik awan-awan tipis yang tak pernah hujan. Di atas tanah kristal yang sejuk, di antara menara-menara perak yang menjulang seperti mata tombak para dewa, seorang gadis berdiri dengan mata terpejam dan tangan menggenggam sesuatu yang berat.
“Tarik napasmu, Bintang. Rasa takut itu hanya bayangan dari pikiranmu sendiri.” Suara Lirien, pelatih utamanya, terdengar pelan dan tegas di belakangnya.
Puteri Bintang membuka matanya perlahan. Matanya berwarna perak muda, bening seperti danau tak tersentuh. Ia memandang perisai yang menempel di lengannya—bulat, berukir rasi bintang, dan tampak terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang ramping, tapi ia tak mundur.
“Aku sudah siap,” ucap Bintang, suaranya masih ragu, tapi matanya bersinar.
Lirien tersenyum kecil, menyilangkan tangan di depan dada. “Kalau begitu, tunjukkan padaku.”
Bintang melangkah ke tengah arena latihan. Kakinya menyentuh permukaan yang dingin, dan setiap langkah ia ambil dengan penuh kehati-hatian. Satu … dua dan ia menyesuaikan posisi. Tangan kanannya memegang gagang perisai, tangan kirinya terbuka—siap menyeimbangkan gerak tubuh.
Lirien memberi isyarat cepat dengan dua jari.
Dari sisi kanan arena, sosok berzirah perak meluncur cepat dengan pedang kayu. Bintang terkejut, tapi ia memutar tubuhnya refleks. Perisai diangkat, dentuman keras terdengar dan tubuhnya terdorong ke belakang.
“Aduh,” desahnya, sedikit limbung.
“Kamu terlalu lambat membaca arah serangan. Gunakan telingamu, bukan matamu saja!” seru Lirien. “Dengar napas musuhmu, bukan langkahnya.”
Bintang menggigit bibir. “Aku tidak tuli, Lirien. Aku hanya belum terbiasa.”
“Musuhmu tidak akan memberimu waktu untuk terbiasa.”
Bintang menarik napas panjang. Ia memejamkan mata sepersekian detik. Hening. Ia mendengar deru langkah dari sisi kiri sekarang lebih cepat, lebih berat. Ia bergeser, perisai mengarah ke arah suara itu.
Braaak!
Serangan kedua membentur perisainya, tapi kali ini ia tetap berdiri. Kakinya sedikit terseret, dan tubuhnya tak jatuh. Ia membuka mata.
“Aku berhasil,” gumamnya, hampir tak percaya.
“Belum,” kata Lirien dingin. “Pertarungan belum selesai.”
Penyerang ketiga melompat dari atas tiang kayu, menebas dari atas kepala. Bintang mendongak. Tubuhnya bergerak reflek, memutar ke kiri, perisai diangkat diagonal—menangkis dan mendorong balik.
“Ha!” serunya spontan. “Aku bisa!”
Lirien mendekat sambil menyimpan pedang kayu ke punggung. Ia menepuk pundak gadis itu.
“Sekarang kau hanya bisa bertahan. Hari itu akan datang, ketika kau harus menyerang. Itu bukan sekadar latihan, Bintang.”
Bintang menunduk. Napasnya masih belum teratur.
“Aku tahu, tapi kenapa kita berlatih melawan ancaman yang tak pernah datang?”
Lirien terdiam sejenak. Angin Aerithia berdesir pelan, membawa aroma bunga telara yang tumbuh di sisi utara istana langit.
“Ada hal-hal yang tidak bisa kau lihat dari tempat ini, tapi takdir tidak peduli kau siap atau tidak. Ia datang seperti badai. Saat itu tiba, hanya mereka yang punya nyali yang bisa berdiri.”
Sore menjelang malam. Langit Aerithia berubah jingga keemasan. Di balkon menara istana, Bintang duduk sendiri, menatap dunia bawah yang tampak seperti kabut samar dari kejauhan.
“Dunia manusia, seperti apa rasanya hidup di sana?” tanyanya pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Ada rasa lapar, dingin, juga kehilangan,” jawab suara tua dari belakang.
Bintang menoleh. Kakeknya, Raja Agalon, berdiri sambil membawa tongkat kristal.
“Ada hal-hal yang tidak bisa kau temukan di sini,” lanjutnya. “Keberanian. Harapan, dan cinta yang tidak dilindungi hukum langit.”
Bintang menelan ludah. Ia tidak tahu kenapa dada kirinya terasa berat tiap kali membayangkan bumi.
“Aku bermimpi tentang dunia itu, Kakek, tapi di sana langitnya gelap, dan aku selalu berlari.”
Raja Agalon tersenyum tipis. “Mimpi adalah cermin jiwa. Mungkin sudah waktunya kau mencari tahu apa yang membuatmu berlari.”
Bintang diam, tapi matanya tetap menatap ke arah yang sama.
Ia tahu dalam dirinya ada sesuatu yang memanggil. Entah itu panggilan bumi atau suara dari dalam hatinya sendiri, ia belum bisa memastikan.
Yang pasti, ia mulai merasa, tempatnya bukan lagi hanya di langit.
***
Bintang masih duduk membisu di balkon ketika suara langkah kaki mendekat perlahan. Langkah itu ringan, tapi teratur, seperti bunyi hujan pertama yang jatuh di atas kaca.
“Aku tahu kau ada di sini,” ujar suara lembut itu.
Bintang menoleh. Seorang gadis berambut keemasan berdiri di ambang pintu, membawa dua cawan kecil berisi cairan hangat yang mengepul.
“Silvara?” tanya Bintang, tersenyum kecil.
“Siapa lagi yang mau menyusulmu ke tempat sedingin ini selain aku?” jawab Silvara sambil duduk di sampingnya, menyerahkan satu cawan. “Minumlah. Ini racikan bunga telara dan jahe langit.”
Bintang menerimanya, menghirup aromanya sebentar, lalu menyeruput pelan. Hangatnya langsung menyebar ke dada.
“Terima kasih.”
Silvara melirik ke arah cakrawala. “Jadi, masih memikirkan dunia bawah?”
Bintang hanya mengangguk.
“Aku tahu kau selalu penasaran, tapi kau juga tahu apa yang terjadi jika kau nekat turun,” lanjut Silvara, suaranya kali ini lebih serius. “Hukum Aerithia tidak berubah hanya karena kita ingin tahu rasanya menjadi manusia.”
Bintang menunduk, lalu bergumam, “Kalau mereka tak pernah turun, bagaimana mereka tahu kita lebih baik?”
“Kita bukan lebih baik,” Silvara menghela napas. “Kita hanya berbeda.”
Hening sejenak. Angin kembali bertiup. Bintang memejamkan mata, membiarkan udara sore menyentuh kulit wajahnya.
“Aku melihat sesuatu hari ini,” bisiknya.
Silvara menoleh. “Apa?”
“Saat aku bertarung di arena tadi. Saat aku menangkis serangan ke tiga itu untuk sesaat, aku merasa seperti bukan aku. Seperti aku pernah melakukannya sebelumnya, tapi bukan di tempat ini.”
Silvara menyipitkan mata. “Kau yakin itu bukan karena terlalu banyak minum teh akar bintang kemarin?”
Bintang tertawa kecil. “Aku serius, Sil. Rasanya nyata. Ada suara dalam kepalaku dan mengajari aku bagaimana harus bergerak.”
Silvara diam. Ia mengenal Bintang terlalu baik untuk mengabaikan perasaan semacam itu. Walau baginya dunia bawah hanyalah tempat kelabu penuh kekacauan, ia tahu bahwa sahabatnya menyimpan sesuatu yang berbeda—sesuatu yang bahkan Aerithia sendiri belum mengerti.
“Kau tahu,” ujar Silvara pelan, “beberapa penjaga tua percaya bahwa roh para pejuang langit hidup kembali dalam tubuh baru.”
Bintang menatapnya. “Kau pikir aku semacam reinkarnasi?”
Silvara mengangkat bahu. “Entahlah, tapi tidak ada yang mustahil bagi langit, bukan?”
Malam turun seperti tirai beludru hitam bertabur cahaya. Di ruang arsip istana, tempat yang jarang dikunjungi kecuali oleh para pelajar tua, Bintang menelusuri rak demi rak.
Ia membawa lentera kecil berisi api biru, dan dalam diam, membaca nama-nama yang terukir pada gulungan emas. Ia mencari sesuatu. Entah itu jawaban, atau sekadar petunjuk.
“Putri Bintang.” Suara berat memecah keheningan.
Ia menoleh cepat. Seorang pria tua dengan jubah putih panjang berdiri di ambang pintu. Janggutnya menyentuh dada, dan tongkatnya berhiaskan simbol bintang bersayap.
“Penatua Solen.” Bintang menunduk sopan.
“Kau mencuri waktu malam untuk membaca catatan terlarang?” tanyanya, tidak marah, hanya penasaran.
“Aku tidak mencuri. Aku mencari,” jawab Bintang.
Solen melangkah pelan ke dalam. “Mencari apa?”
“Siapa aku sebenarnya.”
Solen berhenti. Matanya mengamati gadis itu dengan seksama.
“Apa yang membuatmu meragukan dirimu, Putri?”
Bintang menggenggam lentera lebih erat. “Mimpi. Suara dalam benak. Gerakan yang bukan berasal dari latihan. Seperti aku adalah seseorang yang belum pernah kuingat.”
Solen menghela napas panjang. Lalu ia menunjuk ke rak paling atas, jauh di sudut.
“Gulungan itu. Buka dan baca.”
Bintang meraih tangga kecil, menaikinya dengan hati-hati, dan menarik satu gulungan berlapis perak. Di permukaannya tertulis:
“Perisai Pertama: Lahirmu, Wahyuku.”
Saat ia membuka gulungan itu, huruf-hurufnya bercahaya pelan. Tinta emas membentuk gambar seorang perempuan muda dengan perisai besar, berdiri sendirian di atas puing-puing medan perang.