


oleh Nenghally · 118 Bab
"Aku harus membesarkan anakku sendiri." Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan berubah dalam satu malam. Malam yang seharusnya menjadi kenangan singkat berubah menjadi awal dari tanggung jawab besar dalam hidupku. Pria itu—yang kupikir akan hilang begitu saja dari hidupku—muncul kembali sebagai CEO di kantorku. Kehadirannya membawa kekacauan, bukan hanya di pekerjaanku tetapi juga dalam hatiku. Bisakah aku menjaga jarak darinya demi melindungi anakku? Atau haruskah aku menghadapi masa lalu dan menerima kenyataan yang tak terhindarkan? Ini bukan hanya tentang cinta, tetapi tentang pilihan seorang ibu untuk masa depan anaknya.
"Aku butuh minuman lagi."
Suaraku terdengar serak saat aku menyandarkan punggung ke kursi, mencoba meredakan panas yang menjalar di tubuh. Malam ini terasa terlalu panjang, dan aku sudah terlalu banyak menenggak champagne.
Di depanku, sahabatku yang baru saja menikah, Nina, hanya tertawa sambil menggoyangkan gelasnya. Dia tampak bahagia, sementara aku … aku butuh lebih dari sekadar minuman untuk melupakan semua kepenatan ini.
"Tenang saja, Dara. Kamu harus menikmati malam ini," kata Nina sambil melambai ke arah suaminya yang sedang dikelilingi tamu-tamu lain. "Bukannya kamu yang selalu bilang hidup cuma sekali?"
Aku mengangguk setengah hati. "Tapi aku tidak pernah bilang hidup cuma sekali untuk dihancurkan oleh pesta pernikahan, kan?"
Nina tertawa, menepuk bahuku sebelum kembali ke lantai dansa. Musik mulai mengalun lebih keras, dan tamu-tamu di sekitarku berangsur-angsur berpindah ke tengah ruangan. Aku, di sisi lain, justru merasa lebih nyaman tenggelam dalam kesendirian.
“Cukup banyak minum untuk malam ini?”
Suara rendah dan tenang itu menyentakku keluar dari lamunan. Aku menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di sebelahku, matanya menatap lurus padaku dengan tatapan intens yang membuatku langsung merasa gugup.
Dia tampan, terlalu tampan, dengan rahang tegas dan mata yang memancarkan misteri. Dasi hitamnya sudah dilonggarkan, memberikan kesan santai yang bertolak belakang dengan suasana formal malam ini.
“Aku baik-baik saja,” jawabku pelan, sedikit tergagap, mencoba bersikap biasa saja. "Lagi pula, ini malam yang panjang."
Dia tersenyum tipis. “Sepertinya kamu butuh lebih dari sekadar minuman untuk menikmati malam ini.”
Tangannya mengisyaratkan pada bartender, memesan dua gelas champagne tanpa meminta persetujuanku. Aku diam saja, tak kuasa menolak saat dia menyodorkan gelas itu kepadaku.
Jemari kami bersentuhan singkat, dan sentuhan itu, walau hanya sekejap, memicu aliran panas yang tidak bisa kuabaikan.
“Aku Lucas,” katanya, matanya tetap terkunci pada mataku.
“Dara,” jawabku, merasa aneh bagaimana hanya namaku yang terucap terdengar lebih berarti dari biasanya.
Kami berbincang untuk beberapa saat, obrolan ringan yang terasa lebih intim dari seharusnya. Ada sesuatu pada pria ini, sesuatu yang menarikku dengan cara yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Setiap kata yang dia ucapkan terasa memikat, setiap senyumnya membuat suasana di antara kami semakin mendebarkan. Aku bisa merasakan jarak di antara kami semakin dekat, dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghentikannya.
"Apa kamu mau keluar dari sini?" Lucas akhirnya bertanya, suaranya lebih pelan dan lembut.
Aku mengangguk, tanpa benar-benar berpikir. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang tidak bisa kutolak, sesuatu yang membuatku ingin melarikan diri dari kenyataan malam ini.
Darinya, dan dari diriku sendiri.
Kami berjalan bersama menuju lift, dan saat pintu tertutup di belakang kami, suasana menjadi lebih pekat.
Lucas berdiri di dekatku, terlalu dekat. Ketika lift berhenti di lantai atas, aku mengikutinya keluar, langkahku terasa berat dan penuh harap.
Pintu kamar terbuka, dan begitu tertutup di belakang kami, atmosfer berubah. Suara dunia luar menghilang, dan yang tersisa hanya detak jantungku yang semakin tak beraturan.
"Apa kamu sering merasa seperti ini?" tanyanya, hampir berbisik.
"Seperti apa?"
"Seolah-olah kamu sedang berada di tengah keramaian, tapi tetap merasa sendiri."
Aku menatapnya, terkejut dengan bagaimana dia bisa menangkap apa yang kupikirkan tanpa aku mengatakannya.
Waktu seolah berhenti saat aku larut dalam tatapan dan senyumnya. Entah bagaimana, aku tidak lagi merasa ragu saat Lucas mendekat, membiarkan jarak di antara kami perlahan menghilang.
Lucas tidak terburu-buru. Tangannya menyentuh pipiku dengan lembut, memberi jeda untukku menarik napas.
Bibirnya menyentuh milikku dengan penuh hati-hati, seperti memastikan bahwa aku sepenuhnya nyaman. Setiap sentuhan itu terasa seperti api yang menyala, membakar setiap inci kulitku.
"Lucas …." Suaraku hampir tak terdengar, tapi aku tak tahu apa yang ingin aku katakan.
Aku merasakan napasku yang tersendat-sendat, seolah-olah aku baru saja lupa cara bernapas. Tanpa kusadari, kami bergerak menuju tempat tidur. Lucas mendorongku perlahan ke kasur, tubuhnya yang hangat menimpaku.
"Tidak apa-apa," bisiknya, suaranya rendah dan serak, penuh dengan ketegangan.
Jari-jarinya perlahan membuka kancing di bagian atas gaunku, dan udara dingin langsung menyentuh kulitku yang terbuka.
Tapi rasa dingin itu langsung lenyap saat tangannya mengusap lembut di sepanjang punggungku, menciptakan gelombang kehangatan.
Aku tidak bisa berpikir. Hanya bisa merasakan.
“…”
“…”
"Ah, kepalaku sakit sekali ...," desahku pagi itu.
Aku terbangun dengan kepala terasa berat, seolah seluruh dunia berputar. Cahaya mentari yang masuk melalui celah tirai terasa terlalu terang, menusuk mataku.
Aku mencoba mengumpulkan kesadaran, tetapi tubuhku terasa lemas, dan setiap gerakan membuat jantungku berdebar kencang.
Lalu aku menyadari sesuatu yang sangat salah.
"Apa yang terjadi?" gumamku pelan, suara serak keluar dari bibirku.
Aku terbaring di atas kasur yang tidak aku, hanya selimut tipis yang menutupi tubuhku. Kembali, aku berusaha keras mengingat, siapa yang bersamaku tadi malam?
Semua terasa kabur, seperti mimpi yang tak jelas, hanya potongan-potongan gambar yang tidak bisa disatukan.
Kepalaku berputar, dan saat kuangkat tubuhku, aku merasa seperti baru saja menjalani maraton. Di sekeliling, semuanya terlihat asing.
Pakaianku berserakan di lantai. Gaun malamku yang elegan tampak kusut dan tergeletak begitu saja di sudut ruangan.
"Dara, tenanglah," bisikku pada diri sendiri, menarik selimut lebih erat di tubuhku. "Kamu pasti bisa ingat."
Kemudian, aku teringat. Nama itu muncul di pikiranku seperti kilat.
"Lucas," sebutku pelan, mencernanya dalam pikiranku.
Segala sesuatu tentangnya, wajahnya yang tampan, mata gelapnya yang intens, senyumnya yang memikat, semua mengalir dalam ingatanku. Tapi apa yang terjadi setelah itu? Kami berbicara, kami minum … tetapi potongan-potongan itu terasa samar.
Di saat itu, ponselku berdengung di meja samping tempat tidur, menyela lamunanku. Aku meraihnya dengan tangan gemetar, membuka layar dan melihat pesan dari Nina.
"Bagaimana pagi ini? Jangan bilang kamu mabuk berat tadi malam! LOL."
Kedua alisku berkerut melihat pesan itu, membuatku teringat betapa Nina selalu cemas. Mungkin dia bisa membantuku mengingat lebih banyak.
Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri, tapi dadaku terasa sesak.
Begitu jari-jariku ingin mengirimkan pesan, suara ketukan terdengar dari pintu kamar. Jantungku berdegup kencang.
Aku menarik selimut lebih erat ke tubuhku, mencoba menenangkan diri, lalu menjawab dengan suara sedikit bergetar.
"Siapa di sana?"
"Room service, Nona. Saya mengantar sarapan yang dipesan ...."
Aku mengernyit. "Aku tidak memesan sarapan," gumamku pelan. Tapi dengan perlahan, aku bangkit dari tempat tidur, memastikan selimut masih menutupi tubuhku.
"Saya letakkan di depan pintu, Nona." Suara itu kembali terdengar dari luar, sopan dan tenang.
Aku menunggu sampai langkah pelayan itu terdengar menjauh sebelum akhirnya membuka pintu sedikit, cukup untuk melihat nampan dengan tutup perak di atasnya. Dengan cepat, aku menarik nampan itu ke dalam kamar dan mengunci pintu lagi.
Saat aku membuka tutup nampan, aroma kopi hangat menyapa hidungku, tetapi perhatianku langsung tertuju pada amplop kecil yang tergeletak di samping piring.
Amplop itu tanpa nama, hanya warna putih polos dengan ujung yang sedikit terlipat.
Jari-jariku gemetar saat mengambil amplop itu dan membukanya.
"Selamat pagi, Dara. Aku harus pergi lebih awal, tapi aku pastikan kamu baik-baik saja sebelum aku pergi. Hubungi aku jika butuh sesuatu. Lucas."
Jantungku mencelos. Pesan itu singkat, tapi cukup untuk menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Aku memejamkan mata, mencoba menggali memori malam sebelumnya. Percakapan kami, sentuhan, ciuman … tetapi setelah itu semuanya menjadi kabur. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan mengapa aku merasa seperti orang asing di tubuhku sendiri pagi ini?

Nenghally
88 Pengikut · 18 Novel