"Kapan terakhir kali matahari menyapa lantai gudang ini, ya?"
Kiko bergumam sendiri. Suaranya memantul pelan di antara tumpukan peti kayu yang berdebu. Ia tidak sedang berbicara dengan siapa pun, kecuali pada sepasang sepatunya sendiri, atau lebih tepatnya, pada bayangannya yang memanjang di lantai kayu yang mulai melapuk.
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang terasa berat, seolah-olah waktu telah berhenti berdenyut di dalam bangunan besar ini puluhan tahun lalu.
Kiko adalah seekor kucing jantan dengan bulu cokelat loreng yang tebal. Ia memiliki sepasang mata bulat berwarna madu yang selalu tampak jeli, sorotnya kini lebih sering meredup karena rasa sepi yang akut.
Gudang itu bukanlah tempat yang buruk jika seseorang menyukai ketenangan. Bagi Kiko, tempat ini adalah sebuah kerajaan luas yang menyimpan ribuan cerita di balik lapisan debu yang menari-nari saat diterpa cahaya remang dari celah atap.
Ia melompat ke atas sebuah kotak kayu yang sudah tua, lalu perlahan berjalan menyusuri rak-rak buku yang telah miring termakan usia. Baginya, gudang ini bukan sekadar tumpukan barang rongsokan.
Ini adalah perpustakaan pribadi, ruang pameran sejarah yang ditinggalkan pemiliknya, dan tempat persembunyian yang paling aman dari kebisingan dunia luar. Namun, hari ini, kesunyian itu terasa berbeda.
Ada sesuatu yang menusuk di hatinya, sebuah rasa hampa yang tidak bisa diisi oleh buku-buku tua yang sudah ia baca berkali-kali.
Kiko menghela napas, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tumpukan koran usang yang tergelar di sudut favoritnya. Ia melipat kaki depannya dengan rapi, matanya menatap langit-langit gudang yang dihiasi oleh jaring laba-laba yang rumit.
Ia teringat masa kecilnya, masa di mana gudang ini ramai oleh suara tawa manusia dan denting peralatan tukang yang sibuk bekerja. Sekarang, yang tersisa hanyalah aroma kayu lapuk, kertas tua yang menguning, dan dirinya sendiri.
"Mungkin aku memang ditakdirkan untuk menjadi penghuni satu-satunya," gumamnya lagi.
Ia memejamkan mata, mencoba membayangkan jika ada seseorang, atau sesuatu, yang bisa diajak berbagi isi kepalanya. Seekor kucing lain mungkin akan sibuk mengejar tikus atau menandai wilayah. Namun, Kiko berbeda.
Ia merasa pengejaran semacam itu hanyalah pemborosan energi yang tidak bermakna. Ia lebih memilih untuk merenung, memikirkan filosofi kehidupan yang ia temukan dari potongan-potongan artikel di koran lama, atau sekadar menikmati ritme detak jantungnya sendiri di tengah keheningan.
Tiba-tiba, telinganya yang tajam menangkap suara yang ganjil.
Kriet, kriet.
Itu bukan suara derit kayu tua yang terkena angin. Itu adalah suara gesekan logam yang ritmis, pendek, dan sangat berhati-hati.
Kiko membuka matanya perlahan. Pupil matanya membesar, menangkap setiap pergerakan sekecil apa pun di sudut ruangan. Ia tidak merasa terancam, melainkan penasaran. Ia belum pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya di dalam wilayah kekuasaannya.
Ia berdiri, bulunya sedikit berdiri tidak karena takut, melainkan karena waspada. Dengan langkah kaki yang sangat tenang, nyaris tanpa suara, ia merayap mendekati sumber bunyi tersebut.
Ia melewati lemari besi yang berkarat, mengendap di balik kursi kayu yang sudah patah kakinya, hingga akhirnya ia sampai di balik tumpukan kardus besar yang menjadi batas antara area perpustakaan pribadinya dengan area gelap di bagian belakang gudang.
Suara itu kini terdengar lebih jelas. Seseorang atau sesuatu sedang sibuk bekerja. Ada suara denting logam yang beradu, diikuti oleh gumaman kecil yang tidak bisa ia mengerti.
Kiko memiringkan kepalanya. Ia memberanikan diri untuk mengintip di balik celah kardus, tepat di tempat di mana cahaya bulan yang masuk dari jendela kecil menerangi lantai.
Di sana, di atas sebuah kotak perkakas yang terbuka, seekor tikus kecil sedang berdiri dengan tegak. Tikus itu tidak seperti tikus biasa yang pernah ia lihat di buku-buku gambar.
Tikus itu mengenakan kacamata pelindung yang terbuat dari lensa jam tua yang diikat dengan benang, dan di pinggangnya tergantung sebuah sabuk kecil berisi peralatan yang sangat mungil. Tikus itu sedang berusaha memperbaiki sesuatu, sebuah kereta api mainan kayu yang patah pada bagian rodanya.
Kiko terkesima. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Namun, tepat saat ia hendak melangkah lebih dekat untuk melihat lebih jelas, papan kayu tempat ia berpijak mengeluarkan suara derit yang nyaring karena berat tubuhnya.
KRAK!
Tikus itu terlonjak kaget. Ia menjatuhkan obeng kecil yang sedang dipegangnya dan dengan sangat cepat berbalik arah. Kacamata pelindungnya melorot sedikit, menampakkan sepasang mata hitam yang lebar karena ketakutan.
Kiko terdiam, membeku di tempat. Tatapan mereka bertemu, seekor kucing besar dengan mata madu yang penasaran, dan seekor tikus mekanik yang baru saja tertangkap basah di tengah malam.
Tiba-tiba, tikus itu melakukan sesuatu yang tidak terduga, ia tidak lari, melainkan justru menunjuk ke arah kaki Kiko dengan ekspresi panik, sambil berteriak nyaring,
"Awas di belakangmu!"
Kiko sempat kebingungan, sebelum ia bisa mencerna apa yang terjadi, sebuah bayangan hitam besar tiba-tiba melompat dari kegelapan di langit-langit tepat ke arah di mana ia berdiri tadi.
***
“Lompat, Kiko! Sekarang!” teriak si tikus kecil dengan suara melengking yang membelah kesunyian malam.
Tanpa sempat berpikir panjang, insting alami Kiko mengambil alih. Tubuhnya yang kekar melenting ke samping, berputar di udara dengan kelincahan yang hanya dimiliki oleh kucing yang sudah terbiasa dengan ruang-ruang sempit.
Sesaat setelah kakinya mendarat di atas tumpukan kardus yang aman, sebuah benda gelap dengan berat yang cukup masif menghantam lantai kayu, tepat di titik di mana Kiko berdiri beberapa detik yang lalu.
Debu beterbangan, menari-nari dalam cahaya bulan yang masuk melalui jendela gudang. Kiko terengah-engah, jantungnya berdegup kencang seperti genderang yang ditabuh bertubi-tubi.
Ia menatap benda yang baru saja gagal menimpanya. Itu adalah sebuah kotak perkakas besi yang tergantung di langit-langit yang jatuh karena pengaitnya sudah berkarat dimakan usia.