


oleh varsha · 55 Bab
Tujuh abad terjebak dalam celah waktu, Raden Putri Sekar Shani akhirnya terlempar ke dunia modern sebagai Hazel. Pemilik weton tulang wangi ini harus membayar mahal daya pikat gaibnya dengan kehilangan Raden Sukma Jati di masa lalu. Di masa kini, ia bertemu Aksara, pria yang sangat mirip dengan kekasihnya. Namun, tak memiliki satu pun ingatan tentang mereka. Hazel terpaksa menelan kepahitan, memilih ikhlas mengulang asmara dari nol tanpa pernah mengungkap identitas aslinya. Di tengah kejaran makhluk gaib yang kembali mengincar auranya, mampukah Hazel menjaga rahasia masa lalunya selamanya demi cinta yang baru tumbuh ini?
Angin malam di kaki Gunung Lawu berdesir kencang, membawa aroma melati yang menusuk sukma. Di bawah naungan rembulan purnama yang bulat sempurna, suasana kerajaan kuno itu terasa begitu mencekam. Di sebuah taman rahasia di balik keputren, waktu seolah berhenti bagi dua insan yang sedang dilanda asmara sekaligus ketakutan.
Raden Putri Sekar Shani, seorang tuan putri kerajaan Amerta berdiri dengan keanggunan yang menyayat hati. Kulitnya yang putih susu tampak bersinar tertimpa cahaya bulan, namun matanya yang indah menyiratkan kecemasan yang mendalam. Ia adalah sang pemilik weton tulang wangi—sebuah anugerah sekaligus kutukan yang membuatnya menjadi incaran paling berharga di jagat raya. Darahnya adalah madu bagi para penguasa kegelapan, dan auranya adalah undangan abadi bagi ribuan jin yang ingin menjadikannya ratu di alam gaib agar kekuasaan mereka tak tertandingi.
Di hadapannya, Raden Sukma Jati, seorang pangeran muda dari kerajaan tetangga yang gagah, menggenggam erat jemari sang putri. Sukma Jati tahu bahwa mencintai Sekar berarti menyatakan perang terhadap seluruh penghuni alam tidak kasat mata.
"Nimas ...." Suara Sukma Jati berat namun lembut. "Aja wedi. Senadyan jagad iki kisruh, aku bakal dadi tamengmu."
Sekar menatap wajah pria yang sangat ia cintai itu. Air mata menggenang di pelupuk matanya. "Kanda, kula ngrasakake hawa sing mbebayani banget. Para lelembut iku wis cedhak banget karo awake dhewe."
Memang benar, di sekeliling mereka, pepohonan mulai bergoyang tanpa angin. Bayangan-bayangan hitam yang panjang mulai merayap di atas tanah, dan suara tawa melengking yang lirih mulai terdengar dari kejauhan. Sukma Jati menyadari bahwa perlindungan fisik saja tidak akan cukup. Mereka membutuhkan ikatan yang melampaui raga.
Dengan gerakan mantap, Sukma Jati menarik keris pusakanya. Ia menggoreskan sedikit ujung jarinya dan juga ujung jari Sekar. Mereka menyatukan kedua luka kecil itu, membiarkan darah mereka bercampur dalam sebuah ritual pengikatan jiwa kuno yang sakral.
"Nimas Sekar, tancepne asmamu ana ing jantunku. Senadyan jagad iki bubrah, jiwaku lan jiwamu bakal tetep dadi siji nganti pungkasing zaman," ucap Sukma Jati dengan nada sakral.
Sekar membalas janji itu dengan suara bergetar namun tegas, "Kanda Sukma Jati, kula badhe nunggu panjenengan, sanadyan kudu ngliwati ewonan warsa. Janji iki ora bakal luntur dening geni utawa banyu."
Begitu janji itu terucap, sebuah cahaya keemasan melingkar di pergelangan tangan mereka berdua sebelum akhirnya menghilang masuk ke dalam kulit. Mereka telah terikat. Namun, alam semesta seolah menolak penyatuan tersebut.
Tiba-tiba, langit yang tadinya cerah berubah menjadi hitam pekat. Petir menyambar tanpa suara guntur, membelah angkasa dengan warna merah darah. Bumi bergetar hebat, meruntuhkan pilar-pilar batu di sekitar taman kerajaan. Dari kegelapan, muncul sosok raksasa gaib dengan mata yang menyala merah—Sang Prabu Dedemit, penguasa dimensi hitam yang sudah berabad-abad mengincar sang tulang wangi.
"Serahkan putri itu, Sukma Jati! Dia adalah tumbal yang ditakdirkan untukku!" Suara itu menggelegar, meruntuhkan kesadaran siapa pun yang mendengarnya.
"Langkahi mayatku, setan alas!" teriak Sukma Jati sembari menerjang maju.
Pertempuran hebat antara manusia dan iblis pecah. Sukma Jati bertarung dengan ilmu kanuragan tingkat tinggi, setiap sabetan kerisnya memercikkan api suci yang membakar bayangan-bayangan hitam. Namun, jumlah musuh tidak terhitung. Ribuan jin tingkat rendah mengepung mereka, sementara sang penguasa kegelapan merapal kutukan penghancur.
Sekar terpaku, ia melihat kekasihnya mulai terdesak. Luka-luka mulai menghiasi tubuh gagah Sukma Jati. Di saat kritis itu, Sang Prabu Dedemit mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia tidak berniat membunuh Sekar, ia ingin mengasingkannya agar tak ada manusia yang bisa memilikinya.
Sebuah ledakan energi hitam yang dahsyat menghantam titik di belakang Sekar berdiri. Ruang di sana retak, hancur berkeping-keping seperti kaca, memperlihatkan sebuah lubang hitam yang hampa dan tak berujung. Itu adalah celah waktu—dimensi kosong di mana waktu tidak bergerak dan hanya kegelapan yang bertahta.
"Kanda!" jerit Sekar saat tubuhnya mulai tersedot oleh daya tarik lubang tersebut.
Sukma Jati berbalik, wajahnya penuh darah. Ia berusaha berlari menggapai tangan Sekar. Jemari mereka sempat bersentuhan, ujung kuku mereka saling mengait, namun sebuah serangan energi gaib kembali menghantam punggung Sukma Jati hingga ia terlempar jauh ke arah bangunan keraton yang runtuh.
"Kanda Sukma Jati! Tulung!" Suara Sekar parau, tertelan oleh gemuruh angin dimensi.
"Nimas! Tunggu aku! Aku bakal nggoleki kowe!" teriak Sukma Jati untuk terakhir kalinya sebelum ia jatuh tak sadarkan diri di bawah puing-puing bangunan.
Tubuh Sekar terseret masuk ke dalam pusaran. Pakaian kebayanya yang indah terkibas-ibas, selendang maroon-nya melambai di antara kegelapan, sebelum akhirnya ia benar-benar menghilang. Di dalam celah waktu, Sekar tidak merasa lapar, tidak merasa haus, dan tidak bertambah tua. Ia hanya merasakan kerinduan yang sangat hebat dan kesedihan yang membeku.
Tujuh ratus tahun bagaikan satu malam yang sangat panjang bagi Sekar. Selama itu pula, ia terus mendekap rahasia janji sucinya di dalam hati. Ia berdoa kepada Sang Pencipta agar janji pengikatan jiwa itu tidak luntur.
Hingga pada suatu malam di tahun 2026, celah waktu itu tiba-tiba memuntahkannya kembali ke dunia manusia.
Sekar terbangun dengan napas tersengal. Ia mendapati dirinya sedang duduk di sebuah kursi taman yang keras dan dingin. Alih-alih melihat arsitektur keraton yang megah, di hadapannya kini berdiri gedung-gedung pencakar langit dengan lampu-lampu neon yang menyilaukan mata. Suara riuh kendaraan bermotor menggantikan kesunyian hutan Lawu.
Ia menunduk, melihat dirinya sendiri. Ia masih memakai kebaya hitamnya, jarit bermotif khas, dan selendang maroon yang kini tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya. Namun, ada yang berbeda. Ia bisa merasakan tarikan energi di sekitarnya. Di balik pohon-pohon taman kota yang rimbun, ia melihat pasang mata merah yang memperhatikannya dari kegelapan.
"Dunia telah berubah, tapi kalian tetap mengejarku," gumam Sekar lirih.
Aroma tubuhnya yang harum semerbak seperti bunga setaman—ciri khas si tulang wangi—ternyata masih tetap ada, bahkan mungkin semakin kuat setelah ratusan tahun tersimpan di celah waktu. Sekar bangkit berdiri dengan anggun meski kakinya gemetar. Ia tidak tahu harus ke mana, ia tidak mengenal benda-benda bercahaya yang dipegang orang-orang di sekitarnya.
Yang ia tahu hanya satu: jiwanya masih merasakan tarikan janji suci itu. Sukma Jati ada di sini, di suatu tempat di kota yang bising ini. Sekar memejamkan mata, memendam luka di dadanya.
"Kanda, aku bakal nggoleki panjenengan. Sanadyan panjenengan wis lali, aku bakal tetep setya."
Sekar mulai melangkah masuk ke dalam hiruk-pikuk peradaban modern, membawa rahasia masa lalu yang berat di pundaknya, sendirian.

varsha
1 Pengikut · 2 Novel