


oleh Kantizahra · 31 Bab
Minarni Rahmawati, mempunyai kebiasaan suka kredit barang, demi memenuhi kebutuhan rumah tangga dari minimnya jatah bulanan yang diberikan suaminya yang tak mau tahu tentang bagaimana si istri mengatur keuangan keluarga. Baginya semua harus beres dan cukup dengan jatah bulanan yang diberikan. Tanpa mengetahui betapa menjeritnya batin si istri mengatur keuangan dari jatah bulanan yang sangat minim, jauh dari kata cukup. Namun, bagaimana sikap Minarni saat mengetahui gaya hidup suaminya di luaran sana yang terkenal begitu royal kepada teman-temannya. Sedangkan untuk keluarga sendiri begitu pelit. Bagaimana cara Minarni menghadapi sikap pelit suaminya? Hal apa yang dilakukan Minarni dengan ketidakadilan sikap suaminya?
Tin! Tin!
“Wayahe! Wayahe!”
Mendengar suara nyaring itu, Minarni dengan segera menarik tubuhnya yang baru saja dia rebahkan pada pembaringan, karena lelah yang mendera setelah seharian berkutat dengan cucian dan pekerjaan rumah lainnya.
Bergegas dia menuju ruang depan untuk menutup pintu rumah, sebelum kedatangan tamu yang tidak diharapkan. Lalu dihampirinya Bagas–putra semata wayangnya yang sedang asyik menonton film kartun dengan tokoh utama bocah kembar berkepala botak di salah satu stasiun televisi swasta.
"Eh, Kak. Bunda minta tolong, dong." Dirayunya sang anak dengan muka memelas.
"Minta tolong apa, Bun?" tanya Bagas tanpa merubah pandangannya dari benda layar datar di depan sana yang terlihat lebih seru dari perintah bundanya seperti biasa.
"Nanti kalau ada orang yang cari Bunda, Kakak bilang, Bunda gak ada di rumah, gitu, ya!" Dahi anak itu mengernyit, dengan pandangan yang penuh tanda tanya menghadap Bundanya.
Minarni yang mengerti perubahan ekspresi putranya segera memungkas dengan ucapan, "Sudah. Kamu tinggal ngomong gitu, aja. Gak usah bingung."
"Oke, deh, Bun."
Mendengar jawaban dari putranya, hati Minarni sedikit lega. Tinggal bagaimana dia bersembunyi sekarang. Pikirannya berkelana dengan pandangan mengitari bagian rumah.
"Ah, aku tahu." Seakan ada bola lampu yang menyala di otaknya, pada saat ide itu muncul. Segera dia melanjutkan langkah merealisasikan ide dadakan tersebut.
Sementara Bagas yang melihat perilaku Bundanya, hanya melirik sekilas dengan tatapan heran. Kemudian mengalihkan pandangan pada layar datar di depan, seakan tak acuh.
Tok!
Tok!
"Mbak Mina!" Suara bas dengan intonasi tinggi, diiringi dengan ketukan pintu yang tak sabaran. Mau tak mau membuat bocah berumur tujuh tahun itu beranjak dari posisi nyamannya menonton televisi, guna melihat tamu yang memanggil nama bundanya.
Sesuai dengan perintah dari bundanya tadi, jika dia harus menemui tamu tersebut. Membuka pintu rumah dengan perlahan, dipandanginya wanita seumuran bundanya yang berdiri di depan pintu dengan dandanan menor, mengapit tas jinjing dan buku di tangan.
"Eh, anak cakep. Di mana bundanya, Mas?"
"Bunda?"
"Iya, bundamu ke mana? Kok, kamu yang bukain pintu?" tanya kembali tamu tersebut dengan kepala yang melongok ke dalam dan pandangan menelisik ke setiap sudut rumah.
"Oh, kata Bunda, Bunda gak ada di rumah."
Jawaban lugas dari bocah polos di depannya, menerbitkan senyum remeh di sudut bibir wanita tersebut. Dengan tatapan yang berubah nyalang, diedarkannya sekali lagi pandangan ke dalam penjuru ruangan, seperti seekor harimau yang mencari mangsanya. Tapi tak melihat sedikit pun siluet dari buruannya.
Perasaannya kembali dongkol seperti sebelumnya, karena sekali lagi tak dapat menjumpai Minarni di rumahnya. Tak kehilangan akal, diteriakkan suaranya sekencang mungkin berharap Minarni mau keluar dari persembunyiannya.
"Mina, keluar. Bayar utangmu. Sudah enam kali nunggak, lho!"
Tak ada sahutan, tetapi tak menyurutkan semangatnya untuk kembali mengeluarkan suara indahnya, memanggil si penghuni rumah. Tak peduli meski jadi tontonan para tetangga Minarni yang seketika keluar dari rumah mereka, begitu mendengar bariton suaranya yang melengking bak toa masjid. Bagas yang melihat wanita tadi berkoar dengan suara nyaringnya, segera melipir ke dalam rumah karena takut. Sampai lupa menutup pintu, karena tergopoh menghindari wanita tadi yang terlihat seperti mengamuk.
"Sst, Kak. Gimana?" Minarni yang sedang jongkok di bawah meja makan dekat dapur, mencoba bertanya pada putranya dengan suara sangat rendah.
"Beres, Bun. Sudah Kakak bilang sama tamunya, seperti yang Bunda bilang tadi."
Ada perasaan janggal dalam hati Minarni mendengar jawaban tersebut. Ditambah suara berisik dari depan menambah kuat feeling-nya, pasti ada hal yang tidak beres yang telah terjadi. Kendati demikian, Minarni tak juga keluar dari persembunyiannya.
Sementara di depan rumah, si penagih hutang masih berkacak pinggang, belum juga meninggalkan tempat tersebut. Pantang baginya kali ini untuk pergi dari sana, sebelum mendapati Minarni menemuinya dan memberikan klarifikasi masalah hutang kredit yang dia pinjam.
Dari kejauhan terlihat wanita paruh baya mendekat, dengan pandangan heran menatap wanita tersebut.
"Maaf, Anda siapa, ya? Ada keperluan apa di rumah anak saya? Kenapa teriak-teriak gak jelas?" tanya perempuan tersebut yang tak lain adalah ibu mertua Minarni
"Oh, jadi Ibu ini, Ibunya Mbak Mina?" Bukannya menjawab, wanita tadi malah melontarkan pertanyaan dengan pandangan meremehkan.
"Bukan. Saya Ibu mertuanya. Anda siapa?"
"Oh, perkenalkan, saya Irma,” ucap wanita itu dengan mengulurkan tangan, yang disambut oleh wanita paruh baya di depannya dengan pandangan aneh. “Saya yang punya usaha kreditan yang biasa keliling kampung sini, Bu," lanjutnya menjelaskan dengan intonasi yang lebih bersahabat dari sebelumnya.
"Terus kenapa tadi, kok, teriak-teriak? Suaranya kedengaran sampai ujung jalan sana, lho, tadi."
"Oh, begini, Bu. Saya tadi itu manggil Mbak Mina, eh, Mbak Mina-nya gak keluar-keluar. Jadi, ya, saya teriak aja yang kenceng, kali aja orangnya keluar. Habisnya saya capek, tiap kemari gak pernah ketemu orangnya. Mana cicilannya masih banyak lagi." Panjang lebar Bu Irma menjelaskan.
"Emang berapa, sih, bayarnya?"
"Sebentar. Saya buka bukunya dulu." Dibukanya buku besar dari dalam tas yang sejak tadi bertengger di lengan kirinya. Pandangannya mulai fokus menelisik setiap angka yang tertera di sana.
"Semua cicilan Mbak Mina totalnya tiga ratus enam puluh lima ribu. Dan dia sudah nunggak enam kali gak bayar, Bu," jelasnya kembali dengan terperinci.
"Kok, banyak? Biasanya kreditan cuma lima belas ribu? Emang Mina kredit apa?"
"Ya, banyak, lah. Wong dia yang diambil juga banyak."
"Ish, dasar si Mina!" gerutu Bu Lely ikutan jengkel dengan kelakuan menantunya yang suka ambil kreditan sana-sini. Bikin malu saja menurutnya.
"Yaudah kalau gitu saya mau masuk dulu. Mbaknya pulang, aja! Mungkin Mina emang lagi pergi."
"Lho, lho, lho. Ini gak dibayar, Bu?" Bu Irma nampak syok dengan respon dari mertua Mina. Perkiraannya meleset, yang berharap jika wanita paruh baya di depannya itu akan suka rela mengeluarkan uang untuk cicilan anak menantunya. Mengingat penampilan wanita di depannya yang sedikit mencolok dengan perhiasan yang bertengger manis di pergelangan tangannya yang terlihat berderet cukup banyak seperti toko emas berjalan.
"Ya, enggak. Kan Mina lagi gak ada di rumah."
"Kirain Ibu tadi tanya-tanya mau bayar."
"Lha, kan saya cuma nanya. Lagian, kenapa saya yang bayar? Wong saya gak ikut kredit, kok."
Bu Irma hanya bisa cengo di tempat. Mendengar jawaban enteng yang keluar dari mulut Bu Lely
"Sudah, ah. Saya mau masuk dulu. Mbaknya silakan pergi!"
"Ealah, kirain mau dibayarin, ternyata sama saja. Dasar!" Bu Irma meninggalkan rumah Minarni sambil terus menggerutu sepanjang jalan.
***

Kantizahra
17 Pengikut · 1 Novel